EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DABONGSANG Bagian 1


__ADS_3


Mengalah hari ini agar menang besar esok hari.


Entah berapa banyak daya dan dana yang telah dikerahkan, darah yang telah tumpah dalam perjuangan di Gunung Idharma. Namun Nirya, Sthira dan Arumi terpaksa meninggalkan Penida, pulau utama Rainusa dengan tangan kosong.


Hal ini dipastikan saat Nirya dan kawan-kawannya telah keluar dan lari jauh dari Gunung Idharma. Bahkan saat mereka mencapai pelabuhan Kota Danurah, sama sekali tak tampak tanda-tanda gunung berapi bahkal meletus.


Suasana di Danurah bahkan tampak tenang, seakan tak terjadi gejolak apa-apa.


Mungkin inilah hal terbaik yang harus terjadi, takdir yang lahir dari keputusan-keputusan dan tindak-tanduk para pelakunya. Tak meletusnya Idharma berarti sekali lagi, Barong, sang juru kunci gunung itu berhasil mengalahkan Rangda, musuh bebuyutan yang setanding dengannya.


Takdir Sang Mahesalah yang telah menggariskan luputnya pusat negeri Rainusa dari bencana. Secara logika dan akal, ini jelas tak adil. Namun, ini membuktikan bahwa kata-kata Barong pada Nirya, Sthira dan Arumi itu selaras dengan kebenaran Sang Mahesa, yang kini telah menjadi kenyataan dan kepastian. Segala usaha untuk mengubah kenyataan itu adalah menentang takdir, dan jelas takkan mendapat restu Sang Mahesa.


Kenyataan-kenyataan itu pulalah yang menempatkan Nirya kembali dalam kapal layar-perang Pinissi pimpinan Arumi. Dalam kabin khusus perwira kapal itu, ia baru saja selesai mengerahkan sihir Semilir Angin Penyembuh di tubuh Sthira. Lantas Nirya jatuh terduduk di kursi sebelah ranjang.


Napas Nirya memburu, namun itu hanya kelelahan. Itu masih belum seberapa dibandingkan kondisi Sthira sebelum perawatan. Luka-luka parah akibat bertarung yang belum pulih, ditambah kelelahan luar biasa akibat pelarian tanpa henti dari Idharma membuat pria perkasa macam Sthirapun akhirnya ambruk.


Setelah hampir tiga jam mengerahkan sihir, ditambah obat-obatan dari kapal, wajah Sthira yang semula pucat-pasi kini kembali merona. Ekspresi kesakitannya mengendur, dan kini ia tidur tenang.


Melihat paras tampan yang tenang itu, jantung Nirya mendadak berdebar keras. Dengan gemetar dan takut-takut gadis itu mengulurkan tangannya. Lalu ia membelai pipi, lalu dahi Sthira dengan amat lembut. Sthira mengulat dan melenguh nyaman. Senyum Nirya terkulum saat melihat ini.


Wajah itulah yang telah menarik Nirya dari kehampaan akibat kehilangan segalanya di Perguruan Bayunara. Wajah yang garang saat bertarung, tegas saat memimpin kelompok namun lembut tiap kali bicara dari hati-ke-hati dengan Nirya. Wajah itulah yang telah Nirya ikuti sampai sejauh ini. Segala perjuangan, energi, darah dan air mata Nirya memang demi kebaikan seluruh Antapada. Namun hanya ia sendiri yang mengetahui alasan keduanya, yaitu agar ia terus bisa menatap wajah Sthira seperti saat ini.


Lama menatap wajah pujaannya, keberanian Nirya terhimpun lagi. Lagi-lagi ia mengulurkan tangannya dan kembali membelai lembut wajah itu. Lalu, gadis itu mengumpulkan seluruh keberanian dan rasa yang ada. Ia memajukan kepalanya hendak mencium Sthira saat tiba-tiba...


“Nirya!”


Seruan Arumi itu membuat Nirya terperanjat dan cepat-cepat mundur dan merebahkan punggung di kursinya.


“Ada apa, Arumi?” Nirya cepat-cepat bertanya.


“Oh, kamu masih sedang merawat Sthira ya? Maaf kalau aku mengganggu...”


“Ah, tidak juga. Kebetulan sihirku baru selesai dan lihat, wajah Sthira kembali merona...”


Arumi memaksakan senyum getir. “Benar juga...” Ia ternganga sejenak, mungkin hendak mengomentari “posisi” Nirya-Sthira yang ia lihat tadi, namun ia mengurungkan niatnya itu. “Nah, kita akan sampai di tujuan kita selanjutnya, Kota Dabongsang kira-kira empat hingga enam hari lagi.”


“Ya, benar. Entah Sthira bakal setuju atau tidak, kita harus membebaskan Wiranata di Dabongsang, sesuai amanat Sang Barong. Beliau malah mengizinkan kita membuat Gunung Api Tubar’e meletus dan menghancurkan ‘ibukota baru’ Rainusa itu,” kata Nirya.


Arumi bertopang dagu. “Yang tak kumengerti, apa sebabnya Barong bisa berkata sekejam itu pada Kota Dabongsang? Ada apa di kota itu sehingga harus dimusnahkan?”

