
Sang pemimpin kelompok, Sthira angkat bicara, “Ampun beribu ampun! Para kecaklah yang lebih dahulu menyerang kami. Kalau tidak, kami pasti tak akan mencelakakan mereka.”
“Bisa jadi. Tapi ingat, kecak hanya akan menyerang siapapun yang memasuki labirin dengan niat buruk.”
Ketiga pendekar terpaku seketika, bagai tersambar petir di siang hari bolong. Maksud kedatangan mereka di perut Gunung Idharma ini sudah terbaca sejak langkah pertama. Pantas saja para kecaklah yang lebih dahulu menyerang.
Tapi tunggu, bila Ni Luh Widuri memang berniat bicara baik-baik, ia takkan perlu membawa serta para muridnya, bahkan repot-repot menjadi pemandu tim Sthira, bukan?
Arumi melancarkan akal diplomasinya. “Itu tergantung cara pikir dan cara pandang masing-masing makhluk. Wajar saja siluman semacam kecak mengira niat kami buruk. Namun kau, Barong adalah perlambang kebijaksanaan. Tentunya kau takkan langsung menggunakan kekerasan, bukan?”
Wujud manusia Barong merentangkan kedua tangannya, gerak-geriknya makin agung saja. “Maka, kini aku berdiri di sini saja dulu, menunggu kalian menjawab pertanyaan pertama dariku tadi. Biar kuulangi, ada masalah apa yang ingin kalian sampaikan padaku?”
Giliran Nirya yang memberi paparan. “Perang antar negeri-negeri pulau di seluruh Antapada telah meluas dan berlarut-larut, ini harus diakhiri segera sebelum semua negeri ini luluh-lantak dan tak mampu bangkit lagi.”
“Ah, ya. Itu juga jadi kekuatiranku saat ini,” tanggap Barong. “Jadi, apa kalian punya cara mengakhiri perang ini? Atau kalian ingin meminta nasihatku?”
Sthira menjawab, “Ya, kami punya caranya, dan kami tengah melaksanakannya. Yang kami butuhkan hanya kerjasama dan kerelaanmu, Wahai Barong Agung.”
Mata Barong mendelik hingga tampak membulat. “Maksud kalian?”
Sthira tak perlu basa-basi lagi. “Serahkan kunci gaib Gunung Idharma, biar kami yang membukanya. Letusan Idharma akan melemahkan Kota Danurah dan seluruh Rainusa untuk sementara. Sejauh ini kami telah melemahkan Swarnara dan Jayandra. Namun ‘pelemahan’ ini harus merata di semua negeri di Antapada, agar tak ada negeri kuat yang melahap negeri-negeri lain.”
Barong terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak.
Sthira, Nirya dan Arumi saling bertukar pandang, tak menduga reaksi Barong ini. Namun entah mengapa, lidah mereka jadi kelu, tak kuasa mengatakan apapun.
“Terus terang, menurutku gagasan kalian ini cukup menarik. Andai kalian berhasil, mungkin saja misi kalian ini bakal mengakhiri perang besar, mungkin saja tidak. Namun, melemahkan Rainusa jelas adalah buang waktu sia-sia.”
__ADS_1
“Apa maksudmu?” sergah Sthira.
“Kalian pasti sudah tahu, Rainusa sudah lemah dan dikuasai oleh Jayandra. I Gde Bakangga hanyalah raja boneka yang sama sekali tak berniat melepaskan dirinya dari kenyamanan pengaruh asing. Jadi, daripada membuat Rainusa makin lemah hingga tak bisa bangkit kembali, ada satu gunung lain di Rainusa yang lebih pantas kalian buat meletus.”
Wajah Sthira, Nirya dan Arumi makin menyiratkan kebingungan. “Gunung yang lebih pantas”, sebuah pernyataan yang “miring” dari sosok Barong yang dianggap paling “lurus” itu.
“Itu adalah Gunung Tubar’e, dan Dabongsang, kota para penjahat dibangun persis di lerengnya.”
“Mengapa Dabongsang?” Darah muda Sthira menggelegak. “Jangan mengelabui kami, Barong. Tak ada kota yang lebih penting di Rainusa selain Danurah, dan kau tahu itu.”
“Ya, itu yang aku, kalian dan semua orang tahu. Namun, sesungguhnya kota terpenting di Rainusa akhir-akhir ini adalah Dabongsang.”
“Mengapa demikian?” tanya Arumi.
“Karena Raja Rainusa yang sejati, Anak Agung Wiranata tengah menjadi tawanan dan sandera di sana.”
Semua pendengar terkesima.
Barong mengangguk. “Ya, agar kelak kuat kembali. Ingat, Rainusa adalah negeri cinta-damai. Sekuat apapun negeri kami yang adalah kepulauan ini, kami takkan pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan melalap negeri-negeri yang lemah. Akulah yang selama ini memastikan hal itu terjadi. Tapi, akan lebih baik bagi rakyat Rainusa bila pemimpin mereka adalah sosok yang benar-benar cinta damai, yaitu Wiranata.”
