EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
TUBAR'E Bagian 5


__ADS_3


"Hurek dan Dhaka tak pernah jajal siapa lebih sakti, karena Hurek adik Zakuay!"


Pancingan Dhaka itu berhasil membuat wajah Hurek berubah merah padam. "Apa katamu? Kaupikir kau lebih kuat dariku ya, komodo tua? Baik, biar kau jadi sasaran percobaan mainan baruku ini!"


Hurek menyerbu maju seketika, hendak menumbangkan Sthira dan Dhaka dengan sekali tebas. Tampak seakan ada gelombang air hitam mengiring sabetan golok Hurek itu, bagai selendang yang dikibaskan dengan cepat dan menyambar dengan gemulai.


Dengan sigap Sthira menghindar sambil mencari kesempatan merebut kembali goloknya. Namun sabetan Hurek malah menggores lengan atas Sthira. Sthira beringsut mundur, berdecak kesal karena kurang waspada.


Namun, lengan Sthira yang tergores itu tiba-tiba terasa kaku dan amat berat untuk digerakkan. Jangan-jangan Energi Air Hitam memiliki efek seperti racun yang melumpuhkan bagian tubuh lawan yang terkena.


Usai mengerahkan jurus, Hurek mengambil posisi berdiri menghadap para lawannya. "Huh, licin juga kau, Dhaka," ancamnya. "Tapi nampaknya temanmu itu tak setangguh yang kaukatakan padaku."


Dhaka hanya menjawab, "tak peduli berapa tangguh, Sthira tetap orang terpilih untuk misi ini. Hurek tak usah pusingkan lagi itu, toh Hurek sudah pasti ke neraka hari ini juga!"


"Makin lancang saja sesumbarmu, kadal tua! Baik, kalau jurus pembuka tadi, Arus Sungai Air Hitam belum membuatmu paham kau tak bisa menang, biar kaucicipi 'pelajaran' yang lebih pahit lagi!" Aura hitam kembali berpusar di sekitar tubuh Hurek, tanda peningkatan tingkat jurus yang bakal dikerahkan.


Sthira justru melihat gelagat itu sebagai kesempatan. Ia mendekati Dhaka dan berbisik, "Dhaka, golok di tangan Hurek itu milikku. Bantulah aku merebutnya kembali."


"Apa dengan golok itu Sthira tambah kuat?" Dhaka balas bertanya.


Sthira mengangguk. Maksud "makin kuat" di sini berarti jurus-jurusnya makin terarah dan akurat. Apapun alasannya, jawaban Sthira tetap "ya".


"Baik. Kita pencar, ya." Dhaka dan Sthira berpencar dan bergerak cepat, menghimpun energi untuk menghindari atau menangkal jurus lawan. Tentu saja sekaligus menjaga jarak dari pagar betis para penjahat yang siap "mengganggu", bahkan mengeroyok lawan bila ada kesempatan dalam kesempitan.


Maka, Hurek melepas jurus keduanya. Kedua tinjunya teracung lurus, menembakkan selarik Energi Air Hitam seperti menyemburkan air bertekanan tinggi dan berdaya pengikis dahsyat ke arah sasaran.


Tentu saja Sthira dan Dhaka terus bergerak terpencar, menghindari semburan. Namun Hurek juga ikut berputar, kedua lengannya terentang dan menembakkan Semburan Air Hitam ke dua arah berlainan.


Mendapat akal, Sthira sengaja berlari ke arah pagar betis. Tanpa pikir panjang, semburan Hurek mengikuti Sthira dan malah mengenai para pengepung. Daya tembakan Hurek membuat lubang besar di tubuh dua penjahat yang terkena telak. Satu orang lagi kehilangan tangan. Penjahat keempat sempat berkelit, namun air hitam menyambar, mengikis wajahnya. Kalaupun ia bertahan hidup, wajahnya takkan bisa dikenali lagi oleh siapapun.


Kali ini Shtira berhasil luput sepenuhnya hingga tembakan Hurek terhenti. Namun Dhaka yang tak selincah Sthira terserempet di bagian pinggangnya. Walaupun sisik-sisik komodonya yang tebal menghindarkan Dhaka dari pendarahan fatal, daya pengikis bagai aliran air penghancur segala menyelusup lewat celah-celah antara sisik-sisik zirah, merasuk lewat kulit halus dan tuers hingga ke tulang. Dhaka meringis, menempelkan satu tangan di pinggangnya.


"Sudah kubilang, komodo bau tanah sepertimu sebaiknya berkalang tanah saja!" umpat Hurek sambil mengayunkan goloknya mendatar, hendak langsung memenggal Dhaka.


Saat maut tinggal berjarak sejengkal saja, tiba-tiba Dhaka bergerak amat cepat. Kedua telapak tangannya yang berbentuk kombinasi tangan manusia dan kaki komodo tepat menjepit bilah Gharma, menghentikan laju ayunannya.


