
Sudah hampir 2 jam berlalu, tapi proses operasi itu masih berlangsung. Semua orang yang menunggu sudah harap-harap cemas. Untung saja ia sempat menyimpan stok ASI-nya cukup banyak di freezer jadi ia bisa berada cukup lama di rumah sakit.
Beberapa orang sudah pulang terlebih dahulu untuk beristirahat sesuai permintaan Aileena sebab ia tidak mau karena sibuk menemaninya menunggui Fatur di rumah sakit justru membuat yang lainnya ikut jatuh sakit.
Kini di rumah sakit hanya tinggal Aileena, Malika, dan Fatahillah. Dalam hati mereka terus berdoa agar proses operasi Fatur berjalan lancar tanpa hambatan apalagi masalah. Aileena merasa tidak dapat memaafkan dirinya sendiri bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Fatur.
'Ya Allah, berikanlah kelancaran pada proses operasi Mas Fatur. Semoga ia lekas sehat seperti sedia kala.' doa Aileena dalam hati.
Lampu di atas pintu di atas ruang operasi telah berganti warna. Aileena, Malika, dan Fatahillah telah berdiri dengan hati berdebar sembari menunggu dokter keluar dari ruangan serba putih itu.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar. Ia tersenyum lebar dengan raut wajah penuh kelegaan.
Aileena, Fatahillah, dan Malika saling berpandangan. Sepertinya mereka sudah dapat menebak hasil dari operasi itu.
"Bagaimana hasil operasinya, dok? Semua berjalan lancar kan?" tanya Malika.
"Bagaimana keadaan mas Fatur, dok?" tanya Aileena.
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" tanya Fatahillah.
Sepertinya mereka sudah tak sabar menanyakan hasil operasi itu hingga mereka pun serentak bertanya.
Dokter bedah yang bernama Rozak itu pun tersenyum maklum. Dimana-mana, beginilah sikap selaku keluarga pasien. Mereka akan mengkhawatirkan kondisi keluarga mereka pasca selesai operasi.
"Kondisi pasien baik dan operasi berjalan lancar. Untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri. Mungkin pasien akan sadarkan diri sekitar 2 sampai 3 jam lagi. " ujar dokter tersebut dengan tersenyum lembut membuat Aileena, Fatahillah, dan Malika berseru Alhamdulillah bersamaan.
"Alhamdulillah."
"Kalau begitu, saya permisi dulu, pak, Bu. Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruangannya semula untuk menjalani proses perawatan hingga kondisinya benar-benar pulih." tukas dokter itu sebelum beranjak dari hadapan ketiga orang itu.
...***...
Hari sudah menjelang sore, bahkan cahaya mentari pun sudah mulai menghilang, tak lama lagi akan berganti menjadi kelamnya malam. Tepat setelah Aileena menyelesaikan ritual mandinya, terdengar dering ponsel dari atas nakas. Ia pun bergegas mengenakan pakaian terlebih dahulu setelah itu barulah ia mengangkat panggilan video itu.
__ADS_1
Yang pertama kali ia lihat saat panggilan itu ia angkat adalah senyum lebar Fatur. Mata Aileena seketika berkaca-kaca. Betapa hatinya tak bahagia, dapat melihat senyum seseorang yang sudah membersamainya hampir satu tahun ini. Jiwanya lega. Beban hatinya terangkat seketika. Puji syukur tak luput ia panjatkan pada yang kuasa, akhirnya senyum indah itu dapat ia saksikan lagi setelah beberapa Minggu absen dari hari-harinya.
"Assalamu'alaikum, Ai-yang'nya Mas." ucap Fatur dengan senyum menggoda. "Cie, segitunya wajahnya bisa liat senyum mas lagi. Kangen ya?" godanya lagi.
Aileena melotot tajam, tapi bibirnya tetap menyunggingkan senyum. Setetes air mata luput dari ekor matanya.
"Wa'alaikum salam, mas." sahutnya dengan suara serak khas seseorang menahan tangis.
"Lho, kok nangis? Mas ada buat salah, hm? Maaf kalau mas udah buat Ai-yang'nya Mas marah. Maafin ya, please!" ucapnya dengan mimik wajah seperti anak kecil yang mengakui telah berbuat salah.
Aileena terkekeh sambil mengusap kasar air matanya.
"Iya, mas salah! Mas nyebelin. Ai kesel sama, mas." ucap Aileena sambil mencebikkan bibirnya.
"Iya, iya, mas salah. Maafin, mas ya walaupun mas belum paham salah mas apa tetap mas minta maaf. Ai-yang'nya Mas itu selalu benar." ucap Fatur lagi.