“Karena pasti Bakangga takkan mau mematuhimu,” timpal Nirya. “Bila ia tahu Jayandra lemah, ia akan balik menyerang dan menguasai negeri pengendalinya itu.”
“Jadi, supaya Danurah terhindar dari ‘keharusan untuk dihancurkan’, Wiranata harus menumbangkan Bakangga dan kembali berkuasa di Rainusa.” Itulah kesimpulan Arumi.
Barong bertepuk tangan. “Nah, kalian sudah bisa memahami ini. Jadi silakan kalian meninggalkan Gunung Idharma...”
“Ya, kami paham betul,” potong Sthira, tangannya siap di gagang goloknya. “Tapi kami telah berjuang jauh-jauh kemari, bahkan kehilangan salah seorang rekan. Tentunya kami tak akan pulang dengan tangan kosong, ‘kan? Mungkin kami akan mampir ke Gunung Tubar’e nanti, tapi maaf, aku baru percaya Danurah benar-benar lemah hanya bila kota itu luluh-lantak!”
Pernyataan kontradiktif Sthira itu membuat Nirya, Arumi, bahkan Barong sendiri terperanjat. Segamblang apapun penjelasan Barong, tekad Sthira yang sudah bulat tak berubah sedikitpun.
__ADS_1
“Apa kau sudah gila, Sthira?” tegur Arumi.
“Sudahlah, kita tak perlu memperparah kondisi negeri yang sudah parah,” ujar Nirya. “Ayo kita ke Dabongsang saja!”
“Aku benar-benar heran pada kalian,” ujar Sthira sambil mendengus.
“Heran?” Nirya dan Arumi mengatakannya hampir bersamaan.
“Ya. Saat Gunung Barkajang dan Gunung Megaswari meletus, kalian hanya meratapi Kota Ringidatu dan Wulantra yang hancur dan rakyat yang menjadi korban saja. Mengapa kini kalian malah ragu terhadap Danurah, di Rainusa yang bukan negeri kalian? Si Barong ini jelas-jelas ingin meluputkan negerinya dari bencana yang seharusnya terjadi secara merata, sekaligus melindungi kehormatannya sebagai juru kunci Gunung Idharma, dengan sengaja mengalihkan perhatian kita ke gunung lain yang tak begitu penting. Cukuplah bicara, biar kita tunjukkan kalau kita ini masih punya akal budi dan tak bisa diakali begitu saja!” Setelah mengatakannya, Sthira berbalik dan lari dengan mandau besar terhunus ke arah Barong.
“Dasar bodoh!” seru Barong, menepis bacokan-bacokan mandau Sthira dengan tangan kosong, sarat energi murni. “Justru aku sudah berusaha mencegah pertumpahan darah yang tak perlu. Kini, aku malah harus memberi kalian pelajaran!”
Barong mengayunkan tinjunya, membenamkannya keras-keras ke perut lawan. Alhasil, Sthira terpental hingga jatuh tersuruk di lantai.
Tak berhenti di sana, Barong melesat maju. Kedua tinjunya berpendar putih, siap membuat hitam seluruh dunia Sthira selamanya. Saat tinju pertama hendak diayunkan, satu anak panah Arumi yang sarat prana Panah Api Membara melesat ke arah Barong. Terpaksa tinju itu dialihkan untuk menepis anak panah, dan langkah Barong terhenti.
Saat pria berambut putih ala singa itu hendak menyerang lagi, Nirya sudah lebih dahulu memindahkan tubuh Sthira menjauh.
“Oh, bahkan kalianpun menolong orang bebal itu?!” tukas Barong.
Niryalah yang menjawab, “Maaf, walau kami sepenuhnya setuju dengan gagasanmu, Sthira tetap adalah pemimpin dan penggerak utama misi kami. Andai ia gugur di sini, tujuan misi kami bakal lebih mustahil lagi tercapai. Kekacauan lebih parah pasti akan melanda Antapada, seperti yang ditakutkan Mpu Galahasin!”
“Mau bagaimana lagi?” sergah Barong. “Bukankah lebih baik ada satu negeri yang bangkit dan mempersatukan Antapada?”
Arumi menjawab, ‘Mungkin saja, namun kini waktunya tak tepat lagi. Pemersatu Antapada harus berasal dari negeri-negeri paling makmur, paling kuat dan paling beradab seperti Swarnara atau Jayandra. Tapi, justru kedua negeri itulah yang telah dilemahkan lebih dahulu. Apakah kau mengharapkan negeri yang kuat tapi primitif seperti Kalingga, negeri serba ‘sedang-sedang saja’ seperti Akhsar, atau negeri para bajak laut, Bethara?”
Nirya menimpali, “Atau jangan-jangan... Rainusa yang ingin tampil sebagai pemersatu, asal Wiranata kembai bertakhta?”
“Sudah kubilang, Rainusa adalah negeri cinta damai tanpa ambisi! Apa kalian mulai meragukan niatku?” tegur Barong.
__ADS_1
Sumber gambar: Referensi untuk Barong dari versi Shin Megami Tensei.