
Para pendosa: Arumi, Sthira, Dhaka, Nirya.
Anehnya, tak satupun makhluk gaib atau siluman menghadang Dhaka, Sthira, Arumi, Nirya, Dapu Dapu, Canirwa dan rombongan. Padahal mereka sudah memperkirakan ada mata-mata Vrithra yang sudah melaporkan tentang mereka pada tuannya. Para pendukung Vrithra pasti sudah mempersiapkan serangan mendadak di jalur perjalanan para pemberontak ini.
Pada akhirnya, pertempuran sengit antara para siluman pendukung Vrithra dan para siluman paling pemberani di barisan pemberontak tidak pernah terjadi. Walau telah menjejak lereng Gunung Dantonu, kedua kaki Dhaka terus gemetaran.
Justru saat si komodorai itu berhenti sejenak untuk menenangkan diri, Sthira menegurnya, "Kau baik-baik saja, Dhaka?"
"Dhaka baik," ujar Dhaka, terburu-buru berjalan lagi.
"Wajahmu memang tak diciptakan untuk menunjukkan mimik, sementara sisik-sisikmu malah menyembunyikan kondisi tubuhmu. Tapi kau tak bisa membohongiku, pak tua. Sesuatu membuatmu amat resah, bukankah begitu?"
Dhaka tak menjawab, menolehpun tidak.
Jadi Sthira terus menekan, "Para komodorai di Dantonu itu pasti lebih dari hanya 'sesama kaum' saja untukmu, 'kan? Reaksimu saat mendengar nama si induk komodorai itu menjelaskan segalanya."
Hanya perlu sesaat bagi Dhaka untuk akhirnya menghela napas dan bicara, "Dibu Anam adalah pasangan, yang dalam istilah manusia adalah istri Dhaka. Ketiga komodorai anak Dibu adalah anak-anak kandung Dhaka. Seharusnya sikap Dhaka itu sudah jelas, sayang Rai Savitri kurang peka."
"Ya, tapi pertaruhan nyawamu itu juga membahayakan misi kita. Apa kau pikir andai Rai Savitri tahu persis dan mau mengerti tentang hubunganmu dengan anak-istrimu itu, ia akan mengumpuni para komodorai yang berkhianat dan memihak Vrithra?"
Dhaka ternganga sebentar, lalu menggeleng. Kali ini si sososk bijaksana seakan kehabisan akal. "Ini sungguh serba salah. Apa yang harus Dhaka lakukan, Sthira?"
Sthira juga terhenyak, ditanyai seperti itu. "Aih, terus terang aku tak punya keluarga, jadi aku belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Jadi, hanya ada satu caraku untuk menghadapi tiap masalah."
"Cara apa itu?"
"Dengan menjadi diriku sendiri."
"Maksud Sthira?"
"Sebelum di Akhsar, aku selalu menangani masalah dengan bereaksi pada apapun yang kulihat saat itu juga. Namun di kali terakhir, aku sadar bahwa selama ini caraku salah. Jadi maaf, saat siuman aku mencoba pura-pura terus pingsan untuk mengamati keadaan dengan lebih teliti. Ternyata benar, 'kegilaan' Rai Savitri disebabkan oleh sihir, bukan karena hatinya jahat. Hampir saja aku membunuh orang yang salah. Jadi, inilah cara baru dari diriku yang baru, yaitu mengamati keadaan lebih dahulu sebelum bertindak."
"Aha! Dhaka juga akan coba cara Sthira. Dhaka akan berunding dulu dengan Dibu Anam, baru bertindak. Terima kasih, Sthira!"
"Sama-sama." Sthira mengangguk sambil tersenyum tulus.
Sebenarnya Dhaka ingin menambahkan, "Tapi memang lebih mudah membicarakan usul bagus daripada menjalankannya." Namun kata-kata itu dibiarkan menggantung saja di lidahnya yang bercabang, takut itu akan menyinggung perasaan lawan bicaranya.
__ADS_1
Lagipula, jalan yang makin sempit dan menanjak, terdiri dari deretan anak tangga yang curam makin sulit pula dilalui. Kabar baiknya, rombongan belum sampai harus memanjat hampir tegak-lurus seperti di Gunung Tubar'e dan Yamkora.
