EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
APUKONDAO Bagian 4


__ADS_3


Menilik pengalaman-pengalaman pahit yang lalu, walau sejauh ini segalanya tampak aman dan lancar, Nirya tentu tak akan sedetikpun mengendurkan kewaspadaannya. Kekuatan firasat, inilah keahlian Nirya yang terkait erat pada medan apapun juga.


Di sisi lain, Wufabwe tampak amat bersemangat. "Lihat, para tamu sekalian! Di ujung sana ada burung kasuari, yang hanya ada di Dhuraga. Kasuari memang tampak besar, berleher jenjang dan tubuhnya berbulu lebat. Tapi lihat, sayapnya kecil. Tak apa, walau tak bisa terbang, kasuari mampu berlari amat cepat dengan sepasang kakinya yang kekar dan kuat. Itu berguna untuk menghindar dan membela diri."


Mau tak mau Nirya menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat burung kasuari itu. Memang benar, ia baru pertama kali melihat burung pejalan itu seumur hidupnya. Ini sungguh pengalaman yang unik, dan Nirya tak ingin melewatkannya sedetikpun.


Wufabwe seolah tak bisa berhenti bicara, "Wah, kasuarinya lari, mungkin ia pikir kita ini pemburu. Yah, tak apalah. Untung kita tak diserang saat terlalu dekat. Aku pernah kena tendang kasuari, tulangku serasa patah-patah. Sakitnya baru hilang setelah sebulan lebih aku diobati dukun desa."


Biasanya telinga Nirya selalu terasa gatal tiap kali mendengar seseorang bicara terlalu banyak. Namun entah mengapa, suara dan gaya bicara si pemandu lokal yang melengking di tiap akhir kalimat malah membuat gadis itu merasa seakan tergelitik dan agak terhibur. Riang dan jenaka, mungkin aksen orang Dhuraga itulah yang membuat mereka terkesan ramah.


Dengan perginya si kasuari, Wufabwe bungkam seketika. Senyum di wajahnya berganti ekspresi serius. Melihat itu, Nirya diam-diam menghela napas lega. Memang sudha seharusnya penjelajahan hutan lebat dilakukan dengan diam-diam dan amat hati-hati. Namun pria Dhuraga itu malah sangat santai, seolah-olah rimba ini adalah halaman rumahnya sendiri. Lagipula, perlu dimaklumi tugas memandu "wisatawan" mungkin baru pertama kali ia lakukan seumur hidup.


Maka, sewaktu-waktu Wufabwe "berkicau" lagi, "Nah, lihatlah. Di atas pohon itu ada hewan tercantik di dunia."


Walau ada keinginan untuk mengacuhkan si pemandu saja, rasa ingin tahu yang lebih kuat daripada itu mendorong Nirya menoleh ke arah yang ditunjuk.


Benar saja, seekor burung tampak bertengger di ketinggian. Burung itu tampak sangat anggun dengan bulu-bulu merah, kuning, hijau dan biru seakan terangkai sempurna bagai karangan bunga. Yang terunik dari burung itu adalah ekornya yang amat panjang dan menjuntai. Bentuk ekor itu seperti rambut yang berwarna-warni. Jadi bila burung itu terbang, ia seakan sedang melintasi pelangi.


Wufabwe menerangkan itu tadi dan terus bicara, "Oh ya, nama burung itu ciswa'arissi."


"Ci... cendrawasih?" Arumi berkomentar. "Seorang Resi dari Jayandra yang amat sakti bernama Arya Manikrama konon pernah menjelajahi seluruh Antapada. Dalam catatannya, Arya menyebut tentang burung yang ia namai cendrawasih itu. Memang benar, menurutnya kecantikan burung cendrawasih sebanding dengan burung merak dari Wushu." Wushu adalah kekaisaran terbesar di utara Benua Orien, yang penduduknya rata-rata berkulit kuning dan bermata sipit.


Nirya mendelik ke arah Arumi. "Wah, tak kusangka kau banyak tahu tentang Antapada."


Arumi mendekat dan berbisik pada Nirya, "Yah, sebenarnya aku sudah tahu tentang burung kasuari pula. Terpaksa aku bicara sekarang supaya Wufabwe bungkam. Lihat, berhasil 'kan?"


Nirya menatap Wufabwe yang memang bungkam. Namun laki-laki berkulit legam itu berhenti melangkah, siaga dengan tombak di tangan sambil terus menegadah.


Tiba-tiba Wufabwe berteriak, "Awas! Itu burung cayari, bukan ciswa'arissi! Tubuh cayari lebih besar, dan tatapan matanya bisa buat orang jadi batu!"

