
Canirwa lalu bertatapan dengan Dhaka seraya berkata, "Nah, aku harus pergi sekarang. Penduduk di pusat negeri harus kuungsikan segera." Ia menoleh ke arah Dapu Dapu. "Ayo anakku, kita berangkat."
"Tidak ibu. Dapu Dapu harus tetap di sini," ujar si siluman cilik sambil menggeleng. "Firasat Dapu Dapu berkata, para pendekar dan Rai akan sangat membutuhkan Dapu Dapu."
"A-apa?" bentak Canirwa. "Kau tak setanding dengan mereka semua itu, apalagi dengan Vrithra dengan halilintar dewatanya yang mengerikan!"
"Ibu, bukankah ibu pernah berpesan pada Dapu Dapu agar menggunakan kekuatan dan kemampuan sendiri untuk membela negeri dan melindungi yang lemah, supaya hidup kita jadi paling bernilai dan berarti?"
"Iya! Tapi lihat dirimu! Kau masih kecil, jadi kaulah si lemah yang harus ibu lindungi itu!"
Dapu Dapu menatap ibunya dengan ekspresi wajah tenang. "Ibu, Dapu Dapu sudah banyak belajar dan berlatih selama dalam pelarian. Hidup di lautan memang sangat keras, tapi itu telah menempa Dapu Dapu menjadi tangguh. Kekuatan gaib dan tenaga dalam Dapu Dapu akan sangat dibutuhkan dalam pertarungan nanti. Lagipula Dapu Dapu harus bantu menyadarkan Rai Taksaka pula. Tenanglah, bu. Dapu Dapu akan hati-hati." Ia menambahkan senyum lembut, penuh percaya diri.
Canirwa terkesiap. Ia baru sadar bahwa anaknya kini sudah jauh lebih kuat dan lebih dewasa daripada saat meninggalkan Watas dulu. Dapu Dapu masih tetap anak kecil yang nakal, namun bila diperlukan ia akan menampilkan sisi dewasanya sebagai seorang pendekar tangguh yang bisa diandalkan. Buktinya, Dapu Dapu berhasil memandu para pendekar keluar dari badai dan membawa mereka ke Watas. Itu adalah prestasi yang amat luar biasa untuk ukuran anak-anak sebayanya.
"Bailah, ibu percaya padamu, nak. Tapi ingat, hindarilah adu serangan langsung dengan musuh." Canirwa tersenyum lembut, lalu membelai dan memeluk Dapu Dapu. "Semoga Sang Srisari melindungimu, anakku tercinta."
Seketika itu pula, Canirwa berbalik dan terbang pergi. Dengan penglihatannya yang tajam, Dhaka berani bersumpah melihat bulir-bulir air mata memercik dari arah wajah siluman wanita-cendrawasih itu.
Suara-suara dentuman dan dentingan lantas mengembalikan perhatian Dhaka pada pertarungan yang masih berlangsung. Sthira dan Rai Taksaka saling menangkis dan bertahan rapat. Tak satupun serangan mereka melukai lawan, mungkin mereka sedang mencari celah kelemahan lawan masing-masing.
Tiba-tiba Sthira yang sedang berlari cepat tersandung batu yang menonjol di pelataran itu. Melihat kesempatan emas ini, kedua mata Taksaka berkilau kehijauan.
"Rasakan ini, Siksa Api Lingkaran Setan!" Taksaka lantas "mengalungkan" roda sihir berapinya melewati kepala, terus ke bawah kaki lawannya hingga roda itu tergeletak di tanah.
Refleks, Sthira hendak bergerak keluar dari area lingkaran. Namun tubuhnya tak dapat digerakkan, terbelenggu oleh enam lingkaran api.
"Jepit!"
Taksaka mengepalkan tangan, keenam belenggu api makin mengecil dan makin ketat.
__ADS_1
Sthira mulai berteriak kesakitan.
"Bakar!"
Daya api dari belenggu itu meluluhkan prana pelindung Sthira.
Jilatan api mulai merasuk kulit, membuat teriakan Sthira makin keras.
"Hanguskan!"
Teriakan Taksaka itu bagai pertanda Sthira jelas butuh bantuan.
Dhaka spontan bergerak maju, namun langkahnya kembali surut. Pasalnya, mendadak Sthira meledakkan tenaga dalamnya.
Ternyata, setelah ditempa dalam pertarungan-pertarungan melawan makhluk-makhluk digdaya, Sthira jadi cukup kuat untuk mematahkan belenggu-belenggu tadi.
"Apa?! Mustahil...!" Sebelum sempat Taksaka menyelesaikan kalimatnya, Sthira lagi-lagi melesat dengan Langkah Halilintar, menyelinap ke belakang punggung lawan.
"Jangan harap bisa balik membelengguku!" Taksaka berusaha berontak denan menendang-nendang ke belakang dan menghentak-hentak sekuat tenaga.
Maka, inilah saat Sthira berseru, "Ayo ringkus dia, sesuai rencana!"
