EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
IDHARMA Bagian 4


__ADS_3


Dengan asumsi itulah Nirya lantas menoleh ke sekelilingnya, mencari petunjuk. Anehnya, sejauh mata memandang, hanya satu dinding relief yang tampak. Lebih aneh lagi, tak ada petunjuk yang jelas pada relief itu, yang tak tersambung dengan kisah-kisah Barong di relief-relief lainnya.


Jadi, daripada mengeluh, Nirya memilih mengamati relief itu dengan lebih seksama. Terpahat di sana citra sekumpulan ornag sedang berlutut, menyembah ke arah Barong yang justru menunjuk ke arah langit. Mungkin itu bermakna Barong memang berhati mulia, meminta para penyembahnya itu menyembah Sang Mahesa saja,  bukan dirinya.


Anehnya, arah yang ditunjuk Barong, si figur manusia-singa itu miring ke kanan-atas, bukan lurus ke atas. Apa maksudnya ini?


Mata Nirya terbelalak. Ia lantas kembali pada rekan-rekannya sambil berseru, “Ambil jalur kanan, teman-teman!”


“Lho, dari mana kau tahu itu?” tanya Arumi.


“Dari gambar relief di dinding, tentunya! Ada petunjuknya di sana!”


“Kalau begitu kita terobos ke jalur cabang kanan!” kata Sthira sambil mulai bergerak ke arah yang ia maksud.


Tiba-tiba, tiga sosok berkelebat mendahului Sthira.


Salah satunya ternyata Widuri, yang berseru, “Ikut aku ke jalur kiri!”


Widuri melecutkan lengannya berulang-ulang. Samar-samar Nirya melihat sebentuk cahaya hitam berkelebat, bentuknya seperti cemeti. Seketika, barisan kecak yang diterpanya tumbang berantakan. Nirya tersentak, ternyata Widuri memang amat sakti, dan selama ini ia pura-pura jadi pendeta biasa yang kesaktiannya hanya sebatas peringan tubuh saja. Ia jelas sedang menyimpan tenaga, tapi untuk apa?


Nirya tak sempat memikirkan hal itu lebih dari sekelebat, karena ia tengah membantu rekan-rekannya menerobos ke jalur kanan.


Tiba-tiba Nirya berteriak, “Teman-teman, maaf tadi aku salah! Kita ambil jalur kiri saja!”


“Apaa?” Sthira tersentak, sehingga golok satu kecak menyerempet punggungnya.


“Tadi gambar Barong itu membelakangi para pengikutnya, dan ia menunjuk dengan tangan kanannya ke kanan-atas. Padahal bila kita melihat Barong dari muka, ia sebenarnya menunjuk ke arah kiri-atas!”


Arumi berkomentar, “Wah, jadi cara berpikir Widuri memang hebat! Ayo!”


Jadi, sebelum terlambat dan terjebak entah apapun yang menanti di ujung jalan, Nirya, Sthira dan Arumi berbalik. Lagi-lagi sepasukan kecak menyerbu, seakan hendak memaksa ketiganya berbalik ke jalur yang salah itu. Walau kelelahan, ganasnya serangan para pendekar muda itu tak surut sedikitpun.


Akhirnya para kecak terpukul mundur, dan para penyusup langsung beralih ke jalur yang benar. Padahal, entah benar atau salah, para kecak yang tersisa tetap menyerbu.


Merasa bertanggungjawab atas kesalahannya sendiri, Nirya menempatkan dirinya di paling belakang dan berusaha menangkal, menahan bahkan menyerang balik musuh. Gawatnya, para kecak juga meneyrang dari arah depan, seolah menjepit dan memeras energi para penyusup hingga terkuras.

__ADS_1


Kini Nirya merasakan napasnya memburu. Peluhnya bercucuran, dan gerakan-gerakannya melemah. Para kecak yang “terbunuh” di sini malah bangkit lebih cepat dari rekan-rekannya di permulaan labirin dan jelas tak kenal lelah. Kalah stamina, Nirya, Sthira dan Arumi malah jadi bulan-bulanan musuh, darah bersemburan dari luka-luka baru mereka.


Saat nyawa Nirya bagai telur di ujung tanduk, tiba-tiba cambuk sinar hitam berkelebat. Para kecak pengepung di depan Nirya bertumbangan seketika, tubuh mereka tersayat-sayat mengerikan. Cambuk itu ternyata sangat tajam pula, manusia yang kena hampir pasti tercacah atau tersayat-sayat amat parah.


Saat lecutan reda, barulah Nirya melihat si penolong, Widuri yang menghampirinya dengna santai, didampingi kedua muridnya.


“Nah, beginilah akibatnya kalau tak mau mengikuti petunjuk,” sindir Widuri. “Untung aku masih berbaik hati memberi kalian satu petunjuk lagi, kalau tidak...”


Karena kepungan telah mengendur, Nirya bisa dengan leluasa menyindir balik, “Kali ini aku memang salah, tapi setidaknya jumlah kesalahan petunjukku jauh lebih sedikit darimu, bu pemandu.”


