
Setelah taksi menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, akhirnya Delima tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Ia mengetahui alamat rumah ini dari kartu nama Doni yang pernah terjatuh saat terakhir kali mereka bertemu. Dengan tangan bergetar, Delima membuka pintu taksi lalu ia meminta sopir itu menunggunya sebentar sebab ia takkan lama di sana.
Setelah turun dari taksi, Delima segera menuju pagar rumah yang tidak terkunci. Dipandanginya wajah Nanda yang belum lama terbangun dari tidurnya dengan tatapan sendu. Nanda yang melihat tirai bulir-bulir kristal bening di mata Delima pun terdiam. Tangannya terayun menyeka bulir-bulir yang hampir jatuh itu dengan lembut. Matanya ikut berkaca-kaca melihat sang ibu yang akhirnya menumpahkan tangisnya. Dipeluknya tubuh Nanda mungkin untuk yang terakhir kali. Tubuhnya bergetar hebat, ada perasaan tak rela untuk berpisah, tapi ini jalan yang terbaik pikirnya sebab ia yakin takkan bisa memberikan kebahagiaan untuk putrinya itu.
Lalu Delima melepaskan pelukannya dari Nanda dan mengecupi seluruh bagian wajahnya. Dilihatnya, bibir Nanda sudah bergetar terisak. Mungkin dalam hati Nanda pun merasakan bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa melihat ibunya. Namun, ia tak mampu menyuarakannya.
"Ma-ma ... mama ... mama ..." ucap Nanda berkali-kali membuat tangis Delima makin pecah.
Sopir taksi yang masih menunggu di tempatnya bingung dan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi. Bahkan ia pun turut sedih melihat kesedihan yang tersirat jelas di wajah ibu dan anak itu. Penjaga rumah yang belum lama berdiri di sana pun terpaku, bingung melihat kedua orang itu. Apalagi ia tidak mengenal mereka berdua.
"Sayang, maafkan mama ya terpaksa meninggalkan mu di sini. Ini rumah papamu, nak. Mama harap mereka dapat memberikan kasih sayang dan kebahagiaan terlepas dari bagaimana cara hadirmu di dunia ini. Kau pantas berbahagia, nak. Mama akui, semua salah mama. Mama tak masalah bila kau maupun mereka membenci mama, tapi mama harap mereka mencintaimu seperti mama mencintaimu selama ini. Mungkin ini kali terakhir kita bersama sayang. Tapi mama tetap berharap, suatu hari nanti, kita akan berjumpa lagi. Mama sayang kamu, nak. Sangat sayang." lirih Delima lalu ia memeluk Nanda sekali lagi dan mengecup keningnya lama.
Lalu Delima berdiri dan bicara dengan penjaga rumah itu. Ia juga menitipkan sepucuk surat untuk Doni. Setelah selesai, ia menatap wajah Nanda sekali lagi. Wajah itu, akan ia simpan di memorinya selamanya. Wajah itu, wajah putri kesayangannya. Harta satu-satunya yang paling berharga yang pernah ia miliki di dunia ini.
"Selamat tinggal, sayang. Berbahagialah, sayang. Mama akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Mama mencintaimu, sayang." lirih Delima sebelum naik ke dalam taksi.
Di dalam taksi, tangis Delima makin pecah. Ia tak sanggup membendung rasa sedih, sesak, dan sesal yang menggelora. Sopir taksi itu hanya bisa menatapnya iba. Ia tidak tahu apa permasalahan Delima sehingga ia tega meninggalkan putrinya di rumah yang dari curi dengarnya tadi merupakan rumah ayahnya. Sopir taksi itu hanya bisa berdoa dalam hati, semoga apapun yang terjadi merupakan yang terbaik bagi semuanya.
__ADS_1
...***...
Akhir-akhir ini Aileena mulai mengalami kontraksi palsu. Awalnya ia merasa sudah akan melahirkan sebab ia kerap merasakan rasa nyeri di perut dan di jalan lahir, tetapi saat diperiksa di klinik ibu dan bayi, ternyata yang ia rasakan adalah kontraksi palsu. Ia bernafas lega, sebab kehamilannya saja belum genap 9 bulan. Tentu ia ingin melahirkan secara normal dan tanpa ada masalah apapun.
