
Bila biasanya Radika pulang ke apartemennya, maka hari ini ia pulang ke rumah sebab ia masih harus memeriksa kondisi ibunya. Setelah membersihkan diri, Radika segera menuju kamar ibunya dan duduk di tepi ranjang. Karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Risa sudah tertidur nyenyak, namun masih tampak pucat. Beruntung tadi Risa hanya terserang serangan jantung ringan jadi setelah mendapatkan perawatan dari dokter keluarganya, Risa bisa kembali beristirahat.
"Mama udah minum obat, kak?" tanya Radika pada Doni yang sedang duduk di sofa kamar Risa.
Lalu Doni mengangguk
"Papa mana?"
"Tadi ada urusan mendesak jadi keluar." sahut Doni pelan takut mengganggu tidur Risa. "Bisa bicara sebentar?" tanya Doni pada Radika.
Lalu Radika pun mengangguk seraya berjalan keluar dari kamar Risa. Mereka kini sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Kakak mau bicara apa?" tanya Radika setelah mereka duduk di ruang tamu. "Apa itu tentang perempuan itu?" tebak Radika sebab setelah Risa pingsan tadi , mereka tidak membahas lebih lanjut tentang perempuan yang ada di foto yang ditunjukkan Doni.
Doni mengangguk mantap, "Sebenarnya ada apa? Kenapa mama langsung pingsan saat melihat foto itu? Apa kalian mengenalnya?" cecar Doni penasaran
Radika menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Dia Delima, bukan! Panggilannya Ima." ucap Radika mencoba meyakinkan apa yang dia lihat.
Doni mengerutkan keningnya merasa makin penasaran.
"Iya, dia Delima, kau mengenalnya?" tanya Doni dengan raut muka pemasarannya.
Radika menghembuskan nafas panjang, lalu menatap Doni dengan tatapan yang entahlah.
"Sangat. Dulu, tepatnya 3 tahun yang lalu aku sangat mengenalnya tapi setelahnya, tidak." ucap Radika masih ambigu, namun Doni masih menunggu penjelasan selanjutnya. "Sebab dia adalah mantan pacarku. Dan aku memutuskannya karena mamaa dan papa tidak menyetujui hubungan kami. Alasannya karena Ima bekerja di klub malam." tutur Radika sangat mengejutkan Doni.
Mata Doni membelalak, ini kejutan luar biasa pikirnya. Ia jadi dapat menerka mengapa Risa sampai shock seperti itu. Mendengar ia telah mempunyai anak saja cukup membuat kedua orang tuanya shock apalagi kenyataan siapa perempuan yang telah menjadi ibu dari anaknya itu. Seseorang yang telah ditolak Risa dan Ilham, bahkan Radika sampai lebih memilih memutuskan hubungannya dengan Delima karena kedua orang tuanya tidak setuju, lalu dia malah membuat perempuan itu mengandung benihnya hingga melahirkan sosok Nanda.
"Jadi kakak mau bagaimana sekarang? Apa kakak selama ini bertanggung jawab pada anak itu?" tanya Radika. Pantas saja saat pertama kali melihat Nanda ia seperti familiar dengan wajahnya, ternyata itu karena dia anak dari kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Kakak tidak tau, Ka. Kakak sedang fokus mencari Nuri. Entah dia bersembunyi dimana. Kakak tidak bisa kehilangan dia." desahnya frustasi. Doni sudah menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Dulu kakak sering memberinya uang, tapi karena kakak pergi keluar kota cukup lama tempo hari, kami kehilangan komunikasi. Saat bertemu lagi, kakak dan dia terbawa suasana hingga membuat kesalahan lagi, akhirnya dia kembali hamil dan diusir suaminya. Tapi kini ia menikah lagi dengan pria lain. Semoga saja dia mau menerima anak yang dikandung Ima."
Mendengar penuturan Doni, Radika langsung menegakkan tubuhnya dan menatap tajam Doni, "Apa maksud kakak dia menikah lagi dalam keadaan hamil anak kakak?" sembur Radika meyakinkan.
"Iya, sepertinya ia menerima keadaan Ima, buktinya sampai sekarang mereka aman-aman saja bahkan suaminya lebih memilih Ima daripada istrinya." ungkap Doni yang justru membuat Radika terhenyak.
"Jadi sekarang Ima sedang hamil anakmu?" seru Radika dengan nada meninggi.
Doni bingung melihat Radika sepertinya mulai kesal.
"Iya? Kenapa? Apa kau masih mencintainya?" tanya Doni bertanya dengan raut muka bingung.
"Brengs*k kau!"
Bugh ...
