EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
RATAUKA Bagian 2


__ADS_3


Sang laksamana malah merentangkan kedua tangannya. “Nah, bukankah ini berkah? Inilah restu Sang Mahesa bagi Jayandra dalam misi mempersatukan Antapada dengan korban perang sesedikit mungkin! Tentunya kau tak mau menuai kutukan akibat melangkahi kehendaknya, bukan?”


Sabailuha terdiam sejenak. Lantas ia menjawab, “Baiklah, aku akan mundur... dengan satu syarat.”


“Syarat apa?”


“Biarkanlah perahu itu lewat.” Sabailuha menunjuk ke arah Nirya dan Sthira di perahu layar yang bergerak amat lamban di kejauhan.


Namun Begarwana menggelengkan kepala. “Tak bisa! Kapal-kapal kami akan terus melaju dan menabrak segala sesuatu yang menghalangi jalur kami. Formasi pagar betis Jayandra tak bisa dibuka begitu saja!”


Nirya dan Sthira terperangah. Mereka akan jadi tumbal Jayandra di perairan ini. Setangguh apapun mereka, wajah keduanya pucat-pasi seketika.


“Kalau Jayandra cukup kejam hingga tega melibas kedua pelaut malang itu, apalagi jika mereka berhasil menaklukkan Swarnara. Rakyat banyak akan tertindas dan menderita, dan para penjajahlah yang akan mereguk kenikmatan dari hasil alam dan tambangnya. Persetan dengan sumpah dan kutukan, justru Sang Mahesa berniat menghukum kalian semua dengan menempatkan diriku di sini!”


Entah apakah Sthira dan Nirya sempat bernapas lega atau tidak, firasat buruk kini merasuki hati keduanya.


Sikap Laksamana Begarwana kini tegas sudah. “Demi kejayaan Jayandra, akan kubuktikan kau salah! Pasukan panah, serang Sabailuha!”


Dengan cerdik, Sabailuha si manusia-naga raksasa kembali menyelam, menghindari guyuran anak panah yang ditujukan padanya.


Nirya dan Sthira sibuk menangkisi hujan anak panah yang nyasar ke arah mereka. Meski jumlahnya sedikit bagai rintik-rintik, akan sangat merepotkan bila itu sampai merobek-robek layar perahu. Kibasan kerambit berantai Nirya yang mengandung prana angin menghalau anak panah yang bagai sekumpulan lalat itu.


Terdengar pula sayup-sayup teriakan-teriakan dari arah armada. “Mana Sabailuha? Di mana dia? Semuanya, hati-hati!”


Mendadak, sebuah kapal besar dan dua kapal kecil dari formasi pagar betis terhantam daya amat dahsyat, yaitu semburan air laut, membuat ketiganya oleng dan para penumpangnya terlempar ke dalam laut. Di tengah semburan itu tampak Sabailuha menyeruak keluar dari permukaan laut dengan dua tinju teracung lurus-lurus di udara.

__ADS_1


Tiga kapal rusak dengan satu gebrakan saja, Begarwana berteriak, “Itu dia! Panahi terus sampai tumbang! Jangan sampai Sabailuha menyelam lagi!”


Berondongan anak panah kembali mengancam Sabailuha dari berbagai arah. Bedanya, kali ini si manusia naga mengangkat keenam tangannya. Sebuah tirai air menyembur bagai ditarik ke atas, mengelilingi tubuh si raksasa sambil menghalau anak panah. Tak berhenti di sana, Sabailuha menyemburkan air di dinding itu ke segala arah. Bulir-bulir air kini runcing bagai anak panah, balas menghujani kapal-kapal. Tak terhitung prajurit Jayandra yang tewas atau luka-luka akibat panah itu.


