
Ketiga manusia itu lantas naik ke papan terapung terdekat. Nirya menatap Sabailuha dengan wajah penuh tanda tanya. Sthira tampak mengerutkan dahi, sementara Arumi masih terlalu terguncang untuk bicara, apalagi berpikir jernih.
Sabailuha menatap Arumi, lalu berujar, “Lho, bukankah ini salah seorang Senopati Jayandra? Mengapa kalian menyelamatkannya?”
“Ada sesuatu dalam dirinya yang sangat mungkin searah dengan tujuan kita, dan ia telah mengungkapkan sebagiannya saat meracau tadi,” jawab Sthira. “Tinggal yakinkan bahwa dia dan kita sebenarnya di pihak yang sama, dan berempat, kita pasti akan makin kuat.”
“Nah, kini aku akan mengantar kalian,” kata Sabailuha.
Saat Nirya melayangkan pandangan ke arah matahari terbenam, tiba-tiba ia menunjuk ke sisi kanannya dan berseru, “Kawan-kawan, Arumi, lihat itu!”
Semua mata tertuju ke arah yang ditunjuk. Sebuah kapal layar yang berdaya tampung kira-kira seratus orang tampak di kejauhan, mendekat ke arah hamparan puing-puing kapal.
“Arumi, tampaknya itu satu kapal Jayandra yang kembali, mencari para korban yang masih hidup!” seru Nirya. “Ternyata masih ada yang peduli padamu!”
Arumi membasuh wajahnya dengan air laut, mencoba melihat lebih jelas. Ternyata benar, itu adalah kapal berbendera Jayandra. Ekspresi wajah gadis itu yang semula pucat-pasi berubah cerah, walau ia masih terkesan berusaha menyembunyikan rasa girangnya.
Di sisi lain, Sthira cepat berseru, “Cepat! Kita beri tanda ke kapal itu dengan memantulkan sinar matahari di bilah senjata-senjata kita! Dan kau Sabailuha, sembunyilah dulu di bawah laut agar kapal itu tak takut mendekat!”
“Baiklah...” Sabailuha perlahan membenamkan dirinya ke bawah permukaan air, walau kesan malas dan enggan tercermin lewat gerak tubuhnya.
Menjaga agar balok yang mereka duduki tak goyah, Sthira dan Nirya menghunus senjata masing-masing dan memantulkan cahaya matahari ke arah kapal itu. Bilah-bilah diputar-putar sedemikian rupa hingga pantulan cahayanya tampak berkelap-kelip. Hasilnya, kapal lambat laun berputar haluan dan melaju tepat ke arah Nirya, Sthira dan Arumi berada.
Lalu terdengar seruan seorang pria dari kejauhan, “Hooi! Siapa saja di sana!?”
Giliran Arumi berseru, “Senopati Arumi Dyahrani!”
“Siapakah yang dua orang lagi itu?”
“Mereka berdua penyelamatku!”
“Baiklah! Syukurlah anda selamat, senopati!”
Tak lama kemudian, tangga tambang diturunkan dari geladak kapal. Nirya naik pertama, disusul Arumi dan terakhir Sthira.
__ADS_1
Kelelahan, Nirya langsung menyandarkan tubuhnya di tempat duduk pertama yang dilihatnya, sementara Sthira memilih duduk bersila dekat Nirya di geladak kapal.
“Hai, siapa bilang kalian berdua boleh melakukan apapun di sini sesuka kalian?” sergah Arumi tiba-tiba, sorot matanya tak bersahabat.
Sthira dan Nirya terkesiap dan bangkit berdiri seketika. Namun mereka tak serta-merta menghunus senjata. Itu karena Arumi tak memegang senjata. Arumi memang kehilangan busurnya, dan gadis itu tak menghunus keris yang tergantung di punggungnya.
Melihat reaksi ini, Arumi **** senyum. “Tentu saja aku bilang boleh. Tak peduli dari manapun kalian berasal, sudah sewajarnya aku berterima kasih pada orang-orang yang telah menyelamatkan nyawaku. Terima kasih. Nah, apa yang kalian inginkan sebagai imbalan?”
Sthira menjawab, “Kami hanya butuh penyeberangan ke Jayandra. Selebihnya bisa kita bicarakan...”
Arumi mengangkat satu telapak tangannya dan menyela, “Itu saja dulu. Kalian istirahatlah, aku harus biara dengan nahkoda...”
