EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
SRIWEDARI Bagian 1


__ADS_3


Yang kuinginkan dalam hidupku ini


Hanyalah mengabdi sepenuh hati


Pada nusa, tanah air tercinta


Bukan pribadi tertentu semata


Namun, di manakah keadilan?


Saat kuharus tunduk pada kebatilan


Nusa membalasku dengan kematian


Sia-siakah hayat ini kuabdikan?


Dalam khayalan kaum awam, Sriwedari adalah sebuah taman yang menjembatani alam baka, Nirwana dengan alam fana, Vanapada. Di Sriwedarilah tempat para bidadari dan malaikat bercengkerama, melepas segala kepenatan setelah melanglang buana.


Setiap insan dan sukma pemenang pertandingan kehidupan, yang terberkati hingga memasuki taman ilahi ini selalu disambut dengan tarian dan nyanyian bidadari. Ditingkahi pula dengan polah satwa-satwa jelita dan tebaran puspa mewangi.


Walau bernama sama, hutan ini adalah Sriwedari yang lain lagi.


Di satu sisi, sebagai seorang mantan senopati yang terkenal amat pemberani dan terhormat, sulit bagi Arumi Dyahrani untuk mempercayai keadaannya saat ini. Kini ia adalah seorang pelarian, buronan yang paling dicari di negerinya sendiri. Apalagi kini ia malah jadi pemandu bagi dua buronan lainnya, demi merampungkan sebuah kejahatan teramat parah.


Berkat latihan keras berjam-jam tiap hari, Arumi bergerak amat cepat di medan apapun, termasuk jalan setapak di Hutan Sriwedari nan lebat ini. Matahari yang seharusnya mulai meninggi tak tampak di langit, tertutupi gumpalan awan-awan hitam dan tebal. Dari awam-awam itu tercurahlah hujan deras, namun langkah-langkah gadis itu tetap ringan dan cekatan.


Nirya yang terbiasa berlatih di hutan dan Sthira yang juga mantan perwira bergerak tak kalah cepat dari Arumi, namun mereka memilih terus berada di belakang si pemandu.


Sesekali, Arumi berhenti melangkah dan menoleh kiri-kanan untuk melacak keadaan. Memang sulit sekali memanjat pohon, melihat jauh dan membedakan suara-suara di tengah hujan deras, termasuk pula mendengar dan merasakan getaran-getaran di tanah basah. Air yang menggenang di jalan hanya dicelupi rintik-rintik hujan, Arumi menghela napas lega pertanda keadaan aman.


Memanfaatkan kesempatan sesaat itu, Arumi mencuri pandang ke arah Sthira, wajah tegang gadis itu mengendur seketika. Memang, tak bisa dipungkiri otot-otot keras di tubuh pendekar Kalingga itu membuat Sthira terkesan lebih jantan daripada semua pria yang pernah Arumi lihat dan kenal selama ini.


Namun mata Nirya, si gadis Swarnara juga tak lepas menatap si “pejantan tangguh” itu. Bagi Arumi yang menganggap dirinya lebih cantik dari Nirya, rasa sesak pada sikap “saingan”-nya itu sungguh mengganggunya. Di sisi Lain, Sthira tampak acuh tak acuh, terus lari saja.


Jadi, agar situasi canggung ini tak berlarut-larut, Arumi melambatkan larinya hingga berhenti. Nirya dan Sthira mengikuti gerakan si pemandu dan mendekat. “Ada apa, Arumi? Mengapa berhenti?” tanya Sthira.


Arumi menunjuk ke jalan setapak di depannya. “Karena aku harus memberitahu kalian, kita sedang menuju Sriwedari.”


“Sriwedari?!” Dahi Nirya berkerut. Rasanya ia pernah mendengar kata itu sebelumnya. Namun di mana dan tentang apa, ingatan itu masih samar-samar baginya.

__ADS_1


“Itu adalah hutan yang mengelilingi Gunung Megaswari, tempat yang kita tuju. Hati-hati, hampir semua orang yang pernah memasukinya pasti tersesat dan terjebak, takkan bisa keluar hidup-hidup.”


Keterangan itu membuat Sthira terkesiap dan bertanya penuh selidik, “Apa kau pernah memasuki hutan ini, Arumi?”


Arumi menggeleng. “Tidak. Aku hanya tahu Hutan Sriwedari inilah satu-satunya jalan menuju Megaswari dari guruku. Hanya Begarwana, guruku itulah satu-satunya orang yang kukenal pernah memasuki hutan ini dan keluar dengan selamat. Tapi kini pasti mustahil meminta bantuan guruku itu, bukan?”


Nirya terperangah. “B-Begarwana itu... gurumu?”


“Ya. Tapi aku kini punya dendam kesumat padanya. Setelah misi kita tuntas kelak, Begarwana pasti akan kuburu. Saat itulah dia boleh berharap dia tak pernah dilahirkan.”


