EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
MEGASWARI Bagian 3


__ADS_3


Dengan nekad Arumi menghampiri Kamaja seraya berkata, “Ibu, ayo kita lawan mereka bersama-sama...!”


“Aku bukan ibumu!” bentak Kamaja. Wajahnya yang mirip Lara Sati muda namun berkulit merah darah tampak amat ganas, tampak pula api seakan berkobar di kedua matanya. Suaranya amat beda dari suara serak Sati maupun suara halus Lara. “Karena patungku diruntuhkan, sebagai roh dan kunci Gunung Megaswari aku terpaksa mengambil alih tubuh baru sebagai inangku. Lara Sati kini telah mati, kini akulah yang jadi juru kunci terakhir di sini!”


Seluruh tubuh Arumi bergetar hebat, air matanya tak terbendung lagi. “K-kau... kau membunuh ibuku...? Kamaja...! A-aku tak akan mengampunimu!” Memang, sejak semula tindakan Arumi melawan Nirya dan Sthira hanyalah untuk melindungi ibunya, tak peduli apakah Megaswari bakal meletus atau tidak.


Kamaja malah menanggapi Arumi dengan dingin. “Salahmu sendiri membiarkan pemuda itu meruntuhkan arcaku. Kini, terima saja hukuman mati untuk kalian semua!” Walaupun jiwa Arumi terlanda dilema antara mencegah bencana dahsyat dan memenuhi amanat Mpu Galahasin untuk menuntaskan saja misi Nirya-Sthira ini, ia jelas tidak suka pada monster bernama Kamaja yang suka seenaknya sendiri itu. Apalagi Kamaja membunuh ibunya.


“Awas! Kamaja akan menyerang!” seru Sthira sambil bergerak mundur, siap menghindar.


Andai Kamaja dibiarkan menjadi juru kunci Megaswari, apalagi dalam wujud wanita-kuda raksasa seperti ini, mungkin sekali ia bakal mendatangkan bencana yang lebih besar daripada letusan gunung berapi. Mpu Galahasin tahu itu, namun beliau memilih tak mengungkapkan misteri yang belum pasti itu, biar Arumi, Sthira dan Nirya yang memecahkan dan memahami masalahnya sendiri. Gunung Megaswari harus meletus dahulu. Kamaja harus musnah dahulu, baru bisa muncul juru kunci yang baru.


Saat Arumi baru membulatkan tekadnya, sepasang golok berapi yang menyatu di dua dari keempat lengan Kamaja menyabet dengan gerakan menyilang, seakan hendak menggunting leher Arumi hingga putus. Serangan itu amat cepat, Arumi tak sempat menghindar... hingga tiba-tiba dirinya didorong hingga jatuh dengan amat cepat.


Arumi lantas bereaksi, melihat penyelamatnya, yaitu... Nirya.


“Bangun!” seru Nirya yang segera bangkit dengan amat lincah.


Arumi malah berguling-guling ke samping, satu kaki kuda raksasa menjejak kira-kira sejengkal dari kepalanya. Daya pijakan itu berimbas bagai tamparan keras ke wajah gadis itu.


Kepala Arumi terdorong hingga ke posisi menegadah, teriring bunyi gemeletak tulang dari tengkuknya. Arumi melolong dan tercekat, sakitnya bagai terpukul gada berat. Untunglah gadis itu adalah prajurit yang amat terlatih, sehingga ia tak sampai pingsan. Tetap saja, Arumi memaksa diri untuk bangkit dan kembali siaga. Matanya hanya tertuju pada Kamaja.


Di sisi lain, seluruh permukaan tubuh Kamaja mendadak seakan berselimutkan api yang berkobar-kobar liar. Ia berhenti melangkah, lantas berbalik perlahan seperti gerakan kuda.


Kamaja maju menerjang lagi. Kali ini kedua lengannya terarah ke kedua sisi tubuhnya. Setelah dekat dengan sasaran, baru ia menyabetkan keempat golok besarnya silang-menyilang. Nirya, Sthira, Arumi dan Begarwana pontang-panting menghindari rentetan Sabit Api Saling-Silang yang ditembakkan si raksasa itu.

__ADS_1


Pulih dari imbas serangan tadi, Arumi menerjang maju. Ia menyabetkan pedang kerisnya, menembakkan Sabit Api Saling-Silang yang sama dengan Kamaja.


