
Dhaka mengangguk lesu. "Ya, tinggal Kalingga yang harus kita orang lemahkan. Setelah itu, serukan agar negeri-negeri di Antapada berdamai dan bersatu. Dengan begitu, kita orang akan kuat hadapi ancaman-ancaman dari negeri-negeri jauh dan besar seperti Jerian, Perlas, bahkan Khor, Wushu, Taehon dan Shima."
"Benar juga." Arumi meninju lembut telapak tangannya. Posisi duduknya agak goyah dalam kapal yang sedang bergerak ini. "Kita harus secepat mungkin tiba di Kalingga dan melemahkan negeri itu. Sayang Resi Arya Manikrama menghilang tak tentu rimba saat menjelajahi rimba-rimba Kalingga. Aku tak punya banyak petunjuk tentang negeri itu."
"Kalau begitu, langsung saja ke Hamentane, ibukota Kalingga," tanggap Dhaka. "Nanti kita orang akan cari petunjuk di sana, siapa tahu ada gunung api aktif dekat ibukota."
Arumi bersedekap. "Ya, kurasa itulah satu-satunya cara. Sebenarnya ada cara-cara lain, tapi Sthira yang lagi-lagi tak sadarkan diri membuat kita serba salah. Andai ia siuman, belum tentu kita bisa percaya penuh padanya sebagai pemandu. Bukankah begitu, Nirya?"
Nirya hanya mengangguk. Sejak tadi gadis itu hanya menyimak, tak bicara sedikitpun.
Rupanya tak hanya pada Nirya, Dapu Dapu menyampaikan peringatan tentang Sthira pada Arumi dan Dhaka juga. Bocah siluman itu tahu, cinta pasti membuat Nirya cenderung membela kekasihnya itu, mengelabui logikanya.
Adanya Vajra, senjata dewa penampung roh Vrithra dalam tubuh Sthira membuat pria muda itu jadi terlalu berbahaya. Seharusnya Nirya, Arumi, Dhaka atau siapapun membunuh Sthira saat Sthira baru jatuh pingsan di Puncak Dantonu. Namun Nirya menghalangi tindakan itu.
Lagipula, Sthiralah pencetus, penggagas perjalanan mengerikan ini sejak awal. Entah misi ini akan tuntas atau tidak, berhasil atau gagal, Sthira harus tetap hidup dan menanggung akibat terbesar dari segala perbuatan keempat pembawa bencana itu.
Maka, Nirya kembali mengingatkan rekan-rekannya. "Sthiralah penggagas semua ini. Dialah yang paling berdosa di antara kita semua. Tanpa Sthira, misi tak bisa kita lanjutkan dan Perang Antapada akan makin menggila. Kumohon teman-teman, setidaknya pura-puralah mempercayai Sthira sampai akhir. Aku sudah bertekad akan hidup menanggung dosa atau mati, semua bersama Sthira. Sekali lagi kukatakan, inilah permintaan terakhir dari aku, Nirya Panigara. Kalau Sthira harus mati di Dantonu, di sini atau di manapun, kapanpun, aku akan ikut mati bersamanya."
Arumi dan Dhaka menghela napas. Pasalnya, mereka tak mau mengulang kembali kejadian yang lalu. Saat mendarat di tempat aman dalam hutan dekat pantai, para pendekar yang selamat sudah angkat senjata untuk menghabisi Sthira. Namun Nirya malah pasang badan, jadi perisai untuk Sthira dan mengutarakan ancaman yang sama dengan sekarang ini.
"Ya, mau tak mau harus bertaruh," ujar Dhaka sambil bersandar. "Sebesar apapun dendam Dhaka pada Vrithra karena ia telah bunuh keluarga Dhaka, lebih bijaksana kalau nanti saja Dhaka bertindak setelah misi tuntas."
Arumi mengangguk. "Setuju. Bila saat itu tiba, kalian dua sejoli bersiaplah berangkat bersama-sama ke neraka."
Nirya mendengus. Rasanya ia baru mendengar celotehan dua orang munafik. Bukankah Arumi dan Dhaka juga sama-sama berdosa, seperti halnya Nirya dan Sthira?
Dhaka mungkin akan mencari kematian dengan berbagai cara agar dapat bersatu lagi dengan keluarganya di akhirat. Tapi Arumi? Nirya tak bisa menebak isi hati Senopati Jayandra itu. Bisa jadi gadis penuh siasat itu juga tak bisa dipercaya, namun terlalu pandai menyembunyikan rahasianya.
Andai Nirya, Sthira, Arumi dan Dhaka masih bernapas di akhir misi ini, mereka berempat pasti akan bentrok dan saling bunuh, tak satupun dari mereka akan menunggu ajal menjemput. Mulai saat ini, Arumi dan Dhaka adalah musuh Nirya dan Sthira.