Tiba-tiba Arumi, Nirya dan Sthira dikejutkan oleh kemunculan Sabailuha di sisi kanan geladak kapal.
“Tentunya kalian tak berniat meninggalkanku, bukan!?” ujar si manusia-naga laut.
“Tentu tidak,” ujar Sthira mantap.
Nirya menimpali, “Asal kau kembali menjadi Minata. Bepergian dengan wujud seperti itu tentu akan sangat merepotkan.”
“Maaf, aku tak bisa pastikan itu.” Hampir bersamaan, Nirya dan Sthira menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdirilah Arumi, siap dengan busur dan anak panah yang ia pinjam dari seorang prajurit.
“Apa maksudmu, gadis muda? “ Sabailuha menatap lurus-lurus ke mata dan ekspresi wajah Arumi.
Arumi menjawab, “Kau tahu persis maksudku, Sabailuha! Coba pikir, mana mungkin orang Jayandra seperti aku membiarkan makhluk satu orang yang telah menghancurkan armada negeri kami menumpang di kapal kami? Jangan harap!”
“Itu bukan salahku! Kalian yang memaksaku membuka kunci Ratauka! Aku hanya membela diri! Mencegah perang pecah lagi! Mencegah Swarnara yang tengah lengah akibat bencana hancur oleh keserakahan negeri tetangga! Bila kalian jadi aku, kalian pasti akan melakukan hal yang sama, ‘kan?”
“Bisa jadi.” Arumi tetap membidik. “Tapi kau bisa saja diam dan tak ikut campur urusan Jayandra, mengungsikan kedua temanmu ini ke gunung tanpa harus meletuskannya. Sabailuha, penjaga Ratauka yang selama ini abai terhadap pergolakan dunia di sekitarnya mendadak peduli. Dengan hancurnya armada, Jayandra kini rentan terhadap serbuan Kalingga, bahkan Akhsar. Tidakkah kau berpikir sejauh itu sebelum bertindak?”
Sabailuha terdiam. Rupanya ketidakpeduliannya selama ini telah menumpulkan nalar dan nuraninya. Ia tahu persis jawaban untuk menyanggah kata-kata Arumi, tapi ia tak mau mengatakannya. Entah demi harga diri, melindungi Nirya dan Sthira, atau keduanya.
Mempertegas niatnya membalas dendam pada si penghancur, Arumi memanah. Sebelum Sabailuha sempat bergerak, anak panah berapi telah lebih dulu menghantam cula di ujung moncongnya. Panah itu terpental dan tak sampai menancap di cula yang amat keras itu, namun itu cukup membuat Sabailuha terkesiap dan mencondongkan tubuhnya ke belakang, siap menyerang dengan segenap tenaga.
“Anak panah kedua pasti akan menembus jantungmu,” ujar Arumi. Ia sengaja membidik cula tadi sebagai gertakan dan peringatan.
__ADS_1
Menyadari bahaya yang bakal terjadi bila Sabailuha sekarat dan jadi nekad, Sthira maju ke posisi di antara si pemanah dan si naga. Serunya, “Cukup sudah! Sabailuha, kurasa peranmu sudah cukup sampai di sini. Biarkanlah kami pergi.”
“Lho, kenapa?” protes Sabailuha. “Bukankah aku sudah setuju untuk ikut kalian?”
“Benar. Tapi kini Gunung Ratauka sudah meletus. Mau tak mau, sebagai juru kuncinya kau harus bertanggungjawab. Bantulah kami menyelamatkan para prajurit yang masih hidup, membiarkan mereka kembali pulang ke keluarga mereka masing-masing. Setidaknya mungkin Sang Srisari akan memaklumi tindakanmu tadi dan mengampuni dosamu, sengaja meletuskan Ratauka yang harus kaujaga agar tak meletus sebelum waktunya.”
Dahi Arumi berkerut, merasa aneh dengan kata-kata Sthira tadi.
Namun yang jauh lebih penting kini adalah reaksi Sabailuha. Si manusia-naga diam mematung sejenak, lalu bicara, “Kau benar, Sthira. Sumpah suciku pada Sang Srisari, Bunda Alam telah mengikat segala keberadaanku dengan Gunung Ratauka.” Ia menunjuk ke gelang besar yang seakan membelenggu lehernya. “Karena Ratauka meletus, aku harus tetap berada di sekitar sini sampai Aksara Gaib Kunci Ratauka kembali muncul dalam ragaku.”
