
Walau satu tangannya mengaitkan satu kerambit di dinding gunung, Nirya masih bisa memutar-mutar rantai berujung kerambit kedua, menangkisi jarum-jarum es. Rupanya hujan jarum yang cenderung mendatar ini tak sederas, secepat dan sedahsyat hujan sebelumnya yang tercurah dari atas ke bawah. Kalaupun ada jarum yang lolos, itu hanya segelintir dan paling parah hanya menggores kulit luar Nirya saja.
Nirya bahkan sempat sekilas menoleh ke arah Sthira, pria itupun mengayunkan mandaunya dan menangkis jarum-jarum es dengan lebih lancar pula.
Bahkan, saat berondongan musuh mulai surut, Nirya balas menyerang. Ia menyabetkan kerambit berantainya dua kali, menembakkan dua larik sabit Angin Membelah Awan tak kasat mata ke arah dua musuh yang masih melayang di tempat itu. Alhasil, Yumano dan Aronawa terhantam keras. Memang tak sampai luka parah seperti efek Sabit Api, tapi itu cukup membuat mereka terdorong dan sesaat kehilangan keseimbangan di udara.
Kesempatan ini tentu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Nirya lanjut memanjat, sementara Arumi yang sejak tadi juga menangkis serangan dengan kerisnyapun terus naik, menunggang Dhaka si komodorai, pemanjat terbaik dalam kelompoknya itu.
"Menyebalkaan!" Setelah posisinya seimbang, Aronawa yang nampak lebih agresif daripada pasangannya kembali membubung dan mengepakkan sayap dengan cepat, hendak menyambar Arumi dan Dhaka sekaligus.
Gilanya, Sthira malah melompat dari lereng yang tengah didakinya dan menyabetkan mandaunya tegak-lurus, melancarkan jurus Naga Halilintar Mendaki Langit. Bilah Gharma menusuk ke arah tubuh Aronawa dengan halilintar berdaya perusak kedua terbesar setelah api terhadap es. Aronawa yang terlalu bernafsu menyambar sasaran tak sempat menghindar, nyawanya dalam bahaya.
Di saat yang tepat, Cayari Yumano menyeruak di antara Sthira dan Aronawa, mengumpankan tubuhnya seperti perisai. Dengan perhitungan yang lebih matang dan sikap yang lebih tenang, Yumano membiarkan saja bilah tajam menyayat sisi belakang tubuhnya dekat *****. Walau demikian, daya petir yang menjalar ke seluruh tubuh si unggas raksasa terasa amat nyeri, sehingga Yumano hanya bisa mundur teratur.
Aronawa yang terkejut dengan tindakan Yumano segera terbang menjauh pula dari lereng, mewaspadai reaksi dari Arumi.
Sementara Sthira terjun bebas dengan resiko remuk-redam di bawah sana. Namun Nirya cepat-cepat membelit lingkar pinggang pria itu dengan rantai kerambitnya yang panjang. Sthira langsung menancapkan Gharma di dinding gunung. Belitan rantai Nirya membantu menahan tubuhnya agar tak terus jatuh.
Nirya baru menarik napas lega saat Sthira melepas belitan rantai kerambit di pinggangnya. Waspada kalau-kalau pasangan burung raksasa itu menyerang lagi, gadis itu tak menoleh ke bawah dan terus memanjat lereng gunung, menajamkan segala inderanya dengan tenaga dalam.
Saat menegadah, Nirya baru sadar tak jauh dari tempatnya ada tebing gunung. Arumi dan Dhaka tak kelihatan lagi, mungkin mereka telah menjejak semacam dataran di sana.
__ADS_1
Dari desiran angin yang Nirya rasakan, tak ada pertanda burung raksasa atau jurus apapun bakal menyambar ke arahnya. Tentu saja kedua raksasa cerdas itu mengincar lawan paling berbahaya dahulu di atas tebing sana, yaitu Arumi.
Tak lama kemudian, Nirya berhasil meraih puncak tebing dan menjejakkan kaki di tanah datar. Ternyata benar, Nirya berhasil meraih puncak tebing dan menjejakkan kaki di tanah datar di atasnya. Ternyata benar, tanah datar berbatu-batu itu cukup luas dan terbuka untuk bergerak bebas dan cepat.
Selain tebing, dataran itu juga berbatas dinding Gunung Yamkora. Di dinding itu ada ceruk gua yang cukup besar dan dalam untuk menampung dua burung raksasa. Ternyata gua itu adalah "sarang" bagi para penjaga Gunung Yamkora.
Hanya satu masalah, Dhaka si komodorai hanya bisa meringkuk, gemetaran hebat dalam gua itu. Walau belum setengah jalan ke puncak gunung, udara dingin menusuk tulang di sini terlalu tak tertahankan bagi si komodorai berdarah panas itu.
Di sisi lain, tampak Arumi tengah kewalahan, berlari kesana-kemari untuk menghindari keroyokan sepasang cayari raksasa itu.
