
"Abang, Lisha mau balon itu." tunjuk balita yang kini sudah berusia 2 tahun itu pada penjual balon yang sedang melintasi rumahnya sambil berjalan kaki.
Fareezky pun menoleh ke arah penjual balon itu yang terlihat begitu kelelahan. Dahinya dipenuhi peluh. Kulitnya menggelap terbakar matahari.
"Abang tanya kakek itu dulunya dek berapa harga balonnya takutnya uang Abang nggak cukup." ujar Fareezky yang diangguki Varisha dengan senyum sumringah.
Fareezky berlari ke arah pagar hendak memanggil kakek penjual balon itu, tetapi langkahnya dihentikan penjaga rumah.
"Mau kemana den?" tanya pak Sarif.
"Adek mau balon itu mang, Fareez mau nanya berapa harganya." ujar Fareezky.
"Biar mamang aja yang manggilnya ya?" Mang Sarif tidak mau mengambil risiko dengan membiarkan anak majikannya keluar dari pagar karena bahaya bisa datang dimana saja dan kapan saja. Fareezky pun mengangguk sembari menunggu mang Sarif mengejar kakek penjual balon yang telah menjauh.
Tak lama kemudian mang Sarif kembali lagi dengan nafas tersengal-sengal. Fareezky menoleh ke arah belakang, kanan, dan kiri, namun ia tak menemukan penjual balon itu.
"Maaf den, penjual balonnya nggak ketemu. Mamang udah nyari kesana tapi nggak ada." ujar mang Sarif dengan wajah menyesal.
Fareezky bingung, lalu ia segera memberi tahu Varisha kalau penjual balonnya sudah pergi dan ia tidak berhasil mendapatkan balon yang adiknya inginkan.
"Sha, penjual balonnya sudah pergi. Abang nggak berhasil dapetin balonnya." ujar Fareezky dengan wajah sendu.
Mendengar balon yang ia inginkan tidak berhasil kakaknya dapatkan, membuat Varisha seketika menangis histeris membuat Fareezky bingung harus bagaimana.
Nina pengasuh dua bocah itupun segera berlarian keluar saat mendengar jerit tangis Varisha. Tadi ia memang menemani kedua bocah itu, tetapi karena sakit perut, ia pergi ke kamar mandi sebentar. Mendengar suara tangisan Varisha, gegas saja ia mencuci tangan dan keluar padahal hajatnya belumlah tuntas.
Sedangkan Aileena belum pulang mengajar dan Fatur sedang bekerja jadi mereka hanya ditinggalkan bersama Nina dan Mbok Ningsih. Ditambah mang Sarif yang merupakan penjaga rumah.
"Risha kenapa? Kamu jatuh, sayang?" panik Nina. Ia kira Varisha terjatuh dan menangis jadi ia mencoba memeriksa seluruh tubuh Varisha namun ia tidak menemukan satupun luka ataupun memar.
"Risha nggak jatuh, Tante tapi mau balon. Mang Sarif udah coba kejar tapi yang jual udah hilang nggak tau kemana. Apa kakek itu dimakan hantu ya Tante?" tanya Fareezky dengan wajah polosnya membuat Nina terkekeh.
"Siang-siang mana ada hantu, Fareez." sahut Nina.
"Oh jadi kalau malam ada ya Tante?" tanyanya polos membuat Nina gemas.
__ADS_1
"Ih, kamu ini, adiknya lagi nangis nih! Sayang, jangan nangis ya! Nanti kalau penjual balonnya lewat lagi, kita minta mang Sarif panggilin ya terus kita beli." ujar Nina mencoba menenangkan.
"Ndak mau, Lisha maunya cekalang, ante." tolak Varisha sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Tapi penjual balonnya udah nggak ada, jadi gimana dong?" bujuk Nina lembut. Diangkatnya tubuh mungil Varisha dan ditepuk-tepuknya punggungnya agar merasa tenang.
"Lisha mau balon, ante. Maunya cekalang. Hiks ... hiks ... hiks ... " rengek Varisha membuat Nina bingung sendiri.
"Tapi ... "
Tin ... tin ... tin ...
Terdengar suara klakson mobil dari luar pagar membuat ketiga orang itu mengalihkan pandangannya ke arah gerbang masuk. Mang Sarif yang sudah hafal siapa pemilik mobil pun segera membukakan pintu gerbang dengan lebar. Fareezky yang melihat mobil itu masuk sontak tersenyum dengan lebar. Berbeda dengan Varisha yang masih menangis sesenggukan di samping Fareezky.
Setelah mobil terparkir di tempatnya, pemiliknya pun segera turun dengan senyum lebarnya. Fareezky segera berlari saat melihat orang itu merentangkan tangannya dengan lebar.
"Ayaaaaah .... " teriak Fareezky saat melihat sosok itu.
Fareezky pun langsung masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Didekapnya tubuh Fareezky dengan erat sambil menciumi puncak kepalanya.
"Hai, boy! Kangen ayah, hm?" tanya lelaki itu.
"Fareez kangen ayah. Kangen banget. Ayah kok baru datang. Beberapa hari kemarin kemana?" tanya Fareezky antusias membuat Adnan terkekeh.
