EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DANTONU Bagian 1


__ADS_3


Setelah berjalan menyusuri gua terowongan yang adalah gerbang masuk ke Negeri Watas, Dhaka dan kelompoknya menatap langit lagi saat tiba di udara terbuka. Tak ada bintang tampak di langit legam itu, hanya bulan purnama yang seakan mengintip dari balik serumpun awan tebal.


"Mungkin sebaiknya kita kembali saja dan diam dalam gua yang teduh untuk beristirahat. Kita lanjutkan perjalanan saat hari terang nanti." Itulah usul si pemimpin kelompok, Sthira.


Namun si pemandu, Dapu Dapu menggeleng keras. "Jangan! Kita harus bergerak secepat mungkin sebelum Vrithra menemukan kita. Lagipula kalian sudah mengambil waktu istirahat saat menyusuri gua terowongan tadi, 'kan?"


Nirya dan Sthira bertukar tatapan, sedangkan Arumi mengerutkan dahinya.


Sedangkan Dhaka mengangkat bahu. "Yah, mau bilang apa lagi. Memang sulit ramal cuaca dari dalam gua."


Nirya bertanya, "Jadi harus bagaimana kita sekarang?"


Dapu Dapu menjawab cepat, "Ayo, ikut Dapu Dapu lari! Semoga kita bisa keluar dari hutan dan tiba di desa sebelum hujan lebat turun!"


"Kalau begitu, ayo!" Sthira bagai memberi aba-aba, kelima insan mulai lari menyusuri rerimbunan pohon.


Bahkan Dhaka sendiri baru menyadari penyebab Dapu Dapu menyarankan agar lari dalam gelap. Rupanya Hutan Selaksa Boga ini sama sekali tidak gelap saat malam. Di tiap cabang pohon, pelbagai macam dan bentuk "buah" bergelantungan, berpendar terang bagai rangkaian lentera yang tersebar sejauh mata memandang.


Yang lebih ajaib lagi, wujud "buah-buahan" itu tak lain adalah pelbagai macam makanan lezat dari Antapada dan segenap penjuru dunia.


"Astaga, ada pohon berbuah daging rendang, masakan khas Swarnara!" seru Nirya sambil terus berlari.


"Ayam goreng bumbu kacang Jayandra!" Arumi terkesiap.


"Bebek panggang ala Rainusa!" seru Dhaka pula.


"Gulai kambing bumbu rempah hutan khas Kalingga!" Sthira sampai ternganga, air liurnya terbit seketika. "Aku ingin mencicipinya, sekalii saja!"


Sthira seketika menghentikan larinya dan berbalik ke arah salah satu pohon itu, yang menurut pemuda Kalingga itu berbuah masakan impiannya.

__ADS_1


Namun Dhaka cepat-cepat pasang badan di depan Sthira, kedua tangannya terentang lurus. "Jangan, Sthira! Ingat kata Dapu Dapu, semua makanan yang tumbuh dari pohon-pohon itu ada sihir jahatnya! Kalau Sthira makan, akal sehat Sthira bakal hilang!"


Maksud baik Dhaka malah dibalas Sthira dengan dorongan kasar. "Segigit saja takkan ada pengaruhnya! Minggir kau!"


Namun Dhaka bersikukuh, terus bergerak menghalangi rekannya. "Kita tak tahu seberapa besar pengaruh kekuatan sihir makanan itu! Nanti saja, setelah misi kita selesai kita makan gulai kambing sepuasnya!"


"Aku amat lapar dan aku harus makan sekarang! Minggir, atau kubuat kau menyesali tindakanmu itu!" Sthira mencengkeram dan mencoba mendorong bahu Dhaka lagi.


Namun kali ini Dhaka bergeming di tempat seperti arca atau patung batu raksasa. Sthira mendorong lebih kuat lagi dan tak kunjung menggerakkan si komodorai perkasa itu.


