
"Apa? Operasi?" seru semua orang di dalam ruangan itu. Tidak ada terkecuali membuat perawat yang tadi berbicara cengo di tempatnya.
"Nak, kamu mau operasi?" tanya Malika panik sambil berjalan mendekati brankar Fatur. Fatahillah pun mendekat juga untuk memastikan. Disusul Aileena yang kini berdiri di sebelah kiri brankar Fatur.
"Mas, kamu mau operasi? Operasi apa? Kenapa nggak bilang?" cecar Aileena tak kalah panik. Bahkan matanya kini sudah memerah, menahan tangis.
Lalu Fatur meraih tangan Aileena dan menggenggamnya erat dengan tangan kirinya yang terbebas dari jarum infus. Sedangkan matanya fokus ke arah kedua orang tuanya.
"Iya ma, pa, hanya operasi kecil kok. Ada sedikit gumpalan darah di kepala Fatur. Di operasi dikit juga beres kok." ujar Fatur menenangkan kegelisahan kedua orang tuanya.
"Tapi tetap saja nak, itu operasi. Bila sampai di operasi, artinya bila dibiarkan akan berbahaya apalagi seperti katamu itu, gumpalan darah. Bila tidak cepat ditangani bisa berakibat fatal." tukas Malika dengan mata berkaca-kaca.
"Ma ... " tegur Fatahillah saat melihat istrinya hampir menangis. "Sudah, yang penting kita doakan yang terbaik sekarang supaya Fatur lekas sehat seperti sedia kala." ujar Fatahillah menasihati Malika.
"Tapi pa ... "
"Ssh ... sudah! Insya Allah semua akan baik-baik saja." lirih Fatahillah seraya mendekap erat tubuh istrinya.
"Mas ... pasti ini semua karena Ai, kan! Ini salah, Ai! Seandainya Ai nggak menghilang gitu aja pasti mas udah berobat dari kemarin-kemarin terus saat ini mas pasti sudah sehat-sehat aja sekarang." lirih Aileena seraya terisak.
Fatur membawa tangan Aileena ke bibirnya lalu mengecupnya sayang.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Ai! Ini bukan salahmu. Ini murni kesalahanku. Doakan saja semoga operasinya cepat selesai dan berhasil." ucap Fatur menenangkan.
Aileena mengangguk. Lalu Fatur mengulurkan tangannya dan mengusap air mata yang membasahi pipi Aileena.
"Ai-yang, mas minta sesuatu sama kamu, boleh?" tanya Fatur dengan senyum hangatnya. Tatapannya lembut membuat Aileena tak mampu menolaknya lalu mengangguk.
__ADS_1
"Nanti ... bila operasinya berhasil, kamu mau kan nikah sama mas?" tanya Fatur lembut. Tatapannya berbinar indah. Terlihat jelas betapa besar harapannya agar Aileena mau menjawab iya.
Tak mau mengambil keputusan sepihak, lalu Aileena mengalihkan pandangannya ke arah Malika dan Fatahillah. Paham Aileena sedang meminta persetujuan, kemudian kedua orang itu pun tersenyum seraya mengangguk. Aileena pun membalas keduanya dengan tersenyum lebar.
"Insya Allah, mas. Ai mau." jawab Aileena malu-malu. Ia bahkan menundukkan wajahnya. Ia yakin saat ini wajahnya sudah memerah. "Tapi mas harus janji untuk sehat dulu."
"Alhamdulillah ... " ucapnya penuh semangat. Begitu pula Malika, Fatahillah, Andreas, dan Santi mengucapkan Alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukur. Berbeda dengan Radika, ia hanya diam tanpa kata membuat Rere meliriknya. Diperhatikannya wajah Radika, ekspresinya tampak biasa saja membuat Rere bingung bagaimana perasaan Radika saat ini pada Aileena. Apalagi mereka sudah kian dekat. Ia takut kembali patah hati karena ternyata Radika masih memiliki perasaan pada Aileena.
'Ck ...emangnya loe siapa sih, Re pake sok takut patah hati segala. Pacar loe juga bukan. ' lirih Rere dalam hati sambil tertawa hambar.
"Tentu, berkat doamu dan semuanya, mas yakin mas akan segera sembuh. Setelah operasi mas dinyatakan berhasil, mas akan minta mama dan papa segera mempersiapkan pernikahan kita. Mas ingin sekali, saat masa pemulihan nanti, kamu selalu ada di sisi mas. Mas ingin kita segera bersama. Mas takut kamu menghilang lagi jadi mas ingin segera mengikatmu dalam ikatan pernikahan." lanjutnya dengan senyum penuh kelegaan dan kebahagiaan.
Aileena tersenyum lembut sambil mengusap lengan Fatur.
