EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
WULANTRA Bagian 2


__ADS_3


Bagi sebagian orang, memasuki ibukota sebuah negeri dengan menumpang kereta kuda bisa jadi adalah suatu kehormatan tersendiri. Namun, ceritanya menjadi beda bagai langit dan bumi bila orang itu dibelenggu dan dikawal ketat.


Itulah yang dialami Nirya sekarang. Terkurung dalam kereta kurungan berjeruji besi, duduk tertunduk dan meringkuk, berhadap-hadapan dengan Sthira.


Sesekali, Nirya menegadah dan melihat sekelilingnya. Harus diakui, Wulantra adalah kota yang lebih besar daripada Ringidatu. Namun, susunan dan deretan bangunan-bangunannya tampak berjejal-jejalan, rata-rata bertingkat satu. Banyak bangunan yang tak berdinding atau bahannya serba kayu. Seakan-akan dari sepuluh rumah di Wulantra, hanya tiga yang berdinding batu. Parahnya, dibanding rumah-rumah gadang beratap emas di Ringidatu, rumah-rumah di Wulantra tampak bagai gubuk-gubuk jelata.


Seolah menegaskan kesan kumuh ini, pakaian yang dikenakan para pendudukpun amat sederhana. Para prianya rata-rata mengenakan rompi penutup dada atau malah bertelanjang dada. Sementara pakaian para wanitanya terkesan hanya selembar kain yang menutupi dada dan perut, dipadu-padan dengan sarung polos berwarna kusam.


Lalat-lalat beterbangan dekat selokan-selokan berlumpur, menemani para penduduk yang berkegiatan dengan wajah-wajah lesu.


Kota Damarwangi bahkan lebih megah daripada ini.


Mungkin saja Nirya dan Sthira sengaja digiring lewat distrik kota yang kumuh supaya tak menarik terlalu banyak perhatian dan menimbulkan keresahan. Ini lebih ke semacam pencitraan, seolah-olah keduanya hanya penjahat kelas teri, sampah yang hidup-matinya tak seorangpun bakal peduli.


Dan memang inilah yang terjadi. Tak satupun mata memandang ke arah para tawanan di kereta. Andai Nirya dan Sthira melewati daerah ini dengan kereta kencana, wajah-wajah kotor, lesu dan lapar itu pasti akan mengerubungi mereka, menawarkan barang-barang dagangan atau meminta sedekah.


Maka, penghinaan atau bukan, yagn penting Nirya dan Sthira kini melintasi Wulantra, Ibukota Jayandra ini tanpa insiden berarti. Tak ada tomat atau telur busuk dilemparkan ke arah mereka, apalagi batu-batu kerikil yang memang bertebaran amat banyak di jalanan.


Yang ada hanya segelintir anak kecil yang dengan iseng menghampiri Nirya. Mewakili teman-temannya, seorang anak laki-laki bertanya, “Wah, kakak cantik sekali. Tapi mengapa kakak dikurung?”


“Karena kami  bukan orang Jayandra,” jawab Nirya sekenanya.


“Wah, masa’ bisa? Ya sudahlah. Kalau kakak-kakak nanti dihukum mati, bolehkah barang-barang kakak buat kami?”


Nirya tak menjawab karena tersentak. Ia hanya menggeleng perlahan, tak percaya anak-anak sekecil ini dididik hingga punya pemikiran seperti itu. Di sisi lain, anak-anak itu menganggap gelengan Nirya adalah jawaban “tidak”. Jadi mereka menjauh saja dengan dongkol, mengucapkan sumpah-serapah macam “pelit, payah” dan rentetan makian tak senonoh lainnya.


Hanya satu pikiran yang terbit dalam benak Nirya saat itu. Andai kau jadi aku, Arumi. Andai kau lebih peduli dengan keadaan negeri ini daripada kehormatanmu sendiri.


\==oOo==


Rombongan Arumi akhirnya tiba di depan gedung-gedung termegah di Kota Wulantra, juga seluruh Jayandra.


Inilah Keraton Griyanagari, istana dan pusat pemerintahan Kerajaan Jayandra. Kompleks gedung bertingkat tunggal ini membentang lebih luas daripada sawah persis di pusat kota. Batas kompleks ini adalah sebuah dinding batu yang dipenuhi pahatan atau gambar relief yang detil dan indah, menggambarkan sejarah berdirinya Kerajaan Jayandra.

__ADS_1


Gedung-gedung berdinding batu di dalamnya berjajar membentuk formasi yang amat rapi. Bila dilihat tepat tegak-lurus dari atas, pola tata letak gedung-gedung itu tampak seperti semanggi berdaun empat.


Pusat “formasi semanggi” itu ditandai dengan sebuah balairung tak berdinding dan amat luas, dengan atap tinggi menjulang bagai piramida. Di balairung itulah Sang prabu bertakhta, memimpin sidang harian dan menikmati hiburan di waktu istirahat makan malamnya.