Tiba-tiba saja Radika memukul wajah Doni hingga sudut bibir Doni berdarah.
"Kau apa-apaan, Ka? Apa kau masih mencintainya?" geram Doni karena Radika telah memukulnya hingga berdarah. Ia pikir, Radika memukulnya karena masih mencintai Delima.
Kini Doni terpengkur sendiri memikirkan semua kesalahannya. Ia kini mulai menyadari, mungkin ini karma untuknya karena telah melakukan perbuatan yang terlarang padahal ia telah memiliki pasangan. Selain itu, ia pun tak menyangka, Delima telah membuat kebohongan di depan suaminya dengan mengatakan bayi yang dikandungnya adalah anak dari suami barunya tersebut. Doni merutuki dirinya sendiri, akibat perbuatannya dan Delima, mereka telah menghancurkan kehidupan 2 wanita baik. Ia benar-benar tak menyangka, karena perbuatannya dengan Delima bisa berakibat fatal seperti itu.
...***...
Rere baru saja selesai mengerjakan tugasnya. Setelah selesai, ia segera mencuci muka dan menggosok gigi. Baru saja Rere hendak memejamkan matanya, ia kalah teringat peristiwa sore tadi.
Pipi Rere seketika bersemu merah. Ia sendiri bingung, mengapa ia bisa tiba-tiba tergoda untuk menempelkan bibirnya di bibir Radika. Ia pikir Radika sedang tidur, ia tak menyangka jika Radika hanya memejamkan mata saja. Entah apa yang dipikirkan Radika tentang dirinya karena sudah berani-beraninya mencoba mencium bibirnya. Padahal ia hanya ingin mencoba menempelkan bibir saja. Ia penasaran bagaimana rasanya pertemuan bibir dengan bibir. Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Radika justru benar-benar menciumnya dengan mesra. Radika menciumnya seperti mencium kekasihnya.
flashback on
Rere jadi malu sendiri saat Radika melepaskan ciumannya. Radika menatap lekat matanya, namun Rere hanya bisa tertunduk malu. Lalu Radika menyeka sisa-sisa saliva yang membasahi bibir Rere menggunakan ibu jarinya hingga mata mereka saling bersirobok.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya bagimu?" tanya Radika , Rere hanya bisa mengangguk malu. Ingin rasanya ia masuk ke lubang semut atau segera menghilang dari hadapan Radika karena ia begitu malu.
"Jangan sembarangan mencoba-coba apalagi dengan lelaki sembarangan!" Radika memberikan peringatan pada Rere yang hanya diangguki oleh Rere. Ia kadung malu jadi tidak berani mengangkat wajahnya. Dalam hati ia merutuki kebodohannya. Ingin rasanya ia segera pergi dari sana, tapi ia bingung harus membuat alasan apa.
Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, dalam hati ia bersorak girang saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Siapa?" tanya Radika saat Rere telah menutup panggilan teleponnya.
"Oh itu, ibu korban kecelakaan tadi bilang anaknya ingin bertemu dengan Rere untuk mengucapkan terima kasih. " jelas Rere .
"Oh, memang korbannya lelaki apa perempuan? " tanya Radika meminta penjelasan.
"Oh, laki-laki kak. Kayaknya seumuran Rere deh. Kayaknya juga dia baru pulang kuliah sama kayak Rere soalnya dia pakai tas ransel dan ada buku-buku di dalamnya." Rere memberi penjelasan dengan mata menatap ke arah lain. Ia masih merasa canggung dengan Radika.
Radika sontak mengerutkan keningnya, "Kapan kau akan menemuinya?"
"Besok siang, kak. Sepulang kuliah. Mumpung besok kuliah pagi jadi siangnya Rere ada waktu."
"Sebelum kesana, ke ruangan kakak dulu. Nanti kakak temani." tukas Radika membuat alis Rere seketika bertaut karena bingung.
"Rere bisa sendiri kok, kak. Nggak perlu ditemenin." tolak Rere halus.
"Nggak ada penolakan atau kamu mau kakak bilang ke Aileena kalau kamu udah mencium kakak diam-diam?" ancam Radika dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.
Mata Rere melotot seketika, tentu ia tidak mau hal itu terjadi. Mau dikemanakan mukanya kalau Aileena sampai tau perbuatannya itu, batinnya.
"Ish, kak Radi, jangan gitu dong! Mau ditaruh dimana muka Rere kalau mbak Ai sampai tau. Iya ... iya ... Rere temuin pak dokter Radika dulu terus minta temenin, puas!" ketus Rere membuat Radika tersenyum lebar.
"Gadis baik." pujinya yang justru mampu membuat pipi Rere bersemu merah.
flashback off
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🙏🥰...