
Dabongsang berseru, “Karena aku sedang senang ditemani latihan oleh gadis cantik, bila kau berhasil bertahan hidup dari tiga jurusku, Senopati Arumi, kau kunyatakan menang.”
“Aku takkan mengecewakan tuan.” Arumi menyiapkan sepasang tapak berapinya.
“Bagus! Sambut seranganku!” Dabongsang menyerbu maju. Setelah cukup dekat, ia menghantamkan tinjunya yang bagai palu godam ke arah lawan.
Dengan senyum tipis, Arumi tentu mengandalkan kelincahan dan kecepatannya yang sebenarnya berimbang dengan kekuatan tenaga dalamnya sendiri. Tubuh gadis itu berkelit ke samping bagai ular, dan jari-jari apinya siap menyengat tengkuk Dabongsang bagai sepasang taring ular berbisa.
Tak terduga, si pria tinggi-besar bergerak cukup lincah. Tubuhnya berputar di tempat bersama tinjunya yang bergerak diagonal. Punggung tinjunya itu menghantam Arumi dua kali. Alhasil, Arumi yang lebih kecil dan ramping dari lawannya terpental hingga membentur rak senjata di sudut ruangan.
Melihat Arumi terkapar kesakitan, Nirya berteriak histeris, “Arumi...! Maksudku, Senopati Arumi!”
“Bangkit, senopati! Itu tadi baru satu jurus!” hardik Dabongsang sambil melemaskan, menggerak-gerakkan otot-otot dada dan lengannya. “Mustahil Jayandra mengutus wanita lemah ke sarang penyamun ini, bukan? Kecuali kalau kau ini utusan palsu!”
Nirya terkesiap. Astaga, jadi “latih-tanding” ini memang biasanya sekalian untuk menguji keabsahan seorang utusan? Di tempat berlakunya hukum rimba ini, hanya mereka yang keras, tangguh dan kuatlah yang layak bertahan hidup, pikirnya.
“Kalau dengan sepertiga tenagaku tadi saja kau tak bisa bangkit lagi, pilihan untuk utusan palsu sepertimu hanya satu... mati!”
Dabongsang lantas menghantamkan jurus keduanya. Tinju berkekuatan penuhnya berdesir, membelah udara ke arah dahi Arumi.
Namun, mata gadis yang semula terkapar itu malah menyala-nyala. Ia bangkit dan berkelit sehingga lawan hanya meninju udara. Tak berhenti di sana, Arumi menyengatkan jari berapinya di tulang kering kaki Dabongsang, membuat tubuh besar itu tersandung dan tumbang bagai pohon baru ditebang.
Kali ini, giliran Dabongsang memegangi kakinya sambil meringis kesakitan. Namun, yang paling menyakitkan baginya adalah jurus keduanya dipatahkan, bahkan ia ditumbangkan oleh seorang gadis.
Untuk menegakkan kembali wibawanya, Dabongsang cepat-cepat berdiri tegak dan pasang ekspresi garang. “Rupanya aku terlalu meremehkanmu, Senopati Arumi. Tapi tak apa, akan kukerahkan salah satu andalanku sebagai jurus terakhir. Sebenarnya sayang jika aku harus terlalu kejam pada gadis secantik dirimu. Bagaimana kalau kau tinggal di sini saja dan menjadi gundikku, hm?”
“Maaf, dengan segala hormat, lebih baik aku mati daripada mengkhianati Jayandra demi harta dan kemewahan belaka,” tukas Arumi sambil pasang kuda-kuda, siap bertahan dari jurus ketiga Dabongsang. Tanpa keris panjangnya, sulit mengimbangi lawan yang unggul dari segi kekuatan fisik ini. Andai ia kalah, walaupun tak mati, ia dan Nirya harus menghadapi perbuatan paling biadab Geng Dabongsang yang tak terbayangkan oleh siapapun juga.
Semua yang hadir menyorotkan pandangan pada Arumi, entah menganggap gadis itu tak tahu diri atau bodoh. Gadis manapun pada umumnya takkan menampik tawaran menggiurkan itu.
