
Keesokan harinya, tepat setelah Fatur membaca pesan yang dikirimkan Aileena, ia langsung bersorak bahagia membuat kedua orang tuanya yang baru saja duduk hendak sarapan pagi terkejut sekaligus penasaran. Batin mereka bertanya-tanya, apa yang terjadi pada anaknya itu sehingga tampak begitu senang hingga bersorak bahagia.
Kemudian mereka mengingat pembicaraan putranya dengan Aileena via panggilan video kemarin, lantas mereka pun segera mendekati brankar Fatur dan merebut ponselnya. Mata mereka berbinar bahagia, akhirnya wanita pujaan hati putranya telah menerima lamaran sang putra. Tentu mereka takkan menunda hal baik ini. Mereka pun mengatakan pada Fatur akan segera mempersiapkan semuanya.
"Alhamdulillah ... " seru Malika dan Fatahillah bersamaan.
"Selamat, ya nak. Mama senang dengernya. Akhirnya impianmu tercapai." ucap Malika seraya membelai rambut Fatur.
"Papa juga turut bahagia nak mendengarnya. Papa akan minta tolong Dendy untuk mempersiapkan semuanya. Paling tidak, kita menikah secara agama dulu di sini. Setelah di Jakarta, baru kita resmikan secara negara dan dilanjutkan mengadakan resepsi setelah kamu benar-benar pulih, gimana?" tanya Fatahillah yang langsung disetujui oleh Fatur.
...***...
Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 pagi dan beberapa orang yang turut datang ke Palembang kemarin pun sudah berada di ruangan rawat Fatur ditambah kedua orang tua Ussy, Ariel dan kedua orang tuanya, serta seorang ustadz dan penghulu yang akan bertugas menikahkan Aileena dan Fatur.
Sama seperti pasangan lainnya, Aileena dan Fatur pun merasakan jantung mereka berdebar kencang. Walaupun hanya akad nikah, tetap saja ini adalah pernikahan mereka. Momen sakral yang akan menyatukan keduanya dalam ikatan yang sah dan halal.
Walaupun ini kali kedua Aileena menikah, tapi tetap saja rasa gugup hingga berkeringat dingin itu masih ia rasakan. Apalagi Fatur yang baru pertama kali merasakan, tentu rasa gugup tak dapat dielakkan. Dalam hati ia terus berdoa, semoga diberikan kelancaran apalagi saat ia mengucap lafadz ijab Kabul. Ia tentu tidak mau melakukan kesalahan dalam pengucapan kalimat sakti itu nanti.
5 menit menuju pukul 10, Aileena muncul dari balik pintu masuk di dampingi Ussy dan Rere. Dengan mengenakan kebaya putih dan bawahan songket Palembang, serta wajah di-make up minimalis, membuat penampilan Aileena terlihat sangat cantik dan anggun. Mata Fatur bahkan sampai tak berkedip memandangi Aileena yang tengah berjalan perlahan menuju ke samping brankar. dimana Fatur berada.
"Cantik " gumam Fatur saat melihat Aileena telah berdiri di sisinya. Aileena tersenyum tipis ke arah Fatur membuat dag dig dug degup jantungnya makin riang berdendang ria di dalam dadanya.
"Bagaimana calon pengantin? Sudah siap?" tanya penghulu itu dengan seringai menggoda membuat Fatur yang tadi sedang terpaku memandang Aileena seketika tersentak.
"Siap." jawabannya penuh keyakinan membuat semua orang terkekeh.
Hingga tak lama kemudian lafadz ijab kabul pun diucapkan Fatur dengan lancar dalam satu tarikan nafas membuat semua orang yang bertindak sebagai saksi berseru 'SAH'.
Suasana yang awalnya hening seketika riuh dengan ucapan selamat untuk pasangan pengantin baru itu. Aileena menitikkan air mata haru sebab mulai hari ini ia kembali menyandang status sebagai seorang istri tetapi dengan orang yang berbeda.
