
Berbekal penglihatan tajam, dibantu pula dengan cahaya bulan sabit yang membasuh suasana serba gelap di sekitar, Dhaka si komodorai tak terlalu kesulitan menemukan pintu gerbang utama markas Geng Dabongsang di gua di kaki Gunung Tubar’e.
Menatap tempat yang bakal mereka susupi itu, Sthira berbisik pula pada sobat barunya itu, “Kau sungguh luar biasa, Dhaka. Sekarang, bagaimana cara kita melewati para penjaga?”
“Memanfaatkan jabatan jawara Dhaka,” jawab si komodorai sambil melepaskan seutas tambang yang disandangnya. “Sthira turuti dan percaya Dhaka saja, ya?”
Sthira sebenarnya tak pernah nyaman dan selalu berontak bola diikat. Tapi entah mengapa, mungkin terhipnotis Dhaka, kali ini ia diam saja.
Beberapa saat kemudian Sthira berjalan terhuyung ke depan gerbang gua. Sementara Dhaka berjalan di belakangnya sambil menyodok-nyodok dengan ujung yang tumpul pada tombaknya.
“Tahan! Oh, maaf, Tuan Dhaka.” Salah seorang penjaga membungkuk, diikuti rekannya.
“Dhaka bawa tahanan, yang buat onar dan lumpuhkan Paju Gulak tadi siang,” kata Dhaka sambil mencengkeram bahu Sthira.
“Ah, begitu rupanya. Silakan, tuan!”
Selanjutnya, Dhaka dan Sthira melewati beberpa orang penjaga lagi di lorong-lorong gua yang rumit bagai labirin ini. Memang, ini mengingatkan Sthira pada gua di Gunung Idharma. Bedanya, tak ada satupun jebakan yang tampak sepanjang jalan. Tak ada pula dinding berpahat relief dan dinding bergerak, hanya ada dinding-dinding gua yang barbatu-batu, lengkap dengan stalaktit dan stalagmit yang bertebaran saja.
Sthira dan Dhaka lalu melalui satu ruangan dalam gua, di mana ada air mengalir sepergi saluran air terjun miniatur. Air itu mengalir lewat selokan-selokan sempit sepanjang ruang gua itu, dan turun lewat permukaan-permukaannya yang tidak rata.
Tiba-tiba, seorang pria bertubuh langsing dan tinggi semampai menghadang Dhaka dan Sthira. Suara pria itu agak teredam di balik topeng kain hijau yang menutupi hidung dan mulutnya itu. “Tahan! Dhaka, siapa yang kaubawa itu?”
“Ini orang amat kuat, tukang buat onar,” jawab Dhaka seperlunya.
Pria berpakaian hijau berpola coklat yang menutupi seluruh tubuhnya itu malah mengerutkan dahi. “Hanya itu? Sesama jawara sepertimu seharusnya tahu, Geng Dabongsang hanya menampung tawanan-tawanan yang ‘berharga’ saja. Kita menghukum mati pengkhianat, dan yang lainnya langsung dibunuh di tempat!”
__ADS_1
“Dhaka tahu. Tapi pendekar Sthira ini luar biasa hebat. Ia kalah dari Dhaka hanya karena kelelahan, setelah tumbangkan Paju Gulak dan seratus orang lain yang keroyok dia. Biar dia hadap Zakuay. Kalau Zakuay suka, Zakuay mungkin angkat Sthira jadi jawara.”
“Oh begitu?” Si topeng mendelik. Lalu ia meracau, seakan sedang bicara pada dirinya sendiri. “Sthira mengalahkan Paju Gulak, berarti ia lebih kuat dari Paju, jawara peringkat kelima. Sthira menumbangkan seratus pengeroyok dan merepotkan Dhaka, si peringkat tiga. Berarti ia juga lebih kuat daripada aku, Gega Napalam, jawara peringkat empat. Jadi, andai Sthira diangkat jadi jawara, ia akan jadi peringkat empat. Dan aku akan turun jadi peringkat lima, atau bahkan juru kunci. Aku, mata-mata dan pembunuh gelap paling piawai di Dabongsang!”
