EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
WATAS Bagian 1


__ADS_3


Salju abadi di Puncak Yamkora telah luluh dan longsor. Walau demikian, hawa dingin membekukan masih terasa seakan menusuk-nusuk tulang.


Apalagi dengan keharusan mendaki turun gunung dengan memanggul beban tunggangan, bagi siluman yang termasuk Ras Komodorai dan kelas manusia-kadal seperti Dhaka, seluruh darah panas di tubuhnya terasa membeku, seakan berubah menjadi jarum-jarum kristal yang menancap di setiap jengkal bagian dalam tubuhnya.


"Beban" Dhaka tak lain adalah pahlawan dalam pertarungan kali ini, yaitu Arumi Dyahrani. Gadis berambut merah itu ditemukan terkapar tak sadarkan diri di sebelah jenazah Yori Mbeko dan Aswa Rakwar. Nirya dan Sthira lantas mengikat tubuh Arumi erat-erat di punggung Dhaka. Hingga setengah jalan menuruni gunung, Arumi tetap tak sadarkan diri.


Baru saat tiba di lereng gunung, ada kesempatan untuk melepas lelah sejenak. Sthira dan Nirya saling menyadarkan diri satu sama lain dengan mesranya, sementara Dhaka menjagai Arumi yang masih terbaring pingsan seperti seorang ayah menjagai anaknya.


Namun, di luar dugaan Dhaka terkesiap. Tampak sepasukan besar prajurit Dhuraga mendekat dari arah hutan dan bukit dataran tinggi. Jantungnya berdebar keras. Entah mereka memperhitungkan para prajurit atau tidak, pertarungan dengan dua cayari raksasa pasti menguras habis tenaga dalam.


Jadi, menghadapi banyak musuh seperti ini, keempat pendekar dari empat negeri itu hanya bisa mengandalkan kekuatan fisik mereka yang terbatas dan juga terkuras. Sama sekali tak ada kesempatan fisik mereka yang terbatas dan juga terkuras. Sama sekali tak ada kesempatan untuk beristirahat, apalagi bermeditasi menyerap prana.


Seperti seharusnya, Sthira sebagai ketua kelompoklah yang maju paling depan menghadapi lawan. Ia lantas berseru lantang, "Laskar Dhuraga! Lihatlah baik-baik! Puncak Salju Yamkora telah luruh! Itu tanda Sang Yumano dan Sang Aronawa telah mangkat! Mereka tumbang oleh kekuatan mereka sendiri!"


Nirya menambahkan, "Pulang sajalah kalian. Jadikan Dhuraga negeri cinta damai, agar bencana ini tak terluang lagi!"


Namun salah seorang prajurit bertopi bulu besar warna-warni, yang mungkin adalah salah seorang perwira tinggi maju paling depan pula. Ia menghardik ketus, "Kami tahu kedua pemimpin telah mangkat! Karena itulah kami berani kemari, melanggar perintah mereka!"


Giliran Dhaka mengerahkan silat lidahnya. "Jadi, bukankah kini kamu orang telah bebas dari penindasan Yumano dan Aronawa? Ayo, pulanglah! Kalau tidak, rasakan, camkan Dhaka Komodorai!"


"Huh, kalian pikir setelah membunuh atau membuat celaka para pemimpin besar Dhuraga, pemersatu kami, kalian bisa melenggang pergi tanpa hukuman?" hardik si pemimpin pasukan sambil mengacungkan tombaknya.

__ADS_1


Justru saat perintah untuk menyerbu hendak terucap, seruan Arumi nyaring berkumandang. "Tunggu! Aku telah mendapat mandat dari Sang Yumano dan Aronawa untuk menggantikan mereka sebagai juru kunci Yamkora! Ini buktinya, lihatlah!"


Semua mata tertuju pada Arumi, termasuk mata Dhaka, tampaklah gadis berpakaian zirah lengkap itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Aksara gaib Es Puncak Yamkora berpendar amat cerah, bagai matahari yang menyinari sekelilingnya ini sejauh mata memandang.


Mengira Arumi masih lemah dan unjuk kekuatan tanpa perlindungan sama sekali, Dhaka, Nirya dan Sthira bergerak untuk jadi pagar betis, memposisikan diri mereka di antara Arumi dan pasukan musuh.


Namun sesaat kemudian Dhaka ternganga. Di hadapan Arumi dan aksara gaib, semua prajurit malah berlutut dan bahkan bersimpuh, menyembah-nyembah. Setiap mereka bahkan berseru-seru, "Ampun, Duta Baru Yamkora! Jangan timpakan murkamu pada kami!"


Logika Dhaka menangkap para prajurit itu takut terkena hukuman akibat melanggar pantangan memasuki daerah lereng Yamkora dari juru kunci Yamkora sebelumnya, yang mereka pikir masih berlau dan diteruskan oleh juru kunci baru.


