
Namun Sthira memaksakan senyum lemah sambil berkata, "Kau telah cukup banyak membantu, Nirya. Sekarang kita tahu salju itu satu unsur dengan prana Cayari Yumano-Aronawa. Jadi, biarlah Arumi yang menuntaskannya dari sini."
Nirya protes, "Tapi, bukankah kalian...!"
Dhaka menyela, "Nanti saja Dhaka jelaskan. Sekarang kita bantu Arumi dulu."
Masih tertatih-tatih, Nirya, Dhaka dan Sthira kembali memposisikan diri mereka di belakang Arumi. Lalu mereka duduk bersila, mengayunkan tangan kesana-kemari dengan mata terpejam, sepenuhnya memusatkan seluruh perhatian untuk menghimpun tenaga dari luar dan dalam tubuh.
Sementara itu, Arumi yang lagi-lagi paling depan kali ini juga duduk bersila, posisi terbaik untuk menghimpun energi prana sekaligus memulihkan tubuh sebagai wadah untuk menampung prana itu. Kelemahan posisi bersila ini adalah bila diserang musuh, si pengumpul prana hanya bisa bertahan dengan prana pelindung tubuhnya saja, sama sekali tak bisa menyerang balik.
Walau belum dapat memastikan kondisi para musuh di luar sana, dalam keadaan prana yang serba terkuras Arumi dan kelompoknya menggunakan cara menghimpun energi yang paling tak cocok, paling berbahaya dalam situasi pertarungan seperti ini.
Detik demi detik berlalu, debar jantung Nirya makin keras. Akhirya Arumi bicara, "Aku sudah siap. Dengan apiku, kita coba hancurkan dinding salju itu bersama-sama!"
"Baik! Sambut pranaku!" Sekali lagi, Nirya di posisi paling belakang menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Sthira, menyalurkan tenaga dalamnya pada pria itu.
Lalu, dengan cara yang sama seperti Nirya, Sthira menyalurkan prana lebih besar pada Dhaka, begitu pula yang Dhaka salurkan pada Arumi.
"Semoga Sang Mahesa merestui usaha terakhir kita ini!" Arumi mengacungkan Keris Agninetra lurus-lurus, lalu menghentak keras. Selarik besar api dari jurus Semburat Magma Inti Neraka ditembakkannya. Semburan api bertekanan tinggi, berkekuatan gabungan prana lima pendekar sakti itu lantas melelehkan dinding salju seperti memasukkan tusuk sate dalam daging.
Namun keadaan belumlah aman. Lagi-lagi longsoran salju turun dan hendak menutup lubang baru yang dibuat Arumi itu. Maka, api Arumi tetap tersembur deras selama beberapa detik kemudian hingga akhirnya padam seketika.
__ADS_1
Sthira, Dhaka dan Nirya tertunduk, bahkan Arumi jatuh berlutut, napas mereka semua tersengal-sengal. Namun, hasil usaha habis-habisan itu terpampang di depan mata. Sebuah lubang besar tercipta di mulut gua, hampir setinggi dan selebar mulut gua batu itu.
Tiba-tiba Sthira berseru, "Jangan diam saja! Kita harus cepat keluar dari sini, jangan-jangan salju bakal longsor lagi!"
Nirya, Dhaka dan Arumi seakan tersadar. Bersama Sthira mereka bergegas secepat kaki melangkah keluar dari gua. Sthira benar, saat Dhaka yang terakhir keluar baru beberapa langkah meninggalkan mulut gua, salju longsor lagi dan sepenuhnya menimbun lubang jalan keluar ciptaan Arumi itu. Untunglah tak seorangpun dari mereka ikut tertimbun pula.
Walau demikian, Nirya tak sempat menarik napas lega. Pasalnya, di hadapannya kini tampak para musuh tangguh, yaitu Cayari Yumano dan Cayari Aronawa. Pundak Nirya turun lemas seketika. Setelah segala pengerahan pamungkas tadi, haruskah pertarungan ini berlanjut?
Melihat lebih seksama, Nirya baru sasdar sepasang cayari itu tidak dalam posisi siap tarung. Cayari Yumano tampak terkapar di tepian tebing yang tertutup salju, sementara Cayari Aronawa hanya bertengger di tepi tebing dan menatap ke bawah, ke arah pasangannya.
"Menyebalkan. Menyebalkan sekali, ya 'kan, sayangku?" tukas Cayari Aronawa, mengangkat satu sayapnya. Sedangkan sayap sebelahnya terpuntir patah ke arah tak wajar. "Empat tikus itu ternyata masih bernapas dan mampu keluar setelah salju longsor menutupi gua tempat mereka sembunyi. Dasar pengecut menyebalkan, mereka itu."
Cayari Yumano tak menanggapinya, bahkan tak bergerak sama sekali dan tetap terkulai di tanah. Lewat pengamatan lebih seksama, Nirya bereaksi dan menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak. Darah yang menggenang di salju, di bawah kepala Cayari Yumano seakan memastikan kondisinya yang sesungguhnya.