Arumi membentak, “Sabailuha! Jangan pikir aku akan melepasmu begitu saja setelah kau menghabisi banyak saudara setanah-airku! Rasakan pembalasan kami semua!” Aneh, mungkin ingatan pada tubuh-tubuh yang mengambang kaku itu mengubah pikiran Arumi dengan amat mendadak. Ia malah mempertaruhkan nasib semua insan di kapal itu dengan memanah Sabailuha sekali lagi!
Kali ini, anak panah berapi menancap di dada kiri Sabailuha, di daerah jantungnya berada. Sabailuha terdorong ke belakang dan jatuh, tercebur ke dalam laut.
Beberapa saat kemudian, Sabailuha tak kunjung muncul. Dugaan semua orang, panah sakti Arumi pasti telah menembus titik lemah Sabailuha dan menewaskannya.
“Sabailuha telah mati! Dendam saudara-saudara kita terbalas sudah, ayo kita putar haluan ke Jayandra!” Sorak-sorai seluruh awak kapal menyambut perintah Arumi itu.
Di sisi lain, Nirya menyaksikan semua ini dengan wajah pucat-pasi. Ia lantas mendekat pada Sthira dan berbisik, “Arumi... dia sungguh mengerikan dan tak terduga. Pikirannya dapat berubah drastis tiap saat. Apa kau masih tetap ingin dia membantu misi kita?”
Sthirapun mengerutkan dahi. “Tergantung hasil pembicaraan kita nanti,” ujarnya. “Kita semua tahu Arumi membunuh Sabailuha karena terbakar dendam, dan ia semula ragu karena Sabailuha tak langsung menyerang kapal sesaat setelah kemunculannya.”
“Tapi Arumi kini tahu Sabailuha memihak kita, dan mungkin kini ia telah menebak sebagian atau seluruh rencana kita. Kita tak aman di kapal ini, Sthira! Setiap saat, Arumi bisa saja mengubah pikiran, lupa budi dan menyerang saat kita lengah seperti Sabailuha tadi.”
“Aku tahu. Tapi sebaiknya kita berhati-hati dulu. Ingat, kita tengah menumpang kapal Jayandra. Nanti saat kita sudah menjejak daratan, baru kita membicarakan rencana dan tawaran kita pada Arumi. Apapun hasilnya, kita harus tetap dalam keadaan hidup.”
Nirya tak menanggapi kata-kata rekannya lagi. Kelelahan fisik dan pikirannya telah mencapai ambang batas, jadi gadis itu mengalihkan pandangannya sekeliling, ke lautan luas. Sesuatu di permukaan air membuat Nirya terkesiap. Ia lantas bergegas ke tepi geladak untuk melihatnya lebih jelas.
Rupanya, sesosok tubuh ular naga raksasa yang panjang, dengan sirip raksasa di ujungnya tengah menyelam dari permukaan ke dalam laut, terus menjauh dari kapal. Tak salah lagi, itu tubuh bagian bawah si manusia-naga raksasa, Sabailuha. Hampir mustahil ada naga laut lain di sekitar Gunung-Pulau Ratauka, wilayah kekuasaan Sabailuha ini.
Kesimpulan sementara Nirya, Sabailuha tak benar-benar tewas saat dipanah Arumi tadi. Panah itu pasti tak menghunjam jantungnya, meleset sedikit di dada dan ditahan oleh kulit amat tebal yang melindungi dadanya bagai baju zirah.
Berarti Arumi sengaja terlihat membunuh Sabailuha, agar wibawanya makin kokoh di mata para anak buahnya. Namun sesungguhnya ia tak membunuh si penjaga Gunung Ratauka, mungkin agar keseimbangan alam sekitarnya tetap terjaga.
Suka atau tidak, terbit setitik rasa kagum Nirya akan kepandaian Arumi bersiasat. Namun hatinya belum tenang, setidaknya sebelum memastikan apakah Arumi akan mendukung, membiarkan atau menjadi penghalang besar bagi “Misi Perdamaian Antapada” ini.
__ADS_1
Ilustrasi: Mandau Terbang, senjata khas suku Dayak, Kalimantan - referensi untuk mandau besar milik Sthira yang dinamai Gharma. Ukuran mandau Sthira satu setengah kali lebih besar daripada mandau biasa.