Dengan stu entakan mendadak, Dhaka menarik golok itu hingga lepas dari genggaman Hurek. Ini membuktikan dalam hal kekuatan fisik, Dhaka setara dengan si Jawara Satu itu. Dengan cepat pula, Dhaka melemparkan golok itu ke arah rekannya.

__ADS_1


Sthira menyambut golok itu dengan menggenggam gagangnya erat-erat. Petir memercik di sekujur bilah Gharma, seakan senjata itu gembira telah kembali di tangan pemilik sejatinya.


Dabongsang Hurek mengelus janggutnya dengan dua jari, cepat mencerna situasi yang ada. "Oh, jadi Sthira itu pemilik asli golok ini? Entah bagaimana golok itu bisa ada di tangan dua gadis Jayandra-Swarnara itu, tapi kurasa mereka bertiga sekelompok. Huh, akan kuurus dua gadis itu juga setelah aku selesai dengan kalian di sini!"


Sthira sudah akan bereaksi saat tahu tentang "perjalanan" Gharma sampai di tangan Hurek. Namun ia cepat sadar situasi dan menyembunyikan reaksi itu, berkonsentrasi pada jurusnya sendiri. Matanya beradu pandang dengan mata Dhaka, dan Dhaka mengangguk cepat.


Mendadak, secara bersamaan Sthira dan Dhaka menyeruak maju. Dengan jurus lari cepat Langkah Halilintar, Sthira melesat ke arah Hurek. Setelah masuk jarak serang, ia menyabetkan mandau sarat muatan peitr tegak-lurus dari bawah ke atas, inilah jurus Naga Halilintar Mendaki Langit.


Hurek bereaksi dengan bergeser ke satu sisi, namun sabetan Sthira terlanjur menambah koleksi bekas luka yang memenuhi tubuh pria teramat kekar itu.


Belum sempat Hurek mengerang kesakitan, Dhaka menyusul dengan serangan Rentetan Hunjaman Tombak.


Kewalahan, gerakan Hurek saat menghindar agak kacau. Jadilah ujung runcing tombak Dhaka tiga kali menyerempet dan satu kali bersarang di tubuh besar itu. Karena tak kena titik vital seperti jantung, paru-paru atau organ-organ lainnya, Hurek masih bisa berdiri. Namun, melihat para lawan dan sanderanya lari menembus pagar betis, ia tak maju mengejar.


Satu anak buah Hurek yang agak "berotak" bertanya, "Kita kejar mereka, tuanku?"


Sthira tak sempat mendengar jawaban Hurek, apalagi melihat reaksi selanjutnya. Yang pasti, ini kesempatan emas untuk lari secepat angin, dan ia takkan menyia-nyiakannya dengan berhenti walau sedetik saja.


Sesampainya di ruang arena latihan tarung, tiba-tiba Sthira mendengar seruan Dhaka di depannya. "Berhenti, Sthira, Jah!"


Jah alias Wiranata protes, "Ada apa?"


Suara tepuk tangan terdengar, seolah menanggapi ucapan Dhaka itu. Sthira menoleh dan melihat seorang pria bertubuh pendek-tambun yang bertepuk tangan itu. Pria itu tak sendirian, ada sekelompok besar penjahat berdiri berbaris-baris di kanan-kiri si tambun, seolah tengah mengawal orang di tengah itu.


Si tambun berpakaian paling mewah, menegaskan kedudukannya sebagai pemimpin kelompok besar ini, atau jangan-jangan...


"Dabongsang Zakuay! Senangnya aku kau mengantar keberangkatanku dari sini," tutur Wiranata dengan nada diplomatis, sesuatu yang tak pernah ia tampilkan sebagai Jah.


"Hei, hei, tak perlu terburu-buru, Jah! Apa kau sudah ingin kembali jadi Wiranata, si raja di pembuangan? Kupikir kau senang dan damai di sini!"


Wiranata tertawa lepas. "Yah, mungkin kalau kau memperlakukanku sedikit lebih baik, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk tinggal dua-tiga tahun lagi, mencicipi segala jenis tuak dan anggur dari segala penjuru dunia."


"Ya, sebenarnya aku juga ingin berbagi anggur istimewa khusus untuk Kaisar Wushu, dicampur parutan ginseng seribu tahun denganmu. Tapi sayang, aku tak mau ambil resiko ada pengikut-pengikutmu yang menyusup kemari untuk menjemputmu. Rupanya yang kutakutkan itu benar-benar terjadi. Seperti kau lihat sendiri, keberadaanmu di penjara bawah tanah jauh lebih memudahkan kami untuk mencegah pelarian ini. Daripada kami harus menangani orang tak tahu diri yang sudah diperlakukan dengan baik, tapi toh melarikan diri juga."


"Justru kalau aku dimanja, bisa jadi nuraniku bakal mati, dan moralku bakal lurask. Aku akan terlalu nyaman hingga bakal enggan jadi raja yang serba dikekang aturan."