Arumi menimpali, "Lagipula kau juga terluka amat parah, kita akhiri pertarungan ini sampai di sini saja."
Kata-kata Arumi itu malah bagai menyiram minyak ke dalam api. Amarah Aronawa meledak. "Enak saja! Apa kalian pikir bisa melenggang pergi dari sini tanpa hukuman? Biar kuhabisi kalian semua, agar nyawa suamiku bisa tenang di alam baka!"
Disertai satu pekikan keras, Cayari Aronawa meledakkan setitik energi es yang masih tersisa dalam raganya. Seketika, seluruh tubuh unggas raksasa itu terbungkus seluruhnya dengan prana es. Hawa dingin membekukan kembali terpancar dari Aronawa ke segala arah. Hanya ada satu makna jelas dari tindakan itu, yaitu Cayari Aronawa ingin mati bersama musuh.
Terkesiap, Nirya menggenggam erat kerambit berantainya, siap untuk menangkis atau menghindari serangan habis-habisan lawan.
"Yori cintaku... Kau tadi mendorong tubuhku menjauhi lereng gunung dan membiarkan dirimu sendiri tertimpa longsoran puncak salju. Kini aku, Aswa menyusulmu, membawa serta para pengacau ini untuk kausiksa sepuas-puasnya di alam sana!"
__ADS_1
Di ujung kalimat terakhir itu, Aswa Rakwar alias Cayari Aronawa maju menerjang. Karena satu sayapnya sudah patah, ia hanya berlari dengan cakar-cakar kakinya seperti halnya wujud manusianya. Gilanya, langkah-langkah kaki si raksasa putih-kemerahan itupun amat cepat dan lincah. Wajah Nirya jadi sepucat mayat melihat itu, berkelit atau gerakan apapun takkan banyak membantu meluputkan dirinya dari maut.
Tiba-tiba atu kelebatan petir menyambar leher Cayari Aronawa, membuat langkah si raksasa terhenti seketika. Dengan suara bagai sedang tercekik, Sang Permaisuri Dhuraga Bersatu berseru, "Jayalah... Dhuraga!"
Saat itu pula, kepala si cayari alias monster burung cendrawasih merah raksasa terpisah dari tubuhnya, menggelinding di salju.
Pelaku pemenggalan itu tak lain adalah Sthira Tarunaga, yang ternyata masih menyisakan cukup prana untuk satu jurus terakhir, Naga Halilintar Menghunjam Cadas. Ia melompat tinggi-tinggi dan tepat waktu menghabisi lawan raksasa dengan sekali tebas.
Tubuh tanpa kepala Cayari Aronawa mundur, limbung dan tumbang tepat di atas tubuh Cayari Yumano. Lalu, wujud mereka berdua seketika berubah menjadi jenazah manusia utuh, lengkap dengan kepala masing-masing. Dengan setitik tenaga terakhir, Aswa Rakwar meraih tangan suaminya, Yori Mbeko. Sambil bergandengan, pasangan penguasa Dhuraga yang gugur itu berangkat ke alam baka.
Melihat itu semua, tanpa sadar Nirya berujar, "Aih, sungguh kematian yang agung. Andai saja Yori dan Aswa memilih cara-cara damai untuk mencapai tujuan mereka..."
Sthira yang telah menghampiri Nirya menggenggam tangan gadis itu seraya berujar, "Justru lewat kekerasan mereka telah mencapai tujuan sejati mereka, yaitu bangkitnya Negeri Dhuraga Bersatu. Masalahnya, mereka mengumbar ambisi untuk menjajah negeri-negeri lain di Antapada dengan kekerasan dan paksaan pula. Tindakan itulah yang mengundang bencana, tepatnya mengundang kita, para pembawa bencana."
"Benar juga." Dhaka hanya mengangguk, terlalu gemetaran untuk bicara lebih banyak.
Di sisi lain, Arumi hanya bisa mengerutkan dahi dan gigit jari melihat kedekatan Nirya dan Sthira. Padahal gadis pengguna prana api itulah yang memberikan sumbangsih paling besar dalam pertarungan kali ini.
Pandangan Arumi seketika beralih pada jenazah dua sejoli di ujung tebing saja, sambil ia bergumam sendiri, "Setidaknya kalian lebih beruntung daripada diriku, Aswa dan Yori. Kalian saling memiliki satu sama lain, bahkan sehidup-semati pula."
Arumi terkesiap. Ia lantas menghampiri kedua jenazah itu, memungut aksara gaib putih-kebiruan yang ia lihat dari tangan mereka yang bertaut. Itulah Kunci Gaib Gunung Yamkora. Tak ada reaksi susulan dari kunci itu, jadi Arumi menyimpannya dalam keliman sabuknya sambil menghela napas lega.
Lagi-lagi Arumi bergumam sendiri, "Ternyata Gunung Api Yamkora memang telah mati. Rupanya salju longsor dan kehilangan pemimpinlah bencana yang terjadi di Dhuraga saat ini."
__ADS_1
Cayari Yumano dan Cayari Aronawa. Sumber gambar referensi: Two Phoenixes Mirror Carving from Etsy.