EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DANTONU Bagian 3


__ADS_3


Canirwa Krana menunduk rendah-rendah. Ia lantas menjelaskan segala sesuatunya. Mulai dari kepulangan putranya, Dapu Dapu yang membawa empat pendekar utusan Sang Srisari, hingga insiden pencegatan yang menyebabkan Canirwa turun tangan.


Sambil mendengarkan paparan Canirwa itu, wajah Rai Savitri berangsur-angsur berubah. Kerut-kerut dan bayangan hitam di bawah matanya, serta cekungan pada pipinya berganti menjadi kulit halus, kencang dan cerah. Ratu Watas yang semula dikira Dhaka sebagai seorang wanita tua itu beralih rupa menjadi wanita cantik berusia dua puluh delapan tahun.


Baru sekarang Dhaka teringat peraturan Daeng Hasan, nahkoda Pinissi. Konon Raja Hantas memiliki tiga saudara kandung, yaitu Pangeran Gantar, Putri Thifala dan Putri Savitri. Savitri, yang tercantik di antara empat bersaudara Keluarga Kerajaan Akhsar itu diboyong Rai Taksaka ke Kerajaan Watas tak lama setelah Hantas naik takhta.


Yang membuat Savitri menjadi tampak tua dan setengah gila pasti makanan dari Hutan Selaksa Boga. Sihir pengendali pikiran dan roh yang terkandung di sana tak berpengaruh terhadap kaum siluman, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sebenarnya, fungsi utama Hutan Selaksa Boga adalah untuk menangkal masuknya manusia dan sebagai sumber persediaan manusia untuk dijadikan budak bagi kaum siluman.


Selesai mendengar semua keterangan itu, Rai Savitri bersabda, "Bakar habis Hutan Selaksa Boga! Aku tak mau lagi menderita dimakan senjata negeriku sendiri!"


Canirwa protes, "Tunggu, Rai. Pertimbangkanlah dulu keputusan Anda. Kaum siluman tak mahir bercocok tanam dan selama ini bergantung pada Hutan Selaksa Boga sebagai sumber makanan utama. Pasti ada jalan keluar yang lebih baik untuk masalah ini."


Savitri termenung sesaat. "Baiklah, kuberi waktu satu tahun pada warga Watas untuk belajar bercocok tanam dan bertani. Setelah itu, aku akan minta pada Rai Taksaka untuk mengubah Hutan Selaksa Boga menjadi ladang-ladang baru!"


Melihat wajah-wajah para siluman yang ternganga dan terkesan amat resah, Canirwa cepat-cepat mengalihkan perhatian sang ratu. "Rai Savitri, masalah terpenting sekarang adalah keadaan Anda yang seperti mimpi buruk itu disebabkan oleh Vrithra. Ia sengaja menipu Anda dengan makanan sihir, lalu ia mengalahkan, mengancam dan mengendalikan Rai Taksaka."


Savitri terkesiap. "Maksudmu, pemimpin Watas saat ini adalah Vrithra, bukan suamiku?"


Canirwa mengangguk. "Ya, itulah kenyataannya. Negeri kita sedang dilanda bencana luar biasa. Satu-satunya cara untuk mengakhiri bencana ini adalah dengan menumpas si biang bencana itu."


"Jadi, kita harus membunuh Vrithra?" sergah Savitri. "Tapi, bagaimana bisa? Rai Taksaka, siluman paling sakti yang jauh melampaui sesama siluman lainnya di Watas saja takluk olehnya. Walau semua warga Watas termasuk dirimu maju dan mengeroyok Vrithra, belum tentu naga dewata itu bisa ditumpas!"


Justru putra Canirwalah yang menyela, "Tapi atas petunjuk Sang Srisari, Dapu Dapu membawa empat pendekar sakti yang mampu mengatasi Vrithra, dan mereka ada di ruangan ini, di hadapan Rai sekarang!"


Dengan akal sehat yang telah pulih, Savitri malah makin keras menghardik, "Lancang! Aku sedang bicara pada pejabat tinggi Watas, tak pantas kau menyela! Penjarakan anak ini!"


