
Dhaka melayangkan pandangannya sekeliling. Pemandangan yang ia lihat hanyalah hutan, anak sungai yang membelah di tengah-tengah hutan itu, sebuah tebing dan air terjun di tengah-tengah tebing itu.
Air dari air terjun ditampung di sebuah telaga, lalu dialirkan terus ke sungai. Suara gemuruh dari deburan air yang terus-menerus menandakan arus air terjun ini cukup deras. Namun, tak ada satupun dari seluruh pemandangan itu yang mirip dengan gerbang atau pintu masuk yang dimaksud Dapu Dapu itu.
"Ayo, ikut Dapu Dapu! Kalian belum lelah dan ingin istirahat di sini, 'kan?' seru si pemandu.
"Belum," jawab Sthira. "Ayo, teman-teman."
Dhakapun tak ingin protes karena memang ia juga belum mengenal daerah ini. Sebagai negeri tersembunyi, selayaknyalah gerbang masuk menuju Watas tersembunyi pula. Jangan-jangan, menilik arah Dapu Dapu melangkah, gerbang itu ada di balik air terjun.
Rombongan lalu berjalan hingga merapat ke dinding tebing di tepi telaga. Masalahnya kini, agar sampai di tirai air terjun di tengah dinding tebing itu seseorang harus berenang melintasi telaga atau memanjat, merayapi dinding tebing. Itulah petunjuk yang disampaikan Dapu Dapu selanjutnya.
"Ah, Dhaka rayapi tebing saja," ujar si komodorai. Padahal seperti dugaannya, Nirya, Sthira dan Arumi sama-sama memilih berenang, menganggap itu lebih mudah daripada memanjat dan merayapi tebing.
Anehnya, Dapu Dapu si manusia-pesut malah memilih merayap di dinding bersama Dhaka. Dhaka tak sempat menanyakan alasan anak itu. Pikirannya terpusat pada pegangan tangan dan kakinya yang menempel sangat kokoh di dinding tebing.
Tiba-tiba sesuatu menerpa, lalu bergelayutan seperti beban di punggung Dhaka. Si komodorai menoleh dan melihat ke belakang. Tampak wajah Dapu Dapu tersenyum menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang putih-kekuningan.
"Ya ampun, dasar bocah." Dhaka meringis, menahan rasa nyeri di tangan, kaki dan punggungnya. Langkah-langkah yang diambil si komodorai selanjutnya lebih hati-hati dan sedikit lebih perlahan, namun pasti.
Saat mendekati tirai air terjun, Dhaka baru melihat ada celah di antara dinding tebing dan tirai air. Mereka yang mengambil jalur merayap di dinding tebing dapat langsung memasuki celah itu dengan resiko lebih kecil terguyur dan terdorong ke bawah oleh air bertekanan tinggi.
"Dapu Dapu duluan, ya!" Tanpa menunggu jawaban komodorai yang ia tunggangi itu, si bocah gimbal melepaskan pegangannya dan merayap cepat melalui celah.
"Beban"-nya terlepas, Dhaka menarik napas lega. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu dan menengok ke bawah. Di bawah sana, rekan-rekan Dhaka yang berenang di telaga dihadang oleh tirai air.
Air terjun amat deras terus-menerus menghantam permukaan air telaga hingga membuat buih membubung tinggi. Siapapun yang nekad berenang menembus dinding itu, bahkan menyelami telaga bakal terhantam air yang kekuatannya kira-kira setara dengan tertimpa longsoran puncak salju Yamkora.
__ADS_1
Arumi, Nirya dan Sthira berenang ke tepian telaga sedekat mungkin dengan dinding tebing, namun mereka tetap terhadang oleh dinding buih. Sama sekali tak ada celah untuk masuk, kecuali dengan cara merayapi dinding tebing dan tiba di atas telaga itu.