Jadi, dalam situasi semacam ini pantangan dan aturan tak masuk akal itu sungguh berguna. Itu jadi jaminan keselamatan nyawa keempat orang yang baru saja habis-habisan itu.


Dengan pemikiran itulah Dhaka memberanikan diri memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. "Huh! Apa kamu orang pikir Duta Yamkora bakal biarkan pelanggar batas daerah pantangan melenggang tanpa hukuman? Jatuhkanlah hukuman untuk mereka semua sekarang, Duta Agung!"


Melihat itu, si pemimpin pasukan malah berseru, "Tunggu! Ampun, kami tak tahu bahwa saat hendak mangkat, Sang Aronawa dan Sang Yumano telah menunjuk Duta juru kunci Yamkora yang baru!"


Perwira bertopi lebar di yang berlutut di sebelahnyapun berkata, "Benar, kami berterima kasih pada Duta Yamkora yang ternyata telah mencegah gunung putih-suci meletus. Bencana terbesar terhindarkan, bencana yang terjadi hanya sebatas salju longsor sampai ke lereng dan kaki gunung saja."


"Benarkah?" Sthira pura-pura mendelik, agak ragu dengan pengakuan dan perubahan sikap tiba-tiba ini.


Si perwira kedua mengangguk. "Tentu saja. Rakyat di Kota Teminobe terselamatkan. Walau kami bakal kembali tercerai-berai setelah kehilangan sosok pemersatu, walau negeri kami bakal melemah, kami akan terus bertahan hidup. Nah, bersediakah Duta Yamkora yang baru tinggal di Teminobe untuk menjadi pembimbing kami?"


"Terima kasih untuk tawaran kalian, tapi maaf, aku harus menolaknya. Aku tak lahir di negeri ini dan bukan warga Dhuraga. Lagipula kami sedang mengemban misi maha penting menyangkut masa depan seluruh Antapada. Pasti akan bangkit putra terbaik Dhuraga yang mampu memimpin kalian semua," kata Arumi dengan rendah hati.

__ADS_1


"Ah, sungguh disayangkan," ujar si Perwira Pertama. "Tapi kami tak bisa memaksamu. Mari, setidaknya biarlah kami memandu kalian ke kapal kalian."


Sthira lantas mengungkapkan sikap hati-hati. "Cukup segelintir prajurit saja yang mengawal dan memandu kami."


"Oh, tentu, tak masalah." Sang Komandan lalu meneriakkan perintah-perintah pada semua bawahannya yang tentu saja cukup dimengerti para pendatang asing karena menggunakan Bahasa Induk yang dipahami dan diajarkan pada setiap insan di Terra Everna.


Walau itikad baik para prajurit itu jelas terbaca dan terasa, baik oleh hati maupun nalar, tak sedetikpun para pendekar mengendurkan kewaspadaan mereka. Bahkan Arumipun tampak tegar, padahal belum lama ia tak sadarkan diri dan sama sekali tak berdaya. Apa sihir angin penyembuh Nirya benar-benar begitu ampuh, hingga pasien cedera berat hampir seketika langsung pulih seperti sediakala?


Justru suasana serba tegang kali ini membuat perjalanan Dhaka dan kelompoknya melintasi hutan jadi terasa amat cepat. Namun kecepatan itu juga berkat tak ada gangguan dari cayari dan entah monster lain apapun. Mungkin mereka mengenali dan takut pada Aksara Yamkora, lambang kekuasaan raja dan ratu segala satwa dan siluman di Dhuraga.


Untuk sesaat, Dhaka teringat pada Wufabwe, mendiang pemandu mereka yang terlalu banyak bicara namun menyenangkan. Celotehan si pengerat sagu itu mampu membuat para pendekar melupakan rasa lelah dan tegang akibat bertarung.


Amat disayangkan Wufabwe tewas, bila tidak setidaknya Dhaka dan rombongan mungkin mampir dulu di Teminobe dan memberitahukan keberhasilan misi mereka pada si pemberontak itu. Sekarang, pesan itu telah dipanjatkan melalui doa ke hadiarat Sang Mahesa, dan yang melalui Dhaka ke Sang Srisari.


Namun, kali ini rasa sesak di dada Dhaka tak kunjung memudar. Bahkan walau matanya telah menangkap keberadaan tiang-tiang layar Kapal Pinissi di lepas pantasi di kejauhan.


Di tepi tanah berpasir, Arumi menembakkan panah api ke udara sebagai isyarat pada para awak kapal agar menjemput regunya.


Sthira lantas bicara mewakili teman-temannya, "Nah, terima kasih telah mengantar kami. Di sinilah kami akan meninggalkan negeri kalian..."


"Eit, tunggu dulu!" hardik si pemimpin pasukan Dhuraga. "Siapa bilang kami akan membiarkan kalian meninggalkan negeri ini? Kami janji memandu kalian ke kapal kalian, tak lebih dari itu!"


Referensi kostum untuk Sthira Tarunaga: Panglima Dayak. Sumber Gambar: Google.

__ADS_1


__ADS_2