EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DANURAH Bagian 1


__ADS_3


Sekali lagi, Sthira berlari secepat mungkin bersama Nirya dan Arumi, berusaha menyelamatkan diri masing-masing dari letusan gunung berapi. Langit malam jadi terang-benderang oleh gegap-gempitanya erupsi dan hujan api yang tercurah ke segala arah.


Nirya yang berlari paling cepat di depan Sthira berseru, “Cepat, teman-teman! Aliran lahar panas mulai menyusul ke arah kita!”


“Apa!? Bagaimana bisa? Bukankah kita sudah lari cukup jauh dari pusat letusan?” sergah Arumi yang sudah berhasil menyusul kedua rekannya dan kini di posisi paling belakang. Hawa panas yang makin terasa di kulit punggungnya membuat gadis itu refleks berbalik.


“Ah!” seru Arumi. Nirya benar, aliran merah membara itu terus melanda.


Mengingat kini mereka tengah di labirin Hutan Sriwedari dan hanya berputar-putar saja, tak heran aliran lahar yang bergerak cukup lamban itu malah makin dekat saja.


Lebatnya rerimbunan Hutan Sriwedari melindungi Nirya-Sthira-Arumi dari ujan batu berapi disertai abu panas-membara. Walau demikian, cepat atau lambat daerah ini akan berubah menjadi lautan bara api, mengepung ketiga insan itu dalam jebakan yang lebih mematikan daripada diterpa ombak penghancur armada dari Sabailuha.


“Aduh, harus bagaimana ini?” kata Nirya dengan nada panik.


“Dengar Nirya, Arumi!” Gagasan Sthira terbit seketika. “Lahar itu mengalir dari utara, ‘kan? Ayo kita terus lari menjauhi lahar, cepat atau lambat kita pasti bakal keluar dari sisi selatan hutan ini!”


Kedua rekan Sthira langsung mengangguk dan lari ke arah yang dimaksud. Deretan pepohonan, asap panas dan hujan batu berapi masih harus dilewati dan dihindari. Namun kini, aliran lahar, walau tetap berbahaya berubah dari musuh menjadi pemandu.


Kini Sthira menyelinap lewat pepohonan, melompati semak belukar, dan tak ragu lagi berbelok sejenak dan berbalik lagi ke selatan. Sementara prana pelindung tubuhnya lebih berfungsi menangkal serangan batu api dan debu panas.


Tak lama kemudian, kabut asap panas turun memenuhi udara, menghalangi penglihatan Sthira dan kawan-kawan. Si pria dari Kalingga itu seringkali menabrak pohon akibat lari tanpa melihat jauh, tapi harga dirinya yang tinggi menghalanginya untuk minta tolong pada kedua gadis yang mendampinginya.


“Giliranku! Biar kubuka jalan, Sthira!” Tiba-tiba Nirya menyeruak maju, menempatkan dirinya di depan Sthira. Gadis Swarnara itu lantas memutar-mutar kerambit berantai bagai kincir angin di depan tubuhnya. Tentunya dengan mengerahkan energi angin lewat jurus Bayangan Semilir Angin, terus-menerus meniup kabut asap hingga buyar.


Kini, setidaknya rombongan Sthira dapat melihat ke jarak yang lebih jauh. Saat kaki Sthira menjejak tanah di luar tepi selatan Hutan Sriwedari, barulah ia bisa sedikit bernapas lega. Sedikit. Karena saat berikutnya, kabut asap kembali membuat napas Sthira sesak.


Karena Hutan Sriwedari lebih lebat daripada jalan setapak di hutan lereng Gunung Barkajang, dampak kabut asap dari letusan Gunung Megaswari dan kebakaran Hutan Sriwedarilah yang jauh lebih terasa.

__ADS_1


“Sekarang kita harus pergi sejauh-jauhnya dari daerah bencana dan bertolak menuju Rainusa,” ujar Sthira sambil terbatuk-batuk. “Bagaimana usulmu, Arumi?”