Karena matahari kini perlahan-lahan turun ke peraduannya, pemimpin Negeri Jayandra, Prabu Narendra tengah bersiap untuk meninggalkan balairung singgasana. Namun, niat Sang prabu berusia delapan belas tahun dan berparas elok penuh kharisma ini urung seketika. Karena saat itu pula, seorang petugas istana mendekat dan berlutut di jarak kira-kira sepuluh langkah dari singgasana.


“Ampun, Gusti Prabu!” seru si prajurit dengan suara yang tak terlalu keras. “Senopati Arumi Dyahrani baru saja kembali dari medan laga dan memohon agar diperkenankan menghadap Paduka!”


Prabu Narendra terkesiap, wajahnya berubah amat cerah. “Astaga, Arumi!? Kaudengar itu, Laksamana Begarwana? Arumi ternyata berhasil selamat dari bencana di Selat Pariung dan kembali ke ibukota! Ia tak benar-benar gugur seperti pernyataanmu!”


Laksamana Begarwana yang duduk bersila di satu sisi balairung cepat-cepat merapatkan kedua telapak tangan di atas kepala. “Hamba tak berani berdusta, Gusti Prabu! Mustahil Arumi bisa lolos dari amukan Gunung Ratauka...!”


Sang prabu menyela, “Senopati Arumi kuizinkan menghadap!”


Perintah itu dilaksanakan. Beberapa saat kemudian, Arumi masuk bersama Sthira dan Nirya yang dibelenggu ketat.


“Berlutut!” Seorang prajurit pengawal menyodok betis Sthira dengan pangkal tombak yang tumpul. Sthira mengerang kesakitan, namun tetap berlutut. Tak ada ruginya menuruti perintah, untuk sekarang.


Tanpa paksaan, Nirya berlutut sambil menunduk serendah-rendahnya, namun tak terlalu rendah agar tak jatuh terjerembab.


Sang prabu kembali bicara, “Senopati Arumi, sungguh ini berkah dari Sang Mahesa hingga kau pulang dengan selamat. Dan kulihat kau juga membawa tawanan. Jelaskanlah, ada apa gerangan?”


Sempat Arumi frustrasi dan yakin pasti mati. Namun Nirya dan Sthira membangkitkan kembali kesadarannya dan menghindarkan gadis Jayandra itu dari murka si manusia-naga. Ternyata ada satu kapal dari Armada Jayandra yang nekad kembali ke Ratauka. Alhasil, nyawa Arumi terselamatkan.


Namun, setibanya di Jayandra, mengira Arumi berhutang budi pada mereka, Sthira dan Nirya membeberkan rencana mereka untuk menghadirkan rentetan bencana di Antapada, mengembalikan perdamaian dengan cara yang amat ekstrim.


“Karena itulah, hamba berpura-pura akrab agar mereka mempercayai hamba. Lalu hamba menjebak keduanya setelah tuntas mengupas rencana mereka. Gusti Prabu, kumohon terimalah para tawanan ini sebagai tanda bakti dan kesetiaan hamba pada Negeri Jayandra yang tak pernah luntur sedikitpun.” Arumi menyelesaikan laporannya.


Sang prabu tercenung sejenak, mencoba untuk tak terkesan terburu-buru mengambil keputusan. Walaupun sudah jadi rahasia umum ia mengistimewakan Arumi, dan menurut desas-desus Narendra akan mengangkat Arumi sebagai permaisuri tak lama lagi.


Justru “penundaan” ini dimanfaatkan Laksamana Begarwana dengan menyela, “Ampun beribu ampun, Gusti Prabu! Hamba perlu mengingatkan Paduka. Saat kembali ke ibukota, hamba telah melapor bahwa Arumi sengaja melawan kedua mata-mata itu untuk bersekongkol dengan mereka!”


“Itu tidak benar!” sanggah Arumi. “Aku ingin membunuh mereka berdua!”


“Tutup mulutmu, jangan kurang ajar di depan Paduka!” hardik Begarwana. “Hati-hati, Gusti Prabu! Arumi sengaja menyeret mereka ke hadapan Paduka agar mereka membunuh Paduka pada kesempatan pertama! Hamba mohon Paduka tangkap dan hukum mati mereka bertiga sekarang juga!”

__ADS_1


“Apa!? Tidak, laksamana! Aku justru mematuhi hukum yang berlaku di Jayandra dengan menyeret mereka untuk diadili, bukan main hakim sendiri! Lagipula...”


“Lagipula apa?” sergah Begarwana, memilin kumis tebal melintangnya. “Justru siapapun yang kuketahui telah membunuh banyak orang dengan memicu bencana alam harus kauhukum mati di tempat! Kalau tidak, tak hanya aku, semua orangpun pasti bakal menuduh kalian bertiga bersekongkol! Mohon putusan Gusti Prabu!”


