Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.37 Mencari


__ADS_3

Tak terasa, sudah 2 Minggu berlalu sejak pertama Aileena tinggal di villa milik Fatur. Fatur juga kadang tetap menyempatkan diri mengunjunginya, begitu pula Radika. Hanya Rere saja yang tidak memunculkan batang hidungnya sebab ia sedang memiliki banyak tugas. Selain itu, ia juga hendak berhati-hati, takutnya saat ia mengunjungi Aileena, justru Adnan mengikutinya.


Dugaan Rere memang benar, walaupun bukan dirinya yang secara langsung mengikuti, tapi ia sudah meminta orang bayarannya untuk mencari tahu keberadaan Aileena dengan mengikuti Rere.


"Sial! Kamu dimana sih, Ai? Kenapa kamu menghilang seperti ditelan bumi kayak gini?" desah Adnan frustasi. "Aku harus mencari kamu kemana lagi? Di Mercu buana juga kamu nggak ada." gumamnya sambil memukul stir mobil. Ya, dengan bantuan Fatur, Aileena telah mengambil cuti hamil hingga 40 hari setelah melahirkan. Hal itu dilakukan demi menjaga kesehatan Aileena dan calon buah hatinya.


...***...


"Gimana, Don? Kamu udah coba cari keberadaan perempuan itu?" tanya Delima via sambungan telepon.


Doni meraup wajahnya frustasi, sungguh, ia tak sanggup melakukan hal itu. Ia mungkin brengs*k, tapi ia tidak pernah melakukan hal kriminal. Bahkan semasa sekolah saja, ia tidak pernah membuat keonaran.


Sebrengsek-brengs*knya dirinya juga, hanya pernah melakukan perbuatan terlarang itu dengan Delima. Itu pun karena rayuan Delima yang sedang mabuk karena putus cinta. Akhirnya, ia tergoda karena saat itu juga ia sedang frustasi akibat omelan sang mama yang terus menuntut cucu darinya. Akibatnya, tanpa sepengetahuan Nuri, ia terlibat percintaan terlarang hingga beberapa kali. Setelah itu, mereka jarang berkomunikasi. Namun, saat bertemu lagi, Delima telah melahirkan Nanda. Sebagai tanggung jawab, walaupun tak bisa menikahi, Doni sering memberi Delima uang untuk biaya hidupnya walaupun saat itu ia telah berstatus sebagai istri seseorang. Hingga tak lama kemudian, hal tersebut terulang lagi. Kemudian, karena ia ada pekerjaan di luar kota, ia kembali putus komunikasi dengan Delima sebab ia kehilangan ponselnya. Sedangkan ia tidak hafal sama sekali nomor Delima.


"Belum. Aku belum tau keberadaannya." ujar Doni jujur.


"Kau ini bagaimana sih! Kau benar-benar mencarinya atau sekedar berbohong?" murka Delima dengan nada menggeram kesal.


Doni menghela nafas kasar, "Aku sudah mencarinya Ima. Aku bahkan sudah mendapatkan alamat rumahnya yang baru tapi kosong sejak 2 Minggu yang lalu. Di sekolah tempat ia mengajar katamu itu juga tidak ada . Ia mengambil cuti hingga lepas melahirkan." jelas Doni kesal karena terus dicecar perihal keberadaan perempuan yang bernama Aileena itu.

__ADS_1


"Ya usaha dong!" deliknya sebal. "Kamu kan kaya, kamu bisa minta detektif swasta untuk mencari keberadaanya."


Doni benar-benar menyesal harus berhubungan dengan wanita menyebalkan seperti Delima. Andai ia bisa kembali ke masa lalu, ingin ia kembali ke masa sebelum ia terjerat perbuatan bodohnya. Namun nasi telah menjadi bubur. Ia tak mungkin kembali ke masa itu. Adakah cara agar ia dapat memperbaiki semua tanpa harus merasakan kehilangan? Sebab satu hal yang paling ia takutkan adalah kehilangan istrinya.


"Ya ya ya, akan aku usahakan. Puas!" imbuhnya dengan nada setengah menggeram sebelum mematikan panggilan itu secara sepihak.


"Sialan kau, Don! Kalau bukan karena butuh bantuanmu mencari keberadaan wanita sialan itu, aku takkan mungkin menghubungi pria brengs*k seperti dirimu." gerutu Delima sambil memandangi ponselnya yang telah menggelap karena panggilan telah diputus.


'Wanita sialan? Pria brengs*k? Siapa orang-orang yang dimaksud, Ima itu?' gumam Adnan dalam hati.