Masalahnya kini, arus yang dihasilkan dari pertumbukan antara air terjun dan permukaan air telaga itu terus-menerus mendorong para perenang menjauhi dinding tebing. Kalau begini jadinya, mereka harus berenang kembali ke bagian telaga yang arusnya tak terlalu kuat, lalu mulai memanjat dan merayapi dinding lagi. Tapi sekuat apapun para pendekar itu, aksi itu akan menguras tenaga jasmaniah mereka.
Memperhitungkan itu semua, Dhaka menuruni tebing itu sampai tepat di atas dinding buih. Ia menancapkan kuku-kuku runcingnya, mencengkeram erat dinding batu dengan tangan pertama, lalu tangan kedua mengulurkan pangkal tombaknya dan berseru, "Kemari, raih tombak Dhaka! Dhaka angkat satu-satu ke celah!"
Tak percaya Dhaka bisa sekuat seperti yang ia katakan itu, Sthira memilih berenang memutar dan memanjat tebing sendiri saja.
Nirya yang langsung percaya mencoba mengulurkan tangannya, tapi tak sampai ke tombak Dhaka. Tak kehabisan akal, gadis itu melontarkan kerambit berantainya sehingga ujungnya membelit erat tombak si komodorai.
Tanpa membuang saat kerambit dan tombak saling berkait, Dhaka berteriak keras. Dengan satu entakan, Dhaka menarik dan mengayunkan tombaknya ke arah celah. Tubuh Nirya terangkat dari air, terbawa daya entakan Dhaka sampai memasuki celah itu. Ya, Dhaka memang sekuat itu.
Namun Nirya malah melepaskan kerambit berantainya yang masih terus terikat di ujung tombak Dhaka. Apa maksud Nirya? Apa gadis itu melakukan kesalahan?
Ternyata Dhaka memanfaatkan senjata yang dipercayakan padanya itu untuk menolong rekan-rekan Nirya. Seperti nelayan mengayun kailnya, si komodorai kembali mengayunkan tombaknya. "Ujung kail" yang adalah salah satu kerambit Nirya tercebur di air, dan Arumi cepat-cepat meraih kerambit itu.
Dengan cara yang sama seperti melontarkan Nirya, namun dengan tenaga yang lebih besar, Dhaka membuat si gadis berzirah seakan terbang. Arumi mencengkeram erat dinding tebing, melepaskan kerambit dan merayap masuk lewat celah itu pula.
Namun dengan nekad pula Dhaka membuka satu kemungkinan baru. "Sthira, pegang ujung kerambitnya!" serunya.
Tanpa pikir panjang, Sthira meraih ujung kerambit itu, namun meleset. Dua kali lagi ia mencoba meraihnya, namun kerambit atau rantaipun tak terpegang. Sthira merayap untuk mendekat lagi. Kali berikutnya, ayunan Dhaka malah menyebabkan ujung bilah kerambit menggores lengan Sthira hingga berdarah. Sthira berteriak kesakitan, pegangannya di tebing nyaris terlepas.
"Coba terus!" seru Dhaka sambil mengayunkan tombaknya lagi.
Satu kali lagi gagal, Sthira berteriak. Ia mengerahkan segenap kekuatannya, merayap makin dekat ke arah Dhaka. Kali ini, ia baru berhasil menggenggam rantai kerambit.
"Pegang erat-erat!" Kali ini, Dhaka mengerahkan segenap tenaganya. Ayunan tombak dan rantai kerambit membawa serta tubuh Sthira bagai terbang hingga masuk ke celah sempit.
Namun, entah karena mendadak kehabisan tenaga, tiba-tiba pegangan Dhaka di dinding tebing terlepas. Si komodorai jatuh tanpa ampun ke arah arus deras, dekat sekali dengan titik pertumbukan antara air terjun dan permukaan telaga. Refleks, Dhaka memejamkan mata, mengangkat tangan dan menggenggam erat tombaknya, berusaha melindungi diri sendiri dari deraan kekuatan alam.
__ADS_1
Mendadak, bagian pangkal tombak Dhaka tersentak keras. Ternyata ada kekuatan yang menjalar dari ujung kerambit rantai, lalu menarik tombak beserta tubuh Dhaka hingga terangkat dan terus memasuki "celah aman".
