Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.113 Extra part : Nanda II


__ADS_3

Entah sudah sejauh mana Nanda melangkahkan kakinya, yang ia tahu, langit kini sudah tidak seterik tadi. Bahkan awan hitam mulai berarak menutupi langit yang tadinya masih terlihat biru.


Kilat dan petir mendadak bersahutan membuat si kecil Nanda bergetar. Namun ia tidak memiliki arah tujuan. Dengan tangan memeluk tas ransel yang ia letakkan di depan dada, Nanda meneruskan langkahnya. Tiba-tiba rintik hujan turun membasahi bumi. Kian lama kian deras, membuat sebagian tubuh Nanda basah. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat halte bis. Ia pun bergegas berlarian ke sana untuk berteduh. Jalanan di sana begitu sepi, bahkan nyaris tak ada yang lewat. Nanda pun hanya sendirian di halte itu sambil duduk bersandar di bangku yang tersedia di sana.


Langit kian menghitam, cahaya sang mentari kinintelah menghilang sempurna. Tubuh kecil nan rapuh itu kini menggigil kedinginan. Tak ada nama lain yang bisa ia sebut di kala seperti ini, selain *mama.


'Ma, mama dimana? Kenapa mama ninggalin Nanda?? Nanda kangen.' lirih Nanda dalam hati.


Dari kejauhan, Nanda melihat ada sebuah kendaraan roda empat yang akan melintas. Makin lama kendaraan roda empat itu makin dekat lalu berhenti tepat di tepi jalan. Ternyata itu adalah sebuah angkutan umum yang entah berasal dari mana sebab Nanda baru kali ini melihat angkutan umum jenis itu.


Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya turun dari sana dan menghampiri Nanda.


"Kamu lagi nunggu siapa, nak?" tanya ibu itu.


Nanda menggeleng membuat ibu itu mengerutkan keningnya.


"Orang tua kamu mana?" tanya ibu itu lagi. Lagi-lagi Nanda menggelengkan kepalanya.


"Keluarga kamu?" lanjutnya lagi.


"Nggak ada." lirih Nanda dengan tubuh bergetar karena ia sudah benar-benar kedinginan. Bahkan wajah dan bibirnya pun telah memucat. Ibu itu pun menempelkan telapak tangannya ke atas dahi Nanda untuk mengecek suhu tubuhnya secara konvensional.


"Kamu demam, sayang. Kamu ikut bunda dulu, ya." ajak ibu itu ramah.


Nanda memerhatikan wajah ibu itu yang terlihat ramah dan lembut.


"Kamu nggak usah khawatir. Bunda nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Ikut bunda yuk. Di tempat bunda juga banyak anak-anak kecil kayak kamu ini lho. Kamu pasti suka. Lagian, baju kamu basah semua nih. Entar sakit lho. Jadi gimana, mau ikut sama bunda?" bujuk Bunda Rieke yang merasa iba melihat penampilan Nanda. Ia benar-benar tidak tega meninggalkannya seorang diri dalam keadaan basah-basahan di tengah hujan dan langit juga sudah hampir gelap.

__ADS_1


Yang penting menolong anak itu dulu, pikir bunda Rieke. Urusan lainnya, bisa diselesaikan esok hari. Atas bujukan Bunda Rieke, akhirnya Nanda pun bersedia ikut.


"Selamat tinggal papa, om Dika, ate Rere, Bunda Ai. Nanda pasti akan merindukan kalian." lirih Nanda pelan nyaris tak terdengar.


...***...


Langit telah benar-benar gelap, seperti biasa Doni selalu pulang ke rumah saat sudah menjelang malam. Saat masuk ke dalam rumah, Doni mengernyitkan dahinya. Semua orang terlihat tegang dan takut.


"Kalian kenapa?" tanya Doni heran.


"Itu tuan ... anu ... "


Brak ...


Terdengar suara bantingan pintu mobil dan langkah kaki yang terburu masuk ke dalam rumah.


Doni membalik badannya hingga berhadapan dengan Radika.


"Apa maksudnya? Sebenarnya apa yang terjadi?" Doni makin bingung saat mendengar pertanyaan Radika.


"Semua ini karena kakak. Pasti akan udah menyakiti hati Nanda lagi, iya kan! Sekarang kakak bisa puas dan merasa senang. Gadis kecil yang sangat kau benci itu telah pergi dan mungkin takkan lagi kembali. Selamat kak, selamat , kakak menang. Kakak berhasil." sarkas Radika sinis.