Ya, sudah sejak hampir 2 tahun yang lalu Adnan keluar dari penjara. Sejak itu juga, Aileena mulai mengenalkan Fareezky dengan Adnan sebagai ayahnya. Awalnya Fareezky merasa bingung tapi dengan perhatian Adnan membuat Fareezky senang dan nyaman. Ikatan antara ayah dan anak itu ternyata tidak dapat dipisahkan.
Adnan juga sering mengunjungi Fareezky di setiap waktu senggangnya. Semenjak menjadi narapidana, Adnan diberhentikan secara tidak hormat dari pekerjaannya. Ia hanya bisa menerima dengan pasrah sebab itu memang kesalahannya sendiri.
Sekeluarnya dari lapas, Adnan memulai kembali lembaran baru dalam hidupnya dari nol. Ia pun membantu mengurus usaha ayahnya yang berupa toko perlengkapan elektronik. Tidak ada orang lain yang bisa membantu ayahnya selain dirinya. Rere sibuk mengurus rumah tangganya, jadi hanya tinggal dirinya saja yang bisa diandalkan.
"Ayah ada kerjaan, boy. Maafin ayah ya! Tapi kan ayah selalu sempetin telepon. Maafin ayah kalau nggak bisa sering-sering ke sini."
"Emang kenapa nggak bisa sering-sering, Yah?" tanya Fareezky polos.
Bagaimana Adnan harus menjelaskannya, ia sendiri bingung. Ia bukan siapa-siapa Aileena sekarang. Mereka masih bisa berhubungan dengan keluarga ini hanya karena ada Fareezky yang merupakan putranya. Ia tentu tidak enak hati dengan Fatur, suami Aileena sekarang. Selain itu, hatinya kerap tak kuat melihat bagaimana tatapan penuh cinta Fatur pada Aileena. Bagaimana cara Fatur memperlakukan Aileena. Bagaimana cara Fatur memanjakan Aileena. Bagaimana kemesraan antara Fatur dan Aileena. Oleh sebab itu, ia kadang memilih menemui Fareezky saat kedua orang itu tidak ada di rumah demi menjaga kewarasan hati dan pikirannya. Sedikit pun, nama Aileena tak pernah bergeser dari hatinya dan melihat semua pemandangan itu nyatanya cukup menyiksa batinnya.
__ADS_1
"Ya nggak bisa sayang kan ayah harus urusin toko kakek. Jadi ayah suka sibuk." ujar Fatur berkilah. "Lho, Varisha kenapa nangis sayang?" tanyanya mengalihkan perhatian Fareezky dari pertanyaan tadi.
"Itu yah, Risha mau balon tapi yang jual udah pergi." ujar Fareezky sendu saat ingat kembali keinginan adiknya.
Mata Adnan seketika berbinar, lalu ia memanggil Varisha agar mendekat ke mobilnya.
"Nah, Fareez, Risha, ayah Adnan ada sesuatu untuk kalian. Ayah hitung sampai 3 ya, nanti ada kejutan buat kalian berdua. Ayah mulai hitung ya, 1 .... 2 .... 3 .... " Lalu Adnan membuka pintu belakang mobilnya kemudian beberapa balon aneka bentuk menyembul keluar membuat gelak tawa dan binar bahagia terbit di wajah kedua bocah itu.
"Wah, ayah Adnan bawa balon banyak! Abang mau yang Upin sama Doraemon ayah." seru Fareezky. "Adek mau balon apa?" tanya Fareezky pada Varisha yang juga sudah berhenti menangis. Kini hanya ada binar bahagia di wajahnya.
"Lisha mau balon Masha sama ikan, Yayah." ujar Varisha yang juga diajari memanggil Ayah pada Adnan supaya sama dengan Fareezky.
"Oke, ini untuk Fareez, nah ini untuk si cantik Risha." ujar Adnan seraya menyerahkan balon-balon itu kepada kedua bocah itu. "Terus balon burung sama mobil untuk siapa?" tanya Adnan.
"Balon mobil untuk Fareez aja ayah, terus burung untuk Risha, iya kan dek?" Fareezky meminta persetujuan Varisha.
Varisha mengangguk antusias.
"Yeay, balon Lisha banyak." seru Varisha senang membuat Nina yang dari tadi menemani Varisha mengelus dadanya lega. Tadi ia sudah bingung bagaimana mendiamkan Varisha, beruntung Adnan datang bagai seorang pahlawan yang dibutuhkan di saat-saat yang genting.
"Makasih ayah." ujar Fareezky senang lalu memeluk kaki Adnan. Adnan pun segera berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Fareezky lalu mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Sama-sama, boy." ujarnya seraya tersenyum manis.
'Terima kasih Aileena karena kau sudah memberikan ku kesempatan untuk berdekatan dengan anakku. Kau memang benar-benar wanita yang baik. Ibu yang terbaik. Hanya aku manusia bodoh yang menyia-nyiakanmu. Semoga kau selalu bahagia, Aileena.' lirih Adnan dalam hati.
...***...
Besok udah Senin, semoga banyak vote. hehehe ...
Oh ya, bagi yg punya akun Ig, silahkan follow akun othor ya @dwie.nt .
Eh, satu lg hampir lupa, besok pengumuman bagi top fans yg paling banyak kasi dukungan ke karya othor. Untuk fans mingguan diambil yg nomor 1 aja ya get 20rb, kalau untuk rangking umum diambil nomor 1 sampai 3 get masing-masing 20rb.
Ditunggu dukungannya. 😘
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...