EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DANURAH Bagian 5


__ADS_3


Namun Sthira malah tersenyum. Dengan posisi lebih siap, cukup waktu baginya melompat tinggi-tinggi dan menyabetkan goloknya secara horisontal dengan jurus Naga Halilintar Menghunjam Cadas. Bilah-bilah energi teramat tajam itu menerpa kedua hantu itu sekaligus, tanpa ampun.


Namun, satu keanehan terjadi. Tubuh hantu biasa pasti terbelah oleh sayatan si naga petir. Sedangkan kedua penyerang Sthira itu hanya terpukul jatuh, lalu kembali terbang menjauh sambil berteriak-teriak dengan suara melengking, seakan mengiris telinga. Mereka pasti terluka, namun tak parah.


Saat berikutnya, para hantu menyerbu serempak, seakan sudah bertekad mengeroyok dan menghabisi semua manusia di hutan angker itu.


Mungkin Tim Sthira hanya bertiga atau para hantu itu sebenarnya adalah sepasukan manusia sakti. Yang pasti, kini Sthira sendiri kewalahan menangkal dan menghindari serangan dari segala arah.


Keringat dingin Sthira bercucuran. Kalau begini terus, bisa-bisa lukanya bakal tambah parah, bahkan fatal. Cakar-cakar hantu kembali memberondong ke arah Sthira, kenyataan yang ia takutkan itu tak terhindarkan lagi.


Hingga tiba-tiba, sebuah teriakan wanita yang lebih melengking, lebih memekakkan telinga dari siapapun juga berkumandang. Bahkan para hantupun menutupi sisi kepala tempat telinga mereka seharusnya berada, lalu beterbangan pergi sambil berteriak-teriak kalap.


Baru beberapa saat kemudan, Sthira menjauhkan kedua telapak tangannya dari sepasang telinganya. Tak tampak lagi hantu-hantu terbang di mana-mana.


Gantinya adalah sesosok wanita yang tengah berjalan dengan amat anggun ke arah rombongan. Wanita itu mengenakan pakaian serba hitam dan berambut hitam. Wajahnya memancarkan pesona kecantikan alami, walau tampak kerut-kerutan samar-samar, terutama di sekitar matanya.


Nirya dan Arumi juga mendekat dari kejauhan. Mereka tak mengalami luka-luka berarti, namun mereka memilih diam saja dan menjaga jarak dengan wanita itu.

__ADS_1


Identitas si penolong baru agak jelas saat si gadis pemandu berseru, “Guru!”


Guru? Jika benar wanita ini sang guru dan pemandu yang dimaksud, berarti kemunculannya yang tepat waktu ini sungguh kebetulan. Amat kebetulan.


Namun Sthira membungkus rasa curiganya itu dengan bicara sopan, “Terima kasih sesepuh telah menyelamatkan kami. Boleh tahu siapa nama sesepuh?”


“Namaku Ni Luh Gusti Widuri, panggil saja aku Ni Widuri,” jawab si wanita anggun namun sama sekali tak terkesan angkuh itu. Senyum hangatnya merebak. “Justru aku yang harus minta maaf karena telah meminta kalian menemuiku di hutan angker ini, sehingga kalian diserang leak.”


Nirya terkesiap. “Leak? Itukah sebutan untuk para hantu tadi?”


“Leak bukan hantu,” jawab Widuri. “Mereka adalah wanita penyihir yang menuntut ilmu hitam terlarang, Leak Durja. Ilmu itu mudah dipelajari, namun meminta ‘biaya’ teramat besar. Jadi sewaktu-waktu bila ilmu itu hendak dikerahkan dengan kekuatan penuh, si perapal akan berubah wujud menjadi leak, manusia berkekuatan hantu bertampang mengerikan.”


“Rangda. Kau benar, anak muda,” ujar Widuri, kerutan di dahinya bertambah banyak. “Tapi bagaimana ini? Mengapa sejak tadi kalian belum memperkenalkan diri?”


Si ketua tim, Sthira berujar, “Maafkan kami, sesepuh. Aku Sthira dari Kalingga, dan ini rekan-rekanku, Nirya dari Swarnara dan Arumi dari Jayandra.”


Kata “Jayandra” sempat membuat Widuri mendelik. Namun wanita berbusana ala ningrat Rainusa, penuh hiasan dengan motif teramat detil itu cepat-cepat memicingkan matanya dan tersenyum. Dan hanya Sthira yang sempat melihat perubahan ekspresi itu.


“Nah, karena kita semua sudah saling berkenalan, mari kita langsung ke urusannya,” ujar Widuri. “Nah, sebagai salah seorang pemuka mistis dan keagamaan di Rainusa ini, aku merasa wajib ikut memantau dan menjaga gunung suci, Idharma. Tentunya aku juga membantu memastikan keselamatan penjaganya, yaitu Sang Singa Suci Dewata, Barong.”

__ADS_1


“Langsung saja ke pokok masalahnya, Sesepuh Widuri.” Arumi pasang wajah tak sabaran.


Widuri memiringkan sudut bibirnya, mungkin karena ia terlalu sering dipanggil “sesepuh”. Ia lantas bicara, “Hmm, sudah lama aku butuh bertemu dengan Sang Barong untuk membahas masalah teramat penting menyangkut dunia gaib. Namun, beliau selalu saja tak bisa ditemui, dan baru-baru ini kami dari kalangan pemuka bahkan dilarang masuk hingga ke Balairung Saka Cahya tanpa alasan jelas.”


“Lho, bagaimana bisa?” tanya Nirya.


“Kalau aku tahu, aku takkan repot-repot memanggil kalian kemari,” jawab Widuri tanpa ekspresi. “Justru aku harus menyusup ke dalam pura dan mencari tahu sebabnya,” jawab Widuri tanpa ekspresi. “Namun, konon dalam kondisi darurat, Pura Kharayan dijaga oleh makhluk-makhluk sakti dan ada jebakan-jebakan. Kurasa bila sampai terjadi salah paham, kesaktianku sendiri takkan cukup untuk menghadapi mereka semua.”


Ekspresi wajah Sthira agak mengendur. Sejauh ini semua penjelasan Widuri cukup masuk akal, namun ia merasakan ada satu hal yang tak beres, yang Widuripun tak tahu.


Lagipula, tanpa menunggu tanggapan Sthira, Nirya dan Arumi, Widuri berkata, “Jadi bagaimana? Aku jadi pemandu kalian dan kalian melindungiku, apa kita sepakat?”



Novel EVERNA Rajni Sari, prekuel EVERNA Cincin Api. Nantikanlah terbitnya!


Sumber gambar referensi untuk Widuri: Pinterest.com


Sumber gambar referensi untuk Rajni Sari, Barong, Rangda: Pinterest.com

__ADS_1


__ADS_2