Kontraksi palsu atau dikenal dalam dunia medis sebagai kontraksi Braxton Hicks merupakan hal normal yang terjadi pada wanita hamil. Kontraksi semacam itu merupakan persiapan rahim untuk menghadapi persalinan dan akan muncul lebih sering sebagai tanda melahirkan semakin dekat.
Untuk mengalihkan rasa nyeri yang perlahan menderanya, Aileena pun mengisinya dengan jalan santai di taman rumahnya sambil menyirami bunga, memberi makan ikan-ikan di dalam kolam mininya, dan memangkas daun-daun yang mulai menguning dan kering agar tanamannya tampak lebih rapi dan indah.
Karena merasa lapar, Aileena pun masuk ke dalam dan mengambil beberapa camilan untuk mengganjal perutnya. Hari baru menunjukkan pukul 10 pagi, ia mulai bosan dengan rutinitasnya yang itu-itu saja. Namun tetap ia harus menerima sebab itu demi buah hati yang tak lama lagi akan melihat dunia.
"Alhamdulillah, udah mbok. Tapi merasa kayak masih ada yang kurang mbok. Mbok bisa bantu Aileena ngeceknya nggak? Maklum mbok, ini kan kali pertama Aileena mau lahiran terus pengalaman pertama ngurusin yang kayak beginian. Perlengkapan bayi aja kalau nggak mbok kasi tau apa-apa aja yang perlu dibeli pasti Aileena nggak tau." terang Aileena jujur yang memang masih sangat awam dengan perihal mengurus bayi.
Mbok Ningsih tersenyum lebar dan mengiyakan permintaan majikannya itu.
"Non, non juga harus siapin baju ganti buat non. Bagusnya yang daster biar mudah. Terus beli pembalut khusus ibu melahirkan juga. Nah, kainnya ini kurang kalau cuma 2. Soalnya kalau lahiran itu non, banyak darah kita yang keluar jadi butuh kain sarung lebih dari 2. Itu sih kalau mbok di kampung, nggak tau kalau lahiran di kota ini non, kainnya disediain pihak rumah sakit atau bawa sendiri. Kalau untuk kebutuhan dedek bayinya sih udah komplit." tukas Mbok Ningsih saat memeriksa apa saja isi tas perlengkapan melahirkan milik Aileena.
"Oh, gitu ya mbok! Nanti Ai tambahin lagi aja kainnya buat jaga-jaga. Oh ya, mbok bisa bantuin beliin pembalutnya nggak soalnya menurut feeling Ai sih, nggak lama lagi Ai bakal lahiran soalnya nyeri di perut Aileena makin terasa." ujar Aileena menjelaskan membuat mbok Ningsih membulatkan matanya.
__ADS_1
"Masya Allah, kok non nggak cerita sih!" pekik Mbok Ningsih saat mendengar penuturan Aileena.
"Takutnya ini kontraksi palsu lagi mbok. Makanya Ai nggak mau panik-panik kayak tempo hari. Nyerinya juga masih berjarak kok nggak rapet-rapet gitu " tukas Aileena menenangkan Mbok Ningsih.
"Ya udah, mbok beli pembalutnya dulu ya non! Mbok minta Jeki aja anterin ke apotek biar cepat, nggak papa kan non!" ujar mbok Ningsih izin minta diantar Jeki, penjaga rumah Aileena.
"Iya mbok, silahkan! Ai nggak papa kok. Kan apotek nya agak jauh jadi mending minta anterin Jeki pake motor."
"Baik, non. Mbok permisi dulu."
Lalu Mbok Ningsih pun segera ke depan meminta Jeki mengantarkannya ke apotek. Baru 15 menit mbok Ningsih pergi, tiba-tiba ada sebuah sedan hitam yang masuk ke pekarangan rumah Aileena. Lalu pemilik mobil itu segera turun sambil mengawasi sekitar. Setelah itu, ia berjalan menuju ke pintu dan membukanya kasar yang bertepatan dengan Aileena yang baru keluar dari dalam kamarnya. Aileena membelalakkan matanya saat melihat siapa yang datang. Tanpa permisi, orang itu masuk ke dalam rumah membuat Aileena mengerutkan keningnya dan sedikit waspada. Apalagi saat menangkap ekspresinya yang sedikit aneh, membuat Aileena perlahan mundur ke belakang.
"Apa yang ingin kau lakukan? Keluar sekarang!" tegas Aileena saat orang itu kian mendekat.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1