
Saat mbok Ningsih sedang bergegas menuju ke pintu depan, di belakangnya, Aileena turut menyusul. Ia juga penasaran siapa yang datang di jam yang belum menunjukkan tengah hari. Dalam benak Aileena, hanya 5 orang yang berkemungkinan datang saat matahari belum terlalu terik seperti itu, yaitu Fatur, Radika, Khanza, Rere, atau mantan mertuanya.
Akan tetapi, yang hadir di depannya justru seseorang yang jauh dari ekspektasinya. Seseorang yang tak terduga. Seseorang yang ia sudah anggap sebagai bagian masa lalu terpahitnya. Seseorang yang pernah memberikan cinta sekaligus menggoreskan luka terdalam dan terperih. Seseorang yang mati-matian ia lupakan walaupun ada bagian dari dirinya yang kini sedang bersemayam di dalam rahimnya.
Tubuh Aileena tiba-tiba bergetar. Kenangan pertemuan terakhir mereka ternyata cukup memberikan rasa trauma. Bahkan wajah Aileena kini pucat seketika. Bagai tiada aliran darah yang mengalir di bawah lapisan kulit yang putih seputih salju itu. Keringat dingin mulai membasahi mulai dari pelipis, leher, hingga sekujur tubuh Aileena. Bila ingin tau betapa sakitnya Aileena akibat perbuatan Adnan, bisa dilihat dari reaksi tubuhnya. Bahkan tatapan mata Aileena pun bergetar, ada rasa sakit, pedih, takut, dan gelisah yang menggelayut di netra bening nan indah itu.
Melihat reaksi majikannya yang tak biasa , Mbok Ningsih segera mengirimkan pesan kepada tuannya.
"Den, cek CCTV depan, ada tamu mencurigakan. Non Aileena sampai ketakutan. Mbok nggak tau siapa dia." send.
Fatur yang saat itu sedang mengawasi jalannya proyek konstruksi sebuah apartemen yang tak jauh dari kediaman Aileena, meraba sakunya saat merasakan ada getaran dari ponselnya. Saat melihat nama si pengirim, Fatur pun segera membuka pesan itu dengan perasaan was-was. Kemudian sesuai instruksi mbok Ningsih, Fatur segera membuka rekaman CCTV di rumah Aileena yang terhubung ke ponselnya.
Fatur menggeram saat melihat apa yang terpampang di layar ponselnya. Ia sampai menggenggam erat ponselnya menahan gejolak amarah di dalam dada.
Jantung Fatur sontak berdegup kencang, ia takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada wanita pujaan hatinya itu.
"Ram, kamu segera handle proyek ini ya!" titahnya pada Rama yang sedang berdiri tak jauh dari posisinya.
"Pak bos mau kemana?" tanya Rama penasaran sebab setaunya, Fatur tidak memiliki janji atau pekerjaan lain di luar. Apalagi terlihat dengan jelas seraut wajah panik pada atasannya itu.
__ADS_1
"Aku harus segera ke rumah Aileena. Si mantan sialannya datang lagi. Entah dia mau apa. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Aileena dan calon anaknya." ujar Fatur dengan nafas yang memburu sembari berlari kecil menuju mobilnya.
Rama mengikuti langkahnya dari belakang.
"Hati-hati, bro! Kabarin segera kalau terjadi sesuatu atau butuh bantuan. Aku akan siap selalu." ujar Rama sambil menepuk pundak Fatur sebelum Fatur memasuki mobil. Fatur pun mengangguk.
"Thank's. Aku berangkat dulu." pamitnya.
Fatur mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jaraknya saat saat ini ke rumah Aileena memang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja memakan waktu. Hati Fatur tiba-tiba nyeri. Berbagai spekulasi mampir di benaknya tentang apa alasan kedatangan Adnan kali ini. Ia pikir, ia hanya mencari sekali lalu saja melalui Rere, tapi nyatanya sepertinya ia serius ingin menemukan keberadaan Aileena. Berarti memang ia memiliki sebuah tujuan. Entah apa tujuan sebenarnya. Ia harap, Adnan kali ini tidak berbuat macam-macam yang akhirnya akan menyakiti Aileena kembali.
Fatur mengambil earphone wirelessnya dan memasangnya di telinga. Lalu ia menghubungi satu nomor.
"Kau sudah standby di tempat?" tanya Fatur tanpa basa-basi.
"Awasi terus pergerakan di dalam sana. Bila terlihat sesuatu yang mencurigakan, masuk saja!" titahnya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya lalu ia segera menutup panggilan itu.
"Mas Adnan mau apa kemari? Bagaimana mas tau rumahku di sini?" cecar Aileena. Ia masih berdiri di tempatnya. Entah mengapa, apa mungkin karena rasa takut, cemas, juga khawatir yabg tiba-tiba memenuhi rongga dada hingga otaknya, membuat kakinya seolah dipaku ke bumi.