Lalu, Dhaka merasakan tubuhnya terantuk di tanah padat. Ia membuka mata dan mendapati dirinya dalam semacam ceruk mulut gua. Posisinya sudah aman, kini setidaknya ia terhindar dari bahaya.
Dhaka lalu menegadah dan melihat para penolongnya, yang tak lain adalah Nirya, Sthira dan Arumi. Demikianlah yang terjadi, Dhaka menolong rekan-rekannya dan balik ditolong rekan-rekannya pula. Keempat insan itu bertukar senyuman sarat rasa terima kasih.
Sthira yang juga kehabisan tenaga jatuh terduduk di tanah, sementara Arumi juga duduk perlahan-lahan untuk istirahat sejenak. Hanya Nirya yang sibuk melepas kerambitnya dari tombak Dhaka, lalu bergegas menghentikan pendarahan di lengan Sthira dengan sihir Semilir Angin Penyembuh.
Tiba-tiba Dapu Dapu malah menghardik, "Oi, jangan duduk-duduk saja! Cepat, kita harus memasuki gerbang ke Watas sebelum penjaga gerbang mendengar kedatangan kita!"
"Tak bisa...!" Sthira justru mengerang kesakitan saat lukanya kembali merapat. "Kami butuh waktu sejenak saja, aksi tadi benar-benar menguras tenaga!"
"Tapi...!" Dapu Dapu tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Itu karena dari dalam gua terdengarlah derap langkah-langkah mantap nan berat.
Dhaka terkesiap. "Astaga, apakah si penjaga gerbang ini makhluk raksasa?" Kalau memang ya, berarti makhluk itu telah berhasil "memerangkap" Dhaka dan kelompoknya yang dalam kondisi kelelahan.
"Entahlah, mungkin ya!" Dapu Dapu sudah lama meninggalkan Watas, jadi ia sendiripun tak tahu pasti siapa atau apa wujud si penjaga.
Beberapa saat kemudian, sesosok makhluk tinggi-besar keluar dari gua. Dhaka tak tahu apa ia harus menarik napas lega atau justru curiga dan siap bertarung. Makhluk itu berdiri tegak seperti manusia dan bertubuh sangat tambun. Kabar baiknya, ukuran tubuhnya bukan raksasa seperti perkiraan Dhaka sebelumnya. Namun kabar buruknya, si penjaga tampak lebih besar daripada Dhaka, anggota bertubuh terbesar dalam kelompoknya.
Dhaka mengenali wajah makhluk itu dari dua hewan yang belum lama ini diperlihatkan Dapu Dapu padanya di Hutan Lasuardi yang baru mereka lintasi dari pantai. Kepala si makhluk mirip babirusa, dengan tanduk mencuat tegak lurus dan memanjang seperti tanduk lembu anoa jantan dewasa.
Yang membuat Dhaka jadi waspada adalah ekor anoa si siluman itu yang mengibas kesana-kemari sejauh-jauhnya. Seketika itu pula ia teringat peringatan Dapu Dapu. "Awas! Itu tandanya si anoa sedang marah atau merasa terancam bahaya. Mundurlah dengan perlahan sejauh mungkin, maka ia tak akan menyerang."
Namun kali ini tak banyak ruang untuk mundur. Jadi terpaksa Dhaka dan para rekannya berdiri, bersiap-siap menghadapi siluman yang kelihatannya amat tangguh ini.
Anehnya, si siluman anoa-babirusa itu tak langsung menyerang membabi-buta. Ia hanya melihat sekelilingnya. Setelah itu, matanya tertuju pada si pemandu, disusul teguran, "Dapu Dapu, apa kau sudah bosan hidup?"
Dapu Dapu tampak gemetaran, suaranyapun bergetar, "T-tuan Banoamak! Apa maksud tuan, kok tuan ada di sini? Bukankah seharusnya tuan di...?"
__ADS_1
Siluman manusia-anoa-babirusa, Banoamak. Ilustrasi oleh Andry Chang