"Menyebalkaan!" Sthira lantas menghantamkan punggung tinju sarat daya petir ke arah kepala Dhaka, rekannya sendiri. Dari gelagat ini saja sudah amat jelas, bahkan wujud dari "buah ajaib" itu saja mampu menyihir, mempengaruhi benak orang yang melihatnya.


Nirya dan Arumi mungkin sudah terbiasa makan sedikit atau masih cukup kenyang, sehingga tak terpengaruh sihir. Dhaka yang adalah siluman nampaknya kebal terhadap sihir di Watas ini. Namun Sthira, yang alaminya adalah laki-laki yang butuh lebih banyak asupan energi dari makanan daripada wanita untuk segala pergerakannya. Jadi wajar saja ia yang paling pertama terpengaruh oleh ilusi masakan impiannya.


Jadi satu-satunya hal yang dapat Dhaka lakukan adalah berujar, "Maaf Dhaka kasar," sambil menangkap tinju Sthira itu dengan telapak tangannya sendiri. Lalu Dhaka mengerahkan tenaga dalamnya yang berunsur tanah, meredam kekuatan petir Sthira.


Meraung seperti hewan buas, Sthira meninju dengan tangannya yang bebas. Bereaksi cepat, Dhaka memuntir tangan Sthira yang dicekalnya, lalu memutar tubuh hingga membelakangi lawannya. Secepat kilat, Dhaka menghantamkan sisi telapak tangannya seperti palu tepat di tengkuk lawan. Akibatnya, Sthira tumbang. Sebelum wajah tampan-belia itu mencium tanah, Dhaka cepat-cepat menangkap dan memapah tubuh ketua kelompoknya itu.


"Ada lagi yang kena sihir?" tanya Dhaka sambil menoleh ke sekelilingnya. "Kalau ada, dia harus Dhaka 'tidurkan' seperti yang satu ini."


"Tidak ada? Kalau begitu, satu masalah telah teratasi." Dhaka memberi arti lain untuk kata "atas" dengan mengangkat tubuh Sthira ke atas punggungnya. Ia lantas menggendong pendekar yang sedang pingsan itu dan kembali berjalan.


"Dapu Dapu suka cara Dhaka mengatasi masalah, langsung dan lugas," celetuk si pemandu.


"Tapi, gara-gara masalah tadi, kita kini dalam masalah baru." Nirya menunjukkan maksudnya itu dengan mengulurkan telapak tangannya. Rintik-rintik hujan berjatuhan makin lama makin banyak.


"Terpaksa kita tak bisa cepat-cepat," ujar Dapu Dapu sambil mengangkat bahu. "Kita harus berteduh di bawah pohon tinggi dan rindang ini. Harap saja tak ada petir yang menyambar ke arah kita."


Seakan sedang menyahut, saat itu pula kilatan petir tampak menyambar di kejauhan. Kekuatan petir itu terukur seketika oleh suara guntur yang menyusul kemudian. Guntur sangat bising, memekakkan bahkan telinga Dhaka pula, tanda petir tadi pasti amat dahsyat. Tak hanya itu, petir dan guntur lantas susul-menyusul.


"Gila, di atas Gunung Barkajangpun suara guntur tak sampai sekeras ini, bahkan dalam hujan lebat sekalipun!" seru Nirya, nada bicaranya mulai terkesan panik. "Mungkin Naga Vrithra sedang murka!"

__ADS_1


Dapu Dapu menggeleng. "Justru makin lebat hujannya, makin senang Vrithra jadinya.  Itu berarti ia berkesempatan memancing petir agar timbul, lalu menyerap energinya bagai sedang berpesta-pora, makan sepuasnya."


"Gawat...!" Paras Nirya memucat seketika.


Namun Dhaka tahu seketika, penyebab pucatnya Nirya bukan hujan lebat ataupun Vrithra. Dhaka lantas melihat banyak sosok samar-samar yang menghadang tepat di depan mereka. Ia melayangkan pandangan sekelilingnya dan menemukan sosok-sosok lainnya seakan tengah membuat pagar betis, mengepung seluruh rombongan Dhaka.


