
Tengah malam, di bawah bulan separuh Nirya dan Sthira tampak mengendap-endap di pelabuhan Kota Nurbaiti. Tampak di dermaga, tak jauh dari posisi kedua “penyusup” itu, kapal-kapal dan perahu-perahu besar-kecil berjajar hampir teratur, berderet-deret sejauh mata memandang. Pemandangan ini amat wajar, karena Swarnara memang negeri maritim yang paling sering melakukan perdagangan dengan negeri-negeri di luar Jazirah Antapada, juga penghasil produk perikanan terbanyak dan terbaik di wilayah ini.
Namun, yang tak wajar adalah saat melihat lebih dekat dan lebih jelas lewat keremangan malam, tampak banyak sekali perahu dan kapal yang rusak dan setengah tenggelam. Hampir pasti itu akibat pertempuran-pertempuran kecil yang bertujuan melemahkan negeri-negeri lain. Dan karena perang yang masih berlangsung ini bisa tiba-tiba “panas” atau “dingin” tanpa ada terobosan berarti menuju perdamaian, warga cenderung membiarkan perahu-perahu rusak itu begitu saja. Untuk apa diperbaiki kalau toh cepat atau lambat akan dirusak lagi?
Kedatangan kedua “pembawa bencana” ke tempat ini justru dalam rangka mengakhiri pola perilaku yang melemahkan hajat hidup rakyat banyak ini.
“Keadaan di Kalingga kurang-lebih sama dengan ini,” bisik Sthira. “Jadi ayo kita ‘pinjam’ dulu satu perahu, daripada tak dipakai sama sekali. Toh nanti mereka bisa membuat yang baru setelah tujuan misi kita tercapai nanti.” Kata-kata ini terkesan seperti memanfaatkan situasi yang ada untuk mencari pembenaran. Namun untuk sekarang, kebenaran kata-kata si pendekar Kalingga ini tak dapat dipungkiri.
Mendekati tepian dermaga, mendadak banyak orang bersenjata bermunculan dari tempat-tempat persembunyian mereka, menghadang Nirya-Sthira. Si gadis terkejut, namun si pemuda Kalingga berdiri tegak dan tenang.
“Sudah kuduga, kalian pasti membuntuti kami kemari dan memanggil para pendekar lainnya,” ujar Sthira sambil pasang kuda-kuda dengan goloknya. “Kami tinggal menunggu hingga kalian muncul saja.”
Si janggut tipis balas menghardik, “Hah, sombongnya, mentang-mentang menguasai prana yang besar. Tapi aku yakin, sesakti apapun kalian, mustahil kalian bisa terus bernyawa melawan kami semua!”
Nirya bergidik ngeri. Jumlah pengeroyok yang kira-kira mendekati seratus orang ini berkali-kali lipat lebih banyak daripada para murid pengkhianat Bayunara. Walau dengan bantuan Sthira yang kuat ini, belum tentu mereka bisa menang. Orang-orang ini adalah pendekar, bukan kerlawar.
“Oh ya? Sudah kubilang, kami bukan mata-mata! Tapi kalau kalian bersikeras menghabisi kami, terpaksa kami membela diri! Maju kalian semua, pecundang-pecundang tak sayang nyawa!”
Bagai komandan pasukan, si pria bertopi merah-kuning menyerukan perintah, “Serbu para mata-mata itu! Ganyang hingga raga mereka tak berbentuk lagi!” Para pendekar Swarnara menyambut dengan teriakan-teriakan garang, menyerbu Sthira dan Nirya dari berbagai arah.
Tak ada pilihan, Nirya terpaksa mengayunkan kerambit kembar berantainya. Dengan salto-salto akrobatis yang indah, ia menyayat leher penyerang pertama, lantas mencungkil mata satu penyerang lagi.
Ada rasa sesak di dada gadis Swarnara itu karena menghilangkan nyawa orang-orang setanah-airnya hanya gara-gara salah paham belaka. Namun, dari sorot mata para pengeroyok, Nirya menangkap kesan mereka tahu sepak-terjang Sthira-Nirya bukan sekadar kegiatan mata-mata atau membuat onar saja. Buktinya, serangan mati-matian para pendekar Swarnara menorehkan luka-luka di berbagai bagian tubuh kedua “biang bencana” itu.