“Bodoh! Jurus tiruan itu takkan mempan padaku!” Membuktikan ucapannya, Kamaja menyabetkan bilah berapinya, menangkis sabit api Arumi dengan mudahnya.


Namun, wajah manusia Kamaja yang mirip Lara Sati muda jadi terperangah. Ternyata serangan tadi hanya umpan saja. Arumi sudah bergerak ke sisi lain tubuh si monster raksasa, melancarkan tusukan mematikan.


Tusukan dari Arumi mendarat telak di perut samping Kamaja. Kamaja meraung kesakitan, namun kemudian suaranya malah berganti gelak tawa. “Perlu lebih dari satu tusukan untuk menembus Zirah Magma Membara yang telah menyatu dengan kulitku ini.”


Arumi berdecak kesal.


Sesaat kemudian, Sthira dan Nirya menyerang Kamaja bersamaan dari kiri dan kanan.


“Dua lagi makhluk bodoh!” Keempat golok Kamaja menusuk-nusuk ke samping, daya prana penghancur bagai Panah Api Membara malah membuat kedua penyerang itu kewalahan.


Begarwana meloncat tinggi-tinggi dan menghantamkan Gada Gunungnya tepat di bagian belakang kepala Kamaja. Namun Begarwana ternganga. “A-apa?!” Jangankan pecah, kepala si wanita-kuda tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


“Aku tak tahu apa yang dilihat Lara Sati dalam dirimu, Begarwana. Tapi seharusnya dulu aku tak membiarkannya mengizinkanmu keluar dari Sriwedari, bahkan mengandung putrimu! Jadi, akan kuperbaiki keputusan keliruku itu sekarang!” Tanpa menoleh, Kamaja meledakkan prana api dari punggungnya seperti landak.


Aduh, harus bagaimana ini? Tanpa sengaja, pemikiran yang tak seharusnya itu singgah di benak Arumi yang terkenal pemberani. Ia menoleh ke kiri, kanan dan jauh ke depan, melihat Sthira, Nirya dan Begarwana yang terkapar di tempat masing-masing. Apalagi kini, Kamaja menoleh ke arahnya dengan tatapan mata sarat hawa membunuh.


“Kau adalah kesalahan yang tak seharusnya ada,” ujar Kamaja pada Arumi. “Kaulah yang memaksa ibumu turun gunung untuk diam-diam melatihmu dengan ilmu dariku. Lalu kau datang dengan niat ingin merebut aksara suci, tapi berbalik membantu ibumu. Dan kini, kau berbalik lagi melawanku, guru sejatimu!? Pendirianmu yang mudah berubah-ubah itu hanya menyulitkan saja! Coba suatu hari nanti, mungkin kau bakal berubah pendirian dan mengkhianati teman-temanmu lagi!” Kamaja sengaja memperlambat seruannya agar dapat didengar jelas oleh Sthira dan Nirya. “Kaulah yang telah membuat ibumu terpaksa membiarkan aku mengambil-alih tubuhnya, Arumi! Karena itulah, kaulah yang harus pertama mati!”


Arumi terhenyak. Untuk sesaat, kelebatan kenangan mengingatkannya pada segala tindakannya sejak petaka di Gunung Ratauka hingga saat ini. Semula ia memihak Sthira karena Sthira dan Nirya menyelamatkannya, lalu berubah pikiran saat Sthira membeberkan rencananya. Setelah ditangkap dan diberi “pencerahan” oleh Galahasin, Arumi kembali memihak Sthira, namun berpindah pihak lagi saat tahu Lara Sati adalah ibunya.


Kini, Arumi berbalik lagi membantu Sthira karena Kamaja mengambil-alih raga sang ibu. Pendirian Arumi yang sering berganti-ganti ini tentu berbahaya baik bagi kawan dan lawan... juga dirinya sendiri. Perilaku ini cenderung mengarah pada pengkhianatan, tidakkah Arumi menyadari hal itu? Lebih tepatnya, apakah ia baru menyadari hal itu di saat genting ini?


Kamaja tentu tak memberi kesempatan lawannya merenung lagi. Kembali ia menyabetkan sabit-sabit apinya dengan gerakan saling-silang untuk mencacah Arumi. Gilanya, ekspresi wajah Arumi malah kosong, seakan sedang tersihir atau jadi dungu. Benarkah ia sudah pasrah, menelan kebenaran dalam kata-kata Kamaja itu bulat-bulat?

