Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.64 Penyesalan


__ADS_3

Adnan menatap sendu jasad wanita yang pernah jadi istrinya itu. Walaupun tak ada cinta, walaupun ia telah ikut andil memporak-porandakan rumah tangganya, tapi tetap saja, ia pernah menyandang status sebagai istrinya. Menemani dirinya walaupun hanya sementara. Rasa penyesalan menyeruak begitu saja di dalam dada. Ia hanya bisa memandangi wajah pucat tanpa aliran darah itu dengan tatapan penuh penyesalan. Kesalahannya begitu fatal. Ia telah mengakibatkan 2 nyawa melayang. Bahkan ia belum sempat meminta maaf padanya membuat rasa Penyesalan itu makin menggelora. Dosanya begitu besar. Sangatlah besar.


Tiba-tiba Adnan teringat pada sosok gadis kecil yang kerap memanggilnya papa itu. Nanda, dimana dia? Semenjak di rumah Aileena ia tidak melihat keberadaan gadis kecil itu sama sekali. Adnan khawatir. Bagaimana kalau ia ditinggal sendirian tanpa seseorang di sisinya? Bisa saja sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Adnan pun bergegas menemui orang tuanya untuk meminta bantuan mencari keberadaan gadis kecil itu, hingga penuturan Rere membuatnya sedikit tenang.


"Ma, pa, Adnan minta tolong, cari keberadaan anak Delima! Adnan takut ia ditinggalkan sendirian. Adblnan takut terjadi sesuatu padanya. Adnan akan semakin berdosa kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya." ucap Adnan seraya memelas. Ia tidak bisa mencari seorang diri, sebab ia tau, pasti akan ada konsekuensi yang harus ia tanggung setelah ini akibat perbuatan bodohnya itu.


"Apa dia tidak tinggal di rumah mu lagi?" tanya Andreas yang hanya tau dari istrinya kalau Adnan telah menceraikan Delima.


Adnan menggeleng, "Adnan sudah mengusirnya, pa, jadi Adnan tidak tau tempat tinggal mereka saat ini " ucap Adnan jujur membuat Andreas mendesah berat. Pikirnya pasti sulit mencari tanpa informasi apapun.


"Ma, Pa, kalian tidak perlu khawatir pada keberadaan anak perempuan itu." Rere masih enggan menyebutkan nama Delima walaupun ia telah tiada.


Sebagai sesama perempuan, Rere sangat paham bagaimana sakitnya bila orang yang dicintai justru diambil orang lain jadi Rere menganggap apa yang terjadi pada Delima itu sebagai penebusan dosanya pada Aileena. Tapi bukan berarti ia membenci hingga mendoakan yang tidak baik. Ia hanya masih belum bisa menerima. Belum lagi fakta yang baru ia ketahui bahwa Delima merupakan mantan kekasih Radika. Entah, dada Rere tiba-tiba sesak saat mengetahui fakta itu.


Penuturan Rere membuat kening Santi, Andreas, dan Adnan berkerut.

__ADS_1


"Sebab anak itu sudah diantarkan perempuan itu ke rumah ayahnya." lanjut Rere membuat ketiga orang itu bernafas lega.


Baru saja Adnan keluar dari kamar rawat Delima karena jenazah Delima akan disiapkan untuk dibawa pulang ke rumah Adnan, tiba-tiba ada 3 orang pria bertubuh tinggi besar dengan mengenakan jaket hitam menghampiri Adnan.


"Permisi, apa Anda yang bernama bapak Adnan Ali Atmaja?" tanya salah seorang pria itu.


"Iya, pak, saya Adnan Ali Atmaja. Ada apa ya? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Adnan penuh selidik. Dari postur tubuh, penampilan, dan gaya bicara sebenarnya Adnan sudah bisa menebak siapa orang itu, tapi ia memilih pura-pura tidak tahu.


Andreas, Santi, dan Rere yang baru saja keluar dari ruangan Delima tadi pun ikut mendekat, ingin mengetahui siapa ketiga orang itu.


"Begini pak, kami dari kepolisian Jakarta Barat mendapatkan laporan tentang perbuatan Anda yang menyebabkan kematian seorang wanita hamil berikut anak yang ada di dalam kandungannya. Jadi kami mendapatkan surat perintah penangkapan Anda." ucap pria itu seraya menunjukkan selembar surat yang berisi perintah penahanan Adnan. Adnan menerima surat itu dan membukanya kemudian melipatnya lagi. "Mohon kerjasama Anda untuk segera ikut dengan kami!" sambung pria itu.


"Baiklah, kami beri waktu 15 menit." tegas salah seorang lainnya setelah mereka bertiga berembug sebentar.


Setelah mendapatkan izin, ia pun meminta izin pada Fatur agar boleh menemui Aileena sebentar. Fatur awalnya ingin mencegah, tapi dapat ia lihat, ada penyesalan besar di mata Adnan, sehingga membuatnya mengizinkan.


Adnan kini telah berdiri di samping brankar Aileena. Air matanya mengalir begitu saja saat melihat wajah pucat dan lemah perempuan yang menghuni seluruh bagian hatinya itu. Akibat keegoisannya, ia kehilangan perempuan yang paling dicintainya itu. Andaikan dulu ia abai pada gunjingan orang-orang yang mengatakannya mandul mungkin akhir kisah cintanya takkan seperti ini. Mereka pasti saat ini akan menjadi keluarga yang paling bahagia karena baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki.

__ADS_1


Tapi sayang, semuanya telah terjadi. Ia bersyukur, setidaknya anaknya selamat walaupun pada akhirnya ia takkan bisa melihat tumbuh kembangnya karena ia tahu ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa seseorang.


Kebodohan yang nyaris sempurna. Andai ia bisa menerima kekalahannya, setidaknya ia masih bisa melihat tumbuh kembang anaknya. Ia yakin, Aileena akan mengizinkannya menemui anaknya sebab Aileena wanita yang baik dan bijak.


Ada harga yang harus dibayar akibat perbuatan bodohnya. Ia sudah ikhlas kini. Ia hanya bisa berdoa , semoga Aileena dan anaknya bahagia. Semoga calon suami Aileena kelak bukan hanya dapat menerima Aileena, tapi juga anaknya. Dapat membahagiakan Aileena dan anaknya. Dia juga berdoa, semoga Aileena mau memaafkan kesalahannya dan mengizinkannya bertemu anaknya bila ia bebas nanti.


"Ai, maafkan aku! Maafkan semua kesalahan, kekhilafan, dan kebodohanku. Semoga kau dan anak kita bahagia, Ai. Semoga calon suamimu kelak juga dapat menerima anak kita dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Semoga kau mengizinkan aku menemui anak kita kelak. Aku mohon, jangan benci aku, Ai sebab aku sangat-sangat mencintaimu." ucapnya sambil berlinangan air mata. Adnan menggenggam tangan Aileena yang tidak tertancap jarum infus lalu mengangkatnya dan mengecupnya. Ia juga mendaratkan kecupan yang cukup dalam dan lama di dahi Aileena. Fatur yang berada tidak jauh dari Adnan pun rasanya menggelora marah. Ingin ia menghajar lelaki itu karena telah bersikap lancang, tapi ia tahan sebab ia tahu, mungkin itu akan menjadi kecupan yang terakhir kalinya bagi Adnan sebab setelahnya, ia takkan membiarkan hal itu terjadi kembali. Karena saat mereka bertemu kembali, Aileena pasti telah menjadi istrinya.


Setelah adegan perpisahan sepihak itu dilakukan, Adnan pun dengan tanpa paksaan mengikuti langkah ketiga polisi berpakaian serba hitam itu. Sebelumnya, Adnan menyempatkan diri memohon maaf pada kedua orang tuanya karena telah menyusahkan dan mempermalukan mereka dengan perbuatannya itu. Ia juga menitip pesan pada adiknya untuk menjaga kedua orang tuanya dan juga anaknya.


Adnan juga menghampiri Fatur dan berpesan untuk menjaga dan melindungi Aileena serta anaknya.


"Aku titip Aileena dan anakku. Aku mohon jaga dan lindungilah mereka." ucap Adnan pada Fatur yang disambut dengan kekehan oleh Fatur.


"Tak perlu berpesan seperti itu sebab tanpa kau pinta pun, aku akan melakukannya sepenuh hati sebab Aileena adalah calon istriku dan anaknya adalah anakku juga. Aku bahkan telah menyayanginya seperti anak kandung ku sendiri semenjak ia berada di dalam kandungan Aileena." pungkas Fatur penuh keyakinan.


Setelah mendengar penuturan Fatur, Adnan pun pergi dari hadapan keempat orang itu. Santi, Andreas, dan Rere hanya bisa menatap punggung Adnan yang perlahan menghilang dibalik dinding rumah sakit. Setelah Adnan benar-benar menghilang, tangis Santi dan Rere akhirnya pecah tidak menyangka kisah cinta Adnan berakhir seperti ini.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2