Tak berhenti di sana, Sabailuha lantas menjalankan alasannya menangkis panah tadi. Sosok raksasa itu lantas beringsut maju dengan amat cepat, mengambang dengan tegak di depan kapal laksamana Armada Jayandra. Ia lantas menatap langsung mata Laksamana Begarwana. “Karena aku punya urusan lain yang lebih mendesak, agar armada ini mundur aku hanya akan mengutuk satu kapal saja – kapal laksamana!” Matanya mulai berkilauan, tanda akan dikerahkannya semacam sihir.”


“Enak saja! Arumi!” panggil Begarwana.


Secepat kilat, seorang gadis berambut merah-panjang dan mengenakan perangkat zirah perang lengkap Jayandra muncul di sebelah pria berambut perak itu. Kedua tangannya memegang busur, menarik dan melepaskan sebuah anak panah berapi ke arah Sabailuha.


Tak menduga datangnya serangan jitu ini, secara refleks Sabailuha bergerak menghindar. Namun anak panah api telah terlebih dahulu menghunjam pundaknya. Konsentrasi si manusia-naga pecah saat mengerahkan sihir untuk membuat banyak korban menjadi batu, Akibatnya dia meraung dan terpental, darah biru tersembur dari mulutnya.


“Agh, sial!” Sabailuha memutar tubuhnya, bersiap untuk menyelam lagi.


“Jangan terburu-buru, bung!” Sambil mengatakannya, pemanah yang dipanggil Arumi itu kembali melesatkan satu anak panah api yang menancap di punggung siluman naga raksasa.


Pertahanan tubuhnya kembali ditembus, Sabailuha mengerang. Anak panah biasa memang tak akan menimbulkan luka yang berarti. Namun dengan diperkuat prana api, nyeri bagai ditikam sekaligus dibakar sungguh terasa di tubuh raksasanya. Para pemanah kembali beraksi, menghujani si manusia-naga dengan panah yang telah dicelupkan dalam minyak dan disulut api. Sabailuha cepat-cepat masuk lagi ke dalam air, entah berapa banyak lagi anak panah yang menancap di tubuhnya.


Arumi menyunggingkan senyum di bibir amat merah alaminya. Ia lantas melompati kapal demi kapal, penglihatannya yang tajam mengawasi permukaan air laut, dan prananya melacak pergerakan siluman raksasa itu dalam air. Setelah melompati beberapa kapal lagi, Arumi tiba di kapal yang berdekatan dengan perahu yang ditumpangi Nirya dan Sthira.


Saat mata berlensa merahnya mengamati kedua penumpang perahu itu dengan seksama, Arumi berseru kepada jurumudi kapalnya, “Tabrak perahu itu! Ada mata-mata dari Kalingga dan Swarnara di sana! Pastikan mereka jatuh dan tenggelam!”


Di sisi lain, Nirya amat terperanjat melihat salah satu kapal Jayandra mengubah haluan mendadak, melaju persis ke arah perahunya. “Gila, kapal itu akan menabrak kita!”


Dengan sigap, Sthira berdiri dan menarik lengan gadis Swarnara itu. “Bersiaplah, Nirya! Saat terjadi tabrakan, kita harus melompat dari sini ke kapal Jayandra itu!”


“Kapan persisnya?”

__ADS_1


“Sekarang!”


Sthira dan Nirya melompat setinggi yang mereka bisa. Sedetik kemudian, haluan kapal Jayandra yang berukuran sedang itu tepat menabrak hingga perahu nelayan pecah jadi dua. Untunglah yang menabrak itu kapal berukuran sedang, dengan tinggi dari permukaan laut ke geladak tak lebih dari sepuluh meter.


Tanpa banyak kesulitan, Nirya berhasil mendarat di ujung haluan. Malang, Sthira hanya meraih dan memegang ujung geladak dan bergelantungan di depan lambung kapal. Refleks, Nirya berbalik untuk menarik rekannya itu ke atas geladak. Namun satu batang panah sarat prana api menyerempet kulit lengannya.


