
Sikap Wufabwe itu malah membuat wajah Nirya makin tegang. Nirya was-was, jangan-jangan cepat atau lambat si pemandu akan berulah.
Kabar baiknya, suasana sunyi dan terasa agak canggung ini hanya berlangsung kurang dari satu jam. Karena suara Wufabwe yang kali ini bagai mencericit kembali terdengar. "Nah, kita sudah tiba. Para tetamu sekalian, selamat datang di Teminobe, bakal ibukota Negeri Dhuraga Bersatu!"
Nirya menatap ke arah yang dituju dan dahinya berkerut. Pasalnya, sejauh mata memandang yang tampak hanyala hamparan pohon-pohon raksasa dengan batang-batang yang tebal. Mana "kota" yang dimaksud itu? Daripada protes untuk hal-hal yang masih asing baginya ini, gadis itu memilih tutup mulut dan buka mata saja, memperhatikan segala sesuatunya dengan seksama seperti halnya teman-teman seperjalanannya.
Setelah berjalan lebih jauh, barulah tampak hal-hal yang berbeda di hutan itu. Yang pertama tentu orang-orang yang sedang lalu-lalang di antara pepohonan yang kini cukup berjauhan satu sama lain.
Satu hal lagi yang amat kentara bedanya adalah rumah-rumah kayu yang tampak seperti jamur-jamur raksasa yang menempel di batang-batang pohon itu. Rumah-rumah itu berdiri di atas anjungan-anjungan yang semuanya terhubung dengan jembatan-jembatan kayu.
Untuk mencapai anjungan-anjungan itu, orang-orang naik dengan tangga tali dari tanah. Mereka yang tak kuat menaiki tangga, seperti orang-orang tua dan para wanita hamil masuk dalam semacam keranjang besar yang terbuat dari akar-akaran, tersambung dengan tali-tali kuat dan ditarik-ulur oleh seorang petugas dengan memindah-mindahkan batu-batu pemberat satu demi satu. Cara kerja keranjang ini mirip dengan prinsip katrol yang jauh lebih maju dan canggih daripada zaman ini.
Nirya menyaksikan segala peralatan ilmiah itu dengan tercengang. Mungkinkah ini seperti kata Dhaka, teknologi yang didapat dan dipelajari lewat paksaan dan penjarahan? Bila suatu hari Negeri Dhuraga Bersatu berdiri tegak dan menjadi kuat, bukan tidak mungkin Dhuraga akan jadi negeri gemar perang dan menjajah negeri-negeri lain di Antapada. Apalagi setelah mereka tahu negeri-negeri itu telah dilemahkan oleh rentetan Bencana Cincin Api.
Satu tekad bulat terbentuk dalam benak Nirya. Kalaupun harus membuat Gunung Yamkora aktif lagi, bahkan meletus, Yori Mbeko si pemersatu Dhuraga harus mati.
Saat itu pula, Nirya melihat beberapa penduduk, tua dan muda menatap ke arahnya sambil mengerutkan dahi. Wajah-wajah mereka menegang, seolah Nirya adalah seekor hewan buas yang sedang menyeringai, menunjukkan taring-taringnya.
Tiba-tiba Arumi menepuk pundak Nirya sambil berbisik, "Tadi wajahmu tegang, menyiratkan niat membunuh. Banyak orang di sini, jangan lakukan itu lagi."
Nirya tak menjawab teguran itu. Ekspresi tegang di wajahnya kembali mengendur.
Setibanya rombongan "tamu negara" di bawah sebuah pohon besar, Wufabwe berseru, "Tunggu sebentar di sini, para tetamu sekalian. Aku akan memanggil Kepala Kota dulu." Ia lantas menaiki tangga tali dengan lincahnya seperti kera memanjat pohon.
Sthira berseru, "Tunggu dulu, Wufabwe! Kami...!" Terlambat, si pemandu sudah naik terlalu jauh hingga lenyap dari pandangan mata. Sthira jadi menghela napas, lalu ia dan rombongannya berdiri sambil menoleh ke segala arah dengan amat waspada.