Sthira cepat-cepat menengahi, “Itu membuktikan kita masih manusia, ‘kan? Ayo kita terus maju! Lihat, kecak-kecak itu sudah mulai bangkit lagi!”


Nirya dan Widuri sambil bertukar tatapan tajam, tanda saling tak menyukai dan saling curiga. Namun mereka mengiyakan pendapat Sthira dengan terus maju, bergabung dengan para rekan lainnya di depan sana.


Hingga tibalah Nirya kini di sebuah ruang lapang, dibatasi hanya dengan dinding-dinding batu hingga berbentuk nyaris bundar. Tampak sebuah gerbang batu besar di kejauhan, pertanda itulah pintu keluar dari labirin ini.


Gerbang batu itu dipahat dengan citra wajah Barong yang dikenal dalam tiap ukiran, pahatan, lukisan dan pelbagai karya seni lainnya. Bola mata Barong itu tampak bulat sempurna, seakan selalu terbelalak dengan lensa persis di tengah keduanya. Deretan taring mencuat dari moncongnya, yang terpanjang adalah empat taring terbesar di sisi terjauh, dua mencuat ke atas, dua ke bawah.


Di sekitar pahatan wajah Barong itu ada pahatan garis-garis lain, seakan-akan itu menandakan matahari. Dan memang Barong adalah duta Sang Mahesa, penguasa cahaya dan matahari. Pintu batu itu tak berdaun. Lagipula kekuatan Sthira, Nirya, Arumi, Widuri dan kedua murid sekaligus takkan mungkin bisa mengangkatnya hingga terbuka.


Menelaah dinding ini, Sthira hanya mengajukan satu pertanyaan sederhana, “Bagaimana kita bisa keluar dari pintu ini?”


Semua pendengar tersentak. “Lho, bagaimana kau tahu?” tanya Arumi.


“Firasat.” Kali ini Widuri terkesan menghindar dari keharusan memberi penjelasan rinci.


“Lantas dari mana? Apakah ada pintu lain?” tanya Nirya.


“Perhatikan aku saja,” kata Widuri. Wanita itu lantas berjalan ke satu sisi dinding yang semuanya penuh relief itu. Rupanya Widuri memang baru dan sudah paham dengan makna relief, jadi ia kini tampak penuh percaya diri.


Widuri mempelajari relief itu satu-persatu, hingga akhirnya ia berdiri di depan salah satunya, dengan gambar Barong dalam wujud manusianya, seorang pria yang amat gagah dan tampan dengan tubuh teramat kekar-sentosa, berambut gaya surai singa yang bagai api membara. Sang Barong memegang seikat padi di satu tangan dan sebatang tanaman kapas di tangan lain, dan ia berdiri di ambang sebuah gerbang atau pintu.


Arumi yang cukup fasih legenda Barong berkata, “Inilah janji dan pekerjaan Sang Barong di masa damai. Ia membimbing rakyat banyak, tak hanya umat Sang Mahesa saja menuju kesejahteraan hidup, berkecukupan sandang dan pangan, dan gerbang itu sebagai rumah.”


Nirya berkata, “Tapi, apa hubungan antara gambar ini dengan gambar-gambar lainnya, dan gambar ini dipilih sebagai pintu masuk yang sebenarnya?”


Widuri terdiam sebentar, lalu menjelaskan, “Coba lihat gambar-gambar lain itu. Ada barong yang menjadi raja perkasa, penguasa tak hanya Rainusa, tapi seluruh Antapada. Ada Barong yang memiliki kekayaan tak terhingga, ada Barong sebagai penguasa arif-bijaksana yang layak memerintah selama-lamanya, bahkan ada pula Barong yang dimuliakan bagai dewa, lebih tinggi daripada Sang Penguasa Matahari.”

__ADS_1


Arumi menyela, “Namun sesungguhnya, Barong malah menepis semua itu dan memilih menjadi pelindung dan pembimbing rakyat yang lemah di jalan menuju hidup sejahtera yang sejati. Benar, itulah yang dibenci oleh Rangda yang justru ingin menjadi penguasa mutlak Negeri Rainusa, padahal ia telah menjadi ratu di sebuah kerajaan kuno yang telah runtuh di semenanjung timur Pulau Jayandra.”


Di titik ini, dahi Widuri tampak berkerut, tatapan matanya berubah nyalang. Namun Widuri cepat-cepat menutupinya dengan berkata, “Eh, karena itulah Rangda ingin mengambilalih kedudukan Barong itu dan menjadi Sang Ratu Adil, penguasa sejati Antapada dalam ramalan sejak zaman mula-mula. Tapi usahanya itu selalu kandas, dan Rangda harus jatuh-bangun terus agar dapat mengalahkan Barong suatu hari kelak.”


Walau wajahnya menunjukkan ketertarikan serius, Sthira berujar, “Baiklah, kini kita telah beristirahat sejenak dan mendapatkan pencerahan dari Ni Luh Widuri. Terima kasih telah memandu kami, sekarang ayo kita menghadap Sang Barong bersama-sama.”


