
Di sebuah rumah yang besar, seorang wanita paruh baya tampak sedang menikmati acara televisinya sembari meminum secangkir teh. Hingga deringan telepon rumah tampak mengganggu aktifitas bersantainya itu.
"Nya, ada telepon dari rumah den Doni. Mereka mau telepon den Doni tapi katanya nomor den Doni nggak aktif jadi mereka minta bicara sama nyonya." ucap seorang art di rumah Risa.
"Tumben mereka telepon ke rumah. Ada apa ya? Baiklah, bibik kembali saja ke dapur." ucap Risa yang diangguki bi Iyem. "Halo ..." ucapnya pada seseorang di seberang telepon.
"Halo nya, ini Nining. Nya, tuan Doni nya ada nggak nya? Ada hal penting banget soalnya." ucap Art Doni bernama Nining itu.
"Doni nggak ada, Ning. Memang ada apa?"
"Nya, tadi kata pak Amat ada seorang wanita kemari. Dia mengantarkan seorang anak perempuan. Umurnya sekitar 2 tahunan dan kata wanita itu ini anak den Doni. Dia nangis, Nya. Manggil-manggil mamanya terus. Kami bingung harus bagaimana." ucap Nining membuat Risa seketika terhenyak.
'Anak Doni? Apa yang dikatakannya tempo hari? Anaknya dari perempuan itu.' Risa sampai meneguk ludahnya kasar. Ia pun bingung harus bagaimana. Lalu ia menelpon Radika yang untung saja belum pergi bekerja. Kemudian Risa memintanya menjemput anak perempuan yang menurut Nining merupakan anak Doni itu di rumah putra sulungnya itu.
Dan di sinilah kini, Nanda dengan wajah berlinang air mata, memandangi satu persatu wajah orang-orang yang asing di matanya. Ia terus memeluk boneka Winnie the Pooh-nya .
"Siapa nama kamu, nak?" tanya Risa. Walaupun bagaimana pun, ia tetaplah cucunya, putri dari anaknya.
"Nan-Nanda ..." ucap Nanda terbata.
Tak perlu diragukan lagi siapa ayah dari Nanda sebab wajahnya bak pinang dibelah dua dengan wajah Doni. Tapi Nanda merupakan Doni versi perempuan. Risa pun mengakui, Nanda anak yang sangat cantik. Terlepas dari siapa ibunya yang memang tidak ia sukai sejak awal, tapi cucunya tidaklah bersalah. Apalagi sudah sekian lama ia mengharapkan kehadiran seorang cucu di rumahnya. Ia memang sempat tak menginginkan Nanda saat pertama kali mendengar penuturan Doni bahwa ia memiliki anak dari Delima. Tapi saat melihatnya hari ini, keegoisannya tiba-tiba lenyap begitu saja. Tiba-tiba rasa sayang menyeruak di batinnya. Mungkin karena mereka memiliki ikatan darah jadi rasa sayang itu sontak hadir tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
Lalu dengan cepat, Risa memeluk tubuh Nanda dengan erat. Digendongnya tubuh mungil itu untuk menyalurkan rasa sayang dan kerinduan akan hadirnya seorang cucu.
...***...
"Apa yang ingin kau lakukan? Keluar sekarang!" tegas Aileena saat orang itu kian mendekat.
Adnan menggeleng, "Ai, mas ingin kembali padamu. Mas ingin kita bersama lagi seperti dulu."
"Udah aku bilang, itu udah nggak mungkin, mas. Aku nggak mau lagi. Hati aku udah terlanjur sakit. Kaca yang pecah takkan bisa kembali utuh, mas tau itu kan! Coba kalau mas yang di posisi aku, bagaimana perasaan mas? Apa mas mau memaafkan dan menerimaku kembali, pasti nggak kan!" tukas Aileena dengan mata berkaca-kaca.
Aileena tau, tiada manusia yang luput dari kesalahan, tetapi Aileena bukanlah manusia mulia yang bisa memaafkan begitu saja orang yang sudah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Baginya pengkhianatan adalah kesalahan fatal. Apalagi mereka sampai melakukan hubungan di luar nikah, di saat mereka masih terikat tali pernikahan, itu tentu sangat menyakitkan bagi Aileena.
"Mas minta maaf, Ai. Mas menyesal." ucap Adnan seraya memelas.
"Baiklah, kalau kau tidak mau memberikan ku kesempatan, terpaksa aku menempuh jalan ini." tukas Adnan dengan sorot mata tajam, lalu dengan langkah panjangnya, ia mendekati Aileena. Aileena yang mulai khawatir Adnan akan berbuat macam-macam padanya, berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Belum sempat pintu kamar tertutup rapat, tangan Adnan sudah menahan pintu itu agar tidak tertutup.
