
Pagi menjelang, embun pagi yang membasahi dedaunan bahkan telah mulai menguap ke udara. Dinginnya malam telah berganti hangatnya mentari. Dari celah-celah gorden, tampak cahaya mentari menyusup, mengganggu ketentraman seorang pria yang masih lelap dalam buaian tidurnya.
Pria itu menggeliat dan mulai mengerjapkan matanya yang belum sepenuhnya sadar. Hingga netranya terbuka sempurna, ia mengedarkan seluruh pandangan matanya menyapu sekitar membuatnya membelalakkan matanya terkejut.
"Kamu udah bangun, Don?" tanya Risa yang sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi sebab mata Doni telah terbuka lebar. Ia meletakkan segelas air putih di atas nakas tanpa memandang wajah cengo anaknya.
"Kenapa aku ada di sini, Ma?" tanya Doni yang akhirnya membuka suara. Risa sudah ada di ujung pintu, hendak keluar. Walaupun banyak sekali pertanyaan yang menggelayut di benaknya, tapi ia tidak akan bertanya sekarang. Mungkin setelah Doni membersihkan diri dan sarapan, baru ia akan mengajukan berbagai pertanyaan yang sejak semalam ingin ditanyakannya.
"Kamu mabuk, bartender hubungin mama, jadi mama minta Dika jemput kamu." sahut Risa jujur. "Buruan mandi, terus sarapan. Ini udah siang. Kalau kepala kamu pusing, libur kerja aja dulu barang sehari." ujar Risa lalu ia segera keluar dari kamar Doni tanpa menunggu jawabannya.
Doni pun segera melakukan apa yang diperintahkan Risa. Kepalanya memang masih terasa pusing. Sepertinya efek alkohol belum benar-benar menghilang dari dirinya. Namun hal tersebut tak pelak menyurutkan langkahnya untuk menuju kamar mandi.
30 menit kemudian, Doni pun tampak menuruni undakan tangga satu persatu. Penampilannya sudah tampak lebih rapi, tidak seperti semalam yang sangat berantakan.
Doni segera menuju meja makan untuk menyantap sarapan yang sebenarnya sudah sangat telat karena hari sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Tapi ia tetap harus makan sebab ia pun merasa perutnya sudah sangat keroncongan. Apalagi hari itu , Risa sudah memasakkan makanan kesukaannya, telur balado petai dan soto ayam kampung. Ya, Doni memang gemar sarapan dengan makanan berat seperti nasi beserta lauk-pauknya. Tiba-tiba mata Doni memanas dan berlinangan air mata. Melihat menu itu, sontak saja ia menjadi teringat sang istri yang kini pergi meninggalkannya. Dengan tangan bergetar, Doni mencoba menyendoki nasi ke piringnya. Risa memperhatikan gerak-gerik sang putra yang agak aneh. Ia terkejut saat melihat tangan Doni gemetaran saat hendak menyendok nasi ke piringnya. Bahkan Doni menggigit bibirnya sendiri untuk menahan isakan yang bisa saja didengar sang ibu.
__ADS_1
Paham sepertinya putranya sedang bersedih, Risa membantu Doni menyendokkan nasi dan sambal telur balado. Lalu ia mengambil mangkuk kecil untuk wadah soto dan meletakkannya di samping piring nasi. Risa mengusap pelan bahu Doni sembari tersenyum menguatkan. Ia meminta Doni segera menghabiskan makanannya dan dengan patuh Doni melakukannya walaupun dengan mata memerah.
Setelah selesai, Ilham meminta Doni dan lainnya berkumpul di ruang tengah untuk meminta penjelasan Doni terkait apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi kamu bisa jelaskan ke papa, sebenarnya apa yang terjadi pada kamu dan Nuri, Don?" tanya Ilham to the point membuat Doni membulatkan matanya yang merah. "Tak usah bingung, kamu sendiri yang meracau semalaman mengucap kata maaf hingga berkali-kali. Sekarang jelaskan tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi!" titah Ilham tegas dan menuntut.
Doni menundukkan wajahnya dengan kedua tangan saling meremas.
"Nuri ... Nuri mengirim surat gugatan cerai, Pa." ucapnya dengan suara tercekat di tenggorokan. Doni memejamkan matanya untuk mengontrol perasaannya yang kacau balau.
"Menggugat cerai? Apa alasannya? Tidak mungkinkan dia menggugat ceraimu tanpa alasan!" cecar Risa.
"Semua salah, Doni, Ma, Pa. Doni sudah menyakiti dan mengecewakan, Nuri." ucapnya terbata.
"Iya, mama dan papa tau, pasti kamu udah berbuat sesuatu yang fatal, tapi apa itu? Cepat jelaskan, jangan bertele-tele." ujar Ilham tegas dengan nada meninggi.
__ADS_1
"Pa, tenang! Jangan marah-marah dulu! Kita dengarkan dulu penjelasan kak Doni!" sergah Radika pelan.
Doni menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Doni ... punya anak dengan wanita lain." ucapnya parau.
"Apa????" seru ketiga orang itu tak percaya dengan apa yang Doni ucapkan. Ilham memegang dadanya, shock, begitu pula Risa, ia benar-benar terkejut mendengarnya.
"Jelaskan, siapa perempuan itu!" tegas Risa dengan nafas memburu.
Lalu Doni mengambil ponselnya dan membuka nomor WhatsApp seseorang. Ia klik foto profil perempuan itu lalu menunjukkannya pada Risa, Ilham, dan Radika.
Seketika mata mereka makin melotot saat melihat siapa yang ada di dalam foto itu. Tiba-tiba, pandangan Risa menggelap, hingga semuanya tak nampak lagi membuat Radika, Ilham, dan Doni panik.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...