"Nah, kita sudah tiba di pelataran di depan gerbang menuju pemukiman suku komodorai," kata Canirwa. "Kita harus sangat hati-hati, karena Empat Penjaga bisa..."
"... Muncul kapan saja, bukankah begitu?" sahut sebuah suara yang serak, tapi masih terkesan agak feminin.
Dhaka terkesiap. Empat komodorai melesat datang secepat kilat, menempati posisi masing-masing di sudut-sudut pelataran yang bentuknya nyaris seperti persegi delapan itu.
Si pembicara, komodorai yang berpostur paling bungkuk di antara keempatnya kembali melanjutkan, "Wah, sungguh kehormatan. Canirwa Krana yang terhormat berkunjung ke desa kami yang sederhana ini."
Salah satu komodorai muda yang adalah betina melanjutkan, "Tapi kau membawa manusia. Apa kau ingin menyumbang untuk koleksi baru Gunung Selaksa Patung?" Lidahnya menjulur-julur penuh harap.
"Tidak kali ini," jawab Canirwa.
"Lantas, mau apa kalian kemari?" bentak si komodorai jantan yang bertubuh paling besar di antara keempatnya. "Titah Rai Taksaka, siapapun dilarang melintasi, apalgi mendaki Gunung Dantonu."
"Bukankah sudah jelas? Kami harus melintasi gunung ini untuk menghadap Rai Taksaka. Ini amat penting, berhubungan erat dengan masa depan Watas. Pertanyaanku kini, bersediakah kalian membiarkan kami lewat?"
"Rai Taksaka telah memberi perintah. Kami harus mematuhinya sebagai tanda setia kami pada Rai Taksaka!" seru Dibu Anam. "Kami tak bisa biarkan kalian lewat. Bila memaksa, bersiaplah kehilangan nyawa."
Canirwa lantas menyurut mundur, memperlihatkan sosok komodorai di belakangnya. "Kalau begitu, giliran Dhaka untuk bicara dengan kalian."
Dhaka sengaja terus berjalan hingga berdiri di tengah-tengah pelataran. "Ya, ini Dhaka. Dibu, anak-anak... ternyata kalian masih hidup..." Ia berputar di tempat, menatap keempat komodorai itu satu-persatu.
Keempat komodrai penjaga menatap balik pada Dhaka, tapi tak satupun dari mereka maju dan menyambut sosok yang seharusnya amat mereka sayangi itu.
Nirya yang amat perasa mencoba maju untuk menengahi "urusan keluarga" ini. Namun Sthira merentangkan tangan, menghalangi jalannya sambil menggelengkan kepala.
Dhaka yang melihat adegan Nirya dan Sthira itu menghela napas. Ia tahu, harus dirinya sendirilah yang menghadapi keluarganya agar ada peluang mendapatkan hasil terbaik. Maka ia mulai bicara pada pasangannya, "Sejak terpisah dari Dhuraga, Dhaka selalu cari Dibu...!"
Namun yang Dhaka dapat adalah bentakan, "Simpan saja basa-basimu! Dhaka Komodorai sudah mati sejak ia memutuskan tinggal untuk menangkal para pengejar daripada melindungi keluarganya sendiri dari dekat!"
"Tapi kalau Dhaka tak lakukan itu, seluruh suku akan...!"
"... Kembali ke pelukan Sang Srisari dan mungkin keluarga kita takkan terpisah! Apa kau tak sadar kami telah bertahun-tahun menderita, menjadi pelindung bagi suku pengungsi di tempat terasing ini?"
Mendengar kata-kata semacam itu, Dhaka malah balas membentak, "Apa? Pikiran macam apa itu? Dibu tahu Dhaka Kepala Suku, jadi Dhaka harus bela seluruh suku, bukan hanya keluarga Dhaka saja! Dibu hanya pentingkan anak-anak Dibu, tak peduli suku! Kepala Suku macam apa Dibu, hah?"
"Aku terpaksa menjadi Kepala Suku karena aku dan anak-anak adalah yang tersakti di suku kita. Aku tak mau jadi Kepala Suku lagi! Aku ingin menjalani hari tuaku dengan tenang!"
__ADS_1
"Kalau begitu, serahkan saja jabatan Dibu pada Rambu, si sulung yang paling kuat!"
Si komodorai betina muda membentak, "Tidak bisa! Tikha paling cerdas, Tikha yang harus jadi Kepala Suku!"