Dengan pemikiran itulah Nirya bangkit berdiri sambil berkata, "Silakan coba berangkatkan kami. Tapi ingat, kami akan ajak kalian ikut serta pula." Tanpa menunggu jawaban kedua rekannya itu, Nirya keluar dari ruang rapat kapal.
Dengan langkah-langkah gontai, Nirya terus berjalan dan memasuki kamar perawatan di sebelah ruang rapat itu. Tampak dalam kamar itu Sthira terbaring, masih tak sadarkan diri.
Maka Nirya duduk di samping Sthira. Ia membelai lembut rambut pria itu, menatap wajah yang ia cintai itu dan menyunggingkan senyum lembut.
__ADS_1
Dengan suara lembut pula Nirya berkata, "Tenanglah, kasihku. Aku terus di sini menemanimu. Tak peduli apa kata orang, apakah pendapat mereka tentang dirimu itu benar atau salah, cintaku yang tulus hanya untukmu. Aku percaya padamu, Sthira."
Nirya lantas membaringkan dirinya di samping pria itu. Lalu ia berbisik di telinga Sthira. "Aku juga tak peduli apa kata orang tentang diriku. Walau aku dianggap gila, walau akhirnya aku harus mendampingimu ke neraka, aku rela. Itu semua karena aku mencintaimu, Sthira. Amat sangat mencintaimu."
\==oOo==
Dari Pinissi, ketika Nirya melayangkan pandangannya ke Hamentane, ibukota Kerajaan Kalingga, rasa takjub dan kecewa tumpang-tindih berpusar dalam hatinya.
Hamentane terletak tepat di Khatulistiwa, garis tengah dunia dan adalah sebuah kota pelabuhan yang berbatasan dengan pantai. Sebuah dinding benteng menjulang tinggi mengelilingi kota itu. Ini tidak umum, mengingat negeri-negeri di Antapada umumnya tidak membentengi kota-kota mereka dengan dinding tinggi. Mungkin pembangun benteng itu sempat menjelajah ke benua barat seperti Aurelia dan belajar tentang dinding kota di sana.
Namun, tak tampak gunung, bahkan bayangan gunung satupun sejauh mata memandang. Jadi, walau Nirya dan teman-temannya berhasil membuat gunung api terdekat dengan Hamentane meletus, kemungkinan besar kota itu takkan mengalami kerusakan parah.
Satu persamaan penting antara Hamentane dengan kota-kota lainnya di Antapada adalah rumah-rumah yang rata-rata dibangun dari bahan kayu. Bahkan, pepohonan tinggi bagai hutan berdiri di antara rumah-rumah itu, dengan jarak yang hampir sepadat pohon-pohon di Teminobe, ibukota Negeri Dhuraga Bersatu.
Walau sejuk untuk dihuni di daerah tropis ini, rumah kayu amat rentan bila terbakar atau diguncang gempa. Namun tetap saja, dalam hal bencana, gempa atau semburan lahar panaslah yang paling mampu memanfaatkan kelemahan itu.
Berjalan menyusuri Kota Hamentane ini, Nirya kini merasa dirinya bagai tengah memasuki sebuah labirin seperti dalam perut Gunung Idharma. Parahnya, Sthira yang seharusnya menjadi pemandu lokal dalam "labirin" yang satu ini malah bersandar tanpa daya, tak sadarkan diri di gendongan si komodorai, Dhaka.
Melihat Nirya yang tak lepas memandangi Sthira, Arumi menegur, "Tenang saja, kami belum akan membunuhnya. Saat untuk itu belum tiba."
Nirya melempar tatapan "ya, aku tahu" ke Arumi, lalu kembali mengarahkan pandangan matanya ke jalanan. Suasana serba canggung kini, setelah empat sahabat seperjuangan ini terpecah menjadi dua kubu, penentang dan pendukung Sthira Tarunaga.
Setelah beristirahat sejenak, Arumi menemui Nirya yang sedang duduk menemani Sthira yang terbaring dalam kamar.
"Kau sudah lihat sendiri, 'kan," ujar Arumi. "Sama sekali tak ada gunung dekat Hamentane. Apa kau masih tetap memihak Sthira?"
"Tentu saja," jawab Nirya sambil balik menatap tajam ke arah Arumi. "Andai Sthira memberitahu kita tentang ini sejak awalpun, aku tetap mau membantunya. Pasti ada cara lain untuk melemahkan Kalingga, tak harus selalu dengan aksara gaib gunung berapi."
"Huh, aku tahu kau akan mengatakan itu," sergah Arumi. "Tapi kau memang benar. Kita memang jelas harus berpikir lebih jauh, tak terpaku pada cara-cara yang itu-itu saja. Karena itulah aku dan Dhaka akan berkeliling kota untuk mengumpulkan informasi. Siapa tahu kita akan bisa merangkainya dan menggodoknya menjadi rencana yang matang."
Tanpa menunggu jawaban Nirya, Arumi berbalik dan melangkah meninggalkan kamar.
