EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DANTONU Bagian 9


__ADS_3


"Tidak! Kalian pergilah! Kalian takkan mampu...!"


"Dengan kekuatan berempat, kita pasti mampu!" Pada umumnya kaum komodorai tak hanya berkulit keras, tapi juga keras kepala."


"Rambu ingin tarung bantu ayah! Ini kesempatan untuk amalkan kekuatan Rambu!" seru si komodorai sulung yang kuat.


"Thika ingin buktikan selain cerdas juga bisa kuat, seperti ayah!" seru si anak tengah.


Dhaka hanya mengangguk cepat sebagai jawaban dan kembali memusatkan pikirannya. Dibu benar, perlahan tapi pasti kekuatan gabungan keempat komodorai sakti itu balas menekan Vrithra, sehingga kepalanya terdorong ke belakang. Bahkan sang naga dewata mulai meraung pilu, energi petirnya malah berbalik melukai dirinya sendiri.


Ini membuktikan bahwa persatuan, apalagi ikatan kasih sayang dalam keluarga adalah sumber kekuatan yang tak terbatas dan mampu mengatasi kekuatan apapun juga.


"K-kurang ajarr! Dasar pengkhianat tak tahu diri! Rasakan pelajaran paling mengenaskan akibat menantang dewa!" Sesaat setelah mengatakannya, Vrithra menghentakkan energi yang terkumpul di kepalanya. Petir tercurah bebas dan sepenuhnya dari moncong sang naga, menerpa segala sesuatu di depannya.


Akibatnya, Dhaka, Dibu, Rambu dan Thika terhantam keras dan terlempat ke segala arah. Rasa sakit terparah sepanjang hidup membuat Dhaka meraung, tubuhnya terpuruk di tanah berbatu-batu.


Walau demikian, di posisi tertelungkup Dhaka masih bisa mengangkat kepalanya sejengkal dari tanah. Sulit menoleh, Dhaka lantas memanggil-manggil dengan suara serak, "Dibu! R-Rambu! Thika!"


Yang Dhaka lihat justru Nirya, Arumi dan Taksaka sedang mengambil kesempatan emas yang ia dan keluarganya buka itu. Nirya menghunjamkan kerambit berantainya di retakan kulit Vrithra dengan energi berpusar bagai bor dari jurus andalannya, Pusaran Badai Terabas Selaksa.


Panah api Arumi yang sarat energi sekuat jurus Naga Api Melacak Hati menghunjam titik retakan yang sama dengan sasaran Nirya.


Terakhir, giliran Taksaka menghunjamkan tombak milik Dhaka  yang sarat dengan energi api pamungkas miliknya, Serbuan Laskar Kereta Berapi. Akibatnya, luka buatan yang adalah satu-satunya titik terlemah Vrithra itu mulai berdarah.


"Aagh! A-apa... ini? Rasa ini... nyeri? Ribuan tahun berselang sejak terakhir kali aku merasakannya. Aku benci rasa ini, benci sekali! Harus kumusnahkan segalanya sebagai penawar nyeri ini!" Teriring satu raungan membahana, lagi-lagi Vrithra menghentakkan energi petirnya.

__ADS_1


Detik berikutnya, suara-suara eranganlah yang terdengar. Dhaka terperangah, lagi-lagi Nirya, Arumi dan Taksaka terpental jauh. Gila, apa energi Vrithra sungguh tak ada habisnya?


Habislah sudah. Seluruh energi telah dikerahkan oleh semua pendekar yang ada. Semua modal telah dikuras dalam pertaruhan terakhir ini, namun hampir pasti peluang untuk menang dari Vrithra atau minimal bertahan hidup telah sirna sepenuhnya.


Sebelum gelap dan hampa menjemput, mata jeli Dhaka menangkap kelebatan sosok seorang pria melintasinya. Pria itu lantas menghunjamkan golok dengan bilah berkilatan petir ke lubang luka Vrithra. Saat itulah Dhaka tahu persis, pria yang dilihatnya itu adalah Sthira.


"Rasakan pamungkas Indra, Bumi Berguncang, Langit Gempar!" Sambil mengatakannya, Sthira membenamkan Gharma lebih dalam sampai ke pangkal bilahnya.


Vrithra meraung pilu. Seakan ada badai halilintar sedang berkecamuk, menghancurkan tubuhnya dari dalam. Saat kejatuhannya di Zaman Dewa-Dewa silam terulang lagi.


"Tidaak...! Ada Vrithra, mengapa harus ada Indra? Aku tak terima ini, tidaak!" teriaknya.


"Karena bila ada yang merusak keseimbangan dunia, akan muncul sosok yang akan mengembalikan keseimbangan itu seperti semula." Sthira melepas pegangannya pada gagang mandau besarnya sambil menendang tubuh raksasa Vrithra dengan segenap sisa energi pamungkasnya.


