
Karena rekan-rekannya masih sibuk, kelelahan dan belum pulih benar dari luka-luka mereka, Nirya yang paling sehat dalam kelompoknyalah kini yang paling sibuk.
Setelah mula-mula memulihkan Arumi dengan sihir penyembuhan, Nirya meninjau Mora dan Wiranata. Luka-luka Mora cepat sekali sembuh. Wanita itu lantas memusatkan segala perhatiannya untuk memulihkan kesehatan Wiranata. Tahu Mora sesungguhnya adalah Dewi Sasanda, Nirya memutuskan tak ingin mengganggu mereka saja.
Nirya lantas mengobati Dhaka, sekaligus membeberkan misi mereka yang sesungguhnya. Dhaka terdiam sepanjang pengobatan itu. Pandangannya hanya terpaku pada gadis kecil yang ia selamatkan dari bencana, yang duduk gemetar di sampingnya.
Hingga akhirnya si gadis kecil menangis sambil berteriak, "Kakak kejam! Aku benci kakak!" Ia berlari keluar kamar perawatan.
"Pikiran Dhaka sama dengan Lika," ujar Dhaka dengan nada datar, emnyebut nama si gadis kecil. "Dhaka paham, perang di seluruh Antapada harus diakhiri. Letusan Tubar'e mungkin tak kalian sengaja. Tapi cara itu buat korban banyak rakyat, termasuk orangtua Lika dan mungkin Lika juga, kalau Dhaka tak tolong Lika."
Nirya menundukkan kepala. "Ya, aku juga sempat berpikir apa tak ada cara yang lebih baik daripada ini. Segala usaha untuk mengadakan gencatan senjata telah gagal, dan semua insan di Antapada melewati tahun demi tahun dalam ketakutan, negeri manakah yang akan menyerang negeri mereka kali ini. Mereka membangun untuk kemudian dihancurkan lagi, dan korban yang jatuh jauh lebih banyak berkali-kali lipat daripada korban letusan gunung api."
"Bagaimana bila tunggu sampai ada negeri kuat yang persatukan Antapada?"
"Kalau setiap negeri saling melemahkan, takkan ada negeri yang cukup kuat untuk tampil sebagai pemersatu Antapada. Jadi, satu-satunya cara adalah lemahkan semua negeri sekaligus hingga mereka sadar satu-satunya cara untuk pulih adalah dengan menghentikan perang dan kembali membina hubungan baik antar negeri. Dan cara pelemahannya adalah dengan membuat gunung-gunung berapi di pusat tiap negeri meletus di waktu berdekatan. Nah, bila kau menganggap cara ini tak baik, apa kau punya cara yang lebih baik daripada ini?"
Dhaka kembali terdiam sejenak. Ia lalu menjawab, "Sekarang belum. Jadi, hingga cara paling baik itu ada, terpaksa Dhaka harus tunggu."
"Jadi itu jawabanmu ya," ujar Nirya sambil menuntaskan pengobatannya, berdiri dan berbalik untuk meninggalkan kamar. Lalu sambil melangkah ia bicara tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dhaka. "Silakan kalau begitu. Tapi ingat, selama kita menunggu, makin banyak korban berjatuhan. Makin banyak pula anak-anak seperti Lika dan aku yang jadi yatim-piatu."
Nirya menutup pintu. Tak ada jawaban dari dalam sana.
__ADS_1
\==oOo==
Tiga kapal layar yang mengangkut rombongan pengungsi akhirnya merapat di Bumas, pulau terdekat dengan Pulau Sasanda.
Semula Nirya mengira Wiranata dan Mora hendak terus berlayar hingga ke Danurah, ibukota Kerajaan Rainusa. Namun ternyata keduanya memutuskan untuk turun di Bumas.
Penampilan Wiranata kini amat mencengangkan. Kumis dan janggutnya telah dicukur amat rapi, sehingga parasnya tampak jauh lebih muda dan sesuai dengan usianya, yaitu tiga puluhan tahun. Beliau sungguh berbeda dengan Prabu Narendra, pemimpin Jayandra yang memang sebaya Arumi dan parasnya terkesan lebih lembut daripada gagah itu.
Saat menerangkan maksud keputusannya, Raja Anak Agung Wiranata bicara dengan tegas nan berwibawa, "Aku dan Mora harus memastikan dulu para pengungsi dapat hidup layak di tempat tinggal mereka yang baru. Kami akan mengembangkan kota pelabuhan kecil di Bumas ini menjadi tonggak pertama perjuangan kami."
"Tapi, bagaimana jika Raja Bakangga tahu tentang basis pemberontakan di Pulau Bumas ini? Ia pasti akan mengerahkan pasukan besar untuk menumpas kalian!" Arumi yang adalah senopati perang mengutarakan pendapatnya.
"Itu telah kami perhitungkan masak-masak dalam perundingan selama perjalanan," jawab Mora, yang beralih dari penasihat dan ahli strategi Dabongsang menjadi tangan kanan, pembantu utama dan calon permaisuri Wiranata. "Ingat, di antara para pengungsi ada banyak penjahat dan bekas anak buah Dabongsang, dan aku mantan Jawara Dua. Janjikan mereka pengampunan penuh dan hidup yang baik dan layak dalam masyarakat, niscaya sebuah kekuatan tempur dahsyat dan tak terduga akan terbentuk di Bumas."
