
Seruan Kiro itu ditanggapi dengan pergerakan cepat kedua komodorai lainnya. Lalu tiga bersaudara itu mengepung Dhaka sambil terus bergerak memutari lawan. Tusukan tombak bisa datang dari arah manapun, setiap saat. Pola serangan dalam formasi ini amat acak.
Entah berapa kali tusukan itu menyerempet, bahkan mendarat di tubuh Dhaka. Namun si komodorai tua tak berseru kesakitan, kecepatan dan kelincahan pergerakannya tak surut sedikitpun.
"Hmm, lumayan. Tapi serangan yang benar-benar kuat itu seperti ini!" Sambil menyerukannya, Dhaka menusuk-nusukkan tombaknya ke segala arah. Bedanya dengan para lawannya lesatan bilah-bilah tombak itu tak tertangkap penglihatan alamiah.
Lagipula, ada daya tajam yang tak terhitung banyaknya terpancar lebih panjang daripada panjang tombak Dhaka, bahkan lebih jauh lagi. Karena itu adalah salah satu jurus andalan Dhaka, yaitu Terjangan Batu Terbang. Akibatnya, ketiga buah hati Dhaka itu menerima ajaran yang keras, rasa sakitnya bagai dihunjam batu-batu tajam yang tak terhitung banyaknya.
Merasa cukup memberikan "hajaran", Dhaka berhenti menyerang dan berdiri di tengah-tengah pelataran dataran tinggi di lereng gunung itu, dikelilingi ketiga lawannya.
Sesaat kemudian, Rambu, Tikha dan Kiro roboh. Hanya Rambu yang bertekuk lutut di tanah, sedangkan kedua saudaranya terkapar.
Perlahan, Dhaka menoleh ke arah sang induk. "Maaf, Dibu," katanya. "Dhaka lihat Dibu harus lebih lama lagi jadi Kepala Suku. Namun, sesuai adat komodorai, Rambu memang yang paling kuat di antara saudara-saudarinya. Rambu akan jadi Kepala Suku baru saat ia siap kelak."
Walau segalanya telah jelas ditunjukkan lewat baku hantam, nada suara Dibu masih meninggi. "Enak saja bicara! Hasil tarung tadi sudah jelas, kaulah yang harus ambil kembali jabatan Kepala Suku, Dhaka! Akhirnya kita sekeluarga berkumpul kembali setelah sekian lama, kita tak boleh terpisah lagi untuk seterusnya! Jangan ulangi kesalahan lamamu!"
Habis sudah kesabarannya, Dhaka menghunjam tanah dengan pangkal tombaknya. "Dhaka ulangi, Dhaka-tak-buat-salah waktu itu! Dhaka juga tak salah kalau kali ini harus pergi lagi! Dulu Dhaka harus utamakan keselamatan suku. Sekarang, Dhaka harus jalankan misi besar demi masa depan seluruh Antapada!"
Air mata Dibu Anam mulai menggenang. "T-tapi, kita sudah terpisah teramat-sangat lama! K-kami sungguh rindu... dan memerlukanmu...!"
Nada bicara Dhaka agak melembut. "Tolong, tunggulah sebentar lagi! Lagipula, Dhaka harus bela Negeri Watas yang telah tampung keluarga dan suku Dhaka. Biar kami orang bebaskan Watas dari tirani Vrithar! Jadi tolong, jangan halangi Dhaka! Saat semua ini selesai, Dhaka janji akan kembali bersama dengan Dibu dan anak-anak kita orang lagi!"
Tangis Dibu Anam meledak seketika. Komodorai betina tua itu tahu, mengingat betapa berbahayanya misi Dhaka itu dan juga Vrithra, mungkin ini bakal jadi kali terakhir Dibu, Rambu, Tikha dan Kiro melihat Dhaka dalam keadaan hidup.
Namun akhirnya akal sehat dan hati yang hanya mementingkan diri dan keluarga sendirilah yang jadi pemenangnya. Di sela isak tangisnya, Dibu Anam berkata, "A-apa yang harus kami lakukan sekarang, Dhaka?"