Tanpa menoleh, Arumi sempat berkata, "Ingat, perjanjian kita masih berlaku. Kecuali terjadi sesuatu di luar dugaan kita, bersiaplah untuk menghilang atau kami lenyapkan di akhir misi kita nanti."
Nirya tak menjawab. Ia hanya terus mengamati rekan sekaligus musuhnya itu sampai sosok gadis berambut merah itu tak tampak lagi di balik pintu. Baru saat itulah Nirya menghela napas lega. Pikirannya kembali berkelana sambil tatapan matanya terus tertuju pada Sthira.
Terbayang Kota Hamentane yang telah rata dengan tanah dan jadi lautan api. Lalu Nirya melihat Sthira yang berdiri tegak di sampingnya. Tubuh-tubuh Arumi dan Dhaka yang tak bernyawa terkapar di tanah. Sthira tersenyum ke arah Nirya dan keduanya berpelukan mesra.
__ADS_1
Saat Nirya melepaskan pelukannya, pemandangan telah berubah menjadi bagian dalam sebuah rumah di sebuah tempat terpencil. Nirya sedang menggendong buah hatinya, sambil lagi-lagi menoleh ke arah Sthira yang baru pulang membawa pacul.
Nirya lantas keluar dari rumah untuk suaminya, namun sang suami telah dikepung orang-orang bersenjata. Lama tak bertarung, ternyata Sthira berhasil menumbangkan para pengeroyok itu.
Namun tiba-tiba satu gerombolan lain yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak dari pasukan gelombang pertama sudah mengepung Sthira, Nirya dan bayi mereka.
Betapa terkejutnya Nirya saat melihat sosok-sosok yang pernah ia kenal di antara deretan terdepan pagar betis kepungan itu. Gilanya, tubuh mereka semua berlumuran darah, bahkan ada beberapa luka menganga di tubuh-tubuh itu.
Rahli Marus, juru kunci Gunung Barkajang.
Laksamana Begarwana dari Jayandra.
Ni Lara Sati, juru kunci Gunung Megaswari.
Dabongsang Zakuay, Dabongsang Hurek dan Gega Napalam.
Mereka berenam bersama semua pengeroyok berseru bersama-sama, berulang-ulang, "Pasangan dosa! Pembawa bencana! Pembunuh masal!"
Yori Mbeko, Aswa Rakwar dan Wufabwe dari Dhuraga.
Tiga komodorai, Dibu Anam, Rambu dan Thika.
"Kami bisa menghindar dari perang, tapi tidak dari bencana yang datang tiba-tiba, tanpa peringatan maupun pertanda!" seru mendiang Yori Mbeko, mewakili semuanya.
Semua pengeroyok terus bersorak, "Pasangan dosa! Pembawa bencana! Pembunuh masal!" Lagi dan lagi.
Bahkan di paling depan berdirilah dua sosok yang paling Nirya kenal, yaitu mantan sahabat-sahabat seperjuangannya, Arumi Dyahrani dan Dhaka Anam Komodorai. Padahal keduanya telah tewas dengan berdarah-darah.
"Mereka telah menipu dan memperdaya kami!" Arumi berteriak serak. "Apanya perdamaian? Perang tidak usai! Enak sekali Nirya dan Sthira, hidup terpencil dan tenang di sini, padahal Antapada hancur-lebur di sekitar mereka!"
Nirya berseru protes, "Tidak! Bukankah para pemimpin negeri telah menyerukan perdamaian? Bukankah perang akhirnya usai? Ini tak benar! Tak bisa dibiarkan!"
"Sudah terlambat. Raja Kalingga menganggap Hamentane hancur gara-gara ulah negeri-negeri lain, bukan bencana! Ia mengerahkan seluruh angkatan perangnya habis-habisan, menghancurkan Jayandra, Swarnara, Rainusa dan Akhsar. Lebih parah lagi, Negeri tetangga kita, Jerian yang telah lama mengincar kesempatan ini datang dengan armada besar. Mereka berniat menjajah seluruh Antapada yang kini berada di titik terlemah. Habislah sudah, semua itu gara-gara kalian!"
"Harusnya kamu orang hentikan misi, bunuh Sthira dan biarkan Kalingga menguasai seluruh Antapada. Kini kamu orang sudah salah, rasakan akibatnya!" Dhaka lalu mengulurkan tombaknya ke arah Sthira dan Nirya. "Semua korban Bencana Cincin Api, habisi keluarga itu!"
Semua pengeroyok maju beriringan tanpa berlari, hanya berjalan seperti mayat hidup. Dengan kepungan serapat itu, Sthira terus mengayunkan paculnya, kewalahan karena tak sempat mengambil senjata andalannya. Beberapa saat kemudian, tubuh Sthira tertembus dan tersayat puluhan senjata.
__ADS_1
Gambar referensi untuk Raja Kalingga, Triawarman adalah Mulawarman, Raja Kutai, Kalimantan Kuno.
Sumber Gambar: Google.