Mata Dabongsang melotot. “Beraninya kau menolak tawaranku! Dasar tak tahu diri! Anggaplah jurus ketiga ini hukuman mati buatmu!”
__ADS_1
Pria besar itu menerjang maju, lalu melompat tinggi-tinggi. Saat tubuhnya terjun ditarik gaya gravitasi, ia memanfaatkan daya itu dan menyalurkannya lewat rentetan tinju dan tendangan, menerpa ke arah Arumi bagai Hujan Batuan Tebing.
Tahu dirinya seakan terkurung dan sulit menghindar, Arumi malah menyambut serangan itu dengan melompat tegak-lurus ke arah lawan. Seluruh harapan akan kemenangan ditumpukannya pada seluruh tenaga api yang terpusat di satu jarinya. Baru saat jarak serangan cukup dekat, Arumi menghunjamkan jari sarat prana setara jurus andalannya, Semburat Magma Inti Neraka.
Satu jari api lantas mendobrak energi reruntuhan batu, hingga akhirnya telak menyengat pelipis kepala si pria besar. Dabongsang terpental ke belakang, namun tinju-tinjunya sempat menerpa tubuh Arumi. Hasil akhirnya, kedua petarung itu terpuruk di lantai. Satu detik, dua detik... Tak ada pergerakan sedikitpun dari mereka berdua.
“Senopati Arumi!” Nirya berteriak histeris, hendak menjatuhkan senjata-senjata yang dibawanya untuk menyembuhkan luka kawan seperjuangannya itu dengan tenaga dalam.
Namun Mora, yang sejak awal berdiri di samping Nirya langsung pasang badan, menghalangi pergerakan gadis Swarnara itu. Satu pelototan penuh arti dan gelengan kepala Mora cukup jadi peringatan, mencegah Nirya bertindak gegabah. Ditambah Mora menunjuk ke tengah lapangan latihan, mengisyaratkan Nirya agar memperhatikan baik-baik perubahan yang kini terjadi.
Rupanya, sambil memegangi dahinya yang pusing luar biasa, Dabongsang perlahan bangkit. “Menyebalkaan!” Membabi buta, ia langsung menyerang dengan tinju berkekuatan penuh, hendak menghabisi Arumi.
Namun, suara tepuk tangan teriring suara berat seorang pria terdengar jelas. “Cukup, Dabongsang Hurek, kau sudah cukup menunjukkan bahwa kau adikku yang perkasa, tiada tandingan!”
Pria kekar yang rupanya bernama belakang Hurek itu protes, “Tapi kak, lawan sudah sekarat setelah kena jurus ketigaku!”
“Lihat baik-baik, Hurek. Lawanmu masih bisa bangkit.” Pria yang ternyata bertubuh besar-tambun itu menunjuk ke arah lantai.
“Arumi menang,” tegas si tambun penuh wibawa.
Nirya ternganga, jangan-jangan si tambun itu adalah...
Mora berbisik pada Nirya, “Itulah junjungan kami, Dabongsang Zakuay. Yang menghadapi Arumi tadi adalah Jawara Pertama merangkap Wakil Ketua, Dabongsang Hurek.”
Walau penampilannya terkesan ia lebih suka makan daripada berlatih ilmu beladiri, Zakuay adalah “otak”, sedangkan Hurek adalah “otot” Geng Dabongsang.
Sambil mencungkil sisa daging yang terselip di giginya yang jarang-jarang, Dabongsang Zakuay berkata, “Pertarungan yang indah, Senopati Arumi. Aku sangat terhibur menyaksikannya, gerakan-gerakanmu sungguh seindah tarian.”
Masih terhuyung-huyung memulihkan keseimbangan tubuhnya, Arumi membungkuk takzim. “Terima kasih, Paduka Dabongsang.” Mematuhi tata-cara diplomasi Jayandra, sebagai tamu ia sengaja tak bicara lebih lanjut, menunggu tuan rumah menanyakan maksud kedatangannya lebih dahulu.
Sikap sopan Arumi itu membuat senyum Dabongsang makin lebar di balik kumis-janggutnya yang acak-acakan. “Nah, apa maksud kedatangan kalian, para utusan Jayandra ke kotaku yang kecil dan sederhana ini?”
