
Sedangkan Dhaka sendiri tak tahu apakah harus panik atau berterima kasih. Akhirnya ia kolos juga dari tekanan jaring petir Vrithra.
Dhaka lantas menghampiri Taksaka. Si Raja Siluman yang paling cepat pulih dari "kibasan petir" tadi menyerahkan tombak kepada Dhaka dan siaga dengan senjatanya sendiri, roda besi. Dhaka dan Taksaka memang terluka paling ringan, namun kini mereka hanya bisa diam di tempat seolah-olah telah kehilangan akal.
Situasi ini diperparah dengan turunnya hujan deras disertai gelegar guntur dan halilintar sambut-menyambut.
"Haha! Bahkan Sang Angkarapun mendukungku dengan asupan energi yang berlimpah! Aku suka zaman ini!" seru Vrithra. "Hei Ular Kecil, ternyata kau juga berniat menipu dan mengkhianatiku ya! Tenang saja, kusisakan kematian paling mengerikan untukmu!"
Diancam begitu, Taksaka malah balas menghardik, "Huh! Saat aku kalah darimu, aku sudah berniat setia dan mengabdi padamu dengan sepenuh hati. Aku sudah mengakui kekuatanmu, mengira kau pantas jadi pelindung baru Watas. Tapi kau malah menyihirku dan menjadikanku bonekamu! Kini, dengan dukungan Sang Mahesa dan Sang Srisari, inilah saatnya untuk menghukummu lagi, seperti di Zaman Dewa-Dewa dulu!" Sengaja Taksaka mengutip kisah si resi Arcapada tentang pembuatan senjata dewa, Vajra dari jasad Vrithra.
"Apa!?" Vrithra meradang. "Dasar tak tahu diri! Kalian semua ini bagai semut dengan gajah dibanding insan yang terakhir kali mengalahkanku, raja dewa-dewa Arcapada, Indra!"
"Lihat saja nanti," ujar Taksaka, merampungkan jurus silat lidahnya. "Rencana siapa yang akan berhasil, Sang Mahesa dan Sang Srisari, atau Sang Angkara."
"Satu hal yang pasti, yang terkuatlah yang akan menang! Rasakan ini, Meriam Halilintar Digdaya!" Vrithra lantas membuka moncongnya lebar-lebar, sebentuk bola petir muncul di antara kedua belah rahangnya.
Mengenali gelagat ini, Taksaka berseru, "Dhaka, menyebar! Hindarkan rekan-rekan lain dari serangan ini!"
"Baik!" Saat Dhaka mulai lari, Vrithra menembakkan meriam petirnya. Larik petir setebal pilar keraton atau batang pohon jati mencecar Taksaka lebih dahulu.
Ini memberi kesempatan pada Dhaka untuk "memungut" Nirya dan Sthira sekaligus, menghindarkan mereka sejauh mungkin dari serangan sang naga.
Setelah mersa teman-temannya aman, Dhaka baru kembali memusatkan perhatiannya pada musuh. Tampak larik pilar petir Vrithra masih mengejar Taksaka, juga Arumi. Posisi tubuh dan kepala Vrithra yang sedang melayang itu membelakangi Dhaka.
Kesempatan! Dhaka lantas menghimpun tenaga dalam lewat pernapasannya, lalu berlari secepat mungkin. Sasarannya adalah titik terlemah setiap naga, yaitu kulit perut bawahnya.
Dhaka berhasil menyelinap dan memposisikan dirinya di bawah tubuh Vrithra. Saat itulah ia melompat, menusuk-nusukkan Tombak Komodorai secepat kilat dengan kekuatan penuh dari jurus Rentetan Hunjaman Tombak.
Kabar baiknya, saat Dhaka kembali menjejak tanah, ujung tombaknya masih terus menusuki perut Vrithra yang makin turun mendekati tanah. Akhirnya, kulit tebal pelindung si naga petir itu jebol dan pecah-pecah.
Walau begitu, Dhaka tak sempat terus menghunjam sampai ke daging, apalagi ke posisi yang ia kira adalah letak jantung si naga perkasa itu. Sambil berdecak kesal, terpaksa Dhaka menjatuhkan diri ke samping, lalu bergulingan dengan cepat.