__ADS_1


Nirya terkesiap. Dilihat lebih seksama, burung cayari ternyata hampir sama besar dengan kasuari. Mungkin ukuran tubuh cendrawasih jauh lebih kecil daripada itu.


Seakan sadar "perangkap"-nya terungkap, si cayari terbang dari ketinggian dan menukik secepat kilat ke arah orang-orang di tanah.


Mata Nirya terpaku ke arah musuh, ambil ancang-ancang untuk menghindar atau menyerang balik dengan kerambit kembar berantainya. Namun seketika itu pula, pusat pandangannya terpaku pada mata hitam, besar membulat si cayari itu.


Di detik berikut, merasa sudah cukup dekat, Nirya hendak mengayun senjatanya. Tapi tubuhnya terasa kaku, tak bisa digerakkan sama sekali. Gawat! Nirya masih mampu merasakan desir angin lesatan musuhnya. Tubuhnya ternyata hanya kaku, tak membatu. Namun itu tandanya cayari pasti adalah burung pemakan daging, sedetik lagi Nirya akan jadi mangsanya.


Dalam sekejap itu pula, sebatang anak panah melesat, menggores sisi tubuh burung cayari itu. Hewan siluman cendrawasih raksasa itu terlonjak terkejut dan hampir jatuh. Namun dengan cepat burung besar itu mengepakkan sayapnya dan terbang pergi.


Wufabwe malah berteriak, "Darah cayari bisa memulihkan tubuh membatu!"


Arumi terkejut, mati langkah. Mungkin ia baru tahu tentang informasi amat penting yang dapat menyembuhkan Nirya itu.


Namun ada yang lebih sigap. Sebelum cayari itu terlalu jauh karena terbangnya lamban bila membubung, Dhaka melemparkan tombaknya. Tombak Komodorai menembus tubuh si cayari seperti sate, lalu menancap di batang pohon terdekat. Dengan sigap dan lincah pula Sthira memanjat pohon itu.


Nirya yang sedang kaku seakan mematung di tempat tak melihat sebagian rentetan aksi yang terjadi. Keringat dinginnya bercucuran. Andai rekan-rekannya tak berhasil membunuh si cayari, Nirya harus jadi patung sepanjang sisa hidupnya. Atau lebih parah lagi, secepatnya jadi mangsa hewan buas di hutan rimba ini.


Beberapa saat kemudian, tampak Sthira tepat di depan Nirya. Sthira mengangkat tangannya yang berlumuran darah, lalu melumurkan darah itu di tubuh kaku Nirya.


Sthira lantas memegang lembut tangan itu sambil tersenyum dan menatap Nirya. "Syukurlah, berkat petunjuk pemandu lokal kau sudah pulih."


Kata-kata dan tatapan lembut Sthira itulah yang membuat Nirya merasa tubuhnya makin ringan, bagai melayang di awang-awang. Barulah kini ia sadar, sisi serius sebagai ketua kelompok Sthira tunjukkan pada Arumi, namun seperti selama ini, segala kelembutan, canda-tawa dan keceriaan Sthira hanya untuk Nirya seorang.


Nirya menoleh pada Dhaka yang balas mengangguk padanya.


Malah suara Wufabwe yang mengubah suasana. "Ayo, kita harus terus jalan! Kalau tidak, cayari-cayari lain bakal berdatangan kemari!"


Semua anggota rombongan segera bergegas mengikuti derap langkah si pemandu.


Baru lari beberapa langkah, Nirya mendengar suara-suara melengking dari kejauhan. Ia berhenti lari sesaat dan berputar sambil menoleh ke arah sumber suara. Ternyata yang ditakutkan si pemandu jadi kenyataan. Sedikitnya lima ekor cayari terbang dari kejauhan dan ketinggian, melintas di antara batang-batang pohon besar dengan lincahnya ke arah rombongan Nirya.

__ADS_1


Tak mau dibuat kaku lagi, Nirya cepat-cepat berbalik dan lari lagi. Ia berteriak, "Sekumpulan cayari tengah mengejar kita!"


Seluruh anggota rombongan termasuk si pemandu juga sempat berhenti lari untuk memastikan sumber suara. Peringatan Nirya itu sontak membuat semua yang lain ambil langkah seribu lebih cepat.


Nada bicara Wufabwe mulai berubah, terkesan panik, "Waduh, kita tak bisa lari begitu saja! Cakar cayari setajam belati, bisa merobek tubuh kita!" Pantas ia ketakutan karena tak memiliki prana pelindung tubuh.