__ADS_1
"Pertempuran kami mungkin akan membuat Gunung Dantonu meletus, dan letusannya akan membawa kehancuran besar di Watas dan Akhsar. Jadi, cepat kalian ungsikan seluruh suku kita dari Gunung Dantonu, lalu bantu Rai Savitri ungsikan seluruh rakyat dari Watas! Iniadalah perintah terakhir dari Dhaka sebagai Kepala Suku!"
Dibu Anam malah menghampiri Dhaka. Ditatapnya pasangannya itu lekat-lekat. Lalu Dibu membelai lembut pipi dan dagu Dhaka dan berlari pergi ke dalam gua terowongan. Rambu, Tikha dan Kiro juga menatap ayah mereka, kali ini dengan disertai dengan gaya yang lebih bersahabat, tepatnya kekaguman pada seorang pahlawan. Lalu ketiganya lari mengikut sang induk tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sthira lantas mendekat dan menepuk bahu Dhaka. Ia berkata, "Itu tadi amat luar biasa, Dhaka. Aku tak pernah menyangka masalah keluarga dapat diselesaikan lewat kekerasan."
Dhaka berujar, "Itu hanya berlaku di suku komodorai saja."
Belum sempat Dhaka menyelesaikan kata-katanya, sebuah suara seruan pria terdengar. "Siapa saja yang lancang mendatangi puncak pertapaanku, mengganggu usahaku menuntut ilmu pada guruku yang agung?"
Dhaka terkesiap. Walau belum paham betul kata-kata pria itu, ia menegadah dan menatap ke arah sumber suara.
Ternyata pria misterius itu hadir dengan menuruni dinding lereng gunung. Canirwa Krana mengenali makhluk siluman itu, tubuhnya juga serba hijau, namun yang memenuhinya bukan bulu-bulu, melainkan sisik-sisik seperti layaknya kadal, ular atau jenis-jenis reptil lainnya.
Tentu saja Canirwa tahu persis nama si pria hijau itu. "R-Rai Taksaka!? T-tapi Rai di sini untuk bertapa dan berguru? Berguru pada siapa?"
Paras Taksaka tanpa ekspresi, namun memancarkan kharisma ketampanan yang menarik hati siapa saja. Walau tahu Rai Taksaka sedang menempuh jalan kesesatan, tak satupun siluman berani menentang sang pemimpin muda. Bahkan Canirwa Kranapun membisu seribu bahasa.
Bahkan Dhaka sendiripun tak berani maju. Itu karena ia memilki hubungan dengan keluarga dan sukunyayang kini telah jadi warga Watas. Lagipula, Dhaka takut kemarahan Taksaka akan mendatangkan bencana pada sukunya sebelum mereka semua, termasuk keluarga Dhaka mengungsi sejauh mungkin dari Watas.
Nirya dan Arumi tak pula bergerak, entah berada dalam tekanan kekuatan, kharisma dan mungkin pula pesona ketampanan si pemimpin Watas. Dengan mata, hidung dan mulut yang tertata sempurna pada parasnya bagai karangan bunga, menurut pandangan umum Taksaka mungkin lebih tampan daripada Sthira, namun kalah "cantik" dibanding Minata, manusia gaib juru kunci Gunung Ratauka.
Jadi, hanya Sthira yang maju sambil berseru lantang ke arah si siluman tampan. "Rai Taksaka! Kami datang untuk membantu Watas untuk menumpas tirani Vrithra!"
"Apa katamu?" suara Taksaka meninggi dan makin keras. "Vrithra itu adil dan bijaksana! Jangan coba-coba campuri urusan negeri kami, hei bocah asing! Dan kalian semua warga Watas, berbaliklah sekarang ke tempat asal kalian sebelum aku menganggap kalian pengkhianat! Ingat, pengkhianatan akan kuganjar dengan hukuman mati!"
Dalam tekanan "pamungkas" penuh kharisma itu, satu-persatu siluman yang menyertai rombongan Sthira, Arumi, Nirya dan Dhaka berbalik dan membubarkan diri. Anehnya, baik Canirwa maupun Dapu Dapu tak mencegah mereka. Padahal seharusnya Canirwa dan semua siluman itu melintasi Gunung Dantonu dan mengungsikan para siluman dari pusat Negeri Watas.
__ADS_1
"Begitukah?" sergah Sthira. "Kalau memang Vrithra itu adil-bijaksana, ia tak perlu sampai menyihir dan menyandera Rai Savitri. Lagipula, nampaknya ia telah menyihir dan mengendalikan dirimu pula, Rai Taksaka!"