Nirya yang amat perasa menatap Arumi dengan penuh simpati. Mungkin gadis Swarnara itu juga memendam dendam kesumat pada seseorang, namun ini bukan waktu yang tepat untuk bertukar dan berbagi cerita.


Sthira menegaskan sikap dengan berkata, “Nirya, Arumi, kita tak punya waktu bicara lebih lanjut lagi. Mungkin saat ini pasukan kerajaan sedang mengejar kita. Kita harus terus maju, biar kita cari tahu selebihnya sambil jalan.”


Untuk berjaga-jaga, Sthira menghunus golok-mandaunya. Sepasang kerambit Nirya telah tersambung dengan rantai dan digenggam erat. Sementara Arumi memilih menggunakan pedang-kerisnya, siap membuka jalan apabila perlu.


Maka ketiga pendekar itu kembali melangkah, kali ini bukan berlari. Pasti ada keanehan di Sriwedari, dan mereka harus mencari tahu tentang itu sendiri. Kesempatan mereka bertahan hidup tergantung dari usaha ini.


Makin jauh melangkah, Arumi merasakan suasana sekelilingnya jauh lebih gelap daripada tadi. Kebanyakan dari mereka adalah pohon-pohon jati yang usianya bisa jadi mencapai ratusan tahun. Karena mereka jarang sekali dijamah-tangan-tangan, apalagi kapak-kapak manusia.


Dedaunan pohon-pohon yang amat rimbun seakan menyaring curahan hujan. Hingga kira-kira speertiga curahan itu saja yang mencapai tanah dengan rintik-rintik.


Tiba-riba, di sela ssosok-soso itu Arumi sayup-sayup mendengar suara serak seorang wanita. “Tiga insan di Sriwedari. Apa yang mereka cari?”


Tanggapan untuk Sthira datang nyaris seketika. “Tergantung niat kalian. Kalian melintasi Sriwedari, namun kalian tak tampak tersesat. Kami tahu. Kalian pasti hendak ke gunung keramat.”


Dengan polosnya Nirya bicara, “Kami hanya melintas saja, karena kami pikir ini jalur terdekat dari Wulantra menuju tempat tujuan kami. Kalau memang kami tersesat, mohon petunjuk sesepuh agar kami dapat melintas keluar dari hutan ini.”


Tanggapan yang datang justru suara tawa serak yang dibuat-buat, hingga para pendengarnya merinding. “Anak muda yang polos menutupi niat buruknya dengan kepolosan juga, mengira tipuan murahan itu bisa memperdayai kita.”


Suara yang sama seakan menanggapi ucapan sebelumnya, “Benar, benar. Kita amat sakti, tak sudi dihina dengan kata-kata sepolos itu.”


“Apa maksudmu, sesepuh?” Nada bicara Arumi mulai ketus. “Temanku ini sudah bicara apa adanya, memberitahukanmu hal-hal yang bukan urusanmu! Memangnya niat buruk apa yang kami tutupi itu?”


“Ck, ck, ck. Jangan pura-pura tak tahu, hai gadis yang suka menipu. Tak kalian katakanpun, niat buruk kalian itu terpancar amat pekat, membuat kami sesak dan muak. Biasanya kami buat kebanyakan orang tersesat di hutan keramat ini, dimangsa hewan buas. Itu karena mereka berniat mencuri kayu jati yang bisa mereka jual dengan harga tinggi. Biasanya kami biarkan orang-orang yang hanya melintas saja tanpa merusak alam. Kalaupun mereka tersesat, jelas amat disayangkan. Tapi kalian!? Apapun niat kalian itu, takkan kami biarkan kalian hidup!”


Pernyataan si wanita misterius itu cukup membuat Nirya, Sthira dan Arumi bersiaga dengan senjata masing-masing. Ditantang seperti itu, serbuan pada mereka pasti bakal labih dahsyat daripada gerombolan kerlawar di Gunung Barkajang.


“Biar rukhan, abdi setia kami mengirim kalian ke akhirat! Selamat tinggal!” Sepeninggal si suara wanita aneh-misterius, suara-suara burung dan aneka satwa yang sayup-sayup memenuhi hutanpun sirna. Bahkan suara angin dan benda-benda yang digerakkannyapun lenyap, berganti keheningan nan mencekam.


“A... Arumi, siapa... apa itu rukhan?” tanya Nirya terbata-bata, mempererat genggaman pada sepasang kerambitnya.

__ADS_1


“Entahlah, aku tak tahu banyak,” jawab Arumi. “Yang kudengar, rukhan adalah sejenis siluman yang bergerak cepat bagai badai api. Jadi ya, kita harus sangat berhati-hati dan terus saling membelakangi.”


“Setuju.” Sthira memilih membelakangi Nirya. Arumi yang melihatnya mengerutkan dahi sejenak, lalu memposisikan dirinya membelakangi kedua rekannya itu.