Benar saja, tak lama kemudian sekumpulan penduduk lokal berdatangan dan berkumpul di sekitar rombongan orang asing itu. Penampilan mereka rata-rata senada dengan Wufabwe, berkulit hitam dan mengenakan pakaian minim dari bahan-bahan yang diolah secara amat sederhana, langsung dari flora dan fauna setempat.
Seperti Wufabwe pula, orang-orang Dhuraga, terutama anak-anak itu menampilkan raut wajah da sikap polos, namun sangat ingin tahu. Seorang anak kecil bahkan mendekati Dhaka sambil mengendus-endus dan mengulurkan tangan, hendak menyentuh sisik-sisiknya. Namun seorang wanita segera menarik si anak itu menjauh dan menegurnya layaknya seorang ibu. "Hati-hati! Manusia kadal itu berbahaya!" bisiknya.
Namun, yang paling menegangkan justru "kepungan" para pria yang rata-rata mengacungkan senjata terhunus ke arah rombongan Nirya. Salah satu pria itu bertubuh tinggi semampai, dengan tangan yang lebih panjang daripada tangan manusia normal. Bersikap seperti panglima perang, ia berseru, "Orang asing, ada urusan apa kalian mendatangi Teminobe? Bersenjata lengkap pula? Katakan!"
Sebagai ketua kelompok, Sthira menjawab, "Kami adalah utusan para saudagar dari Swarnara, Kalingga, Jayandra dan Rainusa. Kami kemari dalam misi damai untuk merintis hubungan perdagangan dengan Dhuraga."
__ADS_1
"Oh, benarkah demikian?" kata seorang wanita berkulit gelap dan berutubh kekar sambil turun dari anjungan, berayun dengan seutas tali. "Dari yang kulihat dan kudengar, kurasa kalian adalah pendekar yang ditugaskan sebagai mata-mata."
Tepat saat kata-katanya tuntas, wanita itu mendarat dengan anggun di tanah berumput. Barulah jelas bahwa rambutnya sangat keriting dan mengembang seperti bola. Di zaman berikutlah baru gaya rambut ini disebut kribo.
Arumi lantas tampil berdiplomasi dengan wanita itu. "Bila benar kami mata-mata, kami pasti sudah membunuh si pemnadu di luar kota. Lalu kami menyusup diam-diam dan berusaha agar tak berada dalam kepungan prajurit seperti ini. Kami adalah utusan resmi, jadi sudah sepantasnya kami disambut dengan layak."
Mendengar itu, si wanita kribo tertawa dengan berirama, namun terkesan wajar. "Hahaha! Maafkan kami yang belum terbiasa dengan tata krama diplomasi dengan negeri-negeri lain di Antapada. Namaku Aswa Rakwar, Wakil Pemimpin Dhuraga merangkap Kepala Kota Teminobe. Pangima Hongke Jombe, perintahkan para prajurit untuk menurunkan senjata. Mereka ini tamu negara."
"Siap!" seru Hongke Jombe. "Semua prajurit, turunkan senjata!" Para prajurit melaksanakan perintah itu hampir serempak.
Pertunjukkan disiplin tinggi ini membuat darah Nirya, Dhaka, bahkan Sthira dan Arumi berdesir deras dalam kepala. Itu karena semula mereka berempat mengira ilmu dan disiplin ketentaraan belum dikenal di negeri primitif macam Dhuraga ini. Ilmu ini tak bisa "dijarah", mungkinkah ada orang Dhuraga atau orang dari negeri-negeri Antapada lainnya yang mengajarkan berbagai ilmu pada orang-orang primitif ini?
"Baiklah, kita akan bicara lebih lanjut dan lebih nyaman di kediamanku. Ikuti aku!" Aswa lantas mulai memanjat batang pohon raksasa yang amat tebal, pohon tertinggi di kota-hutan ini. Gerakannya amat lincah seperti kera, tanpa menggunakan alat bantu apapun.
Nirya terkesiap dan langsung berlari, berusaha agar Aswa tak hilang dari pandangan. Ia lantas memilih memanjat dengan tangga tali, yang menurutnya adalah cara termudah.
Saat merayapi satu demi satu pijakan tangga tali, Nirya lagi-lagi terperanjat. Tampak Dhaka dengan cekatannya memanjat pohon itu. Pantas saja, jari-jari di sepasang tangan dan kaki si komodorai dilengkapi dengan kulit yang bisa menempel di segala permukaan. Jadi Dhaka bisa memanjat dengan kuat, cepat dan lincah layaknya kadal.