"Aku merindukanmu, Ai. Mas merindukanmu, sayang. Mas benar-benar rindu padamu." ujar Adnan seraya melangkahkan kakinya hendak mendekati Aileena.
__ADS_1
"Stop!" teriak Aileena panik. "Jangan mendekat!" serunya. Bola mata Aileena tampak berotasi kesana kemari, menunjukkan tingkat kecemasan yang kian meningkat.
Mbok Ningsih yang tadinya hendak kembali ke belakang, membatalkan langkahnya saat melihat punggung majikannya bergetar. Ia pun bergegas memegangi pundak Aileena agar tidak luruh ke lantai.
"Kenapa, Ai? Kenapa Mas nggak boleh mendekat? Mas kangen sama kamu, Ai. Mas ingin peluk kamu." ujar Adnan tanpa memikirkan bagaimana reaksi tubuh Aileena yang bergetar. Ia seakan buta, tidak dapat melihat raut ketakutan yang tersirat di wajah Aileena.
"Bohong. Aku nggak mau dipeluk kamu. Aku benci dan jijik sama kamu, Mas. Jadi jangan pernah mendekat ke arahku atau aku akan berteriak." seru Aileena dengan tubuh bergetar dan nafas memburu.
"Ai, maafkan semua kesalahan mas, mas benar-benar merindukan kamu. Mas nggak bohong, Ai. Mas ingin kembali lagi padamu. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama. Kalau urusan Delima, kamu tenang saja, setelah ia melahirkan, mas akan menceraikannya. Kamu mau kan kembali sama, Mas, demi anak kita juga. Mas tau, kau pasti masih mencintai, Mas kan!" ucapnya tanpa rasa bersalah.
Aileena terkekeh sambil meneteskan air matanya. Ia usap kasar air mata itu. Ia benar-benar tak Sudi menangisi pria brengs*k seperti mantan suaminya itu. Bagaimana dulu ia bisa begitu bodoh jatuh cinta pada pria seegois Adnan?
"Maaf itu udah basi mas, udah kadaluwarsa. Mas tau kan bagaimana cara memperlakukan barang yang sudah kadaluarsa? Dibuang." ujar Aileena sambil mencibir . "Rindu katamu, mas? Maaf, kata rindu itu hanya berlaku untuk orang yang aku sayang, sedangkan mas, semenjak mas menduakanku tempo hari, semenjak itu juga aku telah menghapus semua rasa cinta , sayang, rindu, dan butuh dalam hati dan otak ini." tutur Aileena seraya menepuk dada kirinya dan menunjuk kepalanya sendiri. "Jadi jangan harap aku akan kembali kepadamu. Walaupun di dunia ini tiada lagi lelaki selain dirimu, aku tetap takkan memilihmu. Apa yang telah aku buang, pantang aku pungut kembali." tegas Aileena.
Walaupun dadanya tengah bergemuruh saat ini, ia tetap tak bisa berhenti mengeluarkan isi hatinya. "Apa tadi katamu, Mas? Anakmu? Demi anak kita?" ujar Aileena seraya terbahak perih. "Bukankah kau sendiri yang bilang, ini anakku dari lelaki lain?" cibir Aileena mengingatkan akan kata-katanya saat di rumah sakit tempo hari.
"Itu karena kesalahanmu sendiri, Ai. Kesalahpahaman itu terjadi karena ketidakjujuran mu sendiri. Andai dari awal kau mengatakan tentang kehamilanmu, tentu aku akan mempertahankanmu dan lebih memilih dirimu sebagai istriku, Ai. Jadi kau tidak bisa melimpahkan semua kesalahanmu padaku? " tegas Adnan tak terima lagi-lagi ia yang disalahkan.
"Salahku? Kau menyalahkan aku? Kau tau, hari dimana semua kebusukanmu terbongkar awalnya hari paling membahagiakan bagi ku. Hari itu dengan kebahagiaan membuncah aku pulang untuk memberikan kejutan terindah padamu. Tapi apa yang aku dapat? Justru akulah yang mendapatkan kejutan tak terduga dari kalian. Kalian menusukku dari belakang. Kalian menghancurkanku hingga berkeping-keping. Duniaku hancur seketika. Andai aku tak ingat dosa dan buah hati yang sedang ku kandung, mungkin aku sudah bunuh diri. Sakit mas, kau tau bagaimana rasanya hatiku saat itu? Jadi bagaimana caraku memberitahukannya? Apa kau pikir aku mau dimadu dengan perempuan tak tau diri itu? Apa kau pikir aku masih mau disentuh oleh tubuhmu yang menjijikkan itu? Nggak mas. Aku sudah kadung jijik. " ucap Aileena dengan suara bergetar. Susah payah ia menahan gejolak di dadanya. Sekuat tenaga ia mencoba bertahan menghadapi lelaki egois di hadapannya itu.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...