
Sudah terhitung 5 hari Aileena dirawat di rumah sakit. Seperti hari-hari sebelumnya, Fatur dengan setia menjaga Aileena. Terkadang ia bergantian berjaga baik dengan Rere, Santi, maupun Khanza bila memang ia memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Rencananya hari ini Aileena akan pulang ke rumah. Aileena tampak begitu bahagia sekali sebab akhirnya ia bisa menggendong buah hatinya setelah 3 hari full ia belum diperbolehkan menggendong buah hatinya. Karena hari ini adalah hari kepulangan Aileena, jadi semua keluarga tampak berkumpul untuk menjemputnya, termasuk keluarga Fatur.
"Sayang, gimana, kamu udah punya nama untuk anak ini?" tanya Santi sambil menggendong bayi mungil Aileena yang berjenis kelamin laki-laki itu.
"Iya Ai, siapa sih nama si ganteng ini? Ukh gemesnya!" timpal Khanza sambil mengusap pipi bayi mungil itu menggunakan punggung jari telunjuknya.
"Udah kok, namanya Fareezky Daneeswara." ujar Aileena seraya tersenyum manis.
Semua orang berdecak kagum mendengar nama yang disebutkan Aileena seperti halnya rasa kagum melihat ketampanan baby Fareez yang walaupun masih terlihat sangat mungil tapi ketampanannya sudah sangat memukau.
Bila semua orang tampak bahagia bukan hanya karena menyambut kelahiran baby Fareez, tapi juga kesembuhan Aileena, berbeda dengan Malika. Ia hanya bisa terdiam termangu memandangi setiap ekspresi bahagia orang-orang di ruangan itu. Hati dan otaknya sekarang seakan tak sinkron karena kegundahan yang melanda hati dan pikirannya.
...***...
Kini Aileena telah berada di rumahnya. Semenjak kepulangan Aileena, Fatur bahkan telah mendatangkan seorang babysitter untuk membantu mengurus baby Fareez membuat Aileena makin tak enak hati. Fatur melakukan hal itu tentu karena mengkhawatirkan kesehatan Aileena. Aileena melahirkan secara Caesar, membuat ruang geraknya jadi terbatas. Demi luka di perutnya agar lekas sembuh dan mengering maka Fatur pun menyewa jasa babysitter. Namun tetap saja hal itu membuat diri Aileena merasa terbeban. Apalagi saat ia mengingat ekspresi Malika yang seakan kurang suka atau kurang nyaman saat melihatnya, entahlah, Aileena pun bingung menyebutkannya. Bukankah menurut Fatur ibunya tidak masalah dengan hubungannya dengan Fatur. Ia juga tidak mempermasalahkan statusnya yang seorang janda, lalu apa penyebab Malika seakan tidak menyukainya itu? Aileena tidak tau. Hal itu membuat Aileena harus berpikir ulang mengenai kelanjutan hubungannya dengan Fatur.
Aileena menghembuskan nafas kasar, lalu ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran yang membuatnya tak tenang. Aileena mengalihkan pandangannya ke arah Fareezky yang baru saja selesai mandi. Kini ia tampak sedang dibaluri minyak telon oleh Nina, babysitter yang disewa Fatur untuk membantu Aileena. Setelah itu, Nina mulai memakaikan satu persatu pakaian Fareezky dengan begitu cekatan.
"Mbak Nina udah lama ya kerja sebagai babysitter?" tanya Aileena penasaran.
"Iya Bu, udah sekitar 10 tahunan , semenjak tamat SMA." ujar Nina menyahuti pertanyaan Aileena.
"Wah, lama juga mbak ya! Pantesan aja mbak kayak udah telaten banget." ujar Aileena seraya tersenyum.
"Adik saya banyak Bu dan dari kecil saya terbiasa bantu ibu urus adik-adik kalau ibu mesti ke pasar atau beres-beres jadi emang udah terbiasa dari kecil Bu ngerjain yang beginian." ujar Nina seraya terkekeh menceritakan tentangnya.
"Wah, enak dong mbak banyak adik jadi nggak kesepian nggak kayak saya, cuma satu-satunya, jadi pas kedua orang tua saya pergi, saya benar-benar tinggal sendirian. Nggak enak banget, mbak. Kesepian. Beruntung sekarang udah ada Fareez jadi saya nggak sendirian lagi."
"Orang tua saya kan orang kampung, Bu. Menurut mereka, banyak anak itu banyak rejeki, jadi emang sengaja bikin anaknya banyak-banyak biar rejekinya banyak juga." tukas Nina seraya terkekeh.
__ADS_1
"Emang prinsip orang dulu banget itu. Kalau sekarang, huh jangan deh, 2-3 anak cukup, soalnya mikir gimana sekolahnya entar. Enak kalau punya banyak duit, kalau orang susah, boro-boro sekolah, makan aja belum tentu bisa 3 kali sehari apalagi sekolahin anak banyak-banyak. Kan kasihan sama masa depannya entar." tukas Aileena yang memang sudah khatam masalah seperti ini sebab sebagai tenaga pengajar ia sering melihat anak-anak terpaksa putus sekolah karena orang tuanya tak sanggup membiayai. Kadang ada yang terpaksa berhenti karena mengalah pada saudaranya yang masih ingin sekolah. Ada juga yang terpaksa bergantian seragam dan sepatu sekolah sebab mereka hanya memiliki sesetel seragam dan sepasang sepatu sekolah. Dan masih banyak lagi realita lainnya yang berhubungan dengan kesulitan anak-anak dalam melanjutkan sekolah.