"Selamat berjuang, mas. Ai sama yang lain akan menunggumu dan mendoakanmu." ucap Aileena lirih.
Fatur pun balas tersenyum sambil mengecup kembali punggung tangan Aileena.
Sementara yang lainnya menanti dengan was-was proses operasi Fatur di depan ruang operasi Radika justru mengajak Rere untuk jalan-jalan sebentar alih-alih mencari makan. Dia beralasan belum makan sejak pagi membuat Rere pun merasa bersalah sebab dia lah yang pertama kali mengajak Radika ikut mereka. Radika pun menanggapi ajakan itu dengan senang hati berharap dengan begitu ia bisa makin dekat dengan Rere.
"Mau makan apa kak? Kita kan belum tau daerah sini." ujar Rere. Radika pun tersenyum lebar. Lalu tak lama kemudian, sebuah taksi online berhenti telat di depan mereka yang saat itu sudah berdiri di depan jalan masuk ke rumah sakit.
"Kakak pengen nasi Padang, gimana?" Radika menanyakan dahulu pendapat Rere dan Rere pun menyetujui ajakan Radika sebab perutnya pun sudah lapar.
"Boleh kak, kakak tau dimana restoran Padang yang enak di sini?"
Radika kembali tersenyum lalu ia menepuk bahu sopir taksi itu dan berbicara sebentar dengannya.
__ADS_1
"Apo dek? Restoran Padang yang lemak? Yo taulah. Nak dianter kesano apo?" ujar sopir taksi online itu membuat Rere melongo. (Apa dek? Restoran Padang yang enak? Ya taulah. Mau diantar ke sana ya?)
"Dia ngomong apa sih, kak? Rere nggak ngerti." ujar Rere sambil menggaruk kepalanya.
Radika terkekeh melihat ekspresi bingung Rere.
"Maaf dek, mamang dak biso Bahaso Jakarta cak kamu itu. Maklumlah dek wong kampong." ujarnya lagi membuat ekspresi Rere makin terlihat menggemaskan di mata Radika.
"Kalau yang tadi dia bilang tau restoran Padang yang enak di kota ini. Terus yang barusan dia minta maaf soalnya dia nggak bisa bicara bahasa Jakarta kayak kita. Bagi orang sini, kalau ada yang ngobrol pakai bahasa kayak kita itu dianggapnya bahasa Jakarta. Katanya maklum, orang Kampung. Pak sopir ini kayaknya paham apa yang kita katakan cuma dia nggak bisa membalasnya dengan bahasa yang sama." ujar Radika menjelaskan.
"Yo sudah mang, anterke kami ke sano yo!" ujar Radika pada sang sopir. (Ya sudah paman, antarkan kami ke sana.)
Diliriknya lagi ekspresi Rere dan itu sukses membuatnya tertawa hingga terpingkal-pingkal.
"Ya Allah Re, kamu itu gemesin banget sih! Nyesel kakak baru kenal kamu sekarang." ujarnya sambil mencubit pipi Rere.
Rere yang mendengar kata-kata itu dan juga perlakuan manis itupun sontak tersipu. Salahkah ia merasa kalau Radika telah mulai menyukai dirinya?
"Emang kalau kakak udah kenal Rere lama kenapa?" tanyanya iseng yang sukses membuat tawa renyah Radika terhenti. Lalu ia menatap lekat mata Rere membuat Rere salah tingkah dan memalingkan wajah.
"Nggak usah jawab deh kak kalau nggak mau." Rere mengira Radika terdiam hinggap menatapnya intens seperti itu karena tidak mau menjawab pertanyaannya.
Radika menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil.
"Mungkin kamu yang bakal jadi cinta pertama kakak." ujarnya santai membuat rasa panas tiba-tiba menjalar di wajah Rere. Tapi anehnya, telapak tangannya justru terasa dingin. Jantungnya memompa sangat cepat. Rere sampai khawatir degupan itu terdengar sampai ke telinga Radika dan pak sopir. "Tapi kalau itu terjadi, mungkin saat itu kamu masih kecil ya ... mungkin masih pakai seragam putih merah ujarnya seraya terkekeh sembari menerawang mengingat cinta pertamanya yang selalu bertepuk sebelah tangan biarpun setelah sekian tahun baru berjumpa lagi. Tapi ia segera menepis semua ingatan masa lalu itu sebab yang terpenting sekarang adalah mengejar calon masa depannya. Sedangkan Rere mulai berpikir penasaran, siapakah cinta pertama Radika itu. Apakah ia mengenalnya.
...***...
__ADS_1
Sistem NT eror lagi, udh update ch. 84 dari jam 3 sore, tp sampai sekarang jam 23.23 belum juga terbit. 😥
...Happy reading 🥰🥰🙏**...