Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.74 jangan pergi


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan udara selama 2 jam 20 menit, akhirnya pesawat yang Aileena tumpangi telah tiba di bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Aileena tersenyum dengan lega, akhirnya ia bisa menginjakkan kakinya lagi di kota ini.


Setelah mengambil tasnya, Aileena melanjutkan langkahnya menuju ke area luar bandara. Ia hendak mencari taksi yang akan mengantarkannya menuju rumah keluarga almarhumah ibunya.


Tak lama kemudian sebuah taksi berwarna biru melintas di depannya, Aileena pun segera menghentikannya dan masuk ke dalamnya. Ia membuka buku catatan ibunya untuk melihat alamat keluarganya yang ada di Palembang. Lalu ia memberitahukan kepada sopir taksi untuk mengantarkannya ke alamat tersebut.


Cuaca hari itu cukup terik, ditambah kemacetan di beberapa titik membuat perjalanan jadi terasa sangat lama. Beruntung saat di pesawat, Fareezky sempat menyusu terlebih dahulu sehingga ia tidak menangis karena haus saat ini. Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya tiba di area alamat. Setibanya di sana, Aileena bingung sendiri sebab tempat itu sudah jauh berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Lahan-lahan yang dulu banyak kosong di sana, kini sudah dipadati rumah-rumah dari yang sederhana hingga mewah. Belum lagi banyaknya ruko membentuk komplek pertokoan membuat Aileena makin bingung, bagaimana cara menemukan keluarganya itu. Nomor telepon yang tertera di buku itu juga sudah tidak ada yang aktif. Aileena menggaruk-garuk pelipisnya, bingung.


"Mbak sudah menemukan rumah yang mbak cari?" tanya sopir taksi itu.


"Duh, saya bingung pak soalnya udah bertahun-tahun lalu nggak ke sini. Udah berubah semua nih." ujar Aileena yang memang tampak sedang kebingungan.


"Coba tanya-tanya orang yang tinggal di area sini aja mbak, siapa tau mereka kenal keluarga yang mbak cari." sopir taksi itu memberikan saran.


"Ah, iya, bapak bener. Makasih sarannya, pak. Saya turun di sini aja deh pak." ucap Aileena tak enak kalau membiarkan sopir taksi itu berdiam di sana. Sopir taksi itu harus kembali bekerja mencari penumpang


"Kalau alamatnya nggak ketemu, gimana mbak? Mbak lagi gendong bayi lho, kasihan bayinya panas-panasan." ucap sopir yang usianya sepertinya sudah sekitar 40 tahunan itu.


"Nggak papa kok pak. Paling kalau nggak ketemu, nginap di hotel. Tuh nggak jauh dari sini ada hotel. Saya bisa nginap disana dulu." ucap Aileena mantap. Ia yakin, sopir taksi ini memiliki anak istri yang haris ia nafkahi, kalau argonya tidak berjalan, bagaimana ia akan menafkahi keluarganya.


"Ya udah kalau begitu mbak. Saya beneran nggak papa lho bantuin mbaknya." ucap sopir itu iba melihat Aileena sambil menggendong bayinya sendirian mencari alamat keluarganya.


Aileena hanya tersenyum ramah.


"Berapa totalnya, pak?"


"Dua ratus tiga belas ribu mbak." ucap sopir taksi itu.l saat melihat argonya.


Lalu Aileena menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dan selembar uang lima puluh ribuan.


"Ambil aja kembaliannya." ucap Aileena saat sang sopir hendak mengambil uang kembalian.


"Tapi ini terlalu banyak, mbak." tolak sopir itu.


"Anggap aja rejeki anak dan istri, bapak." ucap Aileena ramah membuat sopir taksi itu tersenyum lebar.


"Makasih, ya mbak! Semoga keluarganya segera ketemu, ya mbak. Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit sopir taksi itu.


Aileena memandang langit yang mulai berganti warna menjadi jingga, sebenarnya ia sudah lelah dan ingin mencari hotel saja terlebih dahulu, namun seolah mencari peruntungan, siapa tau ia justru langsung menemukan keluarga ibunya, ia mencoba bertanya pada seorang perempuan yang sepertinya baru pulang bekerja dan hendak memasukkan motor yang dikendarainya ke halaman rumah.