Serangan rencong si topi merah-kuning berhasil menyayat lengan Nirya hingga mengucurkan darah. Si gadis menyurut mundur, namun satu bacokan kapak siap menyambut pinggangnya. Refleks, Nirya memusatkan prana angin di kedua kakinya, berputar dan melangkah amat gemulai menghindari kapak.
Jurus Langkah Semilir Angin dari aliran Bayunara ini membuat Nirya seakan menghilang dari pandangan, lalu muncul lagi di balik punggung si pendekar kapak. Sebelum lawan menyadarinya, kedua kerambit Nirya telah lebih dahulu bersarang di punggung pria itu, menembus hingga ke jantung dan paru-paru.
__ADS_1
“Serahkan nyawamu, pengkhianat!” Pendekar kedua membokong ke arah Nirya. Gadis itu lantas mencabut kerambitnya dari mayat lawan, bersalto tinggi-tinggi, mengayunkan rantai-kerambit dan ujung bilahnya memecah pelipis si pembokong.
Didera gelombang demi gelombang keroyokan yang seolah tak ada habisnya, ditambah rasa nyeri tak terperi dari goresan-goresan terbaru di tubuhnya, Nirya akhirnya berteriak, “Mereka terlalu banyak dan menyebar! Ayo kita lari saja!”
Namun tak ada jawaban dari Sthira, padahal sang rekan hanya berjarak beberapa langkah dari Nirya. Si gadis berambut jingga menoleh ke kanan-kiri untuk mencari tahu apakah rekannya hidup atau mati. Dan kelengahan sesaat itu dibayar Nirya dengan satu pukulan telak gada lawan.
“Hehee, kena kau, gadis manis!” Wajah buruk rupa si laki-laki pembokong berubah drastis, dari tersenyum lebar penuh nafsu menjadi ternganga. Ia coba menyentakkan gadanya, namun senjata itu rupanya terikat oleh rantai kerambit.
“Matilah.” Tanpa ampun Nirya melesakkan kedua ujung bilah kerambit ke pelipis kiri-kanan pria itu. Ia lantas melepaskan jeratan rantainya, lalu mendekat ke arah Sthira.
Dari dekat, barulah tampak si pemuda Kalingga mengayun-ayunkan goloknya sekuat tenaga, bila bukan dengan membabi-buta. Darah bercucuran dari luka-luka di tubuhnya, dan serangan senjata lawan datang bertubi-tubi seakan tak ada habisnya.
Dengan kata lain, Sthira bertarung seperti kesetanan.
Namun, Nirya yang belum tahu tentang kondisi ini malah terus mendekat. Kerambitnya meluncur dan menancap di dada seorang pembokong yang hampir saja memenggal kepala Sthira yang tak sempat menghindar.
Di posisi yang cukup dekat, Sthira malah menebaskan goloknya mendatar, sambil berputar ke arah Nirya. Untung si gadis bereaksi cepat dengan merentangkan rantainya, menangkis bilah golok. Namun ia terpental oleh kekuatan tebasan Sthira.
Namun, kepungan para pendekar yang makin rapat memaksa Nirya tetap berjauhan dengan Sthira, dan mereka bertarung sendiri-sendiri melawan musuh-musuh yang adalah pengguna prana. Kedua “pendekar pejuang perdamaian” itu bagai dua obor melawan lilin-lilin kecil yang menyatu menjadi api unggun berkobar-kobar gahar.
Akibat alaminya bisa ditebak. Api besar menelan api kecil dan menghanguskan penggunanya. Serangan Sthira tak lagi seganas tadi, ia makin kewalahan membendung deraan serangan yang nyaris tiada habisnya, jauh lebih dahsyat dari serbuan gerombolan kerlawar.
Putus asa, Nirya melompat dan bersalto ke depan untuk keluar dari kepungan. Namun ia disambut dengan beberapa golok dan pelbagai senjata tajam yang teracung bagai lantai berduri di bawah. Terpaksa gadis itu menghunjamkan sepasang kerambitnya ke bawah, tepat membentur bilah salah satu golok. Memanfaatkan daya benturan itu, Nirya melentingkan tubuhnya ke arah lain.
Sesaat setelah mendarat, Nirya merasakan terpaan hawa dingin, ternyata sepotong logam berbentuk bilah golok sedang berdesir ke arah batang lehernya. Kali ini, entah dari mana datangnya, sebilah pedang menyeruak dan tepat menangkis bilah golok itu. Tak hanya itu, satu entakan pedang sepanjang lengan orang dewasa itu mementalkan golok, lalu entakan berikutnya menghunjam dada si pengguna golok itu.