"Maafkan kelancangan putraku, Rai Savitri," ujar Canirwa. "Ia belum terbiasa dengan tata cara Akhsar dan sudah lama bisa bicara dengan bebas dengan Rai Taksaka. Biar aku saja yang dipenjara menggantikannya."


"Tak perlu," ujar Savitri sambil mengangkat tangannya. "Dapu Dapu, kau sungguh beruntung memiliki ibu yang sakti, cerdas dan selalu membelamu. Kau mengingatkanku pada ibuku sendiri, mendiang Ratu Sarinande. Kalau begitu, aku akan bertanya pada para pendekar ini, siapakah nama kalian?"


Arumi menjawab, "Namaku Arumi Dyahrani dari Jayandra. Ini Nirya Panigara dari Swarnara, Dhaka Komodorai dari Rainusa, dan yang tak sadarkan diri itu adalah Sthira Tarunaga dari Kalingga."

__ADS_1


"Nah, benarkah kekuatan kalian berempat mampu mengalahkan Vrithra?"


Karena Sthira tak kunjung siuman, giliran Dhaka yang paling bijaksana dalam kelompoknyalah yang menjawab, "Terus-terang Rai Savitri, Dhaka tidak tahu."


Savitri meradang, "Apa maksud jawabanmu itu? Jelaskan!"


Dengan tenang dan sediplomatis mungkin, Dhaka bicara lagi, "Kami orang belum tahu persis sekuat apa Vrithra itu. Selama keliling Antapada, kami orang pernah lawan makhluk-makhluk amat sakti."


Nirya ambil giliran bicara, "Kami pernah kalah dari Barong, makhluk gaib terkuat di Antapada. Namun Barong melepaskan dan mengampuni nyawa kami. Kami juga pernah mengalahkan Cayari Aronawa dan Cayari Yumano, makhluk-makhluk terkuat di Dhuraga serta Beto'dila di Rainusa. Tapi kami melakukannya berkat bantuan alam dan pihak-pihak lain."


"Oh, jadi tak pernah kalian berempat saja yang menaklukkan lawan-lawan kuat itu?" sindir Savitri.


Arumi menyanggah, "Tentu pernah. Makhluk sakti dari Jayandra bernama Kamaja tumbang dengan kekuatan empat pendekar, bahkan Gajahmina di Swarnara dihabisi oleh Sthira dan Nirya berdua saja."


"Baiklah, sepertinya kalian memang pendekar-pendekar yang amat tangguh. Tapi, apa buktinya kata-kata kalian itu bukan isapan jempol belaka?"


Dhaka bertukar tatapan dengan Nirya dan Arumi. Jika mereka memperlihatkan aksara gaib gunung api yang mereka pegang masing-masing, Savitri bakal menebak dan salah paham bahwa misi mereka hanyalah untuk membawa bencana saja. Kalaupun mereka berdalih misi ini demi menghentikan Perang Besar Antapada, Savitri takkan mau percaya.


Semua mata kini tertuju pada si pembicara, yaitu Sthira. Dhaka terkesiap, menilik kata-katanya tadi, bukankah itu berarti Sthira sudah siuman sejak tadi?


Rupanya Sthira memang pura-pura masih pingsan. Itu sengaja ia lakukan karena belajar dari pengalaman dan kesalahannya di masa lalu. Emosi darah muda Sthira sering meledak-ledak disulut salah paham. Jadi kali ini ia mencoba diam dan mendengarkan duduk perkaranya dulu sebelum akhirnya angkat bicara.


Hasilnya, kata-kata Sthira itu tepat sasaran, membuat Rai Savitri mengangguk. "Ya, masuk akal juga. Walau sebenarnya aku butuh lebih banyak bukti agar bisa percaya pada kata-kata siapapun. Namun karena Sang Srisari, juga Sang Mahesalah yang telah mengutus kalian ke Watas, aku memutuskan untuk mempercayai kalian."


"Terima kasih, Rai," ujar Sthira, mewakili kelompoknya.