“Karena kita menuju selatan, mau tak mau kita harus kembali melintasi Wulantra menuju kota pelabuhan di pantai selatan, Damarwangi,” jawab Arumi.


Nirya ternganga. “A-apa? Kembali ke Wulantra? Bukankah itu berarti bunuh diri?”


Arumi menggeleng. “Tergantung. Kita harus mengisi-ulang perbekalan di kota atau desa terdekat. Kalau kita beruntung, kabut asap ini akan menutupi pergerakan kita. Jadi, andai masih ada penduduk yang nekad tinggal di daerah yang terlanda bencanapun, mereka akan terlalu sibuk menyelamatkan diri, takkan mempedulikan kita sama sekali.”


“Bagaimana jika ada yang mengenali kita?” tanya Nirya.


“Harap saja kabut asap ini memihak kita,” jawab Sthira. “Bila sampai itu terjadi, ada banyak cara untuk membungkam orang, termasuk...” Ia memperagakan maksudnya dengan menggerakkan jari telunjuk segaris lurus di depan lehernya. Nirya dan Arumi tak berkomentar lagi, tanda mereka sudah paham maksud Sthira itu.


Demi keberhasilan “misi mulia”, mereka harus siap menjadi manusia-manusia terkejam yang pernah menjejak dunia bilamana perlu.


Di sisi lain, Sthira tak membuang waktu lagi dan terus berlari. Tiba-tiba, sebongkah batu berapi seukuran kepalan tangan menghantam punggung pria itu. Sthira terpukul keras hingga jatuh terjerembab.


“Sthira!” seru Nirya dan Arumi bersamaan. Dengan cepat kedua gadis itu menghampiri si pria tampan-perkasa itu, membantunya bangkit lalu memapahnya sambil berjalan secepatnya.


Namun, di daerah yang masih terlingkup bencana ini, tempat manakah yang cukup aman untuk melakukan semedi atau segala tindakan pemulihan luka?


Dalam situasi serba terjepit ini, wajar saja bila terbit setitik rasa sesal dalam diri seseorang, bahkan si pemicu bencana sekalipun.


Namun, tidak bagi Sthira. Matipun tetap tiada sesal.


\==oOo==


Tiba di Wulantra, Sthira menoleh kesana-kemari dengan wajah cemas. Padahal seharusnya ia dan kawan-kawannya sudah bisa bernapas lega.


Seperti harapan semula, tindakan-tindakan yang amat sigap dari Mpu Galahasin, Mahapatih Jayandra telah meluputkan Prabu Narendra dan sebagian besar rakyat, ningrat, pejabat dan prajurit dari kehancuran yang merata di seantero ibukota. Hanya orang-orang yang terlalu tua dan mereka yang kurang beruntung, kurang tanggap dan tak percaya pada peringatan para pimpinan negerilah yang menjadi tumbal, korban bencana alam yang penyebabnya tidak alamiah ini.

__ADS_1


Lihat saja, hampir semua bangunan di Wulantra sudah tak utuh lagi. Sebagian jebol dan terbakar akibat hujan batu api. Lalu, kabut panas meneruskan bara itu hingga membakar rumah-rumah lainnya pula yang rata-rata berbahan kayu.


Hanya segelintir bangunan yang terbuat dari batu yang masih berdiri tegak. Itupun dengan atap-atap kayu yang sudah hangus, tak jelas bentuknya lagi. Selanjutnya, abu dan lahar vulkanik akan mengubur seluruh wilayah kota ini. Baru berabad-abad kemudian, reruntuhan Wulantra ditemukan dan menjadi saksi sejarah sebagai ibukota lama Jayandra dan “korban” salah satu letusan gunung berapi terdahsyat sepanjang sejarah Vanapada, Everna.