Komodorai ketiga, pejantan yang bertubuh tak terlalu besar menyela, "Kiro cerdas dan juga kuat! Kiro berlatih dan belajar keras tiap hari, Kiro paling pantas jadi kepala suku!"
"Tidak! Rambu paling pantas!" hardik si komodorai terbesar.
"Tikha!"
"Harus Kiro!"
Ketiga komodorai muda itu mengacungkan tombak masing-masing, siap menerjang ke arah satu sama lain. Pemandangan keluarga seperti ini membuat miris siapapun yang melihatnya. Sama sekali tak ada kasih sayang tersirat dalam sikap mereka itu. Mereka lebih mirip sebuah regu pasukan tentara bayaran daripada keluarga.
Maka, Dhaka menghadapi keluarga seperti ini dengan cara yang amat beda, caranya sendiri. Ia menunjuk lurus ke sekeliling dengan tombak komodorainya seraya berseru, "Rambu, Tikha, Kiro! Hadapi ayah kalian ini, tiga lawan satu! Kita orang bakal lihat, siapa di antara kalian yang pantas jadi Kepala Suku baru!"
Ketiga komodorai muda itu menghadapi Dhaka, gerak-gerik tubuh mereka bagai pemburu yang hendak ambil ancang-ancang menerkam mangsa. Lantas, tanpa aba-aba, ketiganya menerjang maju dengan tombak teracung, seolah-olah hendak membunuh ayah kandung mereka sendiri.
Bahkan Dhaka sendiripun tak ragu mengayunkan tombaknya ke arah anak-anaknya sendiri, persis seperti cara-cara komodo hewani. Dengan gesit ia menangkis atau menghindari tiap tusukan tombak, lalu balas menusuk atau mundur. Dhaka juga bergerak kesana-kemari mengelilingi pelataran, "melayani" anak-anaknya satu-persatu secara bergantian.
Sambil meraung, Rambu menusuk lurus ke arah jantung Dhaka.
"Rambu kuat, tapi kurang lincah." Membuktikan kata-katanya, dengan mudah Dhaka berputar menghindari tusukan. Lalu ia melompat, mencangkulkan tulang kering kakinya di tengkuk si komodorai besar. Alhasil, Rambu terjerembab mencium tanah.
"Rambu!" Melihat kakaknya tumbang, Tikha melesat secepat kilat. Belum sempat ia melayangkan satu seranganpun, lawan sudah amat dekat, mengambil posisi tepat di sisi Tikha.
"Cukup cepat, tapi harus lebih kuat untuk bisa lebih cepat lagi dan menandingi Dhaka," komentar Dhaka.
Terkejut, si komodorai betina hendak menyabetkan tombaknya secara refleks ke arah lain, namun tinju Dhaka lebih dahulu mendarat amat keras di perutnya. Tikha roboh dan bertekuk lutut seketika.
"Tikha! Grr!" Dengan amarah yang meluap-luap, Kiro si bungsu memutar-mutar tombaknya. Saat mendekati lawan, Kiro melancarkan tusukan-tusukan mendadak di sela-sela ayunan-ayunan tombak.
Dhaka sempat terkesiap. Ia mencoba terus menghindar sambil membaca pola serangan lawan, seperti berapa kali menyabet lalu menusuk. Kali ini Dhaka salah. Saat ia menghindari satu tusukan, ternyata bukan sabetan yang datang, melainkan tusukan kedua. Alhasil, ujung tombak Kiro mendarat di perut samping Dhaka.
Anehnya, bukan menjerit kesakitan, Dhaka malah bicara, "Bagus, kekuatan dan kecepatan serangan Kiro seimbang, penuh variasi pula. Tapi kiro masih gegabah."
"Apa?" Tak percaya dirinya belum mengalahkan sang ayah, Kiro menarik tombaknya. Namun ujung tombak itu telah digenggam erat oleh Dhaka hingga "terkunci", tak dapat digerakkan sama sekali. Sebelum sempat mengerahkan variasi serangan lain, tendangan Dhaka telah lebih dahulu mendarat di pipi Kiro. Akibatnya, si komodorai muda terdorong mundur beberapa langkah.
Namun saat melihat kedua saudaranya telah bangkit, Kiro berteriak, "Rambu, Tikha! Kita serang sama-sama!"
__ADS_1