Mendengar ini, Dhaka langsung berdiri siaga, siap dengan tombaknya. “Jadi, apa yang akan kaulakukan, Gega?”
“Bukankah sudah jelas, Dhaka?” Mata Gega menyorot liar bagai anjing gila. “Tawananmu itu harus kubunuh!”
Sthira sudah ambil ancang-ancang hendak melepaskan diri dari ikatan tambang yang tampak ketat tapi ternyata longgar di tubuhnya ini. Namun, satu tarikan tambang dan isyarat tangan diam-diam dari Dhaka seolah meminta agar Sthira jangan bertindak dulu. Biar Dhaka sendiri yang menangani Gega, si jawara botak yang sakit jiwa itu. Menangkap maksud Dhaka itu, Sthira tetap berdiri di tempat, tak melakukan apa-apa.
“Hoi, hoi, hoi. Kau ingin melindungi tawananmu ya, Dhaka? Oh, aku tahu! Kalian berdua pasti telah bersekongkol untuk menghambat karirku, ‘kan?”
Kata-kata Gega itu sebenarnya tak masuk akal bilamana dipikirkan secara mendalam. Namun, bagi para anggota Dabongsang termasuk Dhaka, persaingan politik yang tak sehat dan cenderung mematikan ini adalah hal yang wajar dan harus ditanggapi dengan serius. Ini karena yang berlaku di Dabongsang adalah hukum rimba, yaitu hak bertahan hidup diperuntukkan bagi yang kuat dan pantas untuk itu.
Segala pemikiran itulah yang disimpulkan lewat kata-kata Dhaka. “Tidak, Gega. Dhaka tak sekongkol dengan si Sthira ini. Tapi kalau Gega bersikeras, satu-satunya obat untuk sikap Gega itu adalah hantaman keras di kepala.”
Suara-suara pertengkaran kedua jawara itu membuat para anak buah Dabongsang yang lain bermunculan di ruangan besar gua itu. Namun mereka tak langsung bertindak karena bingung hendak memihak siapa, Dhaka atau Gega. Jadi mereka hanya bertindak sebagai penonton saja.
“Heh, lagipula yang seharusnya menjadi peringkat tiga itu bukan kau, Dhaka, melainkan aku!” Tanpa peringatan lebih lanjut, Gega “si gila” bergerak amat cepat, tubuhnya seakan lenyap dari pandangan mata.
Sthira terkesiap, gerakan musuh ini setara, bahkan lebih cepat daripada gerakan Nirya. Padahal gadis itu menguasai Ilmu Angin Bayunara yang mengandalkan kecepatan dibanding kekuatan. Lebih terkesiap lagi Sthira saat cakar-cakar maut Gega melesat entah dari mana. Sebelum tubuhnya tercabik-cabik, ternyata Dhaka dengan amat lincah pasang badan. Cakar-cakar itu hanya membentur, tak bisa menembus tubuh Dhaka yang dipenuhi Sisik Batu Cadas.
Gega bergerak mundur sambil menggerutu. “Apa kubilang! Satu-satunya alasan seseorang melindungi tawanannya adalah ia sedang bersekongkol dengan si tawanandan sebuah rencana busuk! Gega tidak gila! Semua, tangkap si Dhaka pengkhianat itu!”
“Tunggu!” teriak Dhaka. “Dhaka sedang ajukan calon jawara baru, apa salahnya itu? Yang halangi Dhaka membuat jasa, Dhaka lawan! Urusan Dhaka hanya dengan si Gega ini! Jadi jangan ikut campur, kalau kalian masih sayang nyawa!”
Para penjaga lantas saling bersitatap saja, lalu tak bergerak membantu siapapun. Jelas mereka lebih suka membiarkan kedua jawara menyelesaikan perselisihan antar pribadi masing-masing dulu.
__ADS_1
"Dhaka Komodorai! Kau telah dengan sengaja menolak membunuh tawanan, malah melindunginya! Itu artinya kau bersekongkol dengan tawananmu. Hukumannya adalah mati!" Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan Dhaka, Gega lagi-lagi "lenyap".