Daripada menjadi saksi bencana, seluruh penduduk lainnya memilih percaya pada kebijaksanaan Galahasin dan kharisma Prabu Narendra. Walau luput dari maut yang seketika, mereka masih masih harus amat menderita. Puluhan ribu rakyat menempuh perjalanan eksodus yang panjang, penuh bahaya dan minim sumber daya. Akhirnya kelak mereka tiba di tanah yang dijanjikan Mpu Galahasin dan membangun kota baru yang nantinya menjadi Mahesapura, ibukota baru Jayandra.


Namun selama perjalanan itu, kira-kira sepertiga rombongan entah tewas atau meninggalkan rombongan untuk tinggal di hutan, desa atau kota yang bertebaran sepanjang jalur Wulantra-Mahesapura.


Menatap tubuh-tubuh hangus, remuk dan terpisah-pidah para korban, mau tak mau hati Sthira terasa sesak. Mungkin ini baru pertama kali ia rasakan karena saat Barkajang meletus, ia tak melintasi Ringidatu. Namun, rasa duka Sthira ini lebih mendalam daripada saat ia menyaksikan seluruh Armada Jayandra tersapu amukan Sabailuha.


Tak kuat lagi menahan guncangan hati, Sthira ambruk berlutut di tanah berdebu. Sisa lahar, abu dan batu panas yang masih membara membuat kedua telapak tangan pemuda itu melepuh merah.


Melihat kelakuan Sthira, Nirya dan Arumi cepat-cepat menghampiri ornag yang telah memulai dan meneruskan rentetan bencana hingga gunung ketiga itu.


“Ada apa denganmu, Sthira?” tanya Nirya.


Arumi berasumsi, “Jangan-jangan kau...”


Namun Sthira malah membalasnya dengan bentakan, “Jangan-pernah... berpikir macam-macam! Aku ini masih manusia, tahu! Jangan pikir aku baik-baik saja setelah segala yang kulakukan ini!”


“Tapi bukankah kita telah membawa kehancuran bagi Wulantra? Bukankah yang terjadi ini sama saja dengan akibat perang? Bukankah kita sama saja telah mengobarkan perang di Jayandra? Menusuk langsung di jantung ibukotanya pula!” Kata-kata Arumi itu bagai menuang minyak di atas api. Apa maksud si “gadis labil” itu?


Geligi Sthira gemeletak, dalam geramnya ingin ia melabrak gadis berlidah tajam itu.


Namun, sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan yang dapat merusak keseluruhan misi, Nirya cepat-cepat angkat bicara, “Tahan diri kalian! Ingat pesan Mpu Galahasin. Bara Cincin Api telah tersulut, jadi satu-satunya cara agar kobarannya tak sampai menghanguskan seluruh Antapada adalah dengan menuntaskan seluruh putarannya! Semua negeri di Antapada harus dilemahkan, agar mereka sadar mereka tak punya pilihan selain bersatu-padu dan mengusahakan perdamaian!”


Terngiang kembali kebenaran dari kata-kata Galahasin itu. Andai mereka berhenti sampai di sini, salah satu negeri di Antapada, katakanlah Kalingga bakal menaklukkan negeri-negeri yang lemah akibat bencana. Selanjutnya, Kalingga juga lemah karena tentaranya tersebar untuk menjaga wilayah-wilayah jajahannya. Saat itulah, negeri-negeri lain seperti Jerian, Taehon, Wushu, Shima atau lainnya bakal berlomba-lomba menyerbu Antapada. Dan kehancurannya akan lebih besar, lebih mengerikan daripada satu kota di tiap negeri saja yang hancur akibat bencana.


Pemikiran itu kembali menyehatkan akal Sthira, wajah tegang pemuda itu mengendur jadi terkesan tenang. Apalagi saat melihat Nirya tersenyum tulus ke arahnya, baru ia sadari betapa kecantikan gadis Swarnara ini lagi-lagi telah meredakan gejolak hatinya.

__ADS_1


Inikah yang namanya jatuh cinta?


Sumber Gambar Referensi: Bangunan megah di Kota Danurah seperti di Kota Singaraja, Bali (Google).


__ADS_2