Walau sadar seketika serangan itu telah menyelamatkan jiwanya, Nirya lantas menyurut mundur ke tempat aman, menyilangkan sepasang kerambit di genggamannya dengan waspada. “S-siapa kau?” sergahnya.
“Nanti saja bicaranya! Kita usir dulu mereka!” sahut suara itu, yang lumayan merdu untuk ukuran seorang pria muda. Menepati kata-katanya, sosok pria itu lantas menyerbu maju, mendobrak kepungan bagai Terjangan Ombak Lautan.
__ADS_1
Kepungan yang mulai longgar membuat Nirya dan Sthira bagai harimau tumbuh sayap. Ditambah bantuan kejutan dari seorang pendekar sakti mandaraguna, makin banyak para pengepung bertumbangan.
“Gila! Mereka bertiga kuat sekali! Ayo, lari! Jangan sampai kita mati konyol di sini!” Seorang pendekar berpakaian lusuh berinisiatif menyelamatkan nyawa sendiri dan memperingatkan para rekannya, tapi tubuhnya lantas ditembusi tombak tanpa ampun.
Si penombak, pendekar berjanggut tipis yang tampak tangguh tadi membentak, “Mati saja kau, pengecut!” Lantas ia mengacungkan tombaknya pada si pemuda berambut biru yang baru ikut campur itu. “Apa-apaan kau, Minata? Tak kusangka kau berkhianat pada negerimu sendiri, berpihak pada mata-mata?!”
“Aku bertindak sesuka hatiku,” kata pria yang dipanggil Minata itu, mengayun-ayunkan pedangnya seolah sedang pemanasan. “Kubilang kedua orang yang kalian keroyok ini bukan mata-mata, dan aku punya kepentingan dengan mereka. Siapapun yang mencoba menghalangiku, silakan berharap dia tak pernah dilahirkan.”
“Congkak kau, Minata! Biar aku, Mabuhar, membungkam mulut besarmu itu selama-lamanya!” Mabuhar lantas menerjang sambil melesatkan puluhan tusukan tombak, berusaha menghabisi lawan dalam satu jurus saja.
Namun si rambut biru bergerak amat lincah bagai lumba-lumba, menghindari semua tusukan dan menyabetkan pedangnya tegak-lurus. Sederet sinar biru berkilatan sepanjang tubuh si janggut tipis, dari pangkal paha sampai ujung kepala.
“Aah... Tak adil...” Mabuhar roboh dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, posisinya menelungkup, seolah menutupi belahan besar yang telah merenggut nyawanya.
Melihat ini, bahkan si topi merah-kuning bersenjata rencong berbalik dan lari bersama semua pendekar lainnya. “Rasakan pembalasanku nanti, Minata!” serunya.
Minata tak mengejar, wajah tampan dengan mata sebelah hijau, sebelah birunya menghela napas lega. “Wah, si Mabuhar itu hanya sok kuat saja, padahal lemah,” gumamnya.
Nirya lantas menghampiri pemuda berambut pendek biru itu sambil berkata, “Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa kami, Minata.”
“Kebetulan saja aku mencuri dengar rencana kalian di kedai tadi,” ujar pria berpakaian hijau-biru itu sambil membersihkan darah pada bilah pedangnya dengan prana air dari tangannya. “Terus terang, aku suka ide tentang ‘penciptaan perdamaian’ ini. Dan aku yakin, akulah orang yang paling tepat, layak dan pantas untuk membantu kalian.”
“Apa sebabnya?” Sthira menghampiri Nirya dan Minata dengan berjalan tertatih-tatih, dengan tubuh masih berdarah-darah. Dahinya berkerut, dan tangannya menggenggam goloknya erat-erat – andai ia tak suka jawaban Minata nanti.
“Satu, karena aku menguasai sihir penyembuh,” jawab Minata sambil menyentuh salah satu luka Sthira dengan satu jarinya, dan luka itu berangsur-angsur merapat secara sihir.
“Lantas, apa sebab kedua?” tuntut Nirya.
“Karena aku adalah inang Sabailuha, dan akulah juru kunci Gunung Ratauka.”
__ADS_1
Ilustrasi: Minata, Pendekar sakti dari Nurbaiti