"Nah, setelah semua mulai saling memahami satu sama lain, kini kita bisa membahas tentang penumpasan Vrithra," ujar Canirwa Krana. "Karena tak seorangpun di Watas, kecuali Rai Taksaka sendiri tahu persis tentang kekuatan dan kelemahan Vrithra, kurasa kita harus bertindak bersama-sama."


Arumi yang adalah seorang peramu strategi mengangguk. "Ya, aku setuju dengan Canirwa. Inilah yang disebut kerjasama. Nampaknya rencana ini akan melibatkan banyak warga Watas pula. Nah, dengarkan baik-baik..."


\==oOo==


Tak seperti di negeri-negeri lainnya, pemberontakan untuk merebut kembali kekuasaan di Watas justru mulai dilaksanakan saat hari cerah.

__ADS_1


Hujan telah reda, matahari mulai menebar cahaya terik, menghangatkan hari. Sungguh, hari ini terlalu indah untuk dirusak dan dinodai dengan darah.


Namun apa mau dikata, lebih baik hujan darah daripada mendung air mata yang merundung Negeri Watas selama bertahun-tahun ini tak kunjung tersaput.


Pikiran itulah yang terus-menerus terngiang di benak Dhaka sambil ia terus berjalan. Ia menatap gunung yang menjulang di kejauhan sambil mengingat keterangan Canirwa Krana kemarin malam.


"Vrithra tinggal di puncak Gunung Dantonu. gunung yang sebelumnya berjulukan 'Gunung Selaksa Patung' itu terletak di antara Hutan Selaksa Boga dan Telaga Selaksa Swara. Jadi bila kita berangkat dengan berjalan kaki saat fajar, kita akan tiba di lereng Dantonu kurang-lebih sekitar tengah hari."


"Wah, sedekat itu?" tanggap Nirya sambil pasang paras tegang.


"Selain Vrithra, adakah penghuni lain di gunung itu?" tanya Sthira.


Canirwa mengangguk. "Ada. Di lereng gunung, ada gua terowongan yang dihuni sebuah suku siluman dari Ras Komodorai. Biasanya mereka hidup terpencil dan kurang ramah pada pendatang. Jadi, Vrithra membiarkan saja suku itu tetap di sana. Sebagai makhluk serumpun, bisa jadi para komodorai itu berpihak pada sang naga halilintar."


Terbitlah keheningan sejenak. Savitri tertunduk dalam geram, seolah berharap kalimat terakhir Canirwa itu tidak menjadi kenyataan. Kalau ya, berarti selama ini Watas telah menampung musuh dalam selimut, dan kaum seperti Dhaka itu tak bisa dipercaya.


Lalu, dengan suara bergetar Dhaka bicara, "Komodorai dari suku apa mereka?"


"Aku tak tahu," jawab Canirwa. "Selama ini mereka merahasiakannya."


"Siapa pemimpin suku itu?"


"Pemimpin mereka adalah empat komodorai terkuat yang memiliki ilmu gaib yang dapat mengubah seseorang menjadi batu," papar Canirwa. "Dan yang terkuat dari keempatnya adalah sang induk, yaitu Dibu Anam."


Mendengar nama itu, Dhaka bagai tersambar petir. Lalu ia cepat-cepat bicara pada Savitri dengan nada memohon, "Biar Dhaka temui kepala suku komodorai itu dulu, Rai Savitri. Kalau benar mereka berpihak pada Vrithra, Dhaka akan coba bujuk mereka agar bela negeri yang telah baik-baik tampung mereka selama ini."


"Kalau mereka menolak?" tantang Savitri.


"Lebih baik Dhaka mati sama mereka daripada lihat kaum komodorai jadi pengkhianat."


Teringat kata-katanya sendiri, seluruh tubuh Dhaka jadi gemetaran. Jangan sampai terjadi kemungkinan terburuk yang memaksanya memilih jalan kematian.


Ilustrasi "Rai Taksaka" oleh Andry Chang

__ADS_1


__ADS_2