Sementara itu, di dalam sebuah range Rover berwarna hitam mengkilap, seorang pria dengan wajah menegang, melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Beberapa saat yang lalu, ia baru saja mendapat telepon dari mbok Ningsih bahwa sepertinya Aileena sudah menampakkan tanda-tanda ingin melahirkan. Tentu saja hal itu membuat Fatur bahagia sekaligus was-was. Bahagia artinya tak lama lagi ia bisa menikahi Aileena, tapi juga was-was khawatir Aileena mengalami masa sulit saat melahirkan.
Jalanan yang cukup lengang, membuat Fatur dapat memacu kecepatan mobilnya tanpa masalah. Apalagi saat ini menurut mbok Ningsih, Aileena sedang sendirian. Mbok Ningsih sedang ke apotek ditemani Jeki, tentu hal tersebut membuat kekhawatiran Fatir makin meningkat. Fatur yang saat itu sedang meeting, gegas saja meminta Rama menggantikannya demi tiba secepatnya di rumah Aileena. Besar harapannya, ia lah jadi yang pertama selalu mendampingi Aileena di saat apapun.
Rasa nyeri yang makin meningkat di setiap detiknya, membuat Aileena kehilangan tenaga untuk mendorong pintu agar segera tertutup. Adnan pun dengan leluasa mendorong pintu hingga Aileena sontak mundur ke belakang. Beruntung ia masih bisa menjaga keseimbangannya hingga tidak terjatuh. Lalu dengan gerakan cepat, Adnan menarik tangan Aileena hingga ia berjalan sedikit terseok membuat Aileena meringis.
__ADS_1
"Mas, lepas! Sakit, mas. Lepaskan aku!" pekik Aileena yang sudah memucat karena menahan sakit, bukan hanya di perutnya, tapi juga pergelangan tangan.
'Ya Allah, tolonglah aku! Berikanlah hamba pertolongan ya Allah!" tanpa sadar, air mata Aileena sudah meluruh di pipinya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menahan perutnya yang terguncang.
Adnan yang sudah seperti orang kehilangan akal tak peduli pada pekikan dan rintihan Aileena. Yang ia pentingkan saat ini adalah membawa Aileena pergi sejauh mungkin. Ia tidak rela orang lain memilikinya dan membuat anaknya memanggil orang lain sebagai ayahnya. Hatinya benar-benar tak rela.
Baru saja sampai di depan pintu rumah, suara seorang perempuan berteriak sambil menghadang jalannya membuat Adnan mendadak berhenti. Rahang Adnan mengeras saat melihat siapa yang berani-beraninya menghentikan langkahnya.
"Mas Adnan, berhenti! Kasihan mbak Aileena, dia kesakitan!" pekik Delima yang sudah berdiri di depan Adnan.
Tadi saat di perjalanan sepulang dari rumah Doni, Delima tak sengaja melihat mobil Adnan mengarah ke arah yang berlawanan dengan kantornya. Ia pun meminta sopir taksi yang membawanya agar segera mengikuti mobil Adnan. Ia sempat kehilangan jejak saat berbelok ke arah sebuah perumahan. Ia pikir Adnan telah memiliki wanita lain lagi. Baru saja ia hendak meminta sopir taksi itu meninggalkan perumahan itu, ia menangkap mobil sedan hitam yang kerap digunakan Adnan terparkir di halaman sebuah rumah. Ia pun meminta sopir itu berhenti di sana sebentar untuk melihat rumah siapa yang dikunjungi Adnan. Namun hal yang tak terduga lah yang ia dapat. Ia mendengar suara pertengkaran yang ia yakini itu pertengkaran antara Adnan dan mantan istrinya, Aileena. Hatinya makin mencelos saat melihat bagaimana Adnan menyeret tangan Aileena padahal ia tahu Aileena sedang hamil besar. Ia pun memberanikan diri untuk menghentikannya agar tidak berbuat yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari.
"Minggir kau, jal*ng!" tukas Adnan dengan suara menggema membuat Delima cukup bergetar takut.
"Mas, jangan seperti itu! Lihat mbak Aileena, dia kesakitan!" Delima tetap berusaha menghentikan langkah Adnan yang sudah mulai kalap.
Tetapi ia tak menggubris, yang dalam pikirannya tetaplah secepatnya membawa Aileena sejauh mungkin.
"Minggir kau!"
"Aaargh ..."
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...