
Sekarang Adnan sedang berada di kampus Rere. Dia berniat menemui Rere dan menanyakan keberadaan Aileena. Ia sudah sangat ingin menemui Aileena dan meminta maaf pada mantan istrinya tersebut.
Di dalam mobil, Adnan tak henti-hentinya tersenyum saat membayangkan ia akan kembali merajut kasih dan membina rumah tangga dengan Aileena. Ia juga sudah tidak sabar menantikan kelahiran buah hatinya. Entah mengapa saat bersama Delima, ia tidak memiliki rasa keterikatan batin atau penasaran ingin mengusap perut Delima. Tetapi dengan Aileena, ia rasanya sudah tidak sabar ingin mengusap perut buncit itu dan mengecupnya dengan penuh cinta. Adnan mengutuk mulutnya sendiri karena pernah menghina dan merendahkan Aileena dan calon anak mereka. Andai ia tahu lebih awal ia takkan mungkin melakukan hal itu. Ia mengakui kebodohannya yang begitu mudah percaya akan kata-kata provokasi dari Delima saat itu. Seandainya ia bisa sedikit bijak, pasti ia takkan menyakiti hati Aileena. Namun, dalam hati ia yakin, Aileena pasti akan memaafkannya sebab Aileena merupakan perempuan yang sangat baik.
Para mahasiswa terlihat mulai keluar dari ruang kelas masing-masing. Mereka tampak ada yang berjalan di koridor kampus, ada yang menuju ke kantin, ada yang duduk-duduk di taman, dan ada yang menuju ke parkiran untuk mengambil kendaraannya. Setelah menunggu hampir 1 jam tak jauh dari tempat parkir, akhirnya mata Adnan menangkap siluet Rere sedang berjalan di koridor bersama temannya. Lalu ia berpisah dengan temannya itu dan lanjut berjalan menuju halte bis. Sepertinya ia tidak menggunakan mobilnya ke kampus. Adnan segera melajukan mobilnya menuju ke halte. Ia membunyikan klakson membuat Rere menoleh ke mobilnya. Sadar itu mobil kakaknya, Rere segera menghampiri dan masuk ke mobil itu.
"Tumben kak ada di kampus, Rere!" cetus Rere. "Emang mampir sekalian lewat atau sengaja nih?" tanya Rere sebab memang selama ia kuliah di sana, Adnan tidak pernah sekalipun mampir ke sana dengan alasan apapun.
"Mau makan siang sama kakak?" tawar Adnan mengabaikan pertanyaan Rere. Ia tentu tak mau mengutarakan tujuannya saat ini. Ia tau, Rere sangat menyayangi Aileena, jadi bila ia langsung menyatakan tujuannya, sudah pasti Rere akan langsung menolak dan pergi begitu saja.
Rere mengerutkan keningnya merasa aneh sekaligus curiga. Ia dapat menangkap adanya tujuan tersembunyi dari kemunculan kakaknya tersebut.
Rere mengedikkan bahunya, "Boleh, aku juga sudah lapar." sahutnya. Walaupun malas, ia tetap menyetujui sebab ia juga penasaran dengan tujuan kakaknya tersebut.
Adnan tersenyum lalu ia memutar mobilnya menuju restoran langganan keluarganya. Setibanya di sana, Adnan langsung mengajak Rere turun dan masuk ke dalam restoran itu. Lalu mereka mulai melakukan pemesanan sesuai menu yang mereka inginkan. Tak butuh waktu lama, pelayan mulai menghidangkan pesanan masing-masing.
"Kak, kakak belum jawab pertanyaan Rere tadi di mobil." ulang Rere lagi. ia masih penasaran tujuan Adnan menemuinya dan mengajaknya makan siang. Rere tidak bodoh, ia tentu tau kakaknya pasti memiliki tujuan tertentu tapi ia belum mengetahui apa itu.
Adnan menghela nafas berat, lalu ia meminum air putih yang terhidang di meja.
"Ternyata kau tidak ada basa-basinya sama sekali sama kakak, Re. Apa seorang kakak terlihat aneh bila menjemput dan mengajak adiknya makan siang bersama?" tanya Adnan dengan mata memicing.
Rere tersenyum sinis, kalau kakak adik yang lain pasti tidak aneh, tapi karena ini kakaknya, tentu ia merasa aneh.
"Kakak kan sudah tau, aku orangnya kayak gimana. Udah, seharusnya yang tidak usah berbasa-basi lagi itu kakak, bukan aku , jadi cepat katakan, ada urusan apa kakak menemuiku?" ketus Rere.