Kali ini, Cayari Aronawa dan Cayari Yumano menembaki Arumi dengan larik-larik putih-kemerahan dan putih-kebiruan, seperti yang mereka lakukan pada si prajurit malang.
Sesekali, Arumi menangkis dengan keris besar berapinya, sehingga sinar pembeku itu luluh seketika. Jadi, dipastikan Arumilah andalan utama untuk mengalahkan para penjaga Yamkora. Namun, bila terus dikeroyok dan diberondong tembakan, bisa jadi Arumi bakal terluka, bahkan sampai fatal.
Sia-sia, kedua cayari raksasa tetap mencecar Arumi, menganggap Nirya angin lalu saja.
Nirya mendengus. Tak rela diremehkan, ia memutar-mutar rantai kerambitnya dengan cepat. Posisi kedua cayari yang cukup dekat ke tanah dan membelakangi Nirya justru memberi gadis itu kesempatan emas.
Masuk jarak serang, Nirya melompat tinggi-tinggi sambil memutar kerambitnya terus-menerus. Seketika, sebentuk pusaran angin puyuh dahsyat terbentuk dari jurus Pusaran Badai Terabas Selaksa. Angin itu menerpa Aronawa dan Yumano sekaligus, namun seperti dugaan sebelumnya, hanya mengikis sisik-sisik mereka yang dilapisi prana pelindung berunsur es.
"Hih!" sergah Yumano dengan nada mencibir, sambil terus menembaki Arumi. Namun di saat berikutnya, tiba-tiba cayari raksasa itu tak bisa mengendalikan sayap dan arah terbangnya. Justru pusaran badai Niryalah yang mengendalikan gerakan Yumano, lalu dengan sengaja menabrakkan tubuh raksasa itu dengan tubuh Aronawa yang juga ia "kendalikan". Raja dan ratu Cayari saling terpental kehilangan keseimbangan, dan hendak jatuh ke tanah.
Namun, sebagai penerbang yang lebih baik dan stabil, Yumano dengan cepat berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya. "Argh! Awas kau gadis kecil, kubalas dengan...!"
__ADS_1
"Jangan lupa, masih ada aku!" Disertai teriakan membahana, Sthira ambil giliran melompat tinggi-tinggi sambil memutar tubuh di udara. Lalu dengan satu tusukan tegak lurus, Sthira mengguncang udara dengan kekuatan petir pamungkasnya, memancarkan Gelombang Kejut Halilintar ke segala arah.
Kali ini, kedua cayari yang diterpa jurus itu tak hanya terdorong saja. Daya halilintar Sthira ternyata berhasil menjebol medan pertahanan dan langsung menghantam tubuh mereka berdua. Kedua cayari itu merasa seluruh tubuh mereka disambar, diguncang dan diaduk-aduk sekaligus. Mereka jatuh dan roboh tanpa daya, seakan pasrah menghadapi maut di depan mata.
Melihat kedua raksasa sedang terkapar dalam kondisi paling tak berdaya, Arumi dan Dhaka maju bersamaan. Agninetra terarah pada Yumano, sedangkan Tombak Komodorai mengincar Aronawa.
Namun, Sthira yang sedang mundur untuk memulihkan energinya yang tekuras berseru, "Tunggu! Lihat mereka!"
Arumi dan Dhaka berhenti melangkah. Tepat saat itu pula, tampak sepasang cayari itu sudah kembali berdiri di atas dua kaki masing-masing. Walau masih melangkah limbung, perlahan-lahan keseimbangan mereka pulih.
Cayari Aronawa kembali jatuh, ternyata satu kakinya cedera parah akibat bertabrakan dan terjun bebas dari udara tadi.
"Aswa!" Yumano bereaksi, tak sengaja menyebut nama asli pasangannya. Ia lantas menghampiri cayari merah itu di dekat ujung tebing. "Maafkan aku, Aswa. Aku telah salah menilai musuh-musuh kita itu."
"A-apa maksudmu?" tukas Aswa, suaranya lemah.
"Aku tak tahu, ternyata mereka memiliki pengalaman, pernah bertarung dengan lawan-lawan dengan kekuatan yang kurang-lebih sebanding dengan kita berdua." Lalu Yumano menghadapkan tubuhnya ke arah para lawan dan menghardik, "Kalian bukan duta, bukan utusan, juga bukan mata-mata dari negeri-negeri Antapada. Siapa kalian dan apa misi kalian sebenarnya? Katakan!"
Karena memang dalam kondisi pertaruhan hidup-mati atau mencoba membuat para monster berakal-budi manusia itu kalap dan gelap mata, Sthira menjawab, "Kami adalah kelompok pendekar yang berkeliling Antapada. Misi kami adalah membuat gunung-gunung berapi di jalur Cincin Api Antapada meletus berturut-turut."
"Astaga!" Aronawa terkesiap. "Jadi itu yang sebenarnya terjadi. A-apa tujuan kalian membawa rentetan bencana itu? Membawa kiamat, menghancurkan dunia?"
Ilustrasi "Cayari", monster orisinil karya Andry Chang untuk Everna Saga.
__ADS_1