
Tepat jam 1 siang, Ussy tiba-tiba pulang dengan diantar Ariel. Tapi tujuannya bukan untuk pulang melainkan menemui Aileena. Aileena sendiri bingung, mengapa tiba-tiba saja Ussy ingin mengajaknya ke suatu tempat. Bahkan ia sampai meminta ibunya untuk menjaga Fareezky sementara Aileena ikut dengannya.
"Emang kalian mau ajak mbak kemana sih?" tanya Aileena bingung saat dirinya dipaksa segera berganti pakaian dan masuk ke dalam mobil.
"Ada deh mbak dan mbak kudu harus ikut kalau mbak nggak mau nyesel." tukas Ussy penuh penekanan.
Aileena makin mengerutkan keningnya. Ia mencoba menerka-nerka akan dibawa kemana dirinya tapi tak ada satupun clue yang bisa dijadikannya petunjuk.
"Ayolah, Sy, Riel, seriusan, ini sebenarnya kita mau kemana dan mau ngapain? Kalian nggak akan ngelakuin sesuatu yang aneh-aneh kan!" tukas Aileena tegas. Ia sudah mulai kesal karena tak ada sedikitpun penjelasan yang keluar dari bibir Ussy dan Ariel. Mereka sepertinya kompak untuk bungkam membuat Aileena menghembuskan nafas kasar.
Belum lagi jalanan yang macet dan cuaca yang terik, membuat emosi jiwa Aileena rasanya ingin meledak-ledak. Apalagi saat mengingat ia harus meninggalkan Fareezky untuk sesuatu yang tak jelas seperti ini membuat Aileena rasanya ingin berteriak. Tapi ia mencoba beristighfar dalam hati berharap api amarahnya segera mereda. Mungkin ini menyangkut suatu hal yang tak bisa mereka katakan, pikirnya. Akhirnya perlahan, Aileena pun mulai merasa tenang.
Tapi ternyata ketenangan itu tidak berlaku lama, setelah melewati lampu merah entah jalan apa namanya sebab Aileena tidak tahu nama-nama jalan di kota itu, tiba-tiba jantungnya berdegup dengan kencang. Hatinya mendadak tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang membuat hatinya merasa terganggu. Tangannya bahkan sudah berkeringat dingin.
'Aku kenapa ya? Kok tiba-tiba kayak gini?' gumam Aileena dalam hati seraya memandangi jalanan yang tampak cukup ramai. Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Ariel berbelok ke dalam pelataran sebuah gedung bertingkat berwarna putih dikombinasi warna hijau dan di depannya tertulis nama gedung itu Rumah Sakit RK Charitas.
Aileena mengerutkan keningnya. Ia makin penasaran mengapa kedua orang itu membawanya ke rumah sakit itu.
Setelah memarkir mobilnya ditempat semestinya, Aileena, Ussy, dan Ariel pun turun. Lalu Ussy menggandeng tangan Aileena agar mengikuti langkahnya.
"Kita kenapa ke sini sih, Sy? Kita mau jenguk siapa?" tanya Aileena penasaran. Ia todak menebak Ussy sakit sebab ia tampak sehat-sehat saja. Bahkan segar bugar.
"Mbak ikut aja, ya! Please! Kami mau mempertemukan mbak sama seseorang." tukas Ussy memberi tahu. Aileena hanya bisa pasrah saja mengikuti kemana Ussy dan Ariel ingin mengajaknya.
'Menemui seseorang? Siapa? Emangnya ada yang aku kenal di sini selain keluarga Ussy? Rasanya nggak ada deh!' batin Aileena.
Hingga tibalah mereka di depan sebuah kamar yang letaknya di Paviliun Clara nomor 501 dengan kamar tipe suite room.
Aileena makin bingung, mengapa ia diajak ke sana. Apalagi ia yakin, kamar yang akan mereka kunjungi itu merupakan kamar termahal di rumah sakit itu. Ia jadi bertanya-tanya, siapa yang ada di dalam kamar itu.
__ADS_1
Lalu Ariel mengetuk pintu dan masuk terlebih dahulu. Ia meminta Ussy dan Aileena menuggu sejenak di luar dan baru masuk saat telah dipersilahkan.
Beberapa menit kemudian, Ariel membuka pintu dengan lebar dan meminta Ussy agar segera mengajak Aileena masuk ke dalam.
Aileena pun kembali menyeret kakinya mengikuti langkah Ussy hingga matanya bersirobok dengan sepasang mata hitam kelam seseorang yang terlihat pucat dan terbaring di brankar rumah sakit.
Aileena menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Begitu pula pria yang sedang terbaring itu sontak menegakkan punggungnya untuk duduk. Ia bahkan mengusap matanya berkali-kali untuk meyakinkan apa yang dilihatnya saat ini adalah benar sosok yang sangat ia rindukan setengah mati.
"A-Aileena ... Ai ... mas nggak salah liat kan!" seru Fatur tak percaya dengan mata berkaca-kaca.
"Mas ... mas Fatur ... " ucap Aileena dengan mata yang juga berkaca-kaca.
Aileena segera mempercepat langkahnya menuju brankar Fatur, begitu pula Fatur segera turun dari brankar, tak peduli jarum infus yang masih menancap di lengannya. Ia hanya ingin merentangkan tangan berharap pujaan hatinya itu masuk ke dekapannya. Ia begitu merindukan wanitanya itu. Sangat-sangat rindu. Ia bahkan hampir putus asa saat kehilangan kabar mengenai Aileena dan kepergiannya.
