
Saat perhatian semua orang tertuju pada Nirya dan Arumi, Sthira memanfaatkan kesempatan dengan menyabetkan Golok Gharma dari jarak jauh. Dari bilah golok itu melesatlah seberkas Sabit Bulan Halilintar. Sabit energi itu membelah dan menembus tubuh satu orang prajurit yang menghadang, terus melaju cepat ke arah Arumi.
Menyadari ancaman itu, Arumi cepat-cepat mengubah arah bidikannya ke arah sabit petir. Anak panah api dilesatkan, beradu dengan sabit dan meledak di udara. Tumbukan kedua kekuatan brutal itu membuat semua orang di kapal itu termasuk Arumi, Nirya dan Sthira sendiri terpelanting atau terdorong mundur.
Nirya termasuk yang terpelanting, ia jatuh terduduk di lantai geladak kapal. Gadis itu mengerang, melepas rasa sakit tak tertahankan, lalu perlahan-lahan berusaha bangkit berdiri. Walau masih terombang-ambing, si gadis berambut jinggalah yang pertama berdiri di kapal ini.
Lalu, tampak pula Arumi dan Sthira ikut berdiri. Arumi menyiapkan sebilah keris di tangan kiri dan busur berujung bilah tajam di tangan kanan. Sementara Sthira bersiap lagi untuk maju dengan goloknya.
Arumi membentak, “Cukuplah kalian menunda-nunda! Seluruh pasukan, panah...”
Tiba-tiba sang senopati wanita terperangah. Nirya dan Sthira juga terperanjat melihat perubahan sikap Arumi itu. Nirya menoleh ke arah yang ditatap Arumi dan berteriak, “Itu Sabailuha! A-apa yang akan ia lakukan? Jangan-jangan...!”
Tampak Sabailuha, si manusia-naga raksasa kembali tegak di permukaan air. Kali ini, posisinya amat dekat dengan pantai dan lereng Gunung Ratauka. Kedua tangan atasnya terangkat tinggi-tinggi, dua di tengah direntangkan ke kiri-kanan, dan dua terbawah terarah ke bawah pinggangnya. Tubuhnya penuh luka dan anak panah yang menancap.
Tepat di tengah dada Sabailuha, tampak sebuah aksara gaib yang berpendar kebiruan. Itu adalah gabungan aksara yang menggambarkan permukaan air dan gunung-pulau di atasnya.
“Gila, Sabailuha akan meletuskan Gunung Ratauka! Apa dia lupa kita masih di dekat sini?” seru Nirya sambil terus menoleh ke kanan-kiri.
Sthira menjawab, “Entahlah! Arumi, tolong bawa kapal ini menjauh dari Ratauka!”
Namun Arumi tetap terpana. “K-kapal kita terlalu dekat ke gunung! Tak sempat lagi mengubah haluan, apalagi berbalik!” Tak hanya kapal layar yang ditumpangi Nirya-Sthira, hampir seluruh armada kini tengah melintas pula tak jauh dari gunung-pulau itu.
“Hahaha! Kalian tahu ini daerah kekuasaanku! Bila ingin lewat harus dengan seizinku!” seru Sabailuha, suaranya agak tercekat akibat darah yang menggenang dalam mulutnya. “Tapi kalian nekad lewat, bahkan melukaiku hingga nyaris sekarat! Terpaksa aku, Sabailuha membuka kunci Gunung Ratauka, menjatuhkan hukuman Sang Mahesa pada kalian semua!”
Menepati ancamannya, sang juru kunci memancarkan seberkas sinar biru dari aksara suci di dadanya itu. Sinar itu mendaki lereng sampai ke puncak, lalu terjun memasuki mulut kawah. Teriakan-teriakan panik seketika bergema dari semua kapal Armada Jayandra, terutama dari Laksamana Begarwana. “Putar haluan! Menyebarlah sejauh-jauhnya dari Ratauka!”
Namun, keadaan armada sudah terlanjur kacau-balau. Beberapa kapal besar-kecil berbelok sekenanya, sehingga terjadi tabrakan antara dua atau lebih kapal. Beberapa kapal memutar haluan terlalu cepat dan tajam, hingga ada tiga kapal yang oleng dan terbalik menghantam permukaan selat.
Bersamaan dengan itu pula, Gunung Ratauka yang selama ini seakan menahan “batuk” meletus sudah. Seiring membanjirnya lava dengan cepat ke lereng gunung, dan api menyembur amat tinggi dan banyak ke langit, terus-menerus seolah takkan pernah berhenti. Lalu, api yang terkumpul itu berhenti di udara dan terjun, menghujani segala sesuatu di bawahnya. Membakar segala makhluk dan benda, tak kenal kawan ataupun lawan. Walau demikian, tentu saja sebagian “anak panah” hujan api itu tercebur dan padam dalam air laut.