Sejujurnya, ia masih malas menemui kakaknya itu. Ia akui itu tidak boleh sebab Adnan adalah kakaknya sendiri, tapi mau bagaimana lagi, ia begitu kecewa dengan perbuatannya dengan Aileena sehingga membuatnya jadi malas bertemu apalagi berbasa-basi seperti ini.
Adnan terkekeh sejenak, lalu ia diam dan menatap tajam wajah Rere membuat Rere makin penasaran ada apa dengan kakaknya itu.
"Katakan dimana kalian menyembunyikan Aileena?" tanya Adnan to the point. Toh percuma berbasa-basi dengan Rere, sedangkan Rere sudah bisa menangkap tujuan terselubung dirinya.
Rere mengangkat kedua alisnya lalu dalam hitungan detik, ia tergelak. Ia merasa kakaknya itu begitu lucu, bagaimana ia tiba-tiba menanyakan keberadaan mantan kakak iparnya itu setelah apa yang ia lakukan.
"Kok tumben tanyain keberadaan mbak Aileena? Bukannya ia sudah kakak tendang dari kehidupan kakak, jadi untuk apa dicari lagi? Untuk disakiti lagi? Iya? No, aku mohon jangan lagi, kak! Mbak Aileena sudah cukup terluka dan menderita akibat perbuatan kakak, jadi jangan lagi kakak tambahin luka hatinya. Lebih baik, kak Adnan lupakan mbak Ai dan berbahagialah dengan istri baru kakak itu." tukas Rere sengit. Walaupun ia belum tau tujuan kakaknya mencari keberadaan Aileena, melihat kondisi Aileena saat ini, ia tak mau kalau mantan kakak iparnya itu kembali down sebab hal tersebut bukan hanya membahayakan kesehatan fisik Aileena, tapi juga psikis dan calon buah hatinya.
"Kakak bukannya mau menyakiti Ai, Re. Tapi sebaliknya, kakak ingin meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafan kakak. Kakak benar-benar menyesal. Sepertinya itu karena kakak masih mencintai Ai, jadi kakak cemburu saat melihatnya bersama lelaki lain apalagi saat ini ia hamil. Kakak serius ingin meminta maaf dan memperbaiki semua kesalahan kakak. Kalau perlu, setelah Delima melahirkan, kakak akan segera menceraikannya dan kembali pada Aileena. Kakak ingin memperbaiki semua kesalahan kakak karena itu, tolong beritahu kakak, dimana Aileena berada sekarang!" Ujar Adnan dengan wajah memelas. Ia sengaja tidak mengatakan bahwa ia telah mengetahui tentang kehamilan Aileena yang sebenarnya adalah buah hatinya sebab ia yakin, bila ia memberitahukan hal tersebut pasti Rere akan langsung menolak mentah-mentah permintaannya.
Rere mengerutkan keningnya. Entah mengapa ia meragukan perkataan kakaknya tersebut.
"Maaf kak, aku tak bisa. Kondisi kesehatan dan psikis mbak Ai saat ini kurang baik. Aku tidak mau akibat kecerobohanku memberitahukan keberadaannya pada kakak malah akan membuatnya semakin drop." tolak Rere halus. Ia tak mungkin mengatakan alasan penolakannya karena ia meragukan niat Adnan sebenarnya.
__ADS_1
Adnan menghela nafas berat, lalu kembali memohon.
"Ayolah Re, kakak mohon! Kakak janji nggak akan nyakitin Aileena lagi. Kakak serius ingin minta maaf padanya. Kakak ingin memperbaiki semua kesalahan kakak. Ayolah, jangan pelit informasi gitu! Kamu itu kan adik kakak, sudah seharusnya kamu membantu kakak, bukannya malah mendukung Aileena menjauh apalagi malah menjodohkannya dengan lelaki lain." desah Adnan dengan nada frustasi.
"Sekali lagi maaf kak, Rere nggak bisa. Terima kasih traktirannya kak. Rere pamit pulang dulu ya! Bye ..." pungkas Rere lalu ia bergegas meninggalkan Adnan berhasil meluluhkan dirinya sehingga memberitahukan keberadaan Aileena.
"Sial!" umpat Adnan kesal saat melihat kepergian Rere tanpa memberikan informasi apapun tentang keberadaan Aileena. "Aku harus mencarinya kemana? Apa aku harus membayar seseorang untuk membuntuti Rere , siapa tau dia akan menemui Aileena lagi. Ya, itu lebih baik daripada bertanya tanpa memberikan hasil seperti ini." pungkasnya setelah mendapatkan ide itu.
...***...