Degh ....


Jantung Doni seketika mencelos saat mendapatkan kabar itu


"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Sebenarnya ada apa? Nanda kemana?" pekik Doni dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Anu tuan, non Nanda dari siang belum pulang-pulang juga dari sekolah. Mang Kasim sudah mencoba nyariin ke sekolah sama ke sekitar sekolah tapi nggak ketemu juga." ujar art Doni takut-takut.


"Mengapa kalian tidak ada yang mengabariku?" seru Doni murka. Bahkan suaranya begitu menggelegar.


"Stop memarahi mereka kak. Apa kau selama ini bersikap baik pada Nanda? Bagaimana mereka melaporkannya padamu, bukankah selama ini kau hanya menunjukkan kebencianmu pada Nanda. Mereka pikir pasti percuma melaporkan hal itu padamu. Bukannya peduli, pasti ujung-ujungnya kau akan memarahi mereka." desis Radika tajam.


Doni tergugu di tempatnya. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya sembarangan. Lalu ia juga merenggangkan dasinya yang entah mengapa terasa begitu mencekik dirinya.


Doni menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dengan mata terpejam. Memori kekejaman demi kekejaman dirinya pada Nanda berputar bagai kaset yang diputar ulang. Dia sadar, selama ini ia telah bersikap begitu kasar pada Nanda. Ia selalu melimpahkan kekesalan dan kekecewaannya pada gadis kecil yang merupakan anak biologisnya sendiri.


Doni tiba-tiba membuka matanya lalu dengan tergesa mengambil kunci mobilnya dan berlari menuju mobil. Ia berharap masih ada kesempatan untuk berjumpa dengan gadis kecil yang sebenarnya adalah putrinya sendiri. Dinyalakannya mobilnya, ditelusurinya semua jalanan dengan mata bergulir kesana-kemari berharap ia menemukan sang putri.


Namun, hingga langit kian pekat, Doni tak kunjung menemukan Nanda. Doni mengusap wajahnya frustasi. Kemana lagi ia harus mencari. Lalu Doni mengambil ponselnya dan menelpon Radika untuk menanyakan apakah ia sudah menemukan Nanda atau ia mendapat petunjuk dimana keberadaannya. Namun hasilnya nihil. Radika pun bingung kemana lagi harus mencari keponakan tersayangnya itu.


Keesokan harinya, Doni dan Radika mencoba membuat laporan kehilangan di kantor polisi, setelah melakukan pencarian, mereka tak kunjung menemukan jejak keberadaan Nanda.


Hingga di sinilah Doni sekarang, terpengkur dan tergugu sendirian di makam Delima. Memohon maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat. Dan memohon maaf atas kesalahan terbesarnya yang mengabaikan putri kandungnya sendiri. Walaupun secara nasab, putrinya tidak bernasab padanya, tapi tetap saja, Nanda adalah putri biologisnya. Putri yang terlahir dari benih-benihnya. Putri yang hadir akibat kesalahannya dan Delima. Seharusnya ia menjaganya,. Seharusnya ia mengasihinya. Seharusnya ia merawatnya. Tapi kini semua telah terlambat, putrinya, anaknya satu-satunya kini telah pergi tak tahu kemana.


"Nanda ... kamu dimana, nak? Maafkan papa. Maafkan papa. Kembalikan nak. Kembalilah. Maafkan papa yang mengabaikanmu. Maafkan papa yang selalu bersikap kasar padamu. Maafkan aku Delima yang tidak bisa menjaga anak kita dengan baik. Maafkan aku. Aku memang manusia bodoh yang hanya bisa melimpahkan kesedihan dan kekecewaanku pada seorang anak kecil. Maafkan aku. Maafkan aku. Kembalilah Nanda, maafkan papa nak." lirih Doni tergugu di depan makam Delima.


...***...


Yang belum konfirmasi nomor ponselnya, bisa chat di GC atau japri ya! Bagi yg bingung gimana bisa japri disini, caranya tinggal follow othor, entar othor follow balik biar bisa japri. Atau follow akun Ig othor trs DM nomor ponselnya. Ada 3 lagi yg belum konfirmasi. Ditunggu.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2