Salah satu sosok itu berseru lantang, "Siapa kalian?! Beraninya kalian menyusup diam-diam di Negeri Watas yang tersembunyi ini!"


Karena Sthira masih pingsan, Arumilah yang berdiplomasi. "Kami para pendekar datang dengan maksud damai, atas undangan warga kalian, Dapu Dapu. Kami perlu menghadap Rai Taksaka secara rahasia, karena itulah kami bergerak saat malam."


"Huh, alasan!" bentak si pemimpin pengepung. "Saudara-saudaraku, pastikan mereka semua jadi pupuk untuk pohon-pohon di sini!"


"Tunggu dulu!" teriak Dapu Dapu. "Dapu Dapu sengaja bawa mereka kemari untuk maksud baik! Biarkanlah kami menghadap Rai Taksaka dulu, biar beliau yang menentukan segalanya!"


"Ha! Justru Rai Taksaka telah bertitah, semua orang asing yang datang, apalagi menyusup di Watas harus dibunuh di tempat! Termasuk pula kau, siluman pengkhianat!" Si pemimpin yang ternyata adalah siluman manusia-serigala menunjuk ke arah Dapu Dapu.


Dapu Dapu terperangah. Baru saja anak laki-laki itu menunjukkan bahwa usianya mungkin jauh lebih tua daripada wujud belianya. Namun saat tahu sang penguasa negeri yang ia kagumi berubah menjadi tiran seperti Vrithra, Dapu Dapu seakan kehabisan kata-kata.


Dhaka yang melihat gelagat Dapu Dapu itu menghunus tombaknya. Tampaknya ia dan kelompoknya harus berjuang mati-matian di sini, melawan insan-insan yang seharusnya mereka tolong dan merdekakan. Nirya dan Arumi juga siap dengan senjata-senjata mereka, sementara Sthira kali ini jadi orang yang harus mereka lindungi karena masih tak sadarkan diri.


Hujan deras lantas mengguyur medan tarung ini, memberi keuntungan bagi para pendekar yang lebih terlatih bertarung dalam gelap daripada para siluman pengepung. Namun tetap saja para pendekar kalah jumlah. Hasil pertarungan ini sangat mungkin bakal amat merugikan bagi kedua belah pihak.


"Oh, jadi kalian ingin melawan?" bentak si siluman serigala. "Baik, jadi tak perlu Rai yang menjatuhkan hukuman mati bagi kalian! Ser...!"


Tiba-tiba terdengarlah suara melengking yang amat memekakkan telinga. Semua insan, baik manusia maupun siluman tanpa kecuali menutup telinga masing-masing.


Dalam gelap dan hujan deras, mata komodorai Dhaka mampu melihat dengan jelas sosok si peneriak. Ternyata ia adalah siluman manusia wanita utuh dengan sepasang sayap dan ekor burung cendrawasih, jelas bukan wujud unggas sepenuhnya. Bulu-bulu pada sayap dan ekor siluman itu berwarna-warni pelangi dan berpendar cerah, bagai sumber cahaya mandiri.


Anehnya pula, rambut wanita itu yang panjang dan juga berwarna-warni pelangi malah tetap berkibar-kibar bagai bendera, sama sekali tak terpengaruh bahkan terkena guyuran hujan.


Geligi runcing Dhaka gemeletak. Kesaktian siluman yang satu itu mungkin setara atau sedikit di bawah Cayari Aronawa atau Cayari Yumano. Haruskah ia dan teman-temannya melawan sosok sakti ini pula? Kalau ya, kemungkinan untuk lolos dari tempat ini hidup-hidup jadi bagai gajah Swarnara berusaha memasuki lubang semut dalam gua.

__ADS_1


Saat suara melengking berhenti, Dapu Dapulah yang pertama bicara, "Astaga... ibu?"


Referensi untuk siluman manusia-komodo, Komodorai adalah kadal Komodo. Sumber: Website Liputan 6.


__ADS_2