__ADS_1


“Entahlah,” kata Nirya. “Menurut nahkoda kita, bukankah Dabongsang adalah kota para penjahat? Apakah memang semua penduduknya harus bertindak licik, curang dan melanggar segala hukum yang berlaku agar dapat bertahan hidup di sana?”


“Bisa jadi itu memang kota paling bejat di Antapada.” Arumi lalu bertanya lagi, “Kalau begitu, mengapa Barong sendiri tak membuat Gunung Tubar’e meletus sejak dulu demi memusnahkan Kota Dabongsang?”


Nirya menjawab, “Sepengetahuanku, menurut Rahli Marus, mantan... juru kunci Gunung Barkajang, sesama juru kunci teramat pantang saling bentrok. Kalaupun salah satu juru kunci menang dalam adu kuat, ia dilarang membunuh juru kunci lain atau si pembunuh bakal terkena kutukan Sang Mahesa. Yang mana hidup dalam kutukan itu jauh lebih tersiksa daripada mati.”


“Ya, seperti yang kita tahu pula, Sang Mahesa, Sang Srisari dan Sang Angkara tak lantas turun tangan langsung mengatasi semua krisis di dunia. Ini perjanjian di antara mereka bertiga, antar bentrok yang terjadi antara para Tritunggal yang hampir menghancurkan Vanapada tak terulang lagi.” Arumi mengutip keterangan dari kitab suci Agama Mahesa.


“Jadi, segalanya tergantung usaha kita, ya.” Jari-jari Nirya menelusuri rambut jingganya.


“Ya, begitulah. Lagipula, kita sedang menghadapi masalah yang gawat sekarang.”


“Hah? Masalah apa itu?” Nirya terperanjat.


Arumi menjelaskan, “Dana dan perbekalan kita terbatas. Aku takut yang ada sekarang takkan cukup sampai akhir perjalanan kita.”


Mata Nirya terbelalak. Ia merasa lugu sekali, sama sekali tak memperhitungkan masalah perbekalan dalam perjalanannya, mengira mereka bisa melakukan hal yang sama seperti saat menyeberang dari Swarnara ke Jayandra dulu.


“Aku sudah terlalu sibuk di kapal, harus terus-menerus meyakinkan nahkoda dan para awak bahwa misi keliling antapada ini adalah titah Prabu Narendra, atas prakarsa Mahapatih Galahasin dan wewenang kepemimpinanku dari medali Laksamana Begarwana. Bila sampai kurang perbekalan dan kurang dana untuk para awak kapal, mereka pasti bakal meninggalkan Pinissi atau lebih parah lagi, memberontak.”


Nirya hanya mengangguk, membenarkan kata-kata rekannya itu.


“Nah, jadi biar aku yang sibuk menangani urusan kapal. Tugas merawat Sthira kuserahkan sepenuhnya padamu.”


“Oh, jelas kelihatan kok. Lagipula, kau jadi punya lebih banyak waktu berduaan dengan Sthira ‘kan, Nir?” sindir Arumi.


Nirya gelagapan. “A-apa? Aku... Kami tidak...!” Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. “Aku tak punya perasaan apa-apa pada...!”


Namun Arumi sudah meninggalkan kabin itu sambil tertawa dibuat-buat. Kesengajaan itu membuat Nirya mendengus kesal. Bukan karena ketahuan bersikap lembut berlebihan terhadap Sthira. Bukan pula karena Arumi mungkin cemburu, diam-diam Arumi mungkin juga menyukai Sthira dan mungkin Sthira juga sebenarnya menyukai Arumi.


Dengusan kesal itu sebenarnya karena sikap Arumi yang kompleks dan mudah berubah mendadak. Dari semula kurang suka pada Nirya, mendadak jadi akrab setelah Idharma. Jadi sindiran tadi membuat Nirya makin bingung dan bertanya-tanya, apakah sebenarnya Arumi menaruh hati pada Sthira atau tidak. Dengan begitu, Nirya jadi makin bimbang, apakah akan terang-terangan mendekati Sthira atau tidak.


Dasar kejam kau, Arumi, batin Nirya. Mungkin untuk saat ini ia harus puas diam-diam membelai kening Sthira saat pria itu masih tak sadsarkan diri saja, sekali lagi, saat ini. Cukuplah sebegini untuk saat ini. Biar kelak takdir menunjukkan apakah aku bisa maju lebih jauh... atau sebaiknya mundur teratur.


\==oOo==


“Nirya... Nirya!” Suara seorang pria yang masih terkesan lemah namun dipaksa keras membangunkan Nirya yang tertidur bertopang dagu di meja sebelah ranjangnya. Mendengar itu, kepala Nirya bergeser dari topangan tangannya, lalu terantuk di meja.


“Aduuh!” erang Nirya.


Namun tanggapan yang didengarnya hanya ucapan-ucapan bernada bingung. “Di mana ini? Kita sedang menuju ke mana?”