Karena Arumi sudah terlalu lemah untuk bicara, giliran Niryalah yang bicara. “Daulat, Paduka. Senopati Arumi dan aku, Nirya, wakilnya sedang dalam misi rahasia kerajaan. Kebetulan kami sedang singgah di kota ini, jadi kami berharap Yang Mulia sudi membantu misi kami dengan menyediakan perbekalan yang kami perlukan. Negeri Jayandra pasti akan menghargai bantuan Yang Mulia setinggi-tingginya.”
__ADS_1
“Hanya itu saja?” Dabongsang mendelik.
“Ya, tak lebih dan tak kurang.”
Dabongsang Zakuay lantas duduk dan bersandar di kursi paling nyaman di ruangan itu. Ia mengelus-elus janggut hitamnya seolah tengah berpikir keras.
Akhirnya Dabongsang menjawab, “Baiklah, aku akan menyediakan perbekalan yang kalian perlukan. Sebagai bayarannya, aku hanya meminta dua syarat.”
Arumi penasaran. “Apa sajakah itu, Paduka Dabongsang?”
“Pertama, aku akan menulis surat rahasia untuk Prabu Narendra, junjungan kalian di Jayandra. Sampaikan surat itu pada beliau, dan ingat, yang berhak membuka segelnya hanya Narendra seorang.”
“Tak masalah,” jawab Arumi. Sebenarnya ia sadar betul, apapun yang tertulis dalam surat itu pasti mengandung petunjuk tentang “sandera paling berharga” Dabongsang, yaitu Raja Rainusa yang tersingkir, Wiranata. Godaan untuk membuka surat itu sungguh besar, dan Arumi perlu menimbang-nimbang akibatnya, yaitu dicap pengkhianat negara dan dihukum mati di Jayandra sebelum melakukan itu.
Dabongsang mengangguk. “Bagus, kau pasti takkan keberatan aku menginginkan golok besar itu sebagai syarat keduaku, bukan?” Ia menunjuk ke arah Nirya.
“Tapi golok ini milik...!” Sebelum Nirya makin kelepasan, Mora menutup mulut gadis itu.
“Jaga lidahmu!” bisik Mora dengan nada menghardik keras. “Apapun yang Dabongsang Zakuay inginkan, menolak memberikannya berarti penghinaan baginya. Jangan menyalakan api murkanya. Ia bisa jauh lebih mengerikan, lebih berkuasa daripada Hurek yang tawarannya ditolak Arumi tadi!”
Selagi menyimak kata-kata Mora itu, Nirya mendengar Arumi kembali menjawab, “Silakan. Golok ini bernama Gharma dan mengandung kekuatan petir. Aku yakin tuanku pasti akan suka.”
“Ohoho, justru aku ingin menghadiahkannya pada Hurek, untuk menghiburnya setelah hatinya kausakiti tadi.” Zakuay mendelik nakal. “Ayo, serahkan golok itu padanya sekarang juga.”
Dengan gigi gemeletak, wajah tak rela dan takut setengah mati diamuk Sthira, Nirya menyerahkan golok milik Sthira itu dengan takut-takut. Dengan kasar Hurek merebut golok itu, lalu mencabut bilah dari sarungnya. Ia lantas mengayun-ayunkan golok itu, diam-diam mengagumi bobot dan keseimbangannya yang sempurna, pas untuk dirinya.
Tinggal Nirya dan Arumi berdiri di tempat, muka kedua gadis itu amat suram. Bayangkan, kehilangan senjata ampuh demi perbekalan, apakah Sthira juga akan melakukan hal yang sama jika goloknya diminta oleh penguasa tertinggi di Dabongsang itu? Untuk saat ini, mereka tak bisa melanggar aturan semena-mena penguasa kota ini. Belum, belum saatnya bertindak.
Tentunya Nirya berharap, semoga Sthira sedang menyusup dalam markas penjahat ini, supaya Sthira bisa secepatnya mengambil kembali mandau besar miliknya.
Sthira, di mana kau berada sekarang?
Ilustrasi: Mora Nggarai, salah seorang jawara Dabongsang by Andry Chang
__ADS_1