Aileena yang paham arti rentangan tangan itu pun langsung berhambur ke dalam pelukan Fatur. Ia menumpahkan tangisnya , meluapkan kerinduannya, menyalurkan segala emosi yang terpendam di dalam dada.
Fatur tergugu di dalam pelukan Aileena dan Aileena terisak di dalam pelukan Fatur. Mereka saling menyalurkan rasa cinta, rindu, dan khawatir yang membuncah.
Ussy, Ariel, dan Dendy yang paham sepertinya Fatur dan Aileena membutuhkan waktu untuk bicara berdua pun segera meninggalkan kedua orang itu dan menutup rapat pintunya dari luar
"Ai-yang, maafin mas, mas mohon maafin mas yang bodoh dan pengecut ini. Mas mohon maafin mas, jangan pergi lagi, Ai. Kamu tau, jiwa mas rasanya terlepas dari raga saat tau kamu pergi. Mas mohon, sayang, maafin mas, jangan pergi lagi. Mas mohon." ucapnya di sela tangisnya. Fatur bahkan sampai mengecup puncak kepala Aileena berkali-kali untuk meluapkan betapa ia merindukan pujaan hatinya tersebut.
"Mas Fatur... " Aileena hanya bisa menggumamkan nama itu sebab lidahnya terlalu Kelu untuk berkata-kata.
Lalu Fatur merenggangkan pelukannya dan menangkup kedua pipi Aileena yang telah basah oleh air mata. Bahkan hidung dan mata Aileena pun sudah sangat merah akibat tangis yang tak kunjung dapat mereka hentikan.
"Ai-yang, maafin mas! Mas tau mas salah. Seharusnya mas langsung bicara padamu saat mengetahui cerita versi mama. Tapi mas malah menghindar sebab mas bingung harus memulai ceritanya dari mana. Mas takut bila salah kata kamu malah terluka dan meninggalkan mas. Tapi ternyata, tanpa mas sadari, sikap mas justru membuatmu pergi seperti ini. Mas mohon sama kamu, sayang, mas mohon dengan amat sangat jangan pernah tinggalkan mas. Jangan pergi lagi! Mas rasanya begitu hancur, hidup seakan mati saat kamu tidak ada di sisi. " ungkap Fatur sungguh-sungguh.
Saat menatap wajah Fatur, tiba-tiba Aileena membelalakkan matanya. Sejak tadi ia tidak menyadari perban yang melingkari kepala Fatur. Pun gips yang ada di pundak dan kaki. Aileena sampai menelan ludahnya kasar saat melihat ternyata keadaan Fatur tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
"Mas ... ini ... kenapa?" tanya Aileena panik. Tangannya menyusuri perban di kepala dan pundak Fatur dengan mata berkaca-kaca.
Tepat saat air mata itu kembali menetes, Fatur segera menyekanya dengan jempolnya lalu mengecupnya.
"Jangan menangis, Ai-yang! Jangan menangis! Aku tak sanggup melihat air matamu menetes apalagi itu karenaku. Penyesalan terbesarku adalah membuatmu bersedih hingga meneteskan air mata." bisiknya lirih. Lalu Fatur menarik tangan kiri Aileena dan menempelkannya di dada. "Di sini ... rasanya bagai diiris sembilu saat melihatmu menangis." imbuhnya lagi. "Kau tak perlu khawatir sayang, sakitku ini tak seberapa dibandingkan rasa sakitmu. Mungkin ini hukuman untukku karena sudah membuatmu bersedih bahkan mungkin kecewa. Aku mohon, sayang. Maafkan aku."
Aileena menggeleng cepat sambil menutup bibir Fatur dengan jari telunjuknya.
"Mas jangan meminta maaf terus-terusan. Justru itu makin membuat Ai makin merasa bersalah karena pergi begitu saja tanpa kabar. Ai minta maaf ya, mas." ucapnya lirih membuat Fatur kembali memeluk erat tubuh itu.
Lalu mereka kembali saling memeluk. Kehangatan dan kenyamanan itu terasa begitu nyata hingga meresap ke jiwa. Hingga entah siapa yang memulai, untuk pertama kalinya, Aileena dan Fatur saling menyatukan bibir mereka.
Fatur yang masih amatir sebab ini merupakan ciuman pertamanya, tentu masih sedikit kaku untuk mengekspresikan rasa cintanya melalui pertautan bibir. Aileena yang memang peka pun dapat merasakan kekakuan Fatur. Lalu Aileena pun membimbing Fatur dengan cara melu*at bibirnya terlebih dahulu, atas dan bawah bergantian hingga perlahan akhirnya Fatur pun mulai berani mengekspresikan segala rasa cinta, sayang, rindu, juga penasarannya melalui pergulatan bibir. Sudah sekian lama ia begitu penasaran ingin merasakan dan mencicipi nikmatnya memagut benda kenyal berwarna merah itu.
"Sepertinya mas bakalan candu merasakan bibir indah ini. Rasanya begitu manis dan menyenangkan." lirih Fatur seraya menyeka sisa-sisa saliva di bibir Aileena.
Aileena tertunduk malu menyadari apa yang telah mereka lakukan. Mungkin efek rasa rindu yang menggebu lah membuat mereka sampai terlarut dalam ciuman panjang nan mesra itu. Terkadang, permasalahan itu muncul bukannya untuk merenggangkan sebuah hubungan, tetapi justru membuatnya kian merekat dan merekah.
...***...
...**Makasih kakak2 yang udah mampir di sini. Terlebih yang rajin like, komen, kasih hadiah, juga vote....
...Selamat malam semua....
...Semoga sehat selalu ya!...
...***...
...Happy reading 🥰🥰🙏**...
__ADS_1