"Bohong! Tahu apa kau, orang asing? Vrithra adalah guruku yang baik! Kau terlalu lancang, kujatuhkan hukuman mati untukmu di sini, sekarang juga!" Nada bicara Taksaka jadi seperti orang gila. Ia menunjukkan gejala yang sama dengan istrinya, padahal sebagai siluman, Taksaka jelas kebal makanan sihir dari Hutan Selaksa Boga. Pasti benaknya tengah dikendalikan dengan sihir yang lebih kuat lagi, dan makanan biasa takkan bisa menghapus sihir itu.
"Heh, rasanya aku bakal terbiasa dijatuhi hukuman mati. Tapi aku juga bakal terbiasa lolos dari itu. Dengan mandau petirku, tentunya!" Kedua tangan Sthira menggenggam Gharma erat-erat. Aura petir terpancar, meletup-letup dari sekujur tubuhnya.
Di sisi lain, Rai Taksaka kini memegang semacam roda besar yang sejak tadi tersandang di punggungnya. Dhaka yang melihat senjata aneh itu bertanya-tanya, bagaimana cara Taksaka akan bertarung dengan roda besar itu?
Daripada larut dalam pertanyaan-pertanyaan di pikirannya, Dhaka memilih mengamati pertarungan antara dua laki-laki yang baru saja meletus itu. Sebagai sesama laki-laki, ia tahu Sthira takkan mau ada yang ikut campur. Dhaka dan teman-teman lainnya baru akan turun tangan bila kekuatan Taksaka ternyata jauh melampaui Sthira sehingga pertarungan yang adil dan imbang jadi mustahil.
Yang tampak kini adalah jual-beli jurus dalam kecepatan tinggi. Sthira bergerak lebih cepat daripada lawannya berkat asupan energi tambahan dari jurus Langkah Halilintar yang memperkuat kedua kakinya.
Saat Sthira hendak mendaratkan satu sabetan cepat dan mendatar, Rai Taksaka melompat tinggi-tinggi sambil menangkis dengan rodanya. Namun tangkisan itu rupanya hanya menerpa udara saja.
Taksaka terkesiap. Ia tak sempat lagi bereaksi. Ternyata lawan telah mengubah jurus. Tusukan Sthira menjadi serangan melompat sambil menyabetkan golok dari bawah ke atas, yaitu jurus Naga Halilintar Mendaki Langit. Terpaksa si Raja Siluman menangkis dengan tenaga seadanya. Bilah mandau berbenturan keras dengan roda besi, namun daya petir yang lebih kuat dari tenaga fisik lawan melontarkan roda sekaligus pemegangnya.
Tak sudi tersuruk dan kehilangan wibawa, Taksaka mendarat di atas kedua kakinya. Lantas ia menerjang maju lagi, teriring teriakannya yang membahana. Anehnya, laki-laki bersisik hijau itu bergerak dengan memegang dan memijak roda itu, ikut berputar dengan rodanya. Diperkuat prana api, ia jadi tampak seperti roda api yang berputar tanpa henti, meninggalkan jejak membara pada jalur tanah yang dilaluinya. Kecepatannya melebihi Langkah Halilintar.
Akibatnya, Sthira terhantam telak. Tak hanya itu, roda api terus melindas tubuh Sthira yang jatuh, menekannya hingga menghantam tanah. Suara berderak keras diiringi pula dengan teriakan kesakitan Sthira.
"Sthira!" Dhaka bergerak hendak menolong rekannya, namun Canirwa pasang badan menghalanginya.
"Tunggu dulu, Dhaka!" kata Canirwa. "Jurus andalan Taksaka itu, Jalur Bara Pemusnah memang dahsyat, tapi tampaknya rekanmu itu masih sanggup menahannya. Lihat!"
Dhaka menatap ke arah yang ditunjuk Canirwa. Tampak Sthira telah berdiri lagi. Ada noda hitam yang membujur sepanjang tubuh depannya hingga baju dalamnya robek. Sthira terhuyung sejenak, lalu sesaat kemudian melesat lagi, menyerang lawannya.
Sumber gambar referensi untuk Komodorai adalah Snake Man dari game Dark Souls untuk PlayStation 3.
__ADS_1