Widuri mengangguk. “Baik, ayo kita masuk.” Ia lantas menyentuh dinding berelief ambang pintu itu sambil mengucapkan mantra yang panjang dan asing.


Perlahan-lahan, gambar Barong di ambang “pintu” itu terangkat dengan sendirinya secara gaib, menyisakan sebuah celah gelap yang cukup besar untuk dimasuki raksasa sekalipun.


Melihat itu, tanpa disadarinya Nirya tiba-tiba merinding. Firasatnya berkata, ada kejutan besar yang tengah menanti mereka semua di dalam sana.


\==oOo==


Berkebalikan dengan labirin berubin tanah dan berdinding batu kasar tadi, lorong yang dilihat Nirya saat ini terbilang amat megah. Lantainya beralaskan ubin batu yang teratur dan rapi. Sisi kiri-kanan lorong disangga deretan pilar kayu, semuanya diukir dan dicat dengan gambar-gambar yang detil, indah dan berwarna-warni.


Semua dinding di sini berhias relief, lagi-lagi menggambarkan riwayat hidup Sang Barong, penunjukkannya dan pemberian mandat padanya oleh Sang Mahesa sendiri yang dilambangkan dengan simbol matahari, dan perjuangannya melawan mereka yang mengancam kedamaian dan kehidupan, termasuk musuh bebuyutannya, Rangda Sang Ratu Leak.


Namun, yang paling terasa adalah sebentuk aura yang agung, terang-benderang yang memenuhi seluruh balairung ini, seolah menyapa mereka semua dengan belaian penuh kasih.


Sebagai seorang gadis berhati lembut, Nirya merasa langkah-langkahnya makin berat. Seakan-akan, sebentuk kekuatan tengah mendorongnya untuk berbalik saja dan keluar dari Balairung Saka Cahya ini, bahkan dari Gunung Idharma. Namun, segala perkataan Sthira dan Mpu Galahasin tentang misi yang sedang mereka jalani ini, dan akibat yang mengerikan bila mereka gagal kembali terngiang dalam benaknya. Amanat inilah yang menjadi kekuatan yang bahkan melebihi kharisma Barong Suci sekalipun. Karena itulah, langkah Nirya yang sempat surut tadi kini kembali terayun mantap.


Tak tampak sang pemandu, Ni Luh Widuri dan kedua gadis muridnya berjalan beriringan, baik di depan, tengah atau belakang kelompok Nirya. Sekilas, Nirya teringat percakapannya dengan Widuri di ambang pintu masuk balairung tadi.


“Lho, sesepuh tak ikut bersama kami?” ujar Nirya yang melihat Widuri diam saja.


Widuri menggeleng. “Kalian masuklah dulu. Biar kucoba memulihkan tenagaku dulu dan menahan para kecak itu di sini. Setelah urusan kalian dengan Barong selesai, baru giliranku.”


“Tapi...!” Nirya hampir kelepasan bicara, bilang bila urusan mereka selesai, giliran Widuri takkan pernah ada. Untung ia berhenti bicara di saat yang tepat. Kalau tidak, misinya pasti bocor dan mereka bakal harus bentrok dengan si pemuka agama yang pasti bakal membela Sang Duta Mahesa. Bahkan Sthira dan Arumipun setuju dengan itu sejak awal. Hindari bentrok yang tak perlu dan pusatkan perhatian pada Barong saja.


Tanpa sadar Nirya telah tiba di ujung koridor balairung. Pandangannya langsung terpusat pada seorang pria yang tengah berdiri tegap. Di belakang pria itu ada semacam tiang kristal putih raksasa menjulang hingga nyaris menyentuh langit-langit Balairung Saka Cahya.


Mau tak mau, Nirya terperangah dan terpesona. Pasalnya, pria di tengah balairung itu bertubuh amat kekar dan tegap. Ia bertelanjang dada, dan sebuah tato hitam yang adalah sebuah aksara gaib dirajah sempurna di titik tengah dadanya itu. Rambutnya putih dan mengembang seperti surai singa, dan kedua matanya seakan merah menyala-nyala.


Pria itu mengenakan sarung batik bermotif indah warna-warni dengan warna dominan merah, berpadu-padan dengan celana panjang putih dan gelang-gelang emas di tangan dan lengannya, serta semacam kalung emas yang menghiasi dada atasnya. Wajah tampannya tampak tersenyum ramah.


“Selamat datang di Balairung Saka Cahya. Namaku Barong, Duta Sang Mahesa. Ada masalah apakah hingga kalian sampai masuk menemui di sini? Menumbangkan banyak kecak abdiku pula?” Tatapan mata Barong berubah setajam mata elang mengincar mangsanya.

__ADS_1


Perubahan tekanan yang mendadak dari Barong itu membuat wajah Nirya, Sthira dan Arumi pucat seketika. Rasanya seperti mereka telah melakukan pelanggaran berat, dan kini mereka tengah menghadapi hakim di pengadilan.


Referensi gambar Rangda dari versi Megami Tensei.


__ADS_2