Daripada ketinggalan karena Aswa makin jauh melesat, Nirya memilih memusatkan perhatiannya pada tangga tali yang dipanjatnya makin cepat. Namun ia kurang hati-hati sehingga salah satu kakinya tergelincir. Ia berteriak. Parahnya, pegangan tangan Nirya di tangga itu juga terlepas hingga ia jatuh ke tanah, ke kematiannya.
Ternyata si penolong adalah Sthira.
Tak hanya itu, dengan sekuat tenaga Sthira menarik tubuh Nirya ke atas, hingga bergelantung bersisian dengannya di tangga tadi. Yang membuat wajah Nirya bersemu merah padam adalah posisi tangan Sthira melingkar di pinggang dan punggungnya, seakan tengah memeluk gadis itu erat-erat.
Sambil tersenyum Nirya menatap ke arah wajah Sthira. Namun Sthira malah menegurnya, "Cepat naik! Tangga ini terlalu sempit untuk kita berdua! Nanti kita ketinggalan dan mendapat malu!"
Wajah Nirya makin merah padam. "Oh ya," ujarnya sambil naik lagi dengan hati-hati.
Tiba di ujung tangga, Nirya turun dan menapak di anjungan kayu. Yang pertama kali ia lihat adalah sebuah bangunan kayu yang besar dan melingkar, seakan mencengkeram batang pohon raksasa. Tak seindah rumah gadang di Swarnara, tak seluas keraton Prabu Narendra di Jayandra, namun inilah bangunan terbesar di Teminobe, yang paling layak bagi kediaman pemimpin negeri.
Di depan pintu masuk gedung itu tampaklah Panglima Hongke Jombe berdiri dengan sikap biasa, Dhaka berdiri di sampingnya. Hongke berkata, "Setidaknya wakil Rainusa telah menunjukkan keperkasaan dan ketangguhannya. Silakan masuk para tamu, Sang Aronawa telah lama menunggu kalian."
"Sang Aronawa? Siapa itu?" Nirya berbisik pada Arumi yang baru muncul di sebelahnya dengan napas terengah-engah.
Dengan wajah dongkol karena terpaksa menaiki tangga sambil mengenakan zirah berat, ditambah "adegan mesra" Nirya dan Sthira tadi, Arumi menjelaskan, "Itu gelar bagi istri sang pemersatu suku-suku, setara ratu atau permaisuri raja."
__ADS_1
"Oh, begitu." Dengan polosnya Nirya mengangguk sambil memasuki gedung.
Di balairung yang merangkap ruang tamu, Sang Aronawa, Aswa Rakwar duduk di sebuah kursi tinggi berukir, berbahan sejenis kayu yang amat keras yang disebut kayu besi. Anehnya, bentuk kursi itu hampir mirip dengan singgasana prabu di Jayandra. Bedanya, singgasana Jayandra terbuat dari beragam logam. Mengenali kemiripan itu, Nirya menangkap adanya maksud yang tersirat bahwa Dhuraga berambisi menjadi lebih makmur dari Jayandra, negeri termakmur di Antapada suatu hari kelak.
"Rupanya benar desas-desus yang selama ini kudengar. Negeri-negeri besar Antapada memang sungguh kuat dan angguh," kata Aswa untuk membuka pembicaraan.
"Maafkan kelancangan kami, Sang Aronawa," tukas Arumi. "Tapi bukankah kami sangat lambat tiba di balairung ini?"
"Memang terlambat," jawab Aswa. "Tapi itu terjadi karena ketua kalian menyelamatkan salah seorang anggotanya yang terjatuh, sesuai laporan Panglima Hongke padaku. Ini membuktikan walaupun negeri-negeri kalian sedang berperang satu sama lain, kalian tetap bisa bersatu dengan amat baik sebagai satu kelompok."
Nirya terperanjat, ternyata kejar-kejaran tadi itu adalah semacam ujian untuk mengukur kekuatan pendekar-pendekar Antapada, dan ukurannya tak berdasarkan kekuatan fisik saja.