Aileena mengecup punggung tangan Fatur dengan takdzim. Dalam hati ia berdoa, semoga Fatur bisa menjadi suami sekaligus imam dunia dan akhiratnya. Lalu Fatur pun mencium kening Aileena sambil berdoa semoga ia dapat menjadi suami yang selalu setia saat suka maupun duka hingga maut memisahkan.
"Selamat ya, bang. Selamat ya, mbak. Semoga langgeng dunia akhirat." ucap Ariel memberi selamat.
"Terima kasih." ucap Fatur. "Semua ini juga tak lepas dari bantuanmu. Sekali lagi terima kasih."
"Ck ... biasa aja bang. Nggak perlu segitunya. Melihat Abang bisa menemukan belahan jiwa Abang aja udah buat aku senang." ujar Ariel. "Doain aku ya bang, mbak, supaya cepat nemuin jodoh. Biar bisa nyusul gitu." ujar Ariel.
__ADS_1
"Kenapa mesti repot-repot sih, Riel. Kan di sini ada yang jomblo akut, kenapa nggak pepet dia aja." ujar Aileena dengan tersenyum lebar.
Ariel mengerutkan keningnya bertanya-tanya, siapa yang dimaksud Aileena.
Paham kalau Ariel sedang bertanya-tanya, Aileena pun menunjuk ke satu arah dengan dagunya membuat Ariel terkejut tak percaya.
"Ussy?" tanya Ariel.
"Iya, kenapa? Dia cantik lho! Baik juga, berbakti, rajin, ramah, nggak ada yang kurang sama dia kan, so tunggu apa lagi? Mbak kasi tau sebuah rahasia ya, kayaknya dia sebenarnya suka tuh sama kamu cuma ya gitu, malu, kamu kan atasan dia, mana beranilah dia nyatain perasaannya sama kamu." bisik Aileena di dekat telinga Ariel.
"Ekhem ... Bisa jaga jaraknya sedikit? Kita baru nikah lho Ai, masa' udah dekat-dekat sama tuh berondong." ujar Fatur dengan wajah cemberut membuat Aileena terkekeh.
"Eh, yang mbak bilang tadi serius?" tanya Ariel tak peduli wajah cemberut Fatur.
"Bukan lagi serius, tapi sepuluh rius." ucap Aileena penuh keyakinan.
Di saat yang sama, ibu Ussy sedang protes pada Ussy. Padahal usianya sudah 24 tahun, tapi belum pernah satu kali pun membawa teman lelakinya ke rumah. Sebagai orang tua, tentu mereka berharap anaknya segera mendapatkan jodohnya.
"Masa' kamu kalah sama mbak mu, Sy! Dia udah nikah dua kali lho, lha kamu, boro-boro nikah, bawa temen lelaki satu kali aja belum pernah. Kamu normal kan, Sy?" tanya Ibu Ussy dengan ekspresi mengintimidasi.
"Astagfirullah, Bu. Ussy normal. Sangat normal. Ya gimana kalau jodoh Ussy masih kesasar. Doain aja, semoga jodoh Ussy itu segera menemukan jalan yang benar hingga tiba tepat di depan pintu rumah kita." ujar Ussy dengan wajah bersungut-sungut kesal sebab dipertanyakan kenormalannya.
"Tenang aja, Bu. Anak ibu yang cantik ini masih berada di jalan yang lurus karena itu nggak berani pacaran. Sekalinya nemu maunya langsung diajak ke pelaminan." pungkas Ussy dengan penuh kesungguhan.
Ariel yang sedang berdiri tak jauh dari Ussy pun turut mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu. Ia pun segera tersenyum lebar.
...***...
"Kak, kak Radi nggak papa?" tanya Rere yang saat ini sedang berdiri sambil bersandar di dinding dekat Radika.
"Nggak papa gimana?" tanya Radika bingung.
"Ya itu, liat mbak Ai nikah sama mas Fatur." tukas Rere pelan tak mau pembicaraan mereka didengar orang lain.
