
Penghancuran Kota Dabongsang telah dimulai.
Semula, seluruh penduduk Dabongsang mengira Gunung Api Tubar'e sudah mati, takkan pernah meletus lagi selamanya.
Semula, Dabongsang Zakuay bekerjasama dengan Beto'dila hanya agar Dewi Sasanda tak lagi jadi peiindung rakyat Pulau Sasanda. Mereka juga mengira kedudukan juru kunci Gunung Tubar'e hanyalah status kosong belaka, bukan hal yang penting.
Nyatanya, pertarungan yang terlampau dahsyat antara Beto'dila dengan Sasanda, Nirya dan Arumi malah memampukan aksara gaib kunci Gunung Tubar'e membobol sekat yang selama berabad-abad menyumbat lubang kaldera. Magma dalam perut gunung akhirnya menggelegak, lalu menyembur keluar bersama air danau yang tersisa.
Akibatnya, letusan Gunung Tubar'e jadi jauh lebih dahsyat daripada tiga gunung sebelumnya yaitu Barkajang, Ratauka dan Megaswari. Batu-batu besar beterbangan ke angkasa, menyertai lava bercampur air yang sepanas neraka.
Tempat yang terkena imbas paling dahsyat tentu saja daerah lereng dan kaki gunung, dan Kota Dabongsang terletak di sana.
Sang komodorai pejuang, Dhaka tak habis pikir bagaimana bisa Gunung Tubar'e meletus. Padahal Sthira, Dhaka dan Wiranata mengalahkan Dabongsang Bersaudara yang bukan juru kunci gunung itu? Lagipula, bukankah Gunung Tubar'e sudah berabad-abad tidak aktif dan puncaknya sudah berganti menjadi danau kaldera tiga warna?
Saat ini, tatapan mata Dhaka tertuju pada Dabongsang Hurek yang berlutut di lantai dan Dabongsang Zakuay yang tertelungkup, keduanya bergeming di tempat.
Si besar Hurek menatap tubuh kaku Zakuay. "Kakak...!" ujarnya lemah. "Kita tak hanya kalah, tapi juga terpedaya dan sedang dihancurkan habis-habisan. Dasar jahanam kalian, menghancurkan Kota Dabongsang dan menghabisi semua penduduknya... Kami mungkin disebut bengis, tapi kalian lebih kejam lagi daripada kami!"
Mengira Hurek telah kalap dan kehilangan akal sehatnya, Dhaka kembali menyiagakan tombaknya, siap menerobos keluar dari gua yang atapnya mulai runtuh itu.
Namun Sthira menepuk pundak rekannya itu dan berkata, "Biarkan saja dia, toh Hurek sudah kehabisan tenaga dan terlalu berduka untuk terus menghadang kita. Letusan gunung itu adalah hasil kerja kedua rekanku, Nirya dan Arumi. Ayo Dhaka, Yang Mulia Wiranata, kita harus pergi dari sini dan menyelamatkan sebanyak mungkin penduduk!"
Dhaka dan Wiranata mengangguk, dan mereka bertiga mulai lari ke arah pintu keluar gua markas Geng Dabongsang.
"Hei, jangan lari kalian!" Hurek berusaha bangkit untuk mengejar, namun ia kembali roboh dan muntah darah. Walau belum tewas, imbas pengerahan jurus terlarang tadi jelas telah merusak tubuhnya dari dalam.
Dhaka tak mempedulikan Hurek lagi, apalagi kini bebatuan mulai berjatuhan di depan dan belakangnya. Namun ia sempat sesekali berbalik sambil berseru, "Awas, Baginda!" Ia menarik tubuh Wiranata. Sebongkah batu besar jatuh ke posisi Wiranta sebelum ia ditarik.
__ADS_1
"Wah, terima kasih, Dhaka," ujar Wiranata sambil mengelus dadanya.
Dhaka hanya mengangguk dan berbalik. Ia tetap berjalan cepat paling depan sebagai insan yang paling mengenal seluk-beluk markas ini.
Setelah berkelit dari beberapa batu jatuh lagi, akhirnya kelompok Dhaka tiba di luar gerbang utama Markas Dabongsang. Baru beberapa langkah mereka berlari, bebatuan besar yang longsor jatuh menutupi lereng gunung serta pintu masuk gua. Kedua patung Dewi Sasandapun tak luput, runtuh terpecah-pecah oleh bebatuan itu.
Kecuali memang ada jalur keluar rahasia dan ia tahu itu, Dabongsang Hurek sudah pasti terkubur hidup-hidup dalam markasnya, bersama mendiang kakaknya, Zakuay dan banyak penjahat anggota geng lainnya.
Namun kelompok Dhaka belum bisa bernapas lega. "Ayo, terus lari! Sampai pelabuhan, baru aman!" seru si komodorai.
Batu-batu masih berjatuhan bersama lahar bercampur air. Beberapa menimpa rumah-rumah sampai luluh-lantak dan kebakaran.
Walau Dabongsang adalah kota penuh penjahat, namun tentunya banyak pula penduduk yang adalah orang baik-baik, termasuk sebagian besar wanita dan anak-anak.
Di depan mata Dhaka kini tampak seorang anak perempuan kecil berusia kira-kira empat tahun yang sedang menangis meraung-raung, seakan hanya bisa pasrah di tengah hujan batu dan lahar. Tanpa pikir panjang, Dhaka cepat-cepat meraih dan menggendong gadis kecil itu sambil terus berlari. Entah apa sebabnya, anak itu malah berhenti menangis dan terus memeluk tubuh bersisik si komodorai itu erat-erat.