Teriakan-teriakan pilu dan panik seketika memenuhi udara. Nirya, Sthira dan Arumi pontang-panting menghindar, mengayunkan senjata-senjata mereka dan menghalau setiap panah api yang tak bisa mereka hindari. Walau menggunakan busur dan pedang panjang dengan bilah berulir yang disebut keris, dua panah api menancap di paha dan menyerempet dada Arumi yang terlindung zirah besi. Tak heran, senopati gadis belia itu mengerang kesakitan.
__ADS_1
Tak berhenti di sana, Gunung Ratauka kini memuntahkan batu-batu berapi sebesar bola peluru meriam ke udara, tak terhitung jumlahnya. Tak terhitung pula berapa banyak bola api itu yang menghantam kapal-kapal Jayandra. Sebagian besar kapal besar dan kecil rusak, bahkan tenggelam. Armada Jayandra kini bagai dikepung dan digempur armada lain yang jauh lebih besar darinya, dari udara pula. Kehancuran total tak terhindarkan lagi, kecuali...
“Munduur! Semua kapal menyebar dan menghindar! Kita kembali ke Jayandra!” Berulang kali Laksamana Begarwana meneriakkan pesan itu, yang diteruskan ke kapal-kapal lain pula lewat teriakan, dan bilamana sempat, isyarat.
Andai Armada Jayandra dapat lolos dari gempuran ini, mereka tak punya cukup pasukan lagi untuk menghadapi perlawanan tentara dan rakyat Swarnara. Membangkitkan murka Sabailuha, penunggu Ratauka sungguh suatu kesalahan fatal.
Menyadari hal ini pula, Arumi berinisiatif meneriakkan perintah, “Nahkoda! Putar haluan dan menghindar! Selamatkan diri kalian!”
Namun sebelum perintah itu terlaksana, sedikitnya lima bola api telah terjun, mengarah tepat ke kapal yang ditumpangi Arumi. Wajah gadis belia itu pucat-pasi seketika, luka serius di pahanya membuat ia sulit menghindar atau malah nekad terjun ke laut.
Mendadak, Sthira menerjang Arumi dan mendorongnya hingga keduanya terpelanting dari geladak kapal dan tercebur ke dalam laut. Melihat ini, dada Nirya terasa sesak seketika. Namun tekad untuk bertahan hidup mendorongnya ikut terjun ke air. Benar saja, lima bola api itu menghantam kapal layar tanpa ampun sehingga terbakar dan porak-poranda. Andai Nirya masih di geladak kapal, hampir pasti ia akan mendekam di dasar Selat Pariung bersama si mendiang nahkoda dan seluruh awak kapal.
Arumi terperangah melihat nasib kapal tumpangannya itu. Wajahnya memerah seketika saat ia tahu Sthira tengah mendekapnya sambil berenang. Namun sesaat kemudian Arumi menyadari sesuatu, dan ia menggeliat dan menghentak-hentak. “Lepaskan aku, mata-mata!”
“Sudah kubilang aku bukan mata-mata. Mana sopan-santun orang Jayandra yang terkenal luas itu? Andai kakimu tak terluka, aku hanya tinggal mendorongmu saja.”
“T-tapi mengapa kau menyelamatkanku?”
“Aku tak berminat mendengarkan penawaran apapun darimu.”
“Kalau begitu aku harus membungkammu dengan menenggelamkanmu di sini,” ancam Sthira. “Jika kau menolak penawarankupun, kami juga terpaksa harus melenyapkanmu.”
Berenang tak jauh dari Sthira dan Arumi, Nirya memandang keduanya sambil berdecak kesal. Ia tak mendengar pembicaraan bernada ketus antara si pria dan si wanita itu, jadi ia hanya berasumsi Sthira sedang melakukan “pendekatan” pada Arumi.
Tak ada waktu memperhatikan masalah perasaan. Nirya harus berjuang keras, berenang dan menyelam demi hidupnya. Selama ini, si “gadis gunung” sama sekali tak pernah berenang di laut berombak. Terpaksa ia harus sesekali menyelam seperti yang sering ia lakukan di telaga dekat Gunung Barkajang.
Ini bukan berarti Nirya lepas dari bahaya. Ia harus berenang berkelok-kelok, menghindari pecahan-pecahan kapal yang banyak tenggelam di sana-sini. Satu batu besar yang masih membara sempat menghantam punggung Nirya. Untunglah gerakan batu itu lambat, namun Nirya jadi sadar dan cepat-cepat naik ke permukaan laut.