__ADS_1
Saat itu pula, kaki raksasa Vrithra mendarat dengan suara berdebam hanya bebeberapa langkah manusia jaraknya dari posisi tubuh Dhaka yang berbaring telentang.
"Hih! Kaukira kau mampu melukaiku, Kadal Kecil?" ejek Vrithra yang baru saja menghentikan semburan petirnya. "Lagipula, itu tadi baru serangan pemanasan. Kupastikan kali ini kalian semua kena jurusku!"
Lagi-lagi Vrithra menjulurka lehernya. Kali ini, moncongnya menembakkan petir seperti yang menyambar-nyambar dari kumpulan awan hitam di langit. Gilanya, petir-petir dari langit itu beresonansi dan seakan mendukung Vrithra, turut menyambar ke arah sasaran-sasaran di kaldera. Taksaka dan Arumi makin pontang-panting menghindar.
Di sisi lain, Dhaka malah kembali pada rekan-rekannya. Melihat Nirya sudah bangkit, ia berseru pada gadis itu, "Nirya, bawa Sthira ke dekat dinding dan rawat dia! Kamu orang akan aman dari petir langit! Dhaka lindungi kalian dari petir Vrithra!"
Nirya seketika bergegas, menyeret tubuh pingsan Sthira ke pojokan dinding kaldera.
Saat Dhaka hendak berbalik ke arah Vrithra, tiba-tiba punggungnya terasa nyeri bagai dihunjam belati. Rupanya ia tersengat telak petir dari Vrithra. Anehnya, kali ini hanya sebatas rasa nyeri itulah yang ia rasakan. Tak ada luka atau nyeri tambahan baik di luar maupun dalam tubuh si komodorai perkasa itu.
Penjelasan terbaik adalah, mungkin tenaga dalam Dhaka yang berunsur tanah sudah beradaptasi dengan kekuatan tenaga petir Vrithra sejak sambaran pertama tadi. Jadi kini Dhaka telah memiliki tenaga yang cukup, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya yang bekerja sesuai sifat alami tanah, yaitu peredam petir. Namun, di balik kabar baik itu Dhaka bertanya-tanya, bila ia menjadi perisai menghadapi Vrithra, siapa yang menjadi pedangnya?
Dengan cepat pula, akal Dhaka terbit. Ia lalu mendekati Taksaka yang masih tunggang-langgang. "Rai, kita harus lawan balik!" serunya. "Biar Dhaka tahan musuh, Rai serang!"
"Kau yakin? Baik, kita bertukar senjata lagi!" Taksaka melemparkan roda besinya ke arah Dhaka dan menangkap tombak dari Dhaka.
Dhaka tahu, ia takkan bisa menggunakan roda besi semahir Taksaka. Namun setidaknya, dengan perannya sebagai penahan serangan, firasat si komodorai itu berkata senjata di tangannya ini lebih ideal daripada tombak.
Yang terjadi adalah, selarik petir Vrithra kembali terarah pada Taksaka begitu dekat, sehingga tak terhindarkan. Namun Dhaka cepat menahan sambaran petir itu dengan roda besi dan langsung berjongkok, meletakkan senjata itu di tanah. Daya petir di senjata itu teredam sepenuhnya oleh tanah berbatu kaldera.
Seakan memahami gelagat Dhaka lewat jurus pertahanan itu, Taksaka melompat dari punggung si komodorai yang ia jadikan pijakan. Lantas, Taksaka menusukkan tombaknya dengan kecepatan supranatural. Sehingga yang tampak hanya hujan jarum api yang amat deras dan amat rapat. Itulah jurus Jalur Bara Pemusnah versi tombak.
Taksaka sengaja mengincar bagian perut Vrithra yang kulitnya sudah pecah-pecah. Entah sudah berapa tusukan yang mendarat di titik yang sama, ia tak kunjung bisa membuat Vrithra berdarah.
"Hahaha! Itu tadi hanya untuk menggaruk gatalku saja, Ular Kecil! Nah, biar kubalas menggarukmu!" Sambil mengatakannya, Vrithra mengayunkan lehernya. Deretan taring di rahangnya siap mencabik-cabik lawannya.
Taksaka bereaksi dengan bergerak mundur. Namun dirinya tadi terlalu dekat dengan si naga raksasa. Kesalahan fatal ini hampir pasti merenggut nyawa si Raja Siluman.