Radika terkekeh pelan membuat ketampanannya naik hingga beberapa kali lipat.
"Emang kenapa? Ya kalau tempo hari ya terasa sakit, tapi kalau sekarang udah nggak lagi. Itu udah jadi bagian masa lalu. Kakak sudah mengikhlaskan semuanya semenjak Aileena menerima lamaran bang Fatur. Yang harus kakak pikirkan sekarang itu masa depan kakak." tukas Radika seraya tersenyum manis. 'Semoga kakak masih punya kesempatan memperjuangkan masa depan kakak.' sambungnya dalam hati.
__ADS_1
"Iya sih, kak. Kan masa depan itu ada di depan, kalau kita selalu nengok ke belakang, kapan majunya." sahut Rere seraya tersenyum manis.
"Pinter." puji Radika seraya mengacak rambut Rere.
Saat sedang berbincang, ponsel Rere bergetar. Setelah melihat nama penelponnya, Rere langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Dia masih suka hubungin kamu?" tanya Radika dengan dahi berkerut tak suka.
Rere mengangguk malas.
"Kamu masih berhubungan sama dia?"
"Ih, ogah lah kak. Mana mau aku sama tukang selingkuh. Baru pacaran aja selingkuh, gimana kalau udah nikah. Ih ogah deh! Amit-amit." tukas Rere seraya bergidik ngeri.
"Bagus deh!" puji Radika sambil tersenyum lebar membuat Rere sontak menoleh saat mendengar ucapan itu.
...***...
"Ai, selamat ya nak. Mama nggak nyangka kini kamu udah nikah sama orang lain. Mama nanti masih boleh kan menemui baby Fareezky?" ucap Santi sendu.
Bagaimana pun, ia sangat menyayangi Aileena. Ia masih berharap Aileena menjadi menantu kesayangannya, tapi itu hal yang mustahil. Bisa tetap melihatnya juga cucunya saja ia sudah sangat bersyukur.
"Terima kasih, ma. Tentu saja boleh. Mama udah Ai anggap seperti ibu Ai sendiri. Begitu pula papa. Lagi pula mau bagaimana pun, Fareezky tetaplah cucu mama jadi mama bebas menemui Fareezky kapan pun itu. Ai nggak akan melarang kok." ujar Aileena sambil mengusap punggung tangan Santi.
"Terima kasih ya nak. Mama dan papa sayang kamu. Malah kami udah anggap kamu seperti anak kandung mama dan papa sendiri."
"Iya ma. Ai juga sayang mama dan papa. Terima kasih selalu berdiri di samping Ai. "
Santi dan Andreas mengangguk seraya tersenyum.
"Oh ya, ada salam dari Adnan. Katanya semoga kamu bahagia. Kini ia sudah benar-benar menyesali perbuatannya. Di dalam lapas, kini Adnan lebih banyak belajar ilmu agama dari guru yang sengaja di datangkan pihak lapas. Mohon doanya ya, nak. Semoga kelak Adnan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Papa mewakili Adnan, sekali lagi memohon maaf atas perbuatannya dahulu yang telah menyakiti kamu." tukas Andreas dengan tatapan mengiba.
Aileena tersenyum tipis. Setiap mendengar nama itu, memang hatinya kadang masih terasa sakit, tapi sampai kapan ia harus menyimpan perih? Hidup itu harus terus berlanjut, bukan. Ia kini hanya berusaha ikhlas mengahadapi setiap perjalanan hidupnya. Semoga dengan begitu, ia bisa menjalani hidupnya dengan lebih ringan dan tanpa beban.
"Iya, pa. Ai terima salamnya dan terima kasih doanya. Alhamdulillah, Ai turut senang bila Mas Adnan telah menyesali perbuatannya. Semoga kelak mas Adnan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." tukasnya dengan tersenyum. "Dan papa nggak perlu khawatir, Ai udah memaafkan mas Adnan kok. Semoga dengan begitu, Mas Adnan juga bisa lebih fokus terhadap perubahannya."
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🙏...