Wajah Narendra tampak pucat menghadapi dilema ini. Keadilan dan hukum harus ditegakkan, namun ia tak mau kehilangan senopati “kesayangan”-nya. Terpaksa sang prabu berpaling ke arah lain dan berseru, “Mohon nasihatnya, Paman Patih Mpu Galahasin!”


Yang dimaksud Narendra adalah seorang pria tua berjanggut putih panjang yang duduk bersila di deretan yang berseberangan dengan Begarwana. Walau hanya mengenakan kain putih yang rapi membalut tubuhnya, mata pria itu tampak menyorot tajam, sarat kebijaksanaan dan kaya akan pengalaman hidup.


Mpu Galahasin, pria tua itu merapatkan tangan di depan dada sambil maju dan menghadap Sang prabu. Ujarnya, “Ampun, Gusti Prabu. Menurut hamba, andaikan hamba menjadi Arumi, hamba pasti melakukan hal yang sama dengan tindakannya ini.”


“Apa maksudmu, patih!? Jangan berbelit-belit!” hardik Begarwana.


Beda dengan Arumi, nada bicara Galahasin tetap halus dan tak meninggi. “Coba pertimbangkan dulu masak-masak. Andai Arumi benar-benar berkomplot dengan musuh, ia pasti akan menghindari Kota Wulantra dan tak perlu menjebak dan menangkap mereka.”


“Tapi bisa saja mereka kemari untuk membunuh Sang prabu, bukan?”


Galahasin menggeleng. “Coba ingat-ingat lagi tujuan misi mereka, laksamana. Mereka ingin melemahkan semua negeri kuat di Antapada, tak hanya Jayandra dan Swarnara saja. Bila kau jadi Sthira dan Nirya, kau pasti takkan mau mengambil resiko dikepung seluruh pasukan pengawal prabu ditambah para petarung sakti dan ahli sihir macam kau dan aku.”


“Omong kosong! Mereka pasti memilih kesempatan membunuh Sang prabu daripada membuat gunung meletus dan jadi pembunuh masal!”


“Kalaupun benar Nirya-Sthira senekad katamu, apakah Arumi lantas harus ikut mereka? Butuh perjuangan luar biasa untuk lolos dari bencana dahsyat dan kembali kemari dengan selamat, mendapatkan kesempatan untuk mengembalikan status dan kehormatan Arumi sebagai Senopati Jayandra. Mustahil Arumi melepaskan semuanya demi orang-orang yang hampir pasti mati ini, sesakti apapun mereka.” Galahasin sengaja tak menambahkan soal perlakuan istimewa Narendra pada Arumi selama ini, karena ia tahu itu malah akan memperparah kedengkian Laksamana Begarwana.


Penjelasan yang ada saja sudah cukup. Tak ada tanggapan dari Begarwana. Lidahnya seakan kelu, baru kalah bersilat dari seorang mahaguru.


Prabu Narendra memanfaatkan gelagat ini dengan bersabda, “Dengan ini Nirya, Sthira dan Arumi ditahan di penjara keraton. Aku akan membahas kasus ini lebih lanjut dengan Patih Galahasin, dan aku akan memberikan keputusan akhirnya besok pagi.”


Begarwana berseru, “Tapi Paduka, keadilan harus ditegakkan! Arumi jelas-jelas berkhianat, dia harus dihukum mati sekarang juga bersama...”


“Lancang kau, Begarwana!” Suara Narendra menggelegar, memancarkan wibawa tak terduga dari tampangnya yang terkesan lembut itu. “Sabda prabu adalah hukum tertinggi yang mutlak! Sekali lagi kau menyela, apalagi menyanggah keputusanku, kupastikan kau dan seluruh sanak-keluargamu kehilangan kepala! Prajurit, laksanakan titah!”


Begarwana sontak menyurut mundur dan kembali duduk rapi di tempatnya, berusaha menutupi rasa dongkol, malu dan terkejutnya dengan memasang ekspresi wajah ketakutan.


Tanpa menunggu para prajurit menggiring ketiga tawanan keluar balairung, Prabu Narendra mendadak berbalik dan berjalan meninggalkan singgasana, langsung dikerubungi sediktinya empat orang pengawal pribadinya.


Sambil berjalan, Narendra melirik sekejap dari sudut matanya ke arah mata Arumi, luput dari tatapan semua orang di ruangan itu. Sekilas pula, mata Arumi hanya menyorot tajam, sarat kebencian ke arah Begarwana, tak membalas tatapan Narendra sama sekali.

__ADS_1


Jadi, Narendra kembali menatap lurus ke depan. Saat itu pula, satu tekad baru telah terbentuk dalam relung jiwanya yang terdalam.


Keterangan Gambar: Situs Trowulan, referensi untuk ibukota Kerajaan Jayandra, Wulantra.


__ADS_2