Arumi bungkam. Tekad sang raja terlalu kuat, takkan tergoyahkan oleh apapun juga.
Sementara Nirya tak hentinya tercengang. Ternyata selama di tahananpun Wiranata dan Mora telah menyusun rencana dan mengumpulkan pendukung untuk bekal di masa depan. Dengan persiapan sedini dan sematang ini, nampaknya perjuangan mereka tidaklah mustahil.
Menerawang ke masa depan, Nirya memperkirakan hal-hal yang bakal terjadi kira-kira satu tahun lebih dari sekarang. Saat itu, Pasukan Bakangga menyerang Pulau Bumas. Namun mereka dijebak lalu dipukul mundur oleh "pasukan bayangan" bentukan Wiranata dan Mora.
Kejadian itu lantas menerbitkan harapan rakyat Rainusa bahwa raja sejati mereka masih hidup dan tengah merintis jalan kembali ke Danurah. Diam-diam mereka membunuh Bakangga yang sedang berburu untuk kesenangan. Mendengar kabar itu, Wiranata bergegas ke Danurah dan diangkat kembali menjadi Raja Rainusa. Ia memerintah dengan adil-bijaksana bersama permaisurinya, Mora Nggarai alias Dewi Sasanda.
Tentu saja karena Nirya bukan peramal, segala perkiraannya itu belum tentu bakal jadi kenyataan. Walau bagaimanapun juga, keputusan Mora dan Wiranata telah bulat dan tak seorangpun, termasuk Nirya sendiri tak akan bisa menggoyahkannya.
__ADS_1
"Nah, kalau begitu kami pamit dulu," ujar Wiranata. "Tapi maaf, aku tak akan berkata 'semoga berhasil' untuk misi kalian, apapun itu. Biarlah Sang Mahesa sendiri yang menentukan nasib kalian dan hasil perjuangan kalian."
"Ya, kami hanya bisa terus maju sampai akhir," tanggap Sthira sambil menghela napas. Berhubung Dhaka telah memberitahukan segalanya tentang Misi Cincin Api pada Wiranata dan Mora, reaksi Wiranata itu telah ia duga. Tak apalah bila mereka tak mendukung para "pembawa bencana" itu, asalkan mereka tak jadi penghalang saja.
Karena tentunya pertumpahan darah di Pinissi pasti akan merugikan semua pihak.
Tiba-tiba Sthira teringat pada seseorang, lalu bicara pada orang itu, "Lho Dhaka, tidakkah kau ikut dengan Raja Wiranata? Bukankah kau mengabdi pada beliau?"
"Ya, tapi Dhaka pilih ikut kalian," jawab si komodorai. Ekspresi wajah kadalnya tentu tak jelas, sikapnyapun tak bisa ditebak.
"Bukankah dengan mengikut junjunganmu berarti kau juga berjuang demi Suku Komodorai?" tanya Arumi.
"Ya, tapi Dhaka lebih pilih berjuang demi damai di seluruh Antapada. Ulah Bakangga, apalagi setelah tahu Dabongsang telah runtuh pasti akan buat Rainusa makin lemah. Rainusa rentan, negeri-negeri tetangga bakal serbu. Jadi lemahkan negeri-negeri tetangga dulu, buat gunung-gunung meletus dulu, baru kembali bantu Wiranata."
Jawaban Dhaka itu membuat Nirya terkesiap. Mungkin sekali perubahan sikap si siluman keras kepala itu adalah buah pemikiran Wiranata dan Mora. Dengan kata lain, Dhaka diutus sebagai mata-mata untuk mengawasi Sthira dan kelompoknya. Andai kelompok Sthira melanggar tujuan misinya sendiri, bahkan cenderung mendukung satu negeri tertentu, si komodorai yang kekuatan fisiknya melebihi Sthira itu pasti bakal bertindak.
"Jadi suka atau tidak, Dhaka ikut kalian." Si komodorai menegakkan tubuhnya hingga ia tampak tinggi-besar dan meraksasa. Seolah ia memberi tekanan pada siapapun yang melihatnya, apalagi menghadapinya.
Nirya jadi tak tahu apakah harus senang atau curiga pada rekan barunya itu. Mengingat pada percakapan terakhir mereka Dhaka jelas-jelas menunjukkan sikap antipati terhadap perjuangan Nirya, Sthira dan Arumi. Gadis itu menggeleng sendirian. Cukuplah berpikir tentang maksud di balik bergabungnya Dhaka komodorai dalam kelompoknya.
Pandangan mata Nirya beralih dan tertuju pada kedua sejoli, Wiranata dan Mora yang menapaki pasir pantai Pulau Bumas dengan langkah-langkah ringan, sesekali melompat-lompat. Lika, si gadis kecil pengungsi bencana ikut dengan mereka. Nantinya Lika akan diakui sebagai anak angkat Mora-Wira dan mendapat kedudukan sebagai Putri Kerajaan Rainusa.
Aih, bisakah aku sebahagia mereka? pikir Nirya sambil menoleh ke arah si pendekar gagah dari Kalingga itu.
__ADS_1
Sumber gambar untuk warga Dhuraga: Suku Asmat dari DityARA's Blog.