__ADS_1


"Mbak ... maaf, boleh numpang tanya!" tanya Aileena sopan .


Perempuan itu lantas menoleh dan memperhatikan Aileena yang tengah menggendong seorang bayi.


"Iya mbak, mau tanya apa?" jawabnya sopan. Ia dapat melihat kalau orang yang menghampirinya ini bukan dari kotanya.


"Mmm ... saya mau cari alamat nenek saya, namaya nek Saidah, kalau orang dulu panggil makwo Idah, apa mbak tau alamat rumahnya? Dulu sih ada di sekitar sini, tapi karena udah bertahun-tahun nggak kesini jadi lupa. Semua udah berubah, barang kali mbak tau?" tanya Aileena.


Perempuan itu memperhatikan wajah Aileena dengan seksama dan mencoba menerka-nerka, "mbak anaknya Tante Anne, bukan?" ucap perempuan itu spontan.


Aileena tersentak, tentu saja ia kaget ada yang mengenali ibunya.


"Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Aileena bingung. Dari pertanyaan yang perempuan itu lontarkan, ia yakin, perempuan itu masih keluarga ibunya, tapi kenapa ia bisa secepat itu menebaknya.


"Masya Allah mbak, mbak Aileena kan ini! Beneran kan ini mbak Ai! Ah, pasti bener nih, Ussy yakin!" ucapnya penuh kesungguhan. "Ya udah, masuk dulu yuk! Udah mau Maghrib, kasian baby nya." ucap perempuan bernama Ussy itu. Aileena pun menurut saja mengikuti langkah perempuan itu.


"Assalamu'alaikum, buk. Ini lihat, siapa yang datang." pekik Ussy saat sudah berada di depan pintu rumahnya. "Yuk, masuk mbak. Anggap aja rumah sendiri." ucapnya lagi.


"Assalamu'alaikum." ucap Aileena..


"Wa'alaikum salam." sahut seseorang dari dalam rumah.


"Bu, lihat, siapa yang datang." seru Ussy penuh semangat.


"Siapa?" tanya ibu Ussy bingung. Lalu tampak seorang pria paruh baya dari belakang ibu itu.


"Lho, kamu anaknya Anne kan! Iya kan, Bu, dia anaknya Anne." seru pria paruh baya itu mencoba meyakinkan.


"Hah, iya-iya bener, mirip sama yang di foto yang Anne kirim dulu. Kamu beneran anaknya Anne? Kalau nggak salah namanya Aileena kan?"


"Ibu Tan, saya Aileena, anaknya ibu Anne sama bapak Irfan." ucap Aileena seraya tersenyum manis.


"Ya Allah nak, akhirnya kamu datang. Tante kangen sama kamu. Udah berapa tahun kamu ngga ke sini. Apa kabar kamu, nak? Gimana kabar bapak dan ibu kamu juga?" seru ibu Ussy bahagia saat melihat keponakan jauhnya muncul di hadapannya setelah sekian tahun tidak berjumpa. Ia ingin memeluk keponakannya itu tapi terhalang baby Fareez yang ada di gendongan Aileena.


"Bu, nanti aja tanya-tanyanya. Biarin Aileena bebersih dulu. Kasihan tuh bayinya pasti capek dan haus." tukas ayah Ussy memperingatkan.


"Ya ampun, hampir lupa. Sy, kamu ajak Ai sama bayinya ke kamar kamu dulu ya! Pasti mbakmu capek dan gerah, bayinya juga." tukas Ibu Ussy. Ussy pun mengangguk dan mengajak Aileena menuju kamarnya. Saat telah berada di dalam kamar, Aileena tak henti-hentinya mengucap syukur, akhirnya ia bisa menemukan keluarganya tanpa kesulitan berarti.


...***...