"Nah, sekarang sebutkan nama-nama kalian," kata Aswa.
Sthira memperkenalkan kelompoknya. "Nama hamba Sthira, dari Kalingga. Dan rekan-rekan hamba ini adalah Nirya dari Swarnara, Arumi dari Jayandra dan Dhaka dari Rainusa."
"Baik, kita langsung saja, barang-barang apa saja yang kalian tawarkan untuk diperdagangkan? Apa saja yang menarik dari tanah Dhuraga dan memiliki nilai dagang?"
Arumi yang berpengetahuan paling luas dalam kelompoknya angkat bicara, "Aronawa Agung, kami menawarkan rempah-rempah, bahan baku logam seperti besi, tembaga, kuningan serta makanan khas seperti beras dari padi dan pelbagai hasil bumi lainnya. Dari Dhuraga, kami terutama tertarik pada hasil bumi dan tambang, di antaranya sagu dan kayu besi."
"Hanya itu sajakah?" balas Aswa. "Sebenarnya ada banyak sekali macam hasil bumi dan kerajinan Dhuraga yang dapat diperdagangkan dengan negeri-negeri tetangga. Lihat ini." Ia memperlihatkan benda-benda yang ditebar rapi di atas sebuah meja khusus di balairung itu, yang sebenarnya sekaligus untuk pajangan.
Yang pertama adalah sejenis buah-buahan. "Buah-buahan ini dapat dijadikan makanan yang lezat dan manis, kami menamakannya kaka'o. Cobalah makanan hasil olahannya di perjamuan nanti, kalian pasti akan suka."
Yang kedua adalah semacam rumput-rumputan yang sengaja direndam dalam bejana berisi air. "Ini adalah rumput laut, makanan yang amat sehat dan menyegarkan dan dapat diolah menjadi beragam jenis makanan, yang nanti kalian nikmati di perjamuan pula."
Yang ketiga tampak seperti ubi biasa, tak ada bedanya dengan tanaman ubi di negeri-negeri lain di Antapada. Melihat dahi-dahi para tamu yang berkerut, Aswa bicara sambil tertawa kecil, "Haha, kalau dilihat memang sepintas tak ada bedanya dengan ubi biasa. Tapi ini adalah betatas, ubi jalar hutan. Betatas dapat dimakan langsung dan manis rasanya, dan rasanya lebih nikmat lagi setelah direbus atau dibakar, dipadu dengan rumput laut atau bahan-bahan lainnya."
Yang keempat adalah sejenis biji-bijian berwarna coklat kehitaman. Biji-biji itu menebarkan aroma unik yang belum pernah Nirya endus sebelumnya, berpadu dengan aroma buah-buahan. "Nah, inilah hasil bumi andalan Dhuraga. Kami menamakannya ka'fay, namun supaya mudah dieja silakan kalian menyebutnya biji buah kopi. Dalam bentuk biji memang tampaknya amat keras, namun setelah digiling dan dilarutkan dengan air panas, kopi bakal menjadi minuman yang amat-sangat menyegarkan, membangkitkan semangat dan gairah. Silakan dicoba juga di perjamuan nanti."
Menutup penjelasannya, Aswa Rakwar tersenyum dan berujar, "Bila hanya dilihat, tentunya hasil bumi khas Dhuraga yang kami banggakan ini takkan lebih daripada penghias balairung saja. Maka tamu-tamu sekalian, sebelum kalian mengambil keputusan, ikutlah dalam jamuan penyambutan nanti malam agar kalian dapat mencicipinya sendiri dan mendapat gambaran yang lengkap tentang kopi, kaka'o, rumput laut dan betatas."
Sang Aronawa lantas berdiri dan berjalan meninggalkan balairung itu. Tanpa menoleh ia berkata, "Sebaiknya kalian semua hadir nanti malam. Bila tidak, kami akan menganggap kalian semua telah menghina dan merendahkan Negeri Dhuraga. Dan satu-satunya ganjaran untuk penghinaan itu adalah hukuman mati."
Nirya menoleh saja pada ketiga rekannya, yang juga bergeming di tempat.
__ADS_1
Gambar Referensi untuk Desa Teminobe: Dominican Treehouse Village.