Seperti biasa, setiap malam, Doni dan Nuri menyempatkan waktu untuk family time. Walaupun hanya dengan sekedar menonton televisi berdua, itu sudah cukup menyenangkan bagi mereka. Namun sepertinya kesenangan itu tidak mereka rasakan beberapa hari ini sebab keduanya justru sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Sayang, kamu sedang mikirin apa sih?" tanya Nuri sambil menyandarkan kepalanya di dada Doni.
Doni melirik Nuri lalu mengecup puncak kepalanya.
"Aku cuma mikirin kerjaan aja kok."
"Tumben!"
"Ah, soalnya ada sedikit masalah tapi biarpun sedikit, efeknya cukup siginifikan. Itu yang bikin aku kepikiran terus." dusta Doni. Sungguh ia tak bermaksud berdusta, tapi ia takut bila ia katakan yang sebenarnya malah akan membuat ia kehilangan Nuri.
"Oh, kirain ada apa!" Nuri hanya ber'oh ria saja. Ia tak mau banyak bertanya. Sebab ia pun akhir-akhir ini banyak melamun. Apalagi kalau bukan melamunkan apa hubungan Doni dan istri temannya itu.
"Ah, nggak kok. Aku cuma sedang mikirin anak kecil waktu itu yang aku ceritakan. Rasanya pingin banget punya anak cantik kayak gitu, tapi ..." ujar Nuri sendu. Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Ssst ... udah sayang. Anak itu hak prerogatif Tuhan. Kita nggak bisa maksain. Kalau memang belum rejekinya kita mau gimana lagi. " tukasnya memberi pengertian kepada istrinya.
"Sayang, kalau selamanya aku nggak bisa kasi kamu keturunan gimana?" tanya Nuri pelan.
"Aku nggak masalah, sayang. Asalkan kamu selamanya di sisi aku, aku nggak masalah sebab aku nggak ingin kehilangan kamu." tukas Doni sungguh-sungguh.
"Tapi kalau mama mau kamu nikah lagi biar bisa kasi cucu gimana?" tanya Nuri lagi.
"Nggak akan, sayang. Aku nggak akan lakuin itu. Aku hanya akan setia sama kamu." ujarnya membuat Nuri menyunggingkan senyum. Tapi senyum itu merupakan senyum miris, bukannya senyum bahagia seperti dulu.
"Sayang, bila suatu hari nanti aku melakukan kesalahan fatal, kira-kira kamu maafin nggak?" kini giliran Doni yang bertanya.
Nuri mengerutkan keningnya, "Kesalahan fatal? Hmm ... kira-kira kesalahan fatal apa?" tanyanya balik.
"Ya kesalahan, yang menurut kamu fatal, gimana?"
__ADS_1
"Menurut aku kesalahan fatal itunya contohnya selingkuh. Kalau kamu sampai melakukan itu, mungkin aku nggak akan maafin kamu." tukasnya santai, tapi menohok bagi Doni. Ia jadi kembali berpikir, haruskah ia melakukan apa yang diminta Delima.
...***...
"Assalamu'alaikum, sayang." ucap Fatur dari seberang telepon.
"Wa'alaikum salam, mas. Apaan sih pake sayang-sayang segala." sahut Aileena seraya terkekeh.
"Kenapa? Nggak suka? Mas sengaja manggil kayak gitu biar kamu cepetan ikutan sayang sama mas." tukas Fatur seraya terkekeh pelan. "Kamu udah makan , Ai?" tanya Fatur.
"Alhamdulillah, sudah mas. Kalau mas gimana?" tanya Aileena balik.
"Belum." jawabnya singkat.
"Lho, kok belum?"
"Nggak ada yang masakin."
"Ya masak sendiri dong."
"Nggak bisa. Pinginnya dimasakin istri."
"Ya, sudah, cari sana istri. "
"Calonnya sih udah ada, tapi dia belum mau dijadiin istri." sahut Fatur lagi.
"Ya, usaha dong!"
"Ini lagi usaha." ujarnya seraya tersenyum simpul.
"Emang mas serius?"
"Bukan sekedar serius, tapi benar-benar serius."
"Usaha itu, bukan cuma dengan cara mendekati orangnya, tapi juga mendekati sang penciptanya. Memohon pada-Nya, supaya diberikan jalan dan kemudahan. Ai yakin, kalau memang berjodoh, kalian akan dipersatukan." tukas Aileena memberikan saran.
Fatur tersenyum, dalam hati ia juga mengiyakan.
"Baiklah. Terima kasih sarannya ya, Ai-yang." ujar Fatur dengan seringaian menggoda membuat wajah Aileena yang di seberang telepon bersemu merah.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...