
"Ngapain sih datang ke kantor gue?" ketus Fatur.
"Ya ampun, Tur, galak amat jadi orang! Sama mantan sendiri juga." ujar Fiora sambil terkekeh.
"Mantan dari Hongkong." ejek Rama membuat Fiora mendelik kan matanya.
"Dari dulu kayaknya loe nggak suka banget sama gue, kenapa sih? Jangan-jangan loe cemburu, ya?" ucap Fiora penuh percaya diri.
"Ish ... GR ... Ngapain cemburu sama loe kalau gue sendiri udah punya yang lebih segalanya dari loe!" sahut Rama ketus.
"Ckk ... kalian ini, lama nggak ketemu kok nggak ada ramah-ramahnya." protes Fiora dengan mencebikkan bibirnya.
"Ya mau gimana lagi, setiap ada loe pasti akan ada masalah yang mengintai."
"Maksud loe, gue pembuat masalah gitu?" Fiora mendelik sebal ke arah Rama.
"Udah ah, berisik amat sih! Di sini kantor, buat kerja, bukan kalian jadiin arena berantem." tegas Fatur sambil mengusap kasar rambutnya.
"Tur, kamu kok gitu sih?" Fiora menunjukkan wajah sedihnya, sedangkan Fatur hanya memutar bola matanya jengah.
"Jadi gue harus gimana?" sahut Fatur malas.
"Ya baik kayak dulu."
"Kalau loe datang sebagai teman, gue respon, tapi kalau loe datang sebagai mantan pacar , ogah deh!"
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kok kamu jadi berubah 180° gitu?"
"Setiap orang akan mengalami perubahan seiring bergantinya waktu." sahut Fatur santai.
"Tapi gue .. gue nggak bisa lupain loe. Malah gue masih cinta sama loe."
"Tapi kan loe tau, dari dulu gue nggak pernah cinta sama loe. Kalaupun kita pernah jadian, itu cuma karena kamu yang mohon minta kesempatan. Tapi akhirnya apa? Tetap sama saja kan. Loe masih ingat kan, gara-gara keputusan bodoh gue kasi loe kesempatan, bikin cewek yang diam-diam gue suka jadi menjauh. Tapi ya udahlah, udah masa lalu juga."
Wajah Fiora seketika mendung. Entah mengapa sudah sekali menggapai laki-laki satu ini.
__ADS_1
"Apa karena loe sekarang dekat sama janda beranak satu itu?" ketus Fiora masih belum terima cintanya tak pernah berbalas.
Fatur mengerutkan keningnya, sedangkan Rama hanya memperhatikan pembicaraan kedua orang itu.
"Kalau iya, kenapa? Ada masalah?" tanya Fatur sinis. Ia sebenarnya kesal mendengar cara Fiora bertanya mengenai Aileena apalagi ia menyebutkan kata janda beranak satu walaupun itu benar, tapi tetap saja kurang enak didengar.
"Yang benar saja, Tur. Kayak stok gadis di dunia ini udah habis aja. Mana janda beranak satu lagi, pasti usianya pun di atas kamu." ejek Fiora.
"Cinta nggak bisa memilih dengan siapa dia berlabuh. Begitu pula gue, gue udah menjatuhkan pilihan sama dia. Orang tua gue aja nggak masalah, kenapa loe yang sewot." ketus Fatur menggeram.
"Yakin orang tua loe suka sama dia? Tapi kok yang gue liat kayaknya nyokap loe kurang srek deh." pancing Fiora memanas-manasi.
"Tutup mulut loe! Jangan ngomong sembarangan, ya! Mending loe keluar sekarang daripada buat keributan di sini. Keluar!" tegas Fatur dengan suara meninggi.
Fiora tersentak saat mendengar suara Fatur yang meninggi bahkan mengusirnya.
"Fatur, aku ... aku ... "
"Cepat keluar dari sini sebelum gue minta keamanan yang nyeret keluar!" tegasnya sekali lagi dengan wajah menggeram merah padam.
Tak mau membuat Fatur makin marah, Fiora pun segera pergi dari sana.
...***...
"Dia ... " tunjuk Doni tak menyangka melihat Nanda ada di rumah orang tuanya.
"Kau kemana saja Doni? Menghilang seenaknya. Bahkan perusahaan pun kau tinggalkan begitu saja, dimana otakmu." bentak Risa kesal.
"Doni sedang mencari keberadaan Nuri, ma." ucap Doni sendu.
"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?" tanya Risa pelan yang kini justru iba melihat nasib anaknya.
Doni menggeleng lalu matanya kembali beralih ke arah Nanda yang kini justru ketakutan saat menatap mata Doni.