"Iya, mas salah. Udah buat Ai sedih. Tau nggak, tadi Ai khawatir banget saat mas masih di ruang operasi." tukas Aileena dengan wajah cemberut.
"Baik-baik aja dari Hongkong. Mas masih harus dirawat intensif. Tuh juga, kakinya. Udah tau patah, masih dipaksa jalan jadinya kan penyembuhannya makin lama." protes Aileena dengan bersungut-sungut kesal.
"Cie, bilang aja udah nggak sabar mau nikah sama, mas."
"Cih, pedean." ejek Aileena.
"Tapi kamu nggak lupakan janji, kamu sama mas? Ini operasinya udah berhasil lho." ucap Fatur sambil menyeringai.
"Kan ... kan ... Ai bilang harus sembuh dulu."
"Gimana mau sembuh kalo perawatnya tinggal terpisah."
"Jadi mas mau perawatnya tinggal sama mas gitu? Hmm ... gitu ya!" mata Aileena mendelik. Ia gagal paham apa yang dimaksud Fatur.
"Ya iyalah, harus itu. Bukannya lebih efektif kalau perawatnya tidur di satu kasur yang sama, bersisian. Udah dapat perawatan ekstra, dapat kehangatan juga. Poinnya plus-plus."
__ADS_1
Mata Aileena makin melotot, bibirnya mengkerut, dengan gigi bergemeletuk.
"Ya udah, nikah sama perawat sana aja, jangan sama Ai." seru Aileena bersungut-sungut
Mata Fatur mengerjap beberapa kali, mencerna apa yang dimaksud Aileena. Lalu beberapa detik kemudian Fatur tertawa kecil. Karena ia baru selesai operasi, ia tidak punya cukup tenaga walau hanya untuk tertawa lepas.
"Ya Allah, gemesin banget sih calon istriku ini. Kalau ada di sini, pasti udah mas cium kayak kemarin." ucapnya membuat wajah Aileena merona mengingat apa yang mereka lakukan kemarin. Ia pun tidak menyangka bisa melakukan hal tersebut.
"Ai-yang, yang mas maksud itu kamu. Mas pingin kamu jadi perawat, mas. Mas pingin nikahin kamu secepatnya. Mungkin kalau Ai-yang'nya Mas yang rawat, mas bakalan lebih cepat pulihnya. Mas pingin nikahin kamu segera, kalau perlu besok jadi mas nggak perlu khawatir lagi saat berdekatan sama kamu. Mas mau jujur, setiap liat Ai, rasanya mas pingin sentuh Ai, walau hanya cium pipi, tapi mas takut. Mas takut khilaf walau akhirnya mas sempat beberapa kali kelepasan dan yang paling mendebarkan sekaligus menakjubkan itu yang kemarin. Mas laki-laki normal, sayang. Tentu saat berdekatan dengan orang yang mas cintai dan sayangi kadang menimbulkan gelenyar aneh dan perasaan ingin menyentuh. Mas bersyukur, selama dekat sama Ai, mas masih bisa mengontrol diri. Selama ini, setiap berinteraksi dengan lawan jenis mas nggak pernah merasa kayak gini. Hanya sama kamu, sama Aileena Nurliah. Cinta pertama sekaligus terakhir mas. Kamu mau kan nikah sama mas secepatnya?" ucap Fatur dengan sungguh-sungguh.
Jantung Aileena seketika berdetak dengan sangat kencang. Ia tak menyangka Fatur akan mengajaknya menikah secepat ini padahal ia saja baru selesai menjalani operasi. Tapi apa yang ia tuturkan tadi memang ada benarnya. Ia pun sebenarnya ingin sekali ikut andil merawat Fatur tapi apalah daya ia memiliki seorang bayi mungil yang membutuhkannya. Selain itu ia dan Fatur belum memiliki ikatan yang sah untuk terus bersama. Ia berpikir keras haruskah ia menjawabnya saat ini juga.
"Nikah secepatnya itu emangnya kapan?"
"Seperti kata mas tadi, kalau perlu besok. Di sini. Kalau kamu setuju, mas akan minta papa urus semuanya. Pasti mereka akan membantu dengan senang hati." tukas Fatur santai tapi tidak dengan Aileena. Ia justru terkejut bukan kepalang.
"Hah! Besok? Di rumah sakit?" pekik Aileena shock.
"Iya, memang kenapa? Ada masalah?" tanyanya dengan tersenyum manis. "Jadi bagaimana, sayang?" ucap Fatur lagi dengan senyum makin lebar.
"Terima."
"Terima."
"Terima."
Seru entah suara siapa saja dari seberang telepon dan Ussy yang ternyata telah menguping dari balik pintu.
Wajah Aileena sontak memerah. Ia tak menyangka pembicaraannya sejak tadi ada yang mendengarnya.l
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1