Untunglah Dhaka menghantam leher Vrithra sekuat tenaga dengan roda besi. Rahang maut terpental oleh prana tanah nan dahsyat.
__ADS_1
Mengarahkan kepalanya kembali pada para lawannya, Vrithra bicara dengan nada sungguh geram, "Grr! Tak kusangka, satu ular kecil dan satu kadal kecil bisa merepotkanku seperti ini! Cukuplah sudah permainan ini! Kuhabisi kalian semua dengan andalan utamaku, Tarian Naga Halilintar!"
Si naga-trenggiling itu lantas bergulung hingga tampak seperti bola. Hampir seketika, seluruh tubuhnya seakan terbungkus oleh cahaya petir yang berkilatan. Lalu, tubuh raksasanya yang seharusnya sulit terbang cepat melesat bagai bola petir. Kecepatan sambarannya setara dengan halilintar dari langit yang sedang hujan di atasnya.
Terperangahpun tak sempat, giliran Dhaka ikut pontang-panting lari menghindari serangan Vrithra. Jelas ia tak yakin segenap prana tanahnya mampu menangkis, apalagi meredam energi petir dewata itu.
Gawatnya, kali ini yang pertama dicecar Vrithra justru Dhaka. Jangan-jangan naga yang amat cerdas itu sudah menebak taktik "Tombak dan Perisai" Dhaka dan Taksaka.
Lebih gawat lagi, secepat apapun Dhaka berlari, Vrithra makin lama makin dekat saja. Efek gerakan Vrithra terlihat seperti selarik bola petir yang amat besar, dan meliuk persis seperti hendak menggilas mangsanya.
Dhaka berusaha berkelit dengan mengubah arah larinya. Malang, ia salah arah. Dinding kaldera yang menjulang tinggi menghadang di depannya.
Terpaksa Dhaka berbalik, menghadapi Vrithra dengan mengulurkan roda besinya. Pendar kelabu kecoklatan seakan terpancar dari seluruh tubuhnya. Tak dipungkiri lagi, Dhaka berniat meredam serangan petir lawan dengan segenap prana tanah pamungkasnya.
Ini pertaruhan hidup-mati yang mustahil Dhaka menangkan, namun setidaknya si komodorai perkasa itu berharap pengorbanannya ini akan memberi setitik harapan bagi rekan-rekannya untuk bertahan hidup, bahkan menumbangkan musuh mengerikan ini.
"Haha! Kini Kadal Kecil akan jadi bagian dalam diriku!" Muncul rahang Vrithra yang menganga lebar-lebar, siap menelan Dhaka bulat-bulat. Bentuk bolanya kembali memanjang ke bentuk naga-trenggiling semula.
Namun, kepala petir si naga berbenturan, lalu ditahan oleh daya perisai tanah dari roda besi, diperkuat dengan energi dari jurus pamungkas terkuat Dhaka, Maha Bencana Gempa Semesta. Untuk beberapa saat, Dhaka tampak cukup berhasil menahan serangan Vrithra.
Melihat kesempatan ini, Taksaka, Nirya dan Arumi maju menyerang sang naga. Namun daya petir yang masih terpancar kuat dari tubuh Vrithra lagi-lagi membuat ketiganya terpental.
Di sisi lain, roda besi malah berangsur-angsur makin tertekan ke arah tubuh pemegangnya. Dhaka mengerang pilu saat daya petir Vrithra terus menjalari dan mendera seluruh tubuhnya.
Di puncak penderitaannya, di penghujung nyawanya Dhaka berteriak, "Komodoraai!"
Tiba-tiba tekanan yang menerpa Dhaka berkurang. Terkesiap, si komodorai menatap lebih jelas ke arah titik pusat benturan. Ternyata selain roda besi Dhaka, ada tiga tombak lain yang menahan petir kepala naga dengan energi tanah yang sama dengan milik Dhaka.
Lebih terkesiap lagi Dhaka saat mengenali ketiga penolongnya itu. "Dibu, Rambu, Tikha! K-kalian...!"
Dibu Anam malah menghardik, "Biar kami membantumu! Kiro yang mengungsikan suku kita dan para warga Watas lainnya!"
__ADS_1