"Oh, begitu rupanya. Bagaimana kalau sekasrang kau tinggal untuk seterusnya di sini? Aku pasti akan memperlakukanmu laksana raja hingga akhir hayatmu."


"Yah, kedengarannya menggiurkan," jawab Wiranata sambil mengelus dagu berjanggut kasarnya. "Tapi sayang tawaranmu itu sudah amat terlambat."

__ADS_1


"Maksudmu?!" Zakuay mulai meradang. "Jangan berbelit-belit bicaramu, Wiranata!"


"Rupanya kau lupa satu hal terpenting. Bila kau hendak meracuni dan merusak moral seseorang, lakukanlah itu sebelum orang itu sadar 'surga duinia' bakal merusak akhlaknya."


"Jadi kau bersikeras pergi dari sini dengan mengandalkan kedua pendekar itu?"


"Jika Sang Mahesa berkehendak agar aku pergi, aku, Sthira dan Dhaka pasti akan menerobos hadanganmu. Andai mereka gagal, berarti masa-masa pertapaanku sebagai Jah berlanjut."


"Wah, enak sekali lya." Zakuay berdecak sambil menggeleng. "Ada Sang Mahesa yang mengatur takdir, jadi kau tinggal mengekor saja."


Tiba-tiba Sthira berbalik ke belakang. Dari arah penjara bawah tanah, Hurek muncul dan memasuki arena latihan. Seolah-olah satu pikiran, si pria besar itu meneruskan kata-kata kakaknya, "Tapi ingat, yang mengatur takdir di Kota Dabongsang adalah kami, Dabongsang Bersaudara! Bukan si Mahesa itu!"


Wiranata malah menggeleng dan tersenyum. "Jadi kalian pikir kalian lebih maha kuasa daripada Sang Mahesa? Rupanya kedatangan Sthira dan kelompoknya ke kota ini bukan kebetulan. Mereka utusan Sang Mahesa untuk menyatakan tak seorangpun manusia pantas menempatkan dirinya di atas sang pengatur alam dan takdir!"


"Kau percaya itu? Kau rela mempertaruhkan kebebasan, wibawa Sang Mahesa, bahkan nyawamu di tangan dua pendekar setengah takar itu?" Zakuay melontarkan hinaannya.


Hurek menimpali, "Asal kau tahu, kami juga bertaruh tapi pada kekuatan kami semua, dan kami selalu menang! Sudahlah, persetan dengan Bakangga dan Jayandra! Kita habisi saja sandera merepotkan itu!"


"Setuju!" Zakuay lalu meneriakkan perintahnya, "Semua petarung, serbu Dhaka, Wiranata dan Sthira!"


Para penjahat berseru-seru ganas menyambut perintah itu. Dengan keroyokan, mereka mengira bisa mengimbangi, bahkan mengungguli dua pendekar sakti.


Sthira, Dhaka dan Wiranata seketika tenggelam dalam lautan manusia yang mengurung bagai sebuah kapal hendak diterjang pusaran ombak.


Wiranata sejak tadi berlindung saja karena sudah lama tak mengayun senjata. Kini ia terpaksa bertarung dengan nunchaku, sepasang tongkat berantai dari Shima yang ia pungut sekenanya di lantai. Ia amat kewalahan dirubung keroyokan.


Untung Dhaka pasang badan melindungi Wiranata, sekaligus mengurangi keroyokan dengan tusukan-tusukan tombaknya yang cepat nan ganas.


Di sisi lain, Sthira jadi bagai harimau tumbuh sayap. Tak memberi kesempatan siapapun menaksir kekuatannya, si pendekar mandau membabat lima orang sekali gebrak, tentunya  dibantu gerakan secepat kilat dari jurus Langkah Halilintar.


Sthira bertarung seperti kesetanan. Pernah sekali ia hendak menghunjamkan mandaunya sebelum melihat ke arah sasaran. Dan saat ia melihat, baru Sthira sadar sasaran itu adalah Dhaka dan ia menghentikan laju goloknya tiba-tiba.


Lucunya, Dhaka juga seperti kesetanan. Ia hendak menghunjamkan tombaknya ke tubuh Sthira. Untunglah tombak itu berhasil pula dihentikan lajunya, kalau tidak Sthiralah yang bakal terluka telak, bahkan bisa saja tewas.


Sthira mengangguk cepat, teriring pikirannya yang kembali terpusat. Namun dua bilah kapak berdesir amat kencang hendak membelah kepala Sthira. Dari Energi Air Hitam yang sarat terkandung dalam kapak itu, jelas pelakunya adalah Dabongsang Zakuay.


Giliran Sthira yang tak diberi kesempatan sama sekali menghadapi maut di depan mata.


Sumber referensi untuk Sasanda, Dewi Gunung Tubar'e: Dewi Anjani, Dewi Puncak Gunung Rinjani.

__ADS_1


__ADS_2