Namun kata-kata si pemandu justru membuat Sthira berseru, "Aku punya akal! Kalau ada cayari menukik ke dekat kita, kita hentakkan tenaga dalam! Paksa mereka terbang membubung, lalu tembak mereka!"


Karena tak melihat "aksi penyelamatan" yang dilakukan rekan-rekannya tadi, Nirya tak paham betul maksud kata-kata Sthira itu. Namun tetap saja, setidaknya Nirya hanya bisa percaya saja bahwa itu gagasan yang terbit dari hasil pembelajaran cepat di aksi sebelumnya.


Benar saja, suara-suara yang menyusul kemudian adalah koakan cayari-cayari yang menukik. Nirya lantas merasakan angin berdesir keras menerpa punggungnya.


Pertaruhan dimulai. Tanpa melihat ke belakang, Nirya menghentakkan dan memancarkan tenaga dalamnya. Daya prana angin terpancar seperti hendak menembakkan duri-durinya ke udara. Si cayari seakan terkejut dan arah tukikannya kacau. Nirya bergeser sedikit, cakar-cakar belati cayari hanya menggores lapisan prana pelindungnya saja.


Lalu, seperti dugaan Sthira, cayari ternyata selalu terbang lambat saat membubung. Tentunya Nirya memanfaatkan kesempatan emas ini dengan mengibaskan kerambit berantainya, seraya menembakkan prana angin tajam dengan jurus Angin Membelah Awan. Hasilnya, angin setajam belati menyayat dan merobek tubuh cayari itu di udara.


"Sthira, taktikmu berhasil!" Kegirangan, Nirya spontan menoleh ke arah rekan-rekannya.


Arumi berhasil memanah mati satu cayari.


Sthira ternyata diserang dua caryari sekaligus. Ia berhasil memaksa keduanya membubung, namun dua cayari itu terbang berpencar. Serangan petirnya berhasil menyambar salah satu cayari, namun cayari kedua menyambar pria itu, melukai punggungnya hingga Sthira berteriak pilu. Ia mengamuk, serangan petir ke atas dengan jurus dahsyat Naga Halilintar Mendaki Langit kedua menghantarkan ketajaman Mandau Gharma sehingga tubuh cayari itu terbelah dua.


Dhaka lebih parah lagi. Reaksinya dengan jurus Terjangan Batu Terbang berupa lontaran daya batu cadasnya ke udara ternyata kalah cepat dari dua cayari yang membubung. Jadilah si komodorai bulan-bulanan cakar tiga ekor cayari sekaligus, darah bercipratan dari celah antara sisik-sisik tebalnya.


Salah satu cayari itu bahkan menatap mata Dhaka dengan mata hitam membulatnya. Dhaka terpana, mengira tubuhnya dibuat kaku seperti Nirya. Secara refleks ia hendak bergerak, menyerang ke arah cayari yang sedang menyihirnya itu. Aneh, Dhaka masih bisa menggerakkan lengannya dan malah menghunjamkan tombaknya ke tubuh unggas yang bagai campuran burung cendrawasih dan ayam kalkun itu.


Dengan amat lincah dan sigap Nirya melempar dan menghunjamkan kerambit berantainya pada cayari kedua yang hendak membongkar pertahanan sisik zirah Dhaka dengan paruh dan cakar-cakar tajam. Cayari ketiga kehilangan nyali dan terbang pergi, jadi satu-satunya di antara kelima "anggota pasukan penyerbu" yang beruntung bisa bertahan hidup.


Melihat hasil akhir bentrokan ini, Wufabwe menghembuskan napas lega. "Wah, untung aku dilindungi pendekar-pendekar tangguh macam kalian. Bila sampai aku sendirian dikepung lima burung siluman itu, kasihan anak-istriku...!"


Tak tahan lagi, Nirya memotong, "Sudahlah, pandulah kami saja! Kalau kau terus berisik, bakal makin banyak hewan buas menyerbu kita!"

__ADS_1


"Eh, ya, maaf ya." Wufabwe menggaruk-garuk kepalanya. Mungkin ia terlau sering mengerat sagu sendirian saja, karena bila ia bersama orang lain, ia bakal bicara terus dan berisik pula. Pertemuan dengan orang-orang asing yang belum mengenalnya ini membuat "penyakit kesukaan" Wufabwe itu kambuh lagi. Namun tetap saja ia berjalan lagi di depan rombongan dengan wajah mendongkol.


Referensi untuk cayari dari Pinterest: Burung cendrawasih yang dikombinasikan dengan pteranodon.


__ADS_2