Kehabisan tenaga, si naga raksasa yang memang sudah limbung terus tumbang sambil terdorong mundur. Parahnya, tendangan Sthira tadi seakan sengaja mengarahkan Vrithra ke lubang kawah raksasa di tengah-tengah kaldera.


Walaupun nampaknya kemenangan sudah pasti di tangan, perhatian Dhaka seketika teralihkan pada hal yang jauh lebih penting bagi dirinya. Dengan tenaga yang mulai pulih, ia langsung bergerak secepat kakinya mampu menyeret tubuhnya.


Dhaka menoleh ke kiri-kanan, memanggil dengan suara serak, "Dibu... Thika... Rambu!"


Hal yang berikutnya dilihat Dhaka justru Arumi dan Taksaka yang sedang berlutut di samping tubuh Thika dan Rambu yang terkapar. Saat tatapan mereka beradu dengan tatapan Dhaka, Arumi, lalu Taksaka tertunduk sambil menggeleng perlahan.


Dhaka merasakan hatinya hancur-lebur jadi abu.


Lebih hancur lagi hati Dhaka melihat belahan jiwanya, Dibu Anam juga terkapar di tanah, di atas kubangan darahnya sendiri. Bagian bawah tubuh induk komodorai itu remuk-redam, dari ujung kaki sampai pinggangnya terpuntir hingga menghadap ke arah yang salah.


Tanpa pikir panjang Dhaka menghambur dan memapah tubuh pasangannya. "Dibu! Dibu!" Ia memanggil-manggil, seakan berharap masih ada setitik nyawa tersisa dalam raga komodorai yang remuk-redam itu.

__ADS_1


Ternyata Dibu memang masih bernapas, walaupun napasnya tinggal satu-satu. Dengan mata setengah terbuka, Dibu menatap balik ke arah pasangannya.


Dibu lalu berkata lirih, "D-Dhaka... syukurlah... kau selamat... Apa Vrithra... sudah mati?"


Mata Dhaka berkaca-kaca. "Ya, Dibu. Sthiralah yang menjatuhkan naga itu ke dalam lubang kawah."


Dibu tak menanggapi jawaban Dhaka itu dan malah menanyakan hal lain, "B-bagaimana... anak-anak? Rambu? Thika?"


Air mata Dhaka kian membuncah. "Mereka... telah kembali ke naungan Sang Srisari."


"Aih... Sebentar lagi aku... juga akan... susul mereka... Dhaka... Rasanya... dingin sekali... Aku... aku takut...!"


Dhaka tahu, yang menakutkan bagi Dibu bukan kematian itu sendiri, melainkan rasa kesepian yang akan menyiksanya di alam baka tanpa belahan jiwanya.


Maka Dhaka membelai wajah pasangannya itu sambil berkata lembut, "Jangan takut, Dibu. Cepat atau lambat Dhaka pasti akan susul Dibu dan anak-anak ke pelukan Sang Srisari.'


"Ah... terima kasih... cintaku... Dhaka..." Dibu Anam, sang kepala suku komodorai di Watas menarik napas panjang, lalu menutup mata untuk selamanya.


"Dibu! Dibu! Tidaak!" Setegar apapun Dhaka, ia tak kuasa menahan histerianya. Betapa tidak, sebesar apapun kemenangan mereka atas Vrithra, itu tak sebanding dengan Dhaka yang kehilangan hampir seluruh keluarga. Padahal niat Dhaka semula adalah menyelamatkan seluruh keluarga dan sukunya itu dari murka Vrithra atau letusan Dantonu. Takdir berkata lain, ia malah harus membayar kemenangan ini dengan pengorbanan yang teramat besar.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba lava menyembur keluar dari dalam lubang kawah Gunung Dantonu. Gawat! Aksara gaib petir kunci gunung api pasti telah membuka pintu menuju erupsi luar biasa.


Apakah ini berarti para pendekar, termasuk Dhaka dan Taksaka harus berkorban lebih banyak lagi, bahkan kehilangan nyawa pula? Lebih parahnya lagi, terhentinya perjuangan mereka di Dantonu akan memberi peluang pada satu-dua negara kuat lain untuk mendatangkan bencana dan prahara yang lebih besar lagi di seluruh Antapada.


Kalau begini jadinya, alih-alih pahlawan pembawa perdamaian, sejarah akan lebih memurukkan nama Dhaka, Sthira, Nirya dan Arumi sebagai pembawa rentetan bencana.


Sumber gambar: Kawah Tompaluan Gunung Lokon, Manado dari situs Pesona Wisata.

__ADS_1


Referensi untuk: Gunung Dantonu di Akhsar.


__ADS_2