"Ma, kenapa dia ... ada di sini?" tanya Doni bingung.
Risa menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Ibunya ... ibunya sudah meninggal beserta anak yang ada di dalam kandungannya." ucap Risa pelan.
__ADS_1
Nafas Doni tiba-tiba tercekat saat mendengar berita buruk itu.
"Apa? Mama nggak salah ngomong kan?"
Risa menghela nafas lagi dan menggeleng.
"Karena itu, mulai sekarang kita harus menjaga anaknya. Bagaimana pun dia anakmu juga, Don. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu." ucap Risa tegas.
"Nggak ... aku nggak mau, ma. Gara-gara dia ... gara-gara dia Nuri pergi. Aku nggak mau menerima dia sebagai anakku." tolak Doni tak kalah tegas.
"Don, jangan jadi pria tak bertanggungjawab! Bagaimana pun dia darah dagingmu. Dia hadir akibat perbuatanmu. Jangan salahkan dia hadir di dunia ini! Apalagi ibunya sudah tiada. Dia bahkan mengorbankan nyawa demi anakmu. Biarpun mama tidak menyukai perempuan itu, tapi dia sudah melahirkan cucu mama. Darah dagingmu jadi kau harus bertanggung jawab terhadap dirinya." sergah Risa kesal saat mendengar penolakan dari Doni yang tidak mau mengurus anaknya. "Makanya jadi pria jangan asal tabur benih! Mungkin ini hukuman buatmu agar jadi pria yang lebih bertanggung jawab. Siapa tau setelah kau jadi pria yang lebih bertanggung jawab, Nuri akan kembali lagi." imbuhnya lagi.
"Tetap nggak, ma. Mana mungkin Nuri akan kembali bila ia melihat dia. Nuri pasti akan sakit hati. Pokoknya aku nggak mau. Terserah kalau mama mau mengurusnya, yang oasti aku menolak keras. Dia bukan anakku. Lagipula, dari mana mama yakin dia anakku." Doni masih bersikeras menolak keberadaan Nanda.
"Tak perlu melakukan pembuktian, sedangkan wajahnya saja bak pinang dibelah dua dengan kakak. Apa kakak tidak memiliki ikatan batin sedikit pun? Dimana hati nurani kakak? Apa kau tak ada hati nurani sedikit pun, dia baru saja kehilangan ibu dan calon adiknya. Jangan sampai kakak menyesal di kemudian hari karena telah menelantarkannya, kak!" sergah Radika yang baru saja keluar dari kamarnya. Tadinya ia masih meringkuk di atas kasurnya, tapi saat mendengar sayup-sayup suara pertengkaran ibu dan kakaknya, Radika pun langsung keluar.
"Tidak usah ikut campur kau! Kalau kau mau mengurusnya, urus saja. Bukannya dia anak dari mantan kekasihmu juga." ujar Doni dengan nada sinis.
"Kau memang baji-ngan, kak! Pantas saja kak Nuri meninggalkanmu sebab kau memang laki-laki tak bertanggung jawab." desis Radika membuat Doni meradang.
Lalu Doni segera mendekati Radika dan meninju rahangnya keras.
"Doni ... " pekik Risa terkejut saat melihat Doni meninju rahang Radika.
Radika mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya sambil tersenyum sinis.
"Tidak terima, hm! Semoga kelak kau tak menyesali perbuatanmu ini." desis Radika lagi.
"Aku takkan pernah menyesal menolak keberadaan anak jal*ng itu!" seru Doni lalu ia segera pergi dari hadapan Risa dan Radika.
Nanda yang duduk tak jauh dari tempat ketiga orang itu bertengkar pun hanya bisa menangis dengan bibir terkunci. Ia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang diperdebatkan oleh ketiga orang tubuhnya bergetar karena ketakutan. Saat Radika hendak beranjak masuk kembali ke kamarnya, dia tersentak, baru menyadari keberadaan Nanda. Nanda tak seharusnya melihat pertengkaran mereka. Hal itu berbahaya bagi psikisnya. Radika yang hendak masuk ke kamar pun, segera berjalan menuju Nanda. Digendongnya Nanda untuk membawanya ke suatu tempat.
"Nanda mau ikut om?" tanya Radika lembut seraya tersenyum. Tangan kanannya mengusap air mata yang membasahi pipi Nanda.
Nanda hanya mengangguk tanpa suara. Lalu Radika pun memasukkannya ke dalam mobil. Radika juga tak lupa memakaikan seat belt. Di pikirannya, ia memiliki satu tempat tujuan. Ia pun tersenyum saat sudah duduk di balik kemudi.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1