Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.58 Penyesalan


__ADS_3

Kini Rere dan Rasyid sedang berjalan menuju ke tempat parkir sambil berbincang. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap tak suka dengan kedekatan kedua orang itu. Lalu dengan langkah lebarnya ia mendekati Rere dan meraih tangannya membuat langkah Rere terhenti seketika.


"Re ..." panggilnya membuat Rere membelalakkan matanya saat melihat siapa yang menarik tangannya tersebut.


"Kak Radi ..." serunya terkejut karena tiba-tiba saja Radika menahan tangannya. Lalu dengan sekejap mata ia menghempaskan tangan itu.


Rere sebenarnya sadar, ini bukan sepenuhnya kesalahan Radika. Bukankah dari awal ia dapat melihat kalau Radika menyukai mantan kakak iparnya, tapi mengingat kedekatannya akhir-akhir ini dengan Radika, ia pikir lelaki itu sudah mulai memiliki perasaan padanya. namun ternyata ia salah, hati Radika masih bermukim nama Aileena. Ia tak menyangka, cinta sepihak itu sungguh menyedihkan dan menyakitkan. Mungkin seperti itu juga perasaan Radika yang ditolak oleh Aileena. Karena itu, ia mulai menghindari pertemuan maupun kedekatannya dengan Radika. Ia ingin menata hatinya terlebih dahulu. Ia takut, bila intensitas baik itu pertemuan maupun komunikasi diteruskan tanpa dibatasi, maka akan sulit baginya untuk melupakan lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu. Ya, Radika merupakan cinta pertama Rere karena Rere belum pernah memiliki perasaan khusus kepada lawan jenis seumur hidupnya. Dan ini adalah untuk pertama kalinya.


"Ada apa ya, kak? Rere mau pergi sama Rasyid." tukas Rere sengaja mengatakan pergi agar Radika tidak menghalanginya.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Radika meminta izin dengan netra melirik Rasyid yang terlihat santai bersandar di pintu mobilnya.


"Lain kali aja ya kak, soalnya kita sudah janjian sama temen yang lain." dusta Rere seraya memasang senyum palsu. Tapi Radika tau senyum itu adalah senyum palsu nan canggung. Radika makin bertanya-tanya, mengapa Rere menghindarinya. Walaupun belum lama saling mengenal, tapi sosok manja dan terkadang dewasa juga menyenangkan itu ternyata mampu membuatnya uring-uringan hanya dengan bersikap acuh saja.


"Kakak mohon, please!" Radika memasang wajah memelas berharap Rere mau mengalah.


"Maaf, kak! Rere nggak bisa. Ayo, Syid!" ajak Rere yang kini sudah masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Rasyid.

__ADS_1


Radika menjambak rambutnya frustasi saat melihat mobil yang membawa Rere telah menjauh meninggalkan parkiran kampus.


"Kamu kenapa sih, Re?" desahnya frustasi. "Aku juga kenapa gini sih! Masa' bisa galau sama bocah itu. Nggak mungkin kan aku jatuh cinta sama dia?" gumamnya sambil menggeleng-gelangkan kepalanya.


...***...


Radika melangkahkan kakinya gontai di koridor rumah sakit. Setibanya di ruangannya, Radika lantas menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang yang ada di sana.


"Duh, galau mulu sih pak dokter!" celetuk Naya yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Radika.


Naya nyengir lebar seraya menampakkan barisan giginya yang tidak terlalu putih dengan kepala menggeleng-geleng.


"Gue tadi di kamar mandi. Udah kebelet." ujarnya sambil nyengir lebar. Tapi Radika hanya diam tanpa menimpali.


"Loe Kenapa, sih Ka! Akhir-akhir ini makin uring-uringan aja. Tapi kalau menurut pengalaman gue sih, kayaknya loe sedang galau karena cinta. Tapi yang bikin gue penasaran itu, kenapa? Ada apa? Apa susahnya sih cerita? Kita ini udah temenan lama, Ka. Gue bersedia kok dengerin. Kalau aja gue bisa bantu pecahin masalah loe." tukas Naya yang prihatin melihat teman seperjuangannya yang galau sepanjangan.


...***...

__ADS_1


Delima tampak sedang memandang wajah Nanda yang sedang tertidur dengan sendu. Dalam hati ia tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf. Lalu dengan air mata berderai ia memasukkan satu persatu pakaian kesayangan Nanda,m dan barang lainnya ke dalam sebuah travel bag berukuran sedang. Lalu ia mengambil boneka kesayangan Nanda yang berbentuk Winnie the Pooh yang sudah ia buka sedikit jahitannya dan menyelipkan sebuah surat beserta foto Doni dan foto dirinya ke dalamnya kemudian menjahitnya kembali. Ia berharap, semoga suatu hari nanti, Nanda menyadari ada surat yang ia tulis dan selipkan ke dalamnya.


Nanda masih tertidur pulas. Dipandanginya tanpa jemu wajah polos itu dengan beribu rasa dari sedih, resah, takut, dan harap. Ya, Delima berharap dengan menyerahkan Nanda pada Doni dapat membuat hidup Nanda lebih baik. Ia berdoa, semoga Doni dan keluarganya dapat menerima Nanda.


"Sayang, maafin mama ya yang terpaksa menyerahkan kamu kepada Papa kandung kamu. Bukan karena mama tak sayang, tapi mama lelah menjalani kehidupan yang melelahkan ini. Mama tak ingin membuatmu makin menderita dengan mengikuti langkah mama. Apalagi, mama tak memiliki apa-apa untukmu, nak. Mama hanya orang miskin yang tak berpunya. Keluarga juga tak ada. Begitu besar kesalahan mama baik itu padamu, pada papa mu, pada papa Adnan, pada mbak Aileena, dan masih banyak lagi. Mama nggak tau harus menebusnya bagaimana. Mama harap, mama memiliki jalan untuk menebus segala dosa mama, nak. Bila perlu, mama rela berkorban nyawa demi kata maaf dari orang-orang yang sudah mama sakiti." ujar Delima sambil terisak.


"Ya Allah, ampuni salahku, ampuni dosaku yang terlampau banyak ini. Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk mengurai dosa-dosaku. Dan aku mohon, jangan hukum anakku atas semua salah dan dosaku. Berikanlah ia kebahagiaan walaupun bukan melalui diriku. Aku memang manusia rendah dan hina, tapi aku sangat menyayangi anak-anakku. Berikanlah kebahagiaan pada anakku di manapun mereka berada."


Delima tergugu seorang diri. Di kontrakan super kecil itu, ia menangis seorang diri. Menumpahkan segala sesak dan sesal yang bercokol di dalam dada. Bahunya bergetar, dadanya sesak, begitu dalam rasa penyesalannya. Mungkin kata maaf takkan setimpal untuk setiap kesalahan yang telah ia buat. Mungkin kata sesal pun akan percuma karena besarnya dosa yang telah ia buat selama ini.


"Nanda, sayang, semoga kamu bahagia bersama papa, ya sayang. Semoga kita bisa berjumpa lagi. Mama sayang Nanda. Sangat sayang." bisiknya seraya menciumi semua permukaan wajah Nanda.


Dengan perlahan, Delima menggendong Nanda agar tidak terbangun sambil membawa tas dan bonekanya. Lalu ia keluar dari dalam rumah dan menuju taksi pesanannya yang baru saja tiba. Ia masuk ke dalam taksi itu dengan berderai air mata. Delima meminta sopir taksi itu mengantarkan mereka ke sebuah alamat yang ia ketahui merupakan alamat kediaman Doni.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2