Belum ada yang menyerang, Jadi Arumi mencoba memusatkan pandangannya. Barulah tampak di kejauhan, di antara pepohonan beberapa sosok seukuran serigala bermunculan. Melengkapi kengerian, puluhan sosok hewan itu tampak pula di sekeliling, terang-terangan mengepung para pendekar.


“Gila... Mereka inikah... rukhan?” Suara Sthira bergetar. “Ini bukan kepungan hewan liar, tapi oleh pasukan yang terlatih!”


Sebaliknya, Arumi malah terlihat lebih tenang. “Aku tak pernah bilang perjalanan ini akan mudah, ‘kan? Tetaplah di posisi kalian. Saat aku memberi aba-aba, baru ikuti lariku.”


Nyaris serentak, “serigala-serigala” itu maju. Saat sekilas melihat mereka dari jarak cukup dekat, ternyata rukhan memiliki kepala dan tubuh depan kancil serta kaki, tubuh belakang dan ekor rubah.


Yang mencengangkan, lidah-lidah api berkobar-kobar di atas tubuh tiap rukhan, bagai surai yang memanjang hingga ke pangkal ekornya. Bahkan ekor si kancil-rubah itu sendiri adalah kobaran api pula. Api di tubuh mereka tampak sungguh kuat, tak padam oleh curahan rintik-rintik hujan dari atas pepohonan. Walau wajah kancil para rukhan itu terlihat manis, deretan taring runcing yang mereka perlihatkan saat menggeram penuh ancaman jelas menunjukkan mereka suka memanggang mangsa mereka dulu sebelum memakannya.


“Semua, tahaan!” Arumi memberi aba-aba.


Tanpa komando, para rukhan menyerbu bersamaan. Mereka berderap secepat rubah dan bergerak selincah kancil, siap menghindar bilamana diserang balik. Namun para pendekar yang diserang tak beranjak sama sekali dari posisi mereka.


Rahang-rahang rukhan menganga selebar-lebarnya.


Ekor-ekor berapipun dikibaskan.


“Sekarang! Ikut aku menerobos mereka!” Sambil berseru, Arumi mengayunkan kerisnya, diikuti tarian kerambit Nirya dan golok Sthira. Ketiganya lari amat cepat ke satu arah seperti lesatan anak panah. Ujung senjata ketiga pendekar itu tanpa ampun menghantam tiga siluman rubah-kancil di jalur terobosan. Sebaliknya, para lawan lainpun terus menyerang dengan ekor api dan gigitan.


Satu kibasan ekor berapi menyayat tubuh Arumi, namun si pendekar wanita tak terbakar. Sebabnya karena ia memiliki prana berunsur sama dengan lawan. Sebagian besar daya serangan api rukhan diredam dan diserap Arumi. Adis itu hanya mendapat luka gores yang tak berarti. Ia balas menebas dan membelah tubuh si rukhan jadi dua.


Sambil ikut berlari, Nirya dan Sthira hanya berhasil menghalau rukhan-rukhan yang menerjang mereka. Detik-detik berikutnya, hewan-hewan siluman itu berbondong-bondong mengejar ketiga pendekar. Mungkin karena harus berhati-hati, para pendekar yang berlari mulai disusul para musuh yang memang adalah warga Hutan Sriwedari.


Melihat itu, wajah Nirya memucat. “Bagaimana sekarang?” serunya.


“Ikuti saja aba-abaku! Serong kanan!” Arah lari Arumi agak serong ke kanan. Gilanya, ia meninggalkan jalan setapak, masuk ke serumpun pohon jati yang hanya menyisakan celah-celah yang sempit, namun masih cukup leluasa untuk dilalui manusia maupun rukhan.


Secara naluriah, gerombolan rukhan ikut berbelok dan mengejar, masuk ke celah-celah sempit antara pepohonan itu. Terhalang hamparan cabang, ranting dan akar pohon yang melintang, hewan-hewan yang adalah warga asli Sriwedari itu makin dekat menyusul para pendekar.


“Bagaimana ini, Arumi? Ayo kita lawan mereka!” Nada bicara Nirya terkesan panik.


“Tahan! Terus lari!” balas Arumi.


“Aduh! Aku tersambar cakar!”


“Tahaan...!” Saat seekor rukhan sudah dekat dan menerkam ke arah Arumi, barulah Arumi berseru, “Serang balik sekarang!” Keris panjangnya berkelebat, merobek moncong rukhan itu hingga ke tubuhnya.

__ADS_1


Sthira dan Nirya juga menyerang balik. Gerakan kedua pendekar yang amat cepat dan mendadak itu membuat para hewan itu sulit menghindar. Tak terhitung berapa rukhan lagi yang mati terbabat, tak sempat menghindar.


Keterangan Gambar: Referensi untuk Hutan Labirin Sriwedari dari Hutan Imogiri.


__ADS_2