__ADS_1


Sementara itu, pesawat yang ditumpangi Fatur baru landing saat selepas isya. Dari bandara, Fatur bertolak menuju kediaman Aileena dengan diantarkan Rama. Ia memang sudah bertekad ingin menemui Aileena keesokan harinya dan menceritakan apa perihal yang ia dengar dari ibunya. Ia tidak tau apa reaksi Aileena saat mendengar cerita itu, ia mau menerima atau menolak keras karena tidak percaya. Yang penting ia menceritakan apa yang ia tau. Fatur harus bersiap mental. Fatur tidak berniat menghakimi atau apapun itu karena ia pun tidak tau cerita versi orang tua Aileena. Apalagi masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Aileena sama sekali. Ia masih berharap, Aileena mau berjuang dengannya agar mereka bisa tetap bersama.


Setibanya di seberang rumah Aileena, Fatur meminta Rama berhenti. Ingin ia segera turun dari mobil dan menemui Aileena tapi jarum jam kini sudah menunjukkan pukul 9 malam, pasti pujaan hatinya itu sudah tertidur.


"Ram, besok antar gue ke servis center. Gue mau balikin nomor yang lama."


"Emang boa beneran nggak ingat, hp nya jatuh dimana?"


"Kalau gue ingat, pasti nggak pusing kayak gini, Ram. Bisa aja jatuh tertimpa runtuhan waktu gue jatuh. Mau dibongkar nggak mungkin lah." sahut Fatur .


"Berapa jahitan tuh?" tanya Rama saat melihat kepala Fatur yang dilapisi perban.


"5." jawabannya acuh karena matanya masih fokus ke rumah Aileena. "Kabarnya gimana ya?" ucapnya tiba-tiba.


"Nggak tau. Pas nikahan gue kemarin datang kok." sahut Rama santai. "Tuh kaki, beneran patah? Nggak papa dibawa pulang? Bukannya harusnya loe masih dirawat, bos?"


"Gimana mau dirawat, kalau hati gue nggak tenang terus kayak gini. Entah, perasaan gue nggak nyaman. Mau telepon si mbok tapi nomornya nggak inget. Ponsel hilang. Aaargh ... sial ... sial ... sial ... gue harap, Aileena dan Fareezky nggak papa."


"Emang kejadiannya kayak gimana sih?" tanya Rama penasaran pada peristiwa yang hampir membuat Fatur kehilangan nyawanya.


"Gue mau ninjau proyek yang runtuh kemarin. Pas gue masuk, entah kayak gimana tiba-tiba temboknya runtuh terus nimpa gue. Beruntung gue masih selamat. Cuma ya gini, luka-luka sama kaki patah. Tapi yang penting gue masih selamat. Mungkin doa calon istri kali ya!" ujar Fatur seraya terkekeh.


"Udah buat laporan?"


"Pastilah. Yang main-main, harus siap dengan segala konsekuensinya." tegas Fatur. Lalu tak lama kemudian, Fatur melihat pintu terbuka. Dari sana keluar mbok Ningsih tampak celingukan entah mencari apa. Lalu Fatur pun dengan mengendap memanggil mbok Ningsih. Beruntung mbok Ningsih melihat Fatur yang berada di depan pagar. Mbok Ningsih pun berlarian menuju Fatur.


"Den, ya Allah, untung Aden datang kemari." ucap Mbok Ningsih panik.


Fatur mengerutkan keningnya merasa penasaran.


"Memang kenapa, mbok? Nggak terjadi sesuatu kan sama Aileena, mbok?" tanya Fatur ikut khawatir.


"Den, non Ai, den, non Aileena, dia ... dia pergi ... dia menghilang nggak tau kemana." ucap mbok Ningsih panik .


Seakan tersambar petir, Fatur benar-benar terkejut dengan berita yang baru ia dapatkan ini. Kepalanya mendadak nyeri. Hampir saja ia jatuh ke tanah kalau tidak ditangkap Rama.


"Ai pergi ... Aileena pergi ... tidak-tidak ... jangan pergi ... Ai-yang nggak boleh pergi. Tidak .... mas mohon Ai, jangan pergi tinggalkan mas ... Mas nggak sanggup hidup tanpa kamu ... mas kangen ... sama ... ka ... mu .... " gumam Fatur lirih sambil memegang kepalanya yang mendadak berdentum nyeri hingga perlahan semuanya terasa kabur dan makin gelap.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2