Daripada protes, Dhaka memilih mengangkat tombaknya setinggi dada, siap menangkis serangan kilat lawannya.
Sambaran-sambaran cakar yang lebih cepat, lebih kuat daripada sebelumnya kembali datang mengancam Dhaka. Secepat apapun Dhaka menangkis dengan tombaknya, lagi-lagi ia pasang badan. Tusukan-tusukan dan cakaran-cakaran yang terus-menerus akhirnya menembus sisik-sisik Dhaka yang diperkeras dengan tenaga dalam berunsur tanah itu. Luka-luka mulai berdarah di mana-mana. Dhaka berteriak pilu, suaranya lebih mirip raungan binatang.
"Nah, sudah cukup 'pelajaran'-nya. Mewakili Baginda Dabongsang, kujatuhkan kau hukuman mati!" Gega lantas mendekat dan berputar-putar, sambil menusukkan dan menyabetkan cakarnya.
Jurus andalan Gega, Laskar Lebah Gasing mencecar, mengurung dan makin mempersempit ruang gerak Dhaka. Si manusia komodo kini bagai terikat erat dengan seutas tambang dengan duri-duri sepanjang belati. Bila tidak ditangkis atau dihindari, pertahanan Dhaka yang berlapis-lapis bakal runtuh sepenuhnya, dan Dhaka tak ubahnya kura-kura tanpa tempurung.
Namun, di tengah deraan serangan itu mata kadal Dhaka tiba-tiba terbelalak penuh semangat. "Kena kau!" serunya.
Membuktikan ucapannya, Dhaka malah merunduk amat rendah, seluruh tubuhnya nyaris menyentuh tanah. Secara bersamaan, ia berputar amat cepat sambil menyapukan ekornya yang panjang selingkaran penuh. Ekor itu menghantam kaki Gega yang masih berputar-putar agresif tanpa pertahanan. Gega kehilangan keseimbangan dan terpelanting ke udara.
Tak menyia-nyiakan kesempastan emas, Dhaka memusatkan segenap tenaga dalamnya di satu titik, ujung tombaknya. Ia menghunjamkan tombak itu, tanpa ampun menembus tubuh Gega di udara.
Memuntahkan darah hitam, mata Gega terbelalak. Suaranya terbata-bata, "A-aku tak percaya...! Mustahil siluman kadal ini...!"
Dhaka menyela, "Komodorai. Gega jelas unggul dari Dhaka dalam hal kecepatan dan kelincahan, namun tidak dalam banyak hal lain. Karena itulah Tuan Dabongsang beri kedudukan Jawara Tiga kepada Dhaka, dan Gega Jawara Empat. Kini, akibat kebodohan Gega, kedudukan Jawara Empat lowong, dan Sthira jadi calon terkuat buat pegang jabatan itu. Karena Dhaka yang kenalkan Sthira pada pimpinan, kedudukan Dhaka bakal aman."
"Oh, jadi begitu..." Di ujung nyawanya, kesadaran menyapa Gega Napalam. Walau sudah amat terlambat untuk memperbaiki keadaan, setidaknya masih ada beberapa detik sebelum putus napas untuk menyesali segala dosanya dan mungkin, masih asda setitik kesempatan untuk beristirahat dengan tenang di Nirwana.
Melihat Gega akhirnya tertunduk dan menutup mata selama-lamanya, Sthira jadi tak habis pikir. Lekukan senyum di mulut yang tersembunyi di balik topeng sang jawara itu mungkin berarti satu hal. Setelah segala dosa yang ia lakukan, masih mungkinkah manusia sekejam Gega itu diterima di Nirwana?
Satu hal yang pasti, telah berkurang lagi satu penghadang tangguh di jalan menuju pembebasan Wiranata.
Sejauh ini, Sthira tahu bahwa jawara urutan kelima brutal, jawara urutan keempat munafik tapi mampu insyaf di akhir hayatnya, dan jawara urutan ketiga mendukung Sthira.
__ADS_1
Apakah ini berarti dua jawara urutan teratas adalah yang terlicik, terkuat dan terbengis?
Ilustrasi "Beto'dila" oleh Andry Chang