Adnan siang ini akan menghadiri sidang sebuah kasus. Tapi karena berkas tentang dakwaan terhadap seseorang itu tertinggal di ruang kerjanya, alhasil ia harus kembali ke rumah terlebih dahulu sebelum datang ke pengadilan. Untuk mempersingkat waktu, Adnan lebih memilih menaiki ojek online sehingga kedatangannya tidak diketahui oleh Delima. Tepat saat ia hendak masuk ke dalam ruang kerjanya, sayup-sayup ia mendengar suara Delima marah-marah tetapi lawan bicara Delima tidak terdengar. Sudah bisa dipastikan bahwa lawan bicaranya itu berada di seberang telepon. Dengan mengendap, Adnan pun segera menuju ke kamar mereka. Sehingga ia pun tak sengaja mendengar percakapan Delima dengan seseorang itu. Walaupun hanya sepotong di bagian ujungnya, ia tahu , Delima sedang merencanakan sesuatu, tetapi apa, ia tidak tahu. Sepertinya ia memang harus mencari tau apa yang direncanakan Delima. Ia juga sebenarnya penasaran dengan siapa suami Delima terdahulu sebab setiap ditanya, Delima selalu mengelak untuk memberitahu dengan berbagai cara dan alasan. Sebenarnya ia sudah merencanakan akan mencari tau, tetapi ia belum sempat. Sepertinya tugasnya kini bertambah, ia harus menyelidiki tentang Delima.


"Ima ..." teriak Adnan.


Mendengar suara Adnan, Delima pun berusaha berjalan dengan cepat hingga tergopoh-gopoh. Ia penasaran mengapa di waktu sesiang ini, suaminya itu tiba-tiba muncul sebab tidak biasanya ia seperti itu


"Ada apa, mas?" tanyanya dengan nafas sedikit tersengal. "Kok tumben pulangnya cepat?" tanya Delima gugup. Ya, ia sempat gugup saat mendengar suara suaminya itu yang tiba-tiba memanggil.


"Sebenarnya bukan pulang cepat, tapi ada yang ketinggalan, jadi aku kembali lagi naik ojek online." tukas Adnan jujur.

__ADS_1


"Oh." sahutnya dengan ber'oh ria. "Mas mau ngopi dulu?" tawar Delima.


Namun Adnan menggeleng saat ia sudah masuk ke dalam ruang kerjanya. Delima belum pernah masuk ke dalam sana. Berhubung Adnan tidak langsung mengunci ruangan itu, Delima pun ikut masuk ke dalamnya.


Mata Delima membola seketika saat melihat pigura super besar di hadapannya. Matanya berkilat marah dengan gigi bergemeletuk. Bagaimana tidak emosi, pigura itu merupakan foto Adnan berdua dengan Aileena. Bahkan posenya juga sangat romantis. Dari foto itu saja, dapat ia lihat bagaimana Adnan begitu mencintai Aileena. Padahal ia sudah berhasil menyingkirkan Aileena menggunakan janin di dalam kandungannya, walaupun di hati pria itu masih ada nama Aileena di dalamnya.


Namun, fakta bahwa Aileena sedang mengandung buah hatinya dengan Adnan membuatnya kian dihantui rasa takut. Ia benar-benar takut Adnan benar-benar mewujudkan ucapannya tempo hari, yaitu ingin menceraikannya dan menikahi. Aileena kembali. Tentu ia takkan membiarkan hal itu terjadi apalagi kebahagiaannya telah berada di dalam genggamannya. Ia tak mau kebahagiaan yang baru saja sebentar direguknya tiba-tiba saja kembali menghilang.


"Kenapa kau ikut masuk, hah? Bukankah sudah berkali-kali aku bilang, jangan sekali-kali kamu menginjakkan kaki di dalam ruangan kerjaku." tukas Adnan sinis dengan nada tinggi hingga membuat Delima tercekat takut. Padahal seharusnya ia lah yang marah, sebab statusnya adalah istri Adnan. Tapi kini, justru sebaliknya, ia lah yang kena bentak Adnan hanya karena masuk ke ruangan kerjanya.


"Kenapa kamu, mas? Kenapa kamu marah-marah nggak jelas? Apa karena fotomu dan Aileena ketauan dengan mata kepalaku sendiri?" desis Delima sinis.


"Tidak perlu ikut campur urusanku! Yang penting segala kebutuhanmu aku penuhi, jadi tidak usah sok jadi istri tersakiti sebab sejatinya yang tersakiti di sini adalah Aileena." pungkas Adnan sebelum ia berlalu dari hadapan Delima.


Setelah Adnan masuk ke dalam mobil, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.


"Cari tau siapa suami wanita ini sebelumnya. Namanya Delima. Temukan informasinya secepat mungkin." send.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2