Barulah Dhaka maju dan memeluk erat bagian pinggang, Nirya mencengkeram erat kaki kiri dan Arumi kaki kanan siluman bersisik ular itu.
"Apa-apaan ini? Lepaskan aku, bertarunglah secara jantan!" Taksaka meronta-ronta dengan segenap kekuatan. Namun ia tak kunjung bisa melepaskan diri dari kuncian empat pendekar sakti sekaligus.
"Huh! Kalian kira kekuatan kalian yang hanya empat tetes itu sebanding dengan kekuatanku yang bagai samudera? Rasakan akibat melawanku!" teriak Taksaka.
Dhaka terkesiap. Kekuatan Taksaka mendadak melonjak drastis, tekanannya di tubuh Dhaka makin menyakitkan. Apalagi kuncian Sthira mulai mengendur akibat tenaga yang ia "ledakkan" tadi mulai menipis. Kalau sampai Taksaka lolos, kalaupun para pendekar menang melawan si Raja Siluman itu, energi mereka akan terlalu terkuras saat menghadapi Vrithra.
Jadi, wajar saja bahkan Sthira sampai berteriak, "S-siapa saja, tolong!"
__ADS_1
Di titik paling kritis itulah, sosok mungil Dapu Dapu yang sejak tadi berusaha menyelinap kini menyeruak maju. Mata Dapu Dapu beradu pandang dengan mata Taksaka, lalu Dapu Dapu berseru, "Sadarlah, Rai Taksaka! Kembalilah jadi dirimu sendiri, demi kebaikan seluruh Watas!"
Si lawan bicara malah menghardik, "Tahu apa kau, siluman cilik? Aku amat sadar! Awas kau, saat aku lolos, kaulah yang pertama akan..."
Kata-kata Taksaka terhenti. Kedua matanya terbelalak, ekspresi garang di wajahnya lenyap seketika. Dhaka yang melihat gejala ini merasakan tekanan dari rontaan Taksaka juga mulai berangsur-angsur berkurang.
Beberapa saat kemudian, barulah hasil aksi Dapu Dapu itu dipastikan dengan ucapan Taksaka. "A-apa yang terjadi? Mengapa aku di sini? Ditahan empat orang pula?"
Ketika tekanan Taksaka sudah sirna sepenuhnya, barulah Dhaka, Nirya, Sthira dan Arumi serentak mundur menjauh.
Dapu Dapu cepat-cepat berlutut penuh hormat. "Ampun, Rai Taksaka. Dapu Dapu terpaksa lancang, mengerhakan ilmu pemengaruh benak yang Dapu Dapu pelajari dari Bunda Canirwa. Rai telah tersihir dan dikendalikan oleh Vrithra. Kini, Rai sudah bebas."
Rai Taksaka terpana, pandangan matanya menerawang. Benaknya sejenak mencoba mencerna segala sesuatu yang terjadi pada dirinya sejak kedatangan si petapa asing membawa senjata dewa Vajra, kemunculan Vrithra hingga sekarang.
Tak lama kemudian, barulah Taksaka bicara dengan nada yang lebih lembut dan tetap penuh wibawa, "Astaga, ternyata setelah mengalahkanku, Vrithra menjajah Watas dengan mengendalikan rohku, menjadikanku bonekanya. Aku, Rai Taksaka telah berdosa besar, membuat seluruh negeriku menderita. Aku tak pantas lagi jadi raja negeri ini."
"Rai tidak bersalah," ujar Dapu Dapu. "Itu karena segalanya terjadi di luar kehendak bebas Rai sendiri. Rai Savitri juga tersihir, namun kini beliaupun telah sadar kembali."
Taksaka tersenyum tulus, melegakan hati siapapun yang melihatnya. "Terima kasih banyak, Dapu Dapu. Kaulah duta Sang Srisari untuk menyelamatkan Watas."
"Dapu Dapu tak mungkin melakukan semua ini tanpa bantuan empat pendekar sakti ini, Sthira, Nirya, Arumi dan Dhaka."
Perhatian Rai Taksaka beralih ke arah yang ditunjuk Dapu Dapu. Ia mengamati keempat pendekar yang kini tengah berlutut itu satu demi satu.
"Jadi inilah empat pendekar yang Sang Srisari pertemukan dan utus bersama Dapu Dapu," ujar Taksaka. "Aku, Rai Taksaka mengucapkan terima kasih untuk kalian pula. Jasa-jasa kalian ini pasti akan diganjar setinggi-tingginya."
Tak ada tanggapan dari si ketua kelompok, Sthira. Dhaka menoleh ke arah Sthira sekilas, lalu angkat bicara ke arah Taksaka. "Maaf beribu maaf, Rai. Kita orang baru bisa napas lega setelah Vrithra tumpas."
"Kau benar, komodorai," ujar Taksaka. Ia berbalik, menatap ke arah puncak Gunung Dantonu. "Sekaranglah saatnya kita balas melawan Vrithra, jadi ayo kita susun rencana."
Gambar referensi untuk Vrithra, si naga petir adalah Vritra dari Puzzle & Dragons.
__ADS_1