Sontak perhatian Nirya kembali tertuju ke arah para lawannya. Tampak beberapa prajurit dan pemanah Jayandra menghadang dan mengepungnya, siap dengan senjata masing-masing. Namun yang paling berbahaya tentu adalah gadis berzirah warna emas dengan tangan telah menarik tali busur, siap melesatkan panah prana api berikutnya.


Nirya pasang kuda-kuda dengan sepasang kerambit berantainya dan berseru, “Tunggu dulu! Kami hanya pendekar pengelana yang hendak menyeberang ke Jayandra!”


“Hah! Pantas saja ilmu olah prana Kanuragan kalian cukup mumpuni, hingga kalian berhasil menyeberang kemari saat tabrakan tadi!” sindir Arumi. “Tapi tadi Sabailuha amat berniat melindungi kalian, hingga ia mensyaratkan keselamatan kalian supaya ia mundur. Kalau kalian bukan mata-mata, mana mungkin Sabailuha yang berambisi mengatur perimbangan kekuatan di Antapada ini memperhatikan kalian?”


Sthira dan Nirya tercengang. Nampaknya gadis muda-belia yang nampak sebaya dengan mereka ini lebih cerdas-cendekia daripada atasannya, sang laksamana.


“Namaku Sthira, dan rekanku ini Nirya,” ujar si pendekar dari Kalingga. “Kami bukan mata-mata, tapi kami sedang menjalankan satu misi penting demi seluruh Antapada.”


Si gadis dari Swarnara menimpali, “Kalau kau tak percaya, biar aku yang bertarung denganmu satu lawan satu. Tak usah libatkan para prajurit.”


“Oh, berani sekali kau… Nirya!” sergah si perwira dari Jayandra. “Memangnya kau pantas menantang aku, Arumi Dyahrani, Senopati Jayandra? Maaf, aku sedang tak berselera melayani pendekar pengelana macam kalian. Lebih baik kalian mati saja dengan tubuh penuh anak panah dari Busur Jalabara pusakaku dan para prajurit pemanah.”


Nirya terhenyak. Saat ini bahkan dia, Sthira tak berada dalam posisi tawar-menawar. Musuh jelas lebih unggul jumlah, dan mereka tak mau membuang waktu. Tinggal memastikan Sabailuha mati, dan Armada Jayandra akan langsung melaju ke Swarnara.


Pemikiran tentang matinya juru kunci Gunung Ratauka membuat Nirya terkesiap. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi seraya berkata, “Tunggu, Senopati Arumi! Ingat, Sabailuha adalah juru kunci Gunung Ratauka! Kalau sampai ia terbunuh atau terdesak, ia akan menggunakan ‘kunci’ miliknya dan membuat gunung itu meletus! Sebaiknya Armada Jayandra mundur saja, jangan sampai kalian jadi korban sia-sia!”


Nirya menoleh pada Sthira yang malah memelototinya, dan gadis itu kembali melayangkan pandangannya pada Arumi, menunggu reaksi senopati wanita itu.


Namun Arumi malah menyunggingkan senyum penuh arti. “Kalau begitu, harus kupastikan aku menghabisi Sabailuha dulu sebelum dia meledakkan Ratauka.” Ia kembali membidikkan panah api pada Busur Jalabara, mengarah tepat ke jantung Nirya. “Mungkin aku akan ‘latihan’ dulu dengan menghabisimu lebih dahulu, hei gadis sok tahu.”

__ADS_1


Wajah Nirya memucat seketika. Mungkin tadi panah Arumi sengaja dibuat meleset sebagai bagian dari “proses pengorekan keterangan dari mata-mata”. Tapi kali ini, di jarak sedekat ini, nyaris mustahil si pemanah jitu akan mengulangi ‘kesengajaan’ yang sama. Pijakan si gadis yang tak berpengalaman bertarung di atas kapal ini terus bergoyang, berdiri saja sulit.


Keterangan Ilustrasi: Gunung Ratauka mirip dengan Gunung Krakatau / Anak Krakatau di Selat Sunda.


__ADS_2