__ADS_1


Jawabannya datang dari bilah golok dan kerambit sarat prana yang terayun, menangkis sabit-sabit api Kamaja itu. Melihatnya, Arumi terkesiap dan kembali siaga dengan kerisnya.


“Hei Kamaja, menegur itu harus lihat waktu dan tempat,” sergah Sthira.


Nirya menimpali, “Kau sengaja menegur untuk membuat Arumi lengah. Walau kata-katamu itu benar, tentu saja takkan kami biarkan!”


Mendengar itu, Kamaja mundur beberapa langkah. Anehnya, wanita-kuda itu menyeringai, mulutnya terus melebar hingga seakan-akan rahang bawahnya terlepas. Lantas ia bersuara melengking, tak jelas apakah itu tawa atau tangis. Keempat lawan memilih siaga, tak terpancing tingkah laku aneh yang mungkin juga hanya taktik belaka.


“Dasar manusia, makhluk-makhluk dungu yang hanya bisa merepotkan saja!” kata Kamaja dengan nada sinis. “Sudahlah, malas aku bermain-main untuk menghemat tenaga! Kuhabisi saja kalian dengan jurus andalanku, Semburat Magma Inti Neraka!”


Sambil mengatakannya, Kamaja mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, lalu menghentakkannya keras-keras ke tanah. Saat itu pula, magma panas yang seharusnya berada di perut Gunung Megaswari bersemburan keluar dari tanah. Daya semburannya amat besar, sehingga terbentuklah pilar-pilar magma yang menjulang kira-kira tiga kali tinggi Begarwana, pria bertubuh paling tinggi-besar dalam pertarungan ini.


“Awaas!” teriak Begarwana, yang bersama Arumi, Sthira dan Nirya pontang-panting melompat, berguling dan lari menghindari pilar-pilar magma itu.


Tak berhenti di sana, magma alias “api cair” di puncak tiap pilar itu menyembur seperti air mancur, lalu terjun menghujani tanah dan setiap orang yang berdiri di sana. Hanya mereka yang terbang cukup tinggi sajalah yang mungkin bisa menghindar dari serangan ini.


Tak ayal, teriakan-teriakan para pendekar bergema di seantero lereng. Kebanyakan mereka terkena hujan magma, namun karena itu pula Begarwana dan Nirya terserempet pilar-pilar api yang terus bermunculan dari tanah. Hanya prana pelindung di tubuh merekalah yang mencegah keempat orang itu berkalang tanah dengan tubuh hangus-lebur.


Tekanan serangan atas-bawah itu juga memaksa Arumi roboh mencium tanah. Seluruh tubuhnya nyeri, bagai tertusuk jarum-jarum panas. Walau berdarah-darah, justru gadis itulah yang pertama bangkit di antara rekan-rekannya.


Serangannya rampung, Kamaja kembali mengambil posisi menghadap para lawannya. Melihat Arumi, ia justru mendelik heran. “B-bagaimana bisa?” sergahnya. “Rekan-rekanmu saja masih terkapar terkena seranganku tadi!”


“Entahlah. Yang aku tahu, aku dan kau sama-sama menguasai prana api,” jawab Arumi, melepaskan busur dan kantung anak panahnya yang kini tampak hangus dan hampir patah. “Lagipula, busur dan kantung panah biasa ini telah menahan seranganmu sehingga tak sepenuhnya mengenai tubuhku. Jadi ya, akulah yang bangkit pertama.”


Tanpa menunggu Kamaja bicara untuk mengulur waktu dan menghimpun energi, Arumi melangkah amat cepat, menusukkan pedang-kerisnya tepat ke arah jantung Kamaja. Namun si manusia-kuda berderap dan berhasil menghindar.


Yang terjadi berikutnya adalah kejar-kejaran antara Arumi dan Kamaja. Arumi melompat dan menyabetkan kerisnya dengan ganas, dibalas Kamaja yang mengandalkan keempat pedang di keempat tangannya, ditambah serangan entakan kaki-kakinya yang menggetarkan bumi.

__ADS_1


Menghadapi musuhnya yang raksasa, Arumi yang sudah terluka bergerak makin lamban, napasnya terengah-engah.


Keterangan Gambar: Letusan Gunung Merapi, referensi untuk Gunung Megaswari di Terra Everna. Sumber Gambar: Kumparan.com.


__ADS_2