"Ibu bener banget, kayak keluarga saya nih, dari 5 beradik, cuma saya yang berhasil tamat SMA, yang lainnya ada yang SMP, ada juga yang cuma sampai SD. Akhirnya, pekerjaan mereka nggak jauh dari nguli , pembantu rumah tangga, atau pekerja kasar. Karena itu, saya bercita-cita nggak mau punya anak banyak yang penting mereka bisa sekolah tinggi dan jadi orang sukses di kemudian hari." tukas Nina yang kini telah selesai memakaikan pakaian baby Fareezky.
"Aamiin ... semoga terwujud ya mbak cita-citanya." ujar Aileena seraya mendoakan. "Sini mbak biar Ai yang gendong, Ai mau ajak baby Fareez berjemur di taman depan." ujar Aileena seraya mengulurkan tangan hendak menggendong Fareezky.
"Biar Nina aja, Bu. Nanti di depan baru Nina kasiin biar perutnya nggak ketekan. Pak Fatur udah berpesan soalnya sementara ibu jangan banyak gendong dulu sebelum jahitannya benar-benar mengering." sergah Nina membuat Aileena mencebik.
"Beneran mas Fatur berpesan kayak gitu? Tapi Ai pingin gendong mbak." ujar Aileena seraya merengek karena ingin sekali menggendong bayinya.
"Nina serius, mbak. Nina nggak berani bantah soalnya tiap hari pasti pak Fatur nanyain." ujar Nina membuat mata Aileena membelalak karena tak menyangka ternyata Fatur begitu memperhatikannya. "Pak Fatur kayaknya sayang banget ya Bu sama ibu sampai perhatian segitunya." ujar Nina menggoda seraya berjalan menuju taman depan rumah. Akhirnya Aileena mengalah menyerahkan Baby Fareezky kepadanya. Sedangkan ia mengikuti langkah Nina di sampingnya.
Nina sudah sedikit mengetahui mengenai Aileena dan apa hubungannya dengan Fatur, orang yang sudah mempekerjakannya dari mbok Ningsih.
"Ish, udah ah mbak malah godain!" Aileena mencebikkan bibirnya. Jujur, ia senang mendapatkan perhatian yang sebegitu besarnya dari Fatur, tapi makin kesini sepertinya makin banyak yang harus ia pertimbangan terutama masalah ibunya. Aileena tidak mau menjalin hubungan sementara ada salah satu yang tidak merestui. Yang saling cinta dan kedua orang tuanya merestui saja belum tentu berakhir bahagia, apalagi bila ada salah satu pihak yang tidak merestui, bisa jadi rumah tangganya akan selalu dihantui masalah yang tiada habisnya.
...***...
"Ram, loe aja gih yang tugas ke Bali!" tukas Fatur seraya menekuri beberapa berkas.
"Sorry, bos, loe kan tau, beberapa hari ke depan gue harus ke Bandung urusin proyek pembangunan gedung Mercubuana Internasional School, jadi gue nggak bisa." sahut Rama menolak permintaan Fatur.
"Kalau Andy, gimana?"
"Dia kan lagi masih sibuk sama proyek apartemen di Depok."
Fatur memijit pelipisnya, semua sedang sibuk jadi tak ada yang bisa ia utus untuk menangani proyek di Bali.
"Ck ... Tau deh yang udah bucin jadi nggak bisa pisah lama-lama." ejek Rama sambil terkekeh.
"Kayak loe nggak aja." balas Fatur mendelik tajam.
"Ya ya ya ... tapi gue bentar lagi married, bos jadi nggak bakalan terlalu galau lagi." sanggah Rama.
__ADS_1
"Mentang ... "
tok tok tok ...
"Siapa sih?" tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk membuat Fatur tidak jadi membalas ucapan Rama.
"Maaf pak, ada seorang perempuan yang hendak menemui bapak." ujar sekretaris Fatur.
"Siapa?"
"Dia bilang, dia teman dekat bapak."
Fatur menaikkan sebelah alisnya menghadap Rama seolah bertanya siapa , tapi Rama hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
"Suruh dia masuk."
Beberapa menit kemudian, masuk seorang perempuan cantik memakai dress selutut yang langsung berhambur hendak memeluk tubuh Fatur. Fatur pun reflek menahan bahu perempuan itu agar tidak jadi memeluknya.
"Fatur ... Kamu kok sombong banget sih?" ujar Fiora sambil mencebikkan bibirnya.
Fatur memutar bola matanya jengah.
"Nggak usah sok deket." sahut Fatur membuat Rama terkekeh.
"Apaan sih loe, Ram?" Fiora mendelik tajam kesal malah ditertawakan Rama.
"Cewek gamon datang lagi, heuh!" ejeknya.
"Dasar, sialan Lo! Kadal buntung."
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1