__ADS_1


Baru memusatkan perhatian dan tahu yang bicara itu Sthira yang baru siuman, Nirya menjawab, “Kita sudah kembali di Kapal Pinissi, sekarang sedang dalam perjalanan menuju Dabongsang.”


“Apa?!” Sthira terlonjak bangun. “Putar haluan kapal ini! Kita harus kembali ke Idharma!”


“Percuma. Barong telah menang melawan Rangda dan Gunung Idharma tak jadi meletus. Lagipula, kau masih pingsan, jadi...!”


“Setidaknya tunggu sampai aku siuman dulu, baru berlayar! Sebagai ketua kelompok, akulah yang berhak memutuskan hendak ke mana dan kapan! Mana nahkoda kapal, aku harus bicara padanya!”


Nirya memegangi pundak Sthira, mencegahnya. “Jangan! Nahkoda kapal ini hanya patuh pada Arumi yang memegang Medali Perintah Laksamana Begarwana...!”


“Aah! Minggir kau!” Sthira menepis tangan Nirya dan berdiri. Namun saat hendak melangkah, ia terjatuh. Rupanya, kondisi tubuhnya belum pulih benar.


“Ada apa ribut-ribut?” hardik Arumi saat ia mendadak muncul di ambang pintu kabin.


Sthira berseru, “Arumi! Putar haluan kapal ini! Kita harus kembali ke...!”


“Aku menolak,” tegas Arumi. “Kita harus meneruskan perjalanan ke Dabongsang.”


“Apa?! Beraninya kau...!” Sthira meradang. Ia hendak memaksakan kehendaknya lewat kekerasan dan ancaman, namun tubuhnya roboh, ambruk lagi di lantai. Ia mencoba menggapai mandau besarnya, namun senjata itu tak ada di mana-mana.


Dengan santai Arumi menimang-nimang golok besar Sthira di tangannya. “Sudah kuduga sikapmu itu, Sthira. Jadi terpaksa ‘kuamankan’ dulu golokmu ini. Ingat, aku setuju bergabung dengan kalian karena amanat Mpu Galahasin, dengan syarat kita bertiga jadi mitra yang setara. Ke manapun kita pergi, tindakan apapun yang kita ambil harus berdasarkan kesepakatan kita bertiga.”


Sthira yang memang sesama mantan komandan pasukan hanya terdiam dalam geram. Ia memang selalu terbiasa mengambil keputusan sendiri, ditambah jiwa mudanya yang mudah tersinggung ketika ditentang. Ia komandan yang tegas pada bawahannya, namun kadang ia lupa, Nirya dan Arumi adalah mitra dan kawan, bukan bawahan.


Maka, Arumi melanjutkan, “Lihat situasinya sekarang. Andai kita terus bertahan di Idharma, belum tentu kita akan menang melawan Barong yang telah menundukkan Rangda. Lagipula, seperti yang telah kubicarakan dengan Nirya, kita perlu mencari tambahan dana dan perbekalan untuk perjalanan teramat panjang ini.”


Nirya menimpali, “Jadi, sat-satunya tempat kita dapat mengumpulkan itu dengan segala cara adalah kota para penjahat, Dabongsang. Kebetulan kota itulah yang kini jadi ‘ibukota tak resmi’ Rainusa, lebih penting dari Danurah dan terletak di kaki gunung berapi, Tubar’e.”


“Tapi, daripada kebetulan, aku lebih suka menyebutnya suratan takdir Sang Mahesa,” lanjut Arumi. “Takdirlah yang telah membawa kita sampai di sini.”


Sthira tak lantas menanggapi penjelasan panjang-lebar kedua rekannya itu. Dahinya berkerut, mungkin ia sedang melakukan pertimbangan-pertimbangan lewat akal sehatnya.


“Baiklah, kita ke Dabongsang,” ujar Sthira akhirnya.


Arumi tak segera menyerahkan mandau besar pada pemiliknya. “Jadi kau mengaku salah dan bersikap tak pantas tadi?”


“Ya. Kau peganglah dulu senjataku, Arumi. Dan tolong tinggalkan aku sendirian, Nirya. Aku butuh menenangkan diri dan menyegarkan akalku sejenak,” ujar Sthira, nada bicaranya jauh lebih lembut daripada tadi.


“Baiklah kalau begitu,” sahut Arumi sambil berlalu pergi.


Tanpa mengatakan apa-apa, Nirya juga hendak meninggalkan ruangan ini. Sekilas, ia masih curi-curi memandang wajah Sthira. Namun, ekspresi wajah tampan itu tampak amat suram. Seakan-akan ada pertarungan sengit yang tengah berkecamuk dalam diri Sthira, dan saat ini hanya Nirya yang menyadari gelagat itu.

__ADS_1


Rasa kuatir Nirya yang semula mereda kini malah terbit kembali. Sthira yang manakah yang bakal memenangkan pertarungan batin ini? Sthira si mantan perwira, atau Sthira yang mengorbankan segalanya, bahkan ego dan kehormatannya sendiri demi tujuan yang ia anggap paling mulia?


Sumber Gambar: Barong, Wanara dan Rangda dari Pinterest.com


__ADS_2