Tak jauh di sana, Sthira yang amat berdekatan dengan Arumi terus berpegangan pada sebuah balok kayu yang terapung, yang adalah pecahan tiang salah satu kapal. Nirya pasang wajah masam dan lantas berenang ke arah mereka.
Hujan batu api telah mereda, Gunung Ratauka masih mengepulkan asap amat tebal di kejauhan. Entah apa lagi yang akan dimuntahkannya. Di mana-mana yang tampak hanya serpihan-serpihan kayu yang sudah tak jelas dan utuh bentuknya. Mayat-mayat prajurit tampak mengambang di sana-sini, sungguh mengenaskan.
Saat Nirya sudah berada dekat dengan Sthira, barulah tampak jelas kondisi Arumi. Wajah gadis itu tampak amat pucat dengan mata terbelalak. Seluruh tubuhnya gemetar.
__ADS_1
“Mereka... meninggalkanku...” Suara Arumi bergetar, terbata-bata. “laksamana... kapal-kapal Jayandra... Semua melarikan diri... Tak seorangpun peduli pada yang tertinggal di sini...”
“Bukan begitu, Arumi...” Nirya akan menyela musuhnya itu, namun Sthira malah berbisik, “Sssst...”
Nirya terhenyak. Ia baru sadar, Arumi yang sebenarnya adalah musuh itu sama sekali tak melawan. Perwira Jayandra itu hanya berpegangan di balok kayu itu dan terus meracau seperti orang gila.
“Ayo, Nirya! Kita harus pergi sejauh-jauhnya sebelum Sabailuha melihat kita!” seru Sthira sambil berenang dan mendorong “kayu penyelamat” itu sekaligus Arumi dengan sekuat tenaga.
Nirya ikut membantu mendorong kayu itu dari sisi yang sama dengan rekan-rekannya. Selayang pandang, tampak si manusia-naga raksasa keluar dari air di kejauhan, menoleh kesana-kemari seakan tengah mencari sesuatu. Dengan jantung berdebar-debar Nirya memilih tetap bersembunyi dan terus mendorong baloknya.
“Tamatlah riwayatku di sini...” Arumi terus meracau.
Terpaksa Sthira membentak Arumi, “Diam! Kau ingin siluman itu mendengar kita?!”
Namun Arumi tak peduli. “Begarwana, kau bedebah! Kau tahkut aku melampauimu, dan menggantikan posisimu sebagai laksamana, maka kau menyingkirkanku! Awas kau! Arwahku pasti akan memburumu!”
Sebelum Arumi bisa bicara lagi, kerambit Nirya telah lebih dahulu mengancam lehernya. “Satu kata lagi dari mulutmu, kupastikan kau jadi makanan ikan.”
“Huh, terserah! Aku tak takut mati, bagaimana dengan kalian?” tantang Arumi.
“Kami belum ingin mati sekarang, karena ada misi amat besar yang harus kami tuntaskan,” ujar Sthira. “Daripada jadi arwah di sini, bukankah lebih baik kau ikut kami saja?”
Nada suara Arumi makin ketus. “Oh, jadi itu ‘tawaran’ untukku? Ternyata kalian benar-benar mata-mata...!”
“Bukan! Jangan salah paham, kami justru...” Nirya tak sempat merampungkan sanggahannya. Sosok raksasa Sabailuha tiba-tiba muncul di hadapan ketiganya.
Nada bicara Sabailuha kini mirip wujud manusianya, yaitu Minata. “Kalian di sini rupanya. Syukurlah, ternyata kalian sungguh tangguh, bisa bertahan dari ‘amukanku’ tadi.”
Tukas Sthira, “Tak usah basa-basi, Sabailuha. Aku tahu kau ingin menyingkirkan kami pula. Sejak awal kau bersedia membantu kami karena tak ingin Gunung Ratauka meletus. Kau juga tak ingin dicerca para juru kunci yang lain, dan bisa saja kau akan mengkhianati kami. Jadi selama ini kau selalu mencari cara melenyapkan kami, entah dengan bantuan pendekar-pendekar Nurbaiti ataupun Armada Jayandra. Kau hanya pura-pura membela kami, dan saat nyawamu sendiri terancam baru kau terpaksa membuka kunci Gunung Ratauka.”
“Hei, hei, jangan salah paham, bung. Hal terakhir itu memang benar, tapi aku sungguh mendukung rencana kalian ini. Makin cepat perang berakhir, hidupku akan kembali tentram dan damai. Aku akan lebih bebas berkelana ke manapun aku mau, sebagai Minata. Aku tak peduli para juru kunci lainnya bakal memusuhiku. Terserah kalian percaya atau tidak, tapi mulai sekarang aku akan ikut kalian.”
Keterangan gambar: Kapal khusus yang digunakan Arumi dalam Armada Jayandra adalah Kapal Pinissi.
__ADS_1