Tindakan Dhaka tadi justru seakan mengingatkan Sthira dan Wiranata untuk melakukan hal serupa. Sepanjang jalan keduanya terus-menerus berteriak, "Jangan panik! Semua ikut kami ke pelabuhan! Ikut kami kalau ingin selamat!" dan semacamnya.
Satu hal penting, dalam bahaya bencana, banyak di antara para penjahat itu tergugah sisi kemanusiaannya. Mereka seakan melupakan kecintaan pada uang dan kesenangan duniawi, mereka membimbing dan menolong orang-orang "lemah" dan "baik-baik" ke tempat yang lebih aman. Namun sebaliknya, tak jarang pula orang-orang "biasa" yang malah bersikap seperti penjahat. Dengan egois mereka menghalangi, bahkan menjatuhkan dan mencelakakan orang-orang lain asal diri mereka sendiri selamat.
"Ah itu dia, kita tiba di pelabuhan!" seru Wiranata. "Tapi, adakah kapal yang siap berangkat sekarang?"
Sthira menjawab dengan mantap, "Ada. Kapal Pinissi yang kami tumpangi... yang itu!"
Dhaka, Wiranata dan banyak pengungsi ikut berlari ke arah yang ditunjuk Sthira. Rupanya, selain PInissi, ada dua kapal layar lain yang juga siap berangkat.
"Ini pasti hasil kerja Mora," kata Wiranata dengan ekspresi wajah dan nada bicara yang menyiratkan kekaguman. "Mora pasti telah bekerjasama dengan teman-temanmu, Sthira dan mengatur rencana penyelamatan penduduk ini sejak dini."
Dhaka agak terkejut. "J-jadi selama ini Jawara Dua, Mora Nggarai juga bantu Baginda?"
__ADS_1
Wiranata mengangguk. "Maafkan aku yang selama ini merahasiakannya darimu, Dhaka. Pasalnya, ini permintaan Mora sendiri, jangan sampai Dabongsang Bersaudara curiga andai kau dan Mora jadi lebih akrab daripada biasanya."
"Tak apa, Baginda. Yang penting kita di sini sekarang."
Sambil mengatakannya, Dhaka mengikuti Sthira menaiki Kapal Pinissi bersama Wiranata dan sejumlah besar pengungsi. Sementara dua kelompok pengungsi lainnya menyebar dan menaiki dua kapal lain yang lebih besar daripada Pinissi.
Di geladak Pinissi, rombongan Dhaka disambut hangat oleh perwira utama kapal ini, yaitu Arumi beserta kelompoknya, Mora dan Nirya.
"Ah syukurlah kau kembali, Sthira." Arumi menyunggingkan senyum termanisnya.
Nirya juga menghampiri Sthira dengan mata berkaca-kaca, namun Sthira lebih memilih menanggapi Arumi dengan nada dingin, "Ya, aku sangat beruntung karena mendapat bantuan dari 'orang dalam'. Kalau tidak, aku sendirian mustahil dapat mengalahkan Dabongsang Bersaudara. Tapi lihat, Raja Wiranata telah berhasil kami bebaskan dan beliau ada di sini bersama kita sekarang."
Semua mata tertuju pada pria lusuh yang ditunjuk Sthira. Mereka tak langsung bereaksi, mengira ia adalah Jah. Namun Dewi Sasanda yang telah kembali berubah wujud menjadi Mora Nggarai mengenali Jah, ia langsung menghambur dan memeluk pria itu. "Ah, syukurlah kau bebas dan selamat Jah, bukan, Yang Mulia Wiranata! Aku takkan tenang meninggalkan pulau ini tanpa dirimu."
Wiranata balas memeluk Mora erat-erat. "Tak usah sebut Yang Mulia dulu, Mora. Aku belum berhasil merebut kembali takhtaku di Danurah. Kau sungguh wanita yang amat cerdas dan luar biasa, karena itulah aku mencintaimu."
"Kalau begitu, biarlah aku membantu perjuanganmu, supaya nanti aku bisa memanggilmu 'Yang Mulia' tanpa canggung." Sambil mengatakannya, Mora makin merapatkan dirinya dalam pelukan kekasihnya.
Nirya yang polos melihat adegan itu sambil mengernyit. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali Wiranata mandi. Rupanya cinta sejati memang takkan terhalang masalah kecil macam bau badan.
Sthira melotot pada Nirya sambil menggeleng. Lalu ia teringat sesuatu dan bicara pada Dhaka, "Dhaka, kenalkan ini teman-teman seperjuangan kita, Nirya dan Arumi. Nirya, Arumi, ini Dhaka Komodorai. Dialah yang paling berjasa dalam misi di markas Dabongsang ini."
"Salam kenal, Dhaka." Nirya hanya tersenyum takut-takut. Wajahnya yang agak tegang sedikit mengendur melihat anak perempuan kecil yang sejak tadi selalu duduk di punggung si manusia komodo yang terkesan agak bungkuk itu.
"Salam kenal juga," tanggap Dhaka. "Walau Dhaka masih bingung apa sebab kalian dan Mora buat Tubar'e meletus. Itu pasti bukan tak sengaja saja, 'kan?"
"Nanti kami akan jelaskan selurunya padamu, Dhaka," jawab Arumi. "Sekarang ada hal yang jauh lebih penting yang harus dilakukan."
Arumi lantas berseru keras ke arah anjungan kemudi di geladak, "Semua sudah masuk! Angkat sauh, kembangkan layar! Kita berangkat!"
__ADS_1
Ilustrasi Yori Mbeko dan Aswa Rakwar oleh Andry Chang