
Selepas kepergian Adnan, Delima hanya bisa menangis dalam diam. Ia sadar perbuatannya salah, tapi sisi egois dan serakahnya terkadang mendominasi sehingga ia selalu memilih jalan yang cenderung indah di awal, namun menyakitkan di akhir. Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga orang-orang yang terlibat di dalamnya.
"Kurang ajar kamu, Mas, mentalakku sesuka hatimu. Mengusirku tanpa memikirkan bagaimana nasibku yang sedang hamil dan Nanda. Biarpun ia bukan anakmu, seharusnya kau sedikit bermurah hati padanya. Bagaimana pun dia hanyalah seorang anak kecil." geram Delima sembari membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dipandanginya wajah tenang Nanda yang sedang tertidur. Diusapnya pelan kepala Nanda dengan sayang. "Mama hanya ingin memberikan yang terbaik bagimu, sayang. Mama ingin memberikan keluarga yang lengkap dan utuh. Mama sudah merasakan bagaimana tidak menyenangkannya hidup tanpa keluarga yang lengkap, nak. Kakek kamu menelantarkan nenek dan mama yang masih kecil. Hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Direndahkan orang lain, itu sungguh-sungguh menyakitkan, sayang. Karena itu mama sampai rela berbuat nekat, semua demi mendapatkan keluarga yang utuh. Tapi lagi-lagi mama gagal, sayang." desah Delima frustasi. Bulir-bulir air mata sudah membasahi pipinya.
"Sekarang mama bingung, nak, apa yang harus mama lakukan. Kita harus kemana? Uang yang berhasil mama sisihkan tidak terlalu banyak. Tidak mungkin mama mencari kerja dengan keadaan perut besar seperti ini. Lagipula, kamu akan mama titipkan dengan siapa kalau mama bekerja? Selain itu, pekerjaan apa yang bisa mama lakoni? Pendidikan mama aja sangat rendah, sayang. Hanya klub malam lah yang bisa menampung, mama, tapi klub malam mana yang mau menerima pekerja yang sedang hamil?" Delima memijit pelipisnya yang mulai pening. Ia kesal, baru saja ia bisa meraup bahagia, tapi sudah harus kandas tanpa sisa dalam hitungan bulan.
Lalu Delima mengusap rambut Nanda yang tertidur lalu mengecupnya, "Ini semua pasti karena Aileena. Ya, pasti begitu. Mas Adnan begitu kekeh ingin rujuk dengan Aileena sampai berusaha mencari segala informasi tentang masa laluku. Bila aku dibuang, maka kau pun takkan ku biarkan kembali pada Mas Adnan. " gumamnya seraya menyeka air matanya.
Setelah semua barangnya telah ia bereskan, Delima pun segera meninggalkan rumah yang belum lama ditempatinya itu. Ia merutuki dirinya sendiri, coba rumah itu dibuat atas namanya, mungkin bukan dia yang harus keluar, tapi Adnan. Dengan langkah terpaksa, Delima mulai menjauh dari rumah itu. Ia sedang menunggu taksi online yang sudah dipesannya. Ia akan mencari rumah kontrakan untuk tempat tinggalnya sementara.
...***...
Hari sudah makin larut, karena rasa frustasinya yang kian menggunung, Doni menghabiskan malamnya di sebuah club malam. Ia sudah benar-benar frustasi saat ini. Ia sudah terpuruk setelah kepergian Nuri, lalu siang tadi diperparah dengan datang surat gugatan cerai ke rumahnya. Hancur lebur sudah harapannya untuk kembali merajut asa dengan wanita pemilik hatinya. Sepertinya, Nuri telah membulatkan tekadnya untuk bercerai dengan dirinya tanpa meminta penjelasan lagi. Karena itulah, kini ia terdampar di sini, sebuah klub malam tempat ia sering kunjungi dulu. Sebab sudah lama ia mengurangi intensitas mendatangi tempat penuh maksiat itu. Kecuali saat menemani atau menemui beberapa rekan bisnisnya yang memang lebih suka datang ke tempat seperti itu. Beberapa perempuan penggoda pemuas napsu lelaki yang berpakaian mini tampak silih berganti mencoba mendekati Doni, tapi ia menyentak kasar setiap perempuan yang mencoba menyentuhnya. Hingga akhirnya bartender pun membantunya mengusir para perempuan itu agar tidak ada yang mengganggu Doni.
Sudah berbotol-botol Doni menandaskan minuman beralkohol tersebut, hingga kesadarannya mulai menipis. Ia sesekali meracau menyesali segala perbuatannya yang percuma karena orang yang dimaksud tak ada di sana. Melihat pelanggannya yang sepertinya telah benar-benar kehilangan kesadarannya, bartender itu pun berinisiatif mengambil ponsel Adnan dan menghubungi nomor yang kerap dihubungi atau menghubunginya. Pertama ia menekan nomor My wife, namun ternyata nomor tidak aktif. Lalu ia melihat-lihat kontak siapa yang sekiranya dapat ia hubungi hingga terdengar suara perempuan di seberang sana. Setelah selesai mengatakan tujuannya, telepon pun ditutup. Ia segera mengembalikan ponsel itu ke saku jas Doni.
...***...
Dering ponsel yang tak berhenti berbunyi tampak mengganggu pasangan suami istri yang sedang terlelap. Merasa terganggu, seorang perempuan paruh baya pun mengangkat panggilan itu. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat nama yang tertera di ponsel tersebut.
__ADS_1
"Ada apa, ma? Kok kayak bingung gitu?" tanya sang suami yang juga ikut terbangun.
"Ini pa, kok tumben Doni telepon malam-malam. Takutnya terjadi sesuatu." ucap Risa sambil menatao layar ponselnya yang telah kembali menggelap karena panggilan yang batal. Namun, tak lama kemudian ponsel itu kembali berdering dengan nama yang sama. Risa pun segera mengangkatnya.
Setelah mendengar penuturan orang di seberangnya, mata Risa sontak melotot tak percaya.
"Ada apa, Ma? Kok tiba-tiba panik gitu?" tanya Ilham, ayah Doni.
"Ini, itu, Doni, dia ... dia mabuk dan nggak sadarkan diri di klub malam. Tadi itu bartender klub yang telepon." ujar Risa menjelaskan. Ilham mengerutkan keningnya, ia yakin telah terjadi sesuatu pada putranya itu hingga berakhir mabuk-mabukan.
"Papa coba telepon Dika aja, semoga aja dia bisa jemput Doni." ujar Ilham yang diangguki Risa.
Lalu Ilham pun segera menghubungi Radika.
"Mama dan papa nggak papa kok. Kamu sedang apa, La?" tanya Ilham terlebih dahulu.
"Dika baru selesai melakukan operasi dadakan, pa, memang kenapa?" tanya Radika penasaran.
"Kamu bisa tolong jemput kakak kamu, Ka. Dia mabuk dan nggak sadarkan diri di klub malam XYZ, kira-kira kamu bisa nggak?" tanya Ilham bingung.
__ADS_1
"Apa ? Kak Doni mabuk? Baiklah pa, Dika bisa kok . "
"Diantar ke rumah aja ya! Papa yakin dia sedang ada masalah rumit saat ini." ujar Ilham
"Baik pa. Kalau begitu, Dika jemput kak Doni dulu." ujar Radika sebelum menutup panggilan teleponnya.
2 jam kemudian, akhirnya Radika berhasil membawa pulang Doni. Sepanjang perjalanan, Doni tak henti-hentinya meracau dengan mengucapkan kata maaf hingga berkali-kali yang ditujukan untuk Nuri membuat Radika jadi begitu penasaran sepertinya telah terjadi sesuatu antara kakaknya dan kakak iparnya itu.
"Astagfirullah, Doni. Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?" gumam Risa lirih saat melihat Doni yang dipapah Radika dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Nuri ... sayang ... ini kamu? Maafkan aku sayang, maafkan aku. Aku mohon kembalilah. hiks ... hiks ... hiks ... Sayang, aku nggak sanggup kehilangan kamu, jangan tinggalkan aku ya, aku mohon." lirih Doni saat melihat Risa yang ia sangka Nuri. Ia bahkan memeluk Risa erat sambil terisak hingga membuat Ilham, Risa, dan Radika penasaran.
"Don, ini mama, sadar, nak. Kamu kenapa?" lirih Risa yang iba melihat psikis anaknya yang sepertinya terguncang. Sepertinya masalah yang Doni hadapi cukup berat hingga ia melampiaskannya dengan bermabuk-mabukan.
"Nggak, jangan bohong sayang, ini pasti kamu. Kamu mau pergi lagi? Aku mohon jangan sayang, aku tau aku salah, aku menyesal, aku mohon maafkan aku. Aku tidak mau bercerai dengan mu, sayang. Aku bisa benar-benar gila bila kau meninggalkanku." racaunya lagi membuat ketiga orang yang ada di sana membulatkan matanya.
"Cerai?" seru mereka bertiga.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?" gumam